Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Pembalasan Untuk Sang Patih


__ADS_3

Pesta pernikahan di kediaman patih akan berlangsung hingga tujuh hari. Kesempatan ini digunakan Cakra Diwangsa untuk menemui maharaja Wisnuwarman yang sedang sowan ke Indraprahasta.


Sampai di sana Cakra Diwangsa melaporkan apa yang menimpa Adijaya. Hal ini membuat sang Maharaja tergugah hatinya. Dia memang sudah mengirim mentri untuk mewakilinya.


Tapi demi mendengar tentang Adijaya, akhirnya dia memutuskan untuk mendatangi Wanagiri. Tepat di hari ke tujuh. Sore hari ketika pesta hampir usai. Maharaja Wisnuwarman tiba langsung ke kediaman patih diantar langsung oleh raja Wanagiri.


Tentu saja patih Ragadenta gembira tiada tara dengan kedatangan maharaja. Namun, dia tidak tahu maksud kedatangannya.


"Hamba menghaturkan beribu-ribu terima kasih atas kesediaan Paduka Maharaja menghadiri acara pernikahan putri hamba,"


"Aku ke sini untuk menghukum kamu!" tukas maharaja.


Sang patih langsung pucat. Semua yang mendengarkan terdiam dengan perasaan berdebar. Apa yang membuat maharaja tersinggung? Semua menantikan. Sang patih kini berlutut dengan kepala menunduk. Bahkan semua yang ada di situ juga bersimpuh dan menunduk.


"Kau telah merendahkan martabat temanku!"


"Si.. si.. siapa maksud paduka?" tanya sang patih memberanikan diri walau dengan suara gemetar, tapi tak berani mengangkat wajahnya.


"Kau tahu dia seorang pendekar, tapi karena keangkuhan dan keserakahanmu, kau tega menghinanya. Tahukah kau, dia telah berjasa terhadap Tarumanagara.


"Dia telah melumpuhkan Ganggasara, orang yang paling berbahaya di negeri ini. Pertama Ganggasara mendompleng pada pemberontakan Cakrawarman. Kedua dia mendalangi fitnah yang menimpa prabu Satyaguna.


Dan terakhir dia berani mendirikan kerajaan baru tanpa seijinku. Semuanya digagalkan oleh temanku yang kau hina itu. Bahkan tanpa merasa berdosa kau mengambil miliknya!"


Patih Ragadenta semakin gemetar, keringat bercucuran di dahinya. Dia mulai menebak siapa yang dimaksud maharaja. Tidak disangka perbuatannya telah menyinggung sang penguasa Tarumanagara.


"Dia Adijaya, calon suami putrimu. Tapi dengan licik kau jebak dia hingga terkubur dalam lubang. Kau menyebutnya orang gila. Kau merampas harta miliknya! Apa seperti itu kelakuan seorang patih?"


"Ampunkan hamba, Paduka!" patih Ragadenta sesegukan menangis. "Hamba sungguh tidak tahu..."


Sang patih bersujud memohon ampun sambil menangis penuh penyesalan. Memang, harta yang dibawa Adijaya dalam kereta bisa dibilang sangat banyak. Bahkan bisa menyamai kekayaan seorang pejabat istana.

__ADS_1


Tapi karena gengsi, walaupun Adijaya seorang pendekar, tapi dia dari kasta rendah. Dia pikir nantinya akan membuat malu dirinya jika mempunyai menantu orang rendahan.


Namun, ternyata jasa yang ditorehkan Adijaya telah menyentuh hati maharaja sehingga menganggapnya sebagai teman. Ini diluar perhitungannya.


"Mulai sekarang kau kuberhentikan jadi patih. Semua harta kekayaanmu ditarik kerajaan. Tidak boleh ada kerabat, tetangga atau teman yang menolong. Biarkan dia dan keluarganya jadi gelandangan. Biar kau rasakan bagaimana jadi orang hina!"


Bagai disambar petir di siang hari mendengar putusan maharaja menjatuhkan hukuman atas dirinya. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Istri sang patih langsung pingsan. Yang lain tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hanya Asmarini yang tampak seperti orang linglung.


Maharaja Wisnuwarman sudah beranjak pergi langsung kembali ke Indraprahasta.


Cakra Diwangsa yang masih ada di situ mendekati patih yang kini duduk lesu meratapi nasibnya.


"Aku yang melaporkanmu kepada maharaja, bila kau dendam carilah aku!"


Ragadenta menatap penuh benci ke arah Cakra Diwangsa yang sudah pergi.


Besoknya keluarga Ragadenta terlunta-lunta meninggalkan kediamannya. Mereka hanya bertiga, Ragadenta, istri dan Asmarini. Keluarga suami Asmarini langsung memutuskan hubungan karena merasa tidak terlibat.


Pada saat terlunta-lunta di hutan, Nyai Gandalaras menghampiri mereka.


"Keserakahanmu telah membuat putrimu menderita," hardik si nenek.


Wanita tua berjuluk Pendekar Pedang Bunga ini mendekati Asmarini yang terus-terusan tampak linglung. Lalu si nenek memanggul si gadis di pundaknya.


"Demi ambisimu sampai tega meng'gendam' anak sendiri. Orang tua macam apa kau ini!"


Sementara sepasang suami istri bekas pejabat ini tak mengeluarkan sepatah katapun. Pikiran dan hati mereka kalut. Begitu cepatnya mereka dari bergelimang harta menjadi miskin. Tak sepeser pun yang mereka miliki.


Si nenek telah pergi membawa Asmarini. Dia akan berusaha menyembuhkan gadis itu dari pengaruh gendam. Berhubung si nenek tak mengerti dengan ilmu hitam itu, maka dia akan mencari temannya yang ahli ilmu gendam.


***

__ADS_1


Kabar dicabutnya jabatan patih Ragadenta langsung oleh maharaja Wisnuwarman telah sampai ke telinga Adijaya. Bahkan ada yang mengabarkan bahwa harta milik Adijaya tidak boleh ada satupun yang mengganggu kalau tidak mau mendapat hukuman dari maharaja.


Harta termasuk kereta kuda milik Adijaya tersimpan di kerajaan Wanagiri. Kecuali Adijaya, siapapun tidak berhak mengambilnya.


Adijaya termenung duduk di atas dahan pohon mangga. Saat ini memang dia tidak membawa kepeng sepeserpun. Makanya dia hanya mencari buah-buahan atau berburu ayam di hutan.


Mengingat nasib yang menimpa Ragadenta seketika terpikirkan bagaimana nasib Asmarini. Lalu dia ingat Nyai Gandalaras, nenek itu pasti menolongnya. Sedikitnya dia sudah merasa tenang.


Dia juga ingat Cakra Diwangsa. Terakhir bertemu dia bilang akan membalas perbuatan Ragadenta. Mungkin inilah yang dimaksud punya cara dia sendiri. Langsung melibatkan maharaja.


Adijaya tersenyum sendiri memikirkannya. Seorang rakyat jelata sampai dibela maharaja. Akan sangat malu sekali kalau bertemu maharaja nanti.


Pemuda ini menghela napas panjang. "Kesampingkan dulu soal itu, sekarang aku tertarik menyelidiki pembunuhan Rana, dengan tersangka utama Puspasari!"


"Tolooong..! Ampun!"


Adijaya terkejut mendengar suara orang minta tolong. Segera dia fokuskan pendengaran. Lalu dia memanjat lagi lebih atas. Hampir ke pucuk pohon. Bola matanya mengitari tempat sekitar.


Ketika menengok ke sebelah kiri. Sejauh dua puluh tombak lebih. Tampak seorang pemuda seumurannya diikat pada batang pohon kelapa. Di depan pemuda itu dengan posisi memunggungi Adijaya, seorang gadis tengah menghunus pedang pendek.


Pemuda itu tampak ketakutan di hadapan si gadis. Berkali-kali dia minta ampun. Tapi si gadis tak menggubrisnya. Ketika terjadi pembunuhan Rana juga mirip seperti ini. Hanya Rana tidak diikat dan sempat ada perlawanan.


"Jangaaan!" Si pemuda yang terikat menjerit keras ketika pedang di tangan si gadis bergerak menusuk.


Dengan sekuat tenaga Adijaya melesat cepat hendak mencegah pembunuhan itu. Tapi apa daya, jarak yang begitu jauh menjadi penyebab gagalnya pencegahan.


Baru tiga perempat melesat, pedang si gadis sudah menusuk jantung. Persis seperti ketika hendak menyelamatkan Rana. Dua kali dia gagal menyelamatkan nyawa orang. Rasa menyesal menghinggapinya. Akhirnya dia mendarat tujuh tombak dari tempat kejadian.


Si gadis pembunuh sudah lenyap entah kemana. Tak lama kemudian datanglah dua orang lelaki menghampiri jasad pemuda yang terikat itu. Salah satunya orang yang sudah dikenalnya.


"Jantaka!" desis Adijaya.

__ADS_1


__ADS_2