
Tukk!
Ujung payung berhasil menghantam dada. Buta Merah terkejut karena gerakan Adijaya yang hampir tak terlihat. Tambah kaget lagi ternyata tenaga manusia ini cukup kuat sampai mendorongnya tiga tindak.
Sementara Adijaya terpental balik sejauh tiga tombak. Beruntung dia bisa mengimbangi diri sehingga tidak jatuh. Berikutnya dia persiapkan kekuatan dua kali lipat.
Di alam ini Adijaya harus bergantung pada senjatanya. Mau tak mau dia juga harus ciptakan jurus dari kitab Hyang Sajati yang kini sudah hapal di luar kepala setelah bertemu Ki Kuncung Putih.
Adijaya sudah menyerang kembali. Payungnya digenggam layaknya pedang. Karena tinggi lawan dua kali tinggi badannya, maka sang pendekar sering menyerang sambil melompat untuk menyamai tingginya.
Payung diputar dan diayun cepat mengincar bagian leher ke atas. Namun, sepasang tangan kekar makhluk berkulit merah ini bergerak cepat memapak atau menangkis serangan lawan.
Buta Merah tahu, payung yang dipegang lawan adalah wujud Ki Santang yang tidak bisa dipandang remeh kekuatannya. Makanya dia tidak tanggung-tanggung kerahkan tenaga besar dalam menangkisnya.
Sebenarnya posisi menyerang sambil melayang di udara mengandung resiko besar dan tidak efektif karena tidak adanya kuda-kuda yang mengandalkan sepasang kaki.
Akhirnya Adijaya menyerang dengan cara melompat-lompat. Pada saat lawan membalas serangan dia menghindar dengan turun ke tanah. Lalu secepat kilat dua kakinya menjejak tanah untuk lompatan berikutnya.
Pada lompatan ini dia kembali menyerang. Sekali gerak, payungnya menusuk ke lima tempat. Buta Merah hanya sekali mengibas saja membuat serangan Adijaya tak mendapatkan hasil.
Setiap serangan yang dia lancarkan adalah gerakan baru. Diciptakan berdasarkan kalimat-kalimat yang tertulis dalam kitab Hyang Sajati. Adijaya menggunakan cara ini bermaksud agar lawan tidak bisa membaca gerakannya.
Memang benar, Buta Merah baru kali ini melihat jurus yang diperagakan lawannya. Dia bisa menghindar, memapak atau menangkis juga berdasarkan naluri yang muncul sepersekian kejap.
Seandainya makhluk berwajah burung gagak ini gerakannya lambat, tidak menutup kemungkinan dirinya sudah menjadi bulan-bulanan lawan. Diam-diam dia mengagumi manusia yang menjadi lawannya ini.
Selama pertarungan berlangsung, energi yang memenuhi sekitar tempat terasa semakin tebal. Seperti merasakan tekanan udara. Otak Adijaya langsung terpikirkan sesuatu.
Berdasarkan dua atau tiga baris kalimat dalam kitab Hyang Sajati, Adijaya mengolah kekuatan. Dengan cara sesuai pikirannya, kini dia bisa memanfaatkan pendaran energi sebagi pijakan kakinya.
Sehingga dia tidak perlu turun naik lagi ke tanah untuk mendapatkan tenaga baru. Tubuhnya kini selalu melayang di udara. Bahkan cukup mendorongkan kaki ke belakang, tubuhnya bisa melesat ke depan.
"Di alam lelembut saja dia bisa berkembang!" gumam Padmasari kagum melihat kemajuan yang ditunjukkan Adijaya.
Sementara Buta Merah terpaksa tambah kekuatan. Yang dia butuhkan hanya kecepatan. Sebab serangan lawan terbaca di saat-saat hampir mengenai sasaran yang diincar.
__ADS_1
"Juragan, buat dia selalu menangkis saya!" bisik Ki Santang.
Sepasang mata Adijaya berbinar bersama seringai jahat di wajahnya. Lalu dia gerakkan payung memutar, menebas, mengayun dan menusuk lebih cepat lagi.
Sudah melewati puluhan jurus, makhluk raksasa berkulit merah berwajah burung gagak kini dalam posisi bertahan. Kecepatan serangan Adijaya telah mengurung ruang geraknya untuk membalas serangan.
Sekarang dia hanya menahan dan menangkis. Dua tangannya hanya bisa digunakan sebagai tameng, melindungi dirinya dari serangan berbagai arah. Tenaga yang dikerahkan juga semakin besar lagi.
Ini memang rencana Ki Santang. Pada saat dirinya membentur tangan makhluk merah itu, dia tambahkan tenaga. Maksudnya untuk menguras kekuatan si merah berwajah burung gagak itu.
Andaikan Buta Merah ini bangsa manusia, mungkin sepasang tangannya sudah terasa linu-linu karena terus menerus digunakan untuk menangkis payung jelmaan Ki Santang.
Lama-lama sosoknya terdorong mundur, tenaganya semakin menipis. Sementara di otaknya belum menemukan solusi mengatasinya. Sodokan terakhir pucuk payung telak mengenai pusat kening Buta Merah.
Dukk!
Buta Merah terhuyung. Tubuhnya condong ke belakang. Adijaya memanfaatkan momen ini, dia angkat dua kaki hingga posisinya siap menendang. Buta Merah silangkan dua tangan sebagai perisai.
Dess!
Brugh!
Buta Merah jatuh telentang. Pada saat itu Adijaya sudah mendarat sambil menodongkan payung ke lehernya. Senyum kemenangan menghiasi wajah Adijaya yang dimiringkan.
"Baiklah, aku kalah!" Suara Buta Merah tampak kecewa.
"Kau harus percaya padanya, labu itu akan digunakan untuk kebaikan?" ujar Padmasari yang sudah berada di dekat Adijaya.
Buta Merah bangun duduk. "Kau sengaja memilih aku, penjaga labu yang paling lemah. Begitu, kan?"
"Bukan aku, tapi payung itu yang menunjukkan arahnya!" sanggah Padmasari.
Kalau manusia mungkin si merah ini akan menghempas napas kesal sambil melihat payung yang selalu digenggam Adijaya.
"Tidak usah sewot, berikan saja labunya. Bukankah dengan begitu kau sudah bebas tugas?" semprot Ki Santang.
__ADS_1
Kemudian salah satu tangan Buta Merah menyusup ke balik semak-semak yang terdekat. Setelah ditarik kembali, tangan ini sudah memegang labu. Di sodorkannya benda ini kepada Adijaya.
Adijaya mengambilnya dan langsung dimasukan ke dalam payung.
"Sekarang kau boleh istirahat sepuasnya. Tidak usah khawatir, kami yang akan bertanggung jawab selanjutnya!" kata Ki Santang.
Buta Merah berdiri lalu melangkah dan menghilang di tempat yang bagian malam hari. Adijaya juga segera meninggalkan tempat aneh itu.
***
Adijaya kini memasuki sebuah padang rumput yang sangat luas. Sejauh mata memandang hanya rumput dan ilalang yang tampak di depan mata. Di atas, langit begitu terang meski tiada matahari.
Melihat ke bawah baru sadar kalau dirinya tidak memiliki bayangan. Namun, dia segera maklum, ini alam berbeda. Bahkan dirinya sekarang ini juga berupa makhluk halus.
"Kemana kita?" tanya Adijaya.
"Ke sarangnya!"
"Masih jauh? Aku tidak melihat apapun selain rumput-rumput liar itu!"
"Tempatnya bernama Puri Iblis!"
"Kedengarannya menyeramkan!"
"Juragan harus melewati beberapa gerbang yang dijaga oleh budak-budaknya."
Setelah lama berjalan, jauh di depan sana kini terlihat sebuah bangunan yang mirip istana. Tidak besar, tapi juga tidak kecil. Bangunan ini di kelilingi pagar berlapis. Sehingga terlihat seperti wilayah istana.
Di pagar paling luar, di depan gerbang. Berdiri satu sosok yang bertugas sebagai penjaga. Dari jauh, Adijaya belum bisa melihat jelas siapa gerangan yang akan menjadi rintangan pertamanya.
Semakin dekat semakin jelas sosoknya. Makhluk yang berwujud seorang kakek. Pakaiannya berupa jubah berwarna hitam kelam. Memancarkan aura hitam juga.
Energinya sudah terasa sampai ke tempat Adijaya. Semakin dekat semakin kuat. Kalau tidak diimbangi dengan kekuatannya, mungkin Adijaya akan merasa berat langkahnya.
Namun, sang pendekar tetap tegap melangkah membelah energi hitam yang mencoba menghalanginya. Sampai akhirnya tiba di depan penjaga gerbang lapis pertama.
__ADS_1