Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Jebakan Fitnah


__ADS_3

Kita beralih cerita dulu. Namun, tetap nantinya akan nyambung ke tokoh utama.


Kerajaan Cupunagara.


Cupunagara adalah salah satu kerajaan bawahan Tarumanagara yang bertetangga dengan kerajaan bawahan lainnya yaitu Bumi Sagandu dan Manukrawa.


Seperti diceritakan sebelumnya bahwa Prabu Satyaguna raja Cupunagara adalah mertua Panglima Cakrawarman yang telah tewas sebagai pemberontak beberapa waktu yang lalu.


Perasaan berduka tentu saja melanda keluarga istana terutama sang istri Panglima. Tapi mereka menyadari bahwa itu sudah menjadi hukuman bagi pemberontak. Meski sebenarnya Cakrawarman tidak berniat memberontak.


Pada intinya keluarga istana Cupunagara yang mempunyai hubungan ikatan dengan Cakrawarman menerima atas apa yang menjadi hukuman bagi Cakrawarman sebagai pemberontak. Sebagai tanda kesetiaan kepada Maharaja di pusat, Cupunagara selalu mengirimkan upeti setiap purnamanya.


Namun, di hutan yang dulu ditempati pasukan Cakrawarman tampak ratusan prajurit Cupunagara sedang berlatih tempur. Padahal penguasa di pusat Tarumanagara menjatuhkan sanksi kepada kerajaan bawahan yang mendukung Cakrawarman. Termasuk Cupunagara, walaupun masih setia kepada Tarumanagara, tapi tetap disanksi karena ada hubungan kekeluargaan.


Sanksinya yaitu tidak boleh merekrut prajurit baru dan prajurit yang sudah ada semuanya ditarik ke pusat lalu diberikan tugas bermacam-macam. Hal ini dilakukan untuk mencegah munculnya pemberontakan baru.


Tapi di dalam hutan yang tersembunyi di wilayah Cupunagara ini ada sekitar tiga ratus orang yang berseragam prajurit sedang berlatih tempur. Dua orang berpangkat senapati tampak menjadi pelatihnya.


"Raka Jaladipa, utusan Gusti Prabu datang"


"Ayo, Singgih, kita temui beliau!"


Dua senapati meninggalkan tempat latihan menuju suatu tempat agak tersembunyi. Sebuah gubuk kecil. Di sana sudah menanti seseorang yang wajahnya ditutupi kain hitam. Hanya sepasang matanya saja yang tampak dari lubang kain.


"Sembah kami, Gusti!" ucap dua orang ini berbarengan sambil menjura.


"Sudah berapa orang yang terkumpul?" tanya orang bertopeng tanpa basa basi.


"Sekitar tiga ratus, Gusti," jawab Jaladipa.


"Sementara cukup, asalkan dilatih dengan keras. Karena kita akan menaklukan daerah-daerah kecil terlebih dahulu. Tiga hari lagi bawa semua prajurit ke istana untuk menerima arahan."


Selesai bicara orang bertopeng ini meninggalkan mereka berdua.


"Baik, Gusti!" serentak keduanya menyahut. Lalu mereka kembali ke tempat latihan.


Semua prajurit itu ternyata rekrutan baru. Karena memang prajurit yang lama ditarik semua ke pusat. Hanya dua orang senapati itu orang kepercayaan yang disebut 'Utusan Gusti Prabu' langsung ditunjuk jadi senapati karena kemampuan mereka yang setara dengan pendekar.


''Utusan Gusti Prabu' mengaku mendapat perintah dari Prabu Satyaguna untuk merekrut prajurit baru yang nantinya akan mengadakan pemberontakan baru sebagai pembalasan atas kematian Cakrawarman.


Rencananya pemberontakan akan dimulai dari menyerang dan menaklukan kerajaan terdekat terlebih dahulu.


Namun, rencana ini telah tercium oleh telik sandi Tarumanagara.

__ADS_1


Di suatu Paseban di Bale Gede istana Tarumanagara, semua kegiatan di Cupunagara dilaporkan oleh telik sandi.


"Bagaimana Patih Wastudewa?" tanya Maharaja Wisnuwarman.


"Ampun, Gusti!" sahut Wastudewa, Patih kerajaan Cupunagara yang sedang sowan ke pusat mempersembahkan upeti. Mewakili Prabu Satyaguna. "Sejujurnya hamba sama sekali tidak mengetahui hal itu. Namun, hamba menaruh curiga ketika Gusti Prabu Satyaguna menitahkan hamba mewakili beliau menghaturkan upeti,"


Pada saat bicara, Wastudewa tidak berani menatap sang Maharaja. Wajahnya menunduk tapi bola matanya berputar-putar.


"Baiklah, untuk sementara kau tidak diizinkan kembali ke Cupunagara. Sampai penyelidikan tidak membuktikan bahwa kau terlibat,"


"Sendika, Gusti."


"Paman Ragabelawa!"


"Hamba, Gusti," Ragabelawa sebelumnya adalah senapati Indraprahasta. Atas jasanya menumpas pemberontakan Cakrawarman, dia ditarik ke pusat.


"Jika bukti-bukti sudah kuat, pimpin pasukan ke Cupunagara. Jangan menyerang jika Prabu Satyaguna bersedia menyerah!"


"Sendika, Gusti!"


Begitulah titah Maharaja Wisnuwarman yang lebih menghindari pertumpahan darah.


***


Prabu Satyaguna dikejutkan dengan laporan prajurit jaga tentang adanya ratusan prajurit baru di halaman belakang istana sedang berlatih tempur. Prajurit jaga tugasnya hanya berjaga jadi mereka tidak diboyong ke kota raja seperti prajurit perang.


"Apa, benar laporanmu?"


"Ampun, hamba tidak berbohong, Gusti,"


"Siapa yang telah mengumpulkan mereka?" Prabu Satyaguna mulai naik pitam. Dia merasa ada orang yang akan menjebaknya.


"Ampun, Gusti. Semuanya orang baru, tidak ada satupun yang hamba kenal termasuk dua senapati yang bernama Jaladipa dan Singgih itu juga baru hamba tahu."


Sang Prabu hanya mendengkus marah. Lalu dia bergegas menuju halaman belakang yang lebih layak disebut lapangan. Benar juga laporan prajurit jaga. Bisa dibilang ada sepasukan yang siap tempur.


"Berhenti!" teriak Prabu Satyaguna.


Semuanya berhenti lalu menjura bersama-sama.


"Atas perintah siapa kalian berada di sini? Siapa yang telah merekrut kalian?"


Lalu dua orang senapati yang bernama Jaladipa dan Singgih maju menghadap. Mereka menjura terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ampun, Gusti," yang menjawab adalah Singgih. "Atas perintah Gusti Prabu melalui utusan Gusti kami berada di sini,"


"Utusan siapa? Aku tidak pernah mengirim utusan!" bentak sang Prabu.


Dua senapati dan seluruh prajurit menundukkan wajah. Tak ada yang berani mengangkat.


"Siapa utusan yang kalian maksud, dan untuk apa semua ini?"


"Ampun, Gusti," kali ini Jaladipa yang menjawab. Tapi masih menunduk. "Utusan Gusti menyembunyikan jati dirinya. Memerintahkan kami berdua merekrut dan melatih prajurit baru,"


"Untuk apa?!" sela sang Prabu membentak lagi.


Semuanya diam. Tak ada yang berani menjawab. Sampai terdengar satu seruan dari arah belakang Prabu Satyaguna.


"Bagus! Ternyata benar, Cupunagara tengah mempersiapkan pemberontakan!'


Prabu Satyaguna menoleh ke arah sumber suara. "Senapati Ragabelawa, anda masuk tanpa izin. Mau apa?"


"Mau apa?" dengkus Ragabelawa. "Sudah kulihat dengan mata kepala sendiri. Kau sedang mempersiapkan pemberontakan, masih mau mengelak?"


"Semuanya tidak seperti yang kau duga, Ragabelawa!"


"Dugaanku tidak salah, semua kegiatanmu ini tak lepas dari pengawasan telik sandi sejak menantumu tewas sebagai pemberontak!"


Panas hati Prabu Satyaguna mendengarnya. Amarahnya menggebu, rasanya dia ingin melabrak Ragabelawa saat itu juga. Tapi dia berusaha tenang. Ini pasti fitnah!


"Saya bisa menjelaskan semuanya," kata Prabu Satyaguna melunak.


"Jelaskan nanti di hadapan Maharaja, sekarang menyerah dan bersedia dibawa ke pusat atau akan kubumiratakan Cupunagara!" ancam Ragabelawa.


Tidak ada gunanya melawan. Malah nanti tambah jelas bahwa dia akan membelot. Lagi pula ini hanya fitnah. Dia masih bisa memohon kebijaksanaan Maharaja untuk mengusut masalah ini.


"Baiklah!" kata Prabu Satyaguna. "Tapi hanya saya yang dibawa. Kerabat dan keluarga saya tidak ikut serta."


"Semua prajurit ini juga harus ikut, sebagai tanda bukti"


Begitulah akhirnya hanya Prabu Satyaguna dan prajurit baru yang digiring ke kota raja Tarumanagara. Dalam sidang sang Prabu dinyatakan terbukti hendak melakukan pemberontakan dengan bukti tiga ratus orang prajurit binaan baru.


Tapi ada yang aneh, dua senapati Jaladipa dan Singgih tidak ada di antara prajurit-prajurit itu. Semua ini dalam pengamatan Cakra Diwangsa, cucunya Prabu Satyaguna, anaknya Cakrawarman. Dia mengamati sejak digiringnya sang kakek. Karena dia menemaninya.


Atas permintaan Prabu Satyaguna bahwa hanya dirinya saja yang siap menerima hukuman. Kerabat, keluarga, bahkan sepasukan prajurit baru itu juga minta agar dibebaskan.


Sebelum menerima hukuman, Prabu Satyaguna dimasukan ke dalam ruang kurungan. Dan untuk sementara tampuk pemerintahan Cupunagara dipegang oleh Patih Wastudewa.

__ADS_1


Siapakah yang menjebak Prabu Satyaguna?


__ADS_2