Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Serangan Dimulai


__ADS_3

Padepokan Karang Bolong letaknya memang agak jauh dari perkampungan. Di belakangnya terdapat pantai setelah terhalangi hutan kecil yang mengelilingi padepokan ke arah kanan dan menyambung sampai depan.


Di sebelah kirinya terdapat ladang dan kebun yang cukup luas milik padepokan dan warga sekitar. Kampung nelayan itu terletak di sebelah ladang dan kebun.


Di seberang hutan kecil itu ada tanah luas yang tidak dimanfaatkan. Hanya ada semak belukar, ilalang dan rumput liar yang tumbuh di sana.


Menurut perkiraan, dipastikan tanah luas yang terdapat jalan agak lebar di tengah-tengahnya akan dilewati pasukan Gunung Sindu. Karena ini satu-satunya akses ke kampung nelayan dan padepokan.


Beberapa murid padepokan Karang Bolong sudah dibagi ke berbagai tempat untuk mengawasi kedatangan pasukan Gunung Sindu. Terutama di jalan yang cuma satu itu. Mereka bersembunyi di tempat yang sudah disiapkan.


Dua puluh orang murid Gunung Sindu yang menjadi tawanan tampak di ikat. Masing-masing di sebuah tiang yang ditancapkan di sisi hutan kecil. Posisi mereka dibuat mencolok agar terlihat jelas dari arah manapun.


Padepokan Karang Bolong hanya mengerahkan seratus murid yang ilmunya sudah tinggi. Ditambah dua puluh anggota Dewan Kehormatan. Mereka disiapkan di tempat masing-masing yang sudah ditentukan sebelumnya.


Salah satunya di dalam hutan. Anjasmara bersama tiga anggota Dewan Kehormatan juga tiga puluh murid tingkat utama berada di sana.


Di belakang mereka, sepasang pendekar muda yang merupakan suami istri tidak lain Adijaya dan Asmarini berada di atas pohon yang cukup tinggi sehingga bisa melihat ke arah yang jauh.


Sudah satu hari mereka menunggu di sana. Namun, kondisi semua murid apalagi anggota Dewan Kehormatan masih terlihat prima. Mereka sudah siap bertempur.


"Apakah bantuan kita masih dibutuhkan, Kakang?" Pertanyaan ini terlontar karena melihat mereka sudah sangat siap menghadapi perang.


"Aku kira masih, Gunung Sindu langsung mengirim empat murid utama yang terkuat. Sebenarnya lima, hanya yang satu telah Dinda tewaskan,"


Asmarini teringat seseorang yang hancur badannya oleh bola apinya sendiri setelah ditangkis pedangnya. Ilmunya memang tinggi, dia juga hampir saja kalah. Kalau ada empat lagi berarti lebih besar lagi kekuatannya.


Karang Bolong tidak ingin mengotori padepokan dengan pertumpahan darah. Makanya mereka merencanakan pertempuran di luar saja yang agak jauh dari padepokan. Dan tempat ini yang digunakan.


"Seandainya mereka tahu kalau mahagurunya telah kalah," ujar Asmarini.


Adijaya telah menceritakan pengalamannya di Gunung Sindu. Menurut suaminya, Gentasora termasuk salah satu dari lima lawan terberat yang pernah dihadapi. Sebelumnya ada Birawayaksa, Ganggasara, Jerangkong Koneng dan Rangrang Geni.

__ADS_1


"Kalau pihak Gunung Sindu mundur sebelum berperang, Karang Bolong tidak ada perjuangan menumpas aliran hitam. Selain itu bisa jadi Gunung Sindu akan membangun kekuatan baru.


"Jadi lebih baik dibiarkan dan dimusnahkan agar tidak ada kekuatan hitam lagi atau setidaknya berkurang. Atau golongan hitam yang lain akan gentar karena Gunung Sindu adalah yang terkuat,"


"Kakang yakin Karang Bolong akan menang?"


"Yakin!"


Adijaya mencolek dagu istrinya yang lancip. Lalu mendekatkan bibirnya menutupi ranumnya milik si mungil. Saling memagut beberapa saat.


"Di saat seperti ini masih cari kesempatan!"


"Jangan salah, kita masih bisa bercinta di tengah peperangan,"


"Ih, Kakang, aneh-aneh saja!"


Tiba-tiba terdengar suara suitan melengking yang saling menyahut di mulai dari tempat terjauh. Rupanya itu tanda pemberitahuan bahwa pasukan musuh telah dekat.


Pada jarak dua puluh tombak menuju hutan mereka hentikan langkah ketika melihat dua puluh orang terikat pada tiang.


"Itu orang-orang kita!" seru Abilawa setelah mengenali wajah-wajahnya.


"Ternyata mereka sudah mengetahui rencana kita," kata Hanujara.


"Pasti ada pengkhianat!" umpat Dadung Aksa.


"Sekarang bagaimana?" tanya Komba.


"Tunggu apa lagi, berarti Karang Bolong sudah siap dan mereka pasti sedang menunggu kedatangan kita," sahut Dadung Aksa. "Sudah siap mam pus!"


"Benar, tidak usah mempedulikan mereka yang diikat itu!" timpal Abilawa.

__ADS_1


Hanujara menghadap ke belakang, lalu berteriak, "Musuh sudah ada di depan, tapi belum menampakkan diri karena pengecut dan tak ada nyali. " Kemudian dia berbalik lagi, tangannya menunjuk ke arah orang-orang yang terikat pada tiang.


"Kita dekati mereka, maka musuh akan muncul, seraaang...!" pekik Hanujara kemudian.


Ratusan murid padepokan Gunung Sindu berlari mendekati hutan. Walaupun belum terlihat musuh, setidaknya mereka siap. Karena di sana tempatnya lebih lapang. Cocok untuk pertempuran.


Setelah posisi mereka dekat dengan tawanan, barulah muncul puluhan murid Karang Bolong yang langsung menyerang dengan senjata pedang.


Cara menyerang mereka cukup unik. Muncul dari persembunyian langsung melepaskan serangan ganas yang tidak memberi celah kepada lawan. Hebatnya, dua tiga lawan dihadapi oleh satu orang saja.


Setelah berhasil melukai salah satu lawan dengan telak dia berkelebat lenyap lagi. Padahal hari masih 'rumangsang', tapi mereka lenyap bagai dalam gelap.


Begitulah pola serangannya, secara bergantian murid-murid padepokan Karang Bolong muncul. Memberikan luka-luka, lalu lenyap lagi. Sehingga lawan kebingungan dan sedikit kesempatan untuk membalas serangan.


Anjasmara menginstruksikan agar setiap tiga anggota Dewan Kehormatan melawan salah satu dari empat dedengkot yang menjadi pimpinan pasukan Gunung Sindu.


Jadi tidak seperti yang lain yang muncul kemudian lenyap, anggota Dewan Kehormatan tetap melawan empat dedengkot. Tapi ternyata tiga orang masih kurang untuk menghadapinya. Sangat kurang, malah!


Anjasmara perintahkan agar Dewan Kehormatan turun semua. Jadi, masing-masing dedengkot melawan lima orang. Namun, masih tetap saja kekurangan tenaga. Empat dedengkot itu begitu kuat sehingga dengan mudah mendesak lawannya meski dikeroyok.


Dua di antara mereka, Abilawa dan Hanujara malah meninggalkan lawannya dan merangsek ke dalam hutan. Karena menyangka pasti di dalam sini ada yang mengendalikan serangan. Atau mungkin Ki Manguntara sendiri berada di sini.


Di luar hutan, Komba dan Dadung Aksa, masing-masing menghadapi sepuluh orang anggota Dewan Kehormatan. Sementara Abilawa dan Hanujara sudah menemukan Anjasmara dan beberapa murid yang bukan anggota Dewan Kehormatan.


"Mana Manguntara, kenapa dia jadi pengecut?" bentak Hanujara.


"Mahaguru tidak perlu turun tangan menghadapi orang busuk macam kalian!" tukas Anjasmara.


"Huh, anak kemarin sore besar mulut, jangan menyesal kalau nyawamu terkubur di sini!" teriak Abilawa langsung mengirimkan pukulannya.


Beberapa murid tersisa di sana langsung menghadang dengan senjata terhunus, membantu Anjasmara. Namun, sudah diduga menghadapi satu orang saja memang sulit. Apalagi bila yang satunya turun tangan juga.

__ADS_1


Sedangkan semua murid sudah bergerak sesuai tugas masing-masing. Satu-satunya harapan, sepasang pendekar muda segera turun tangan membantu mereka.


__ADS_2