Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Menjalankan Rencana


__ADS_3

Cahaya perak menyeruak dari langit sebelah timur. Pagi yang indah begitu cerah. Suara cericit burung-burung terdengar merdu. Angin pagi membelai tengkuk Adijaya yang masih tenggelam dalam semedinya.


Beberapa saat kemudian pemuda ini membuka matanya sambil melepaskan napas panjang.


"Kakang tidak tidur semalaman?"


Suara lembut itu menyapa dekat di sampingnya. Asmarini telah duduk di sebelahnya.


Adijaya memandang lembut gadis yang baru bangun tidur itu. Kata orang-orang, kecantikan asli seorang wanita itu ialah ketika baru bangun tidur.


Asmarini memang cantik asli, bangun tidur, tanpa polesan apapun. Gadis ini tetap mempesona.


Si gadis mungil membelalakkan matanya melihat sikap Adijaya. "Kakang kenapa?"


"Tidak perlu mandi, tidak usah bersolek. Dinda sudah cantik,"


Asmarini tersipu, dia mengacungkan sebuah buntalan. Isinya pakaian ganti. "Di sebelah sana ada pancuran, Kakang jangan mengintip, ya!"


Si gadis mencium pipi Adijaya sebelum dirinya melompat turun meninggalkan kereta kuda menuju pancuran yang letaknya agak jauh di dalam hutan kecil dekat desa.


Beberapa lama kemudian setelah sepasang pemuda ini membersihkan badan. Mereka sudah duduk di kedai. Menjadi orang pertama yang berkunjung.


Di saat sedang menyantap sarapan, terdengar percakapan suami istri pemilik kedai.


"Sepagi ini desa sudah geger, Kang!"


"Geger, apalagi, Nyi?"


"Dua kuburan anaknya juragan Brata ada yang membongkar!"


"Maksud Nyai, Den Candra dan Sekar?"


"Iya!"


Sepasang pemuda yang mendengar saling pandang. Bukankah semalam yang bangkit dari kubur hanya Candra Kusuma? Begitu yang mereka saksikan.


"Terus bagaimana keadaannya?" tanya sang suami kemudian.


"Jasad mereka hilang,"


"Ada yang mencuri?"


"Entahlah!"


"Aneh-aneh saja,"


"Ada seorang saksi, katanya dia melihat seseorang keluar dari halaman rumah juragan Brata sambil memondong tubuh seseorang di pundaknya,"


"Kapan kejadiannya,Nyi?"


"Waktu Janari Gede!"


(Janari Gede \= dini hari sekitar pukul 03.00)


Kembali Adijaya dan Asmarini saling pandang. Berarti kejadiannya jauh setelah Candra Kusuma. Siapa yang telah mencuri mayat Sekar Kusuma?

__ADS_1


"Untuk apa mencuri mayat?"


"Eh, si Akang. Masa tidak tahu? Untuk syarat ilmu hitam!


"Ilmu hitam?"


Sarapan telah selesai. Tidak lupa Adijaya membeli beberapa bungkus untuk bekal di perjalanan. Di dalam kereta mereka membicarakan rencana apa yang akan mereka lakukan.


Adijaya merubah penampilannya menjadi seorang lelaki paruh baya dengan alat penyamaran yang selalu dibawanya dalam kotak tempat pakaiannya.


"Penampilan kita tidak akan mencolok, orang-orang akan menyangka kita ini ayah dan anak,"


Asmarini hanya tersenyum simpul melihat penampilan baru sang kekasih.


"Apa kita tidak menyelidiki hilangnya mayat Sekar Kusuma?" usul Asmarini.


"Tujuannya pasti sama, kerajaan Purwa Sedana."


Kereta kuda pun mulai melaju meninggalkan desa itu. Adijaya yang berubah tampilan duduk jadi kusir, sedangkan Asmarini di dalam.


***


Tempat mencari segala macam keterangan yaitu di kedai. Tempat berkumpulnya segala macam kalangan orang. Dari sesuatu hal yang remeh temeh sampai yang paling rahasia dibicarakan di tempat makan ini.


Begitulah tempat yang dikunjungi pemilik kereta besar yang ditarik dua ekor kuda ini adalah kedai lagi. Walaupun masih banyak perbekalan yang dibawa dari kedai sebelumnya.


Adijaya tua dan Asmarini sudah duduk di tempat yang dipilih mereka. Selain keduanya sudah banyak pengunjung lain di sana.


Di antaranya duduk di paling pojok, seorang kakek bersama seorang gadis berparas anggun.


Adijaya hampir tersedak mendengarnya. "Sepertinya mereka murid dan guru," balas Adijaya tua.


"Silakan, ini pesanannya." seorang pelayan kedai mengantarkan pesanan mereka.


"Terima kasih," ucap Asmarini.


Kemudian mereka menyantap makanannya. Sambil makan mereka kerahkan hawa sakti memperkuat indra pendengaran untuk menangkap setiap pembicaraan.


"Sebelum membongkar kuburanmu, aku lihat kuburan kakakmu sudah terbongkar dan isinya kosong," terang si kakek kepada gadis berparas anggun itu.


"Berarti benar, Raka Candra pura-pura mati. Sayangnya aku tidak tahu bahwa Raka Candra akan melakukannya malam itu. Aku tidak sempat menyelamatkan ayah dan ibu," sesal si gadis.


"Kematian orang tuamu sudah takdir. Begitu pula selamatnya dirimu dari kematian adalah takdir untuk membalas kematian mereka meskipun harus melawan kakakmu sendiri,"


"Raka Candra, demi sebuah jabatan kau rela mengorbankan keluarga sendiri. Aku akan menuntut balas!" si gadis mengepalkan tangannya. Wajahnya yang anggun jadi terlihat dingin.


"Aku akan membawamu ke kediamanku dulu," kata kakek. "Kau akan kuberi bekal tambahan."


Dari mendengarkan percakapan ini, Adijaya dan Asmarini menyimpulkan bahwa gadis itu adalah putrinya Brata Kusuma. Ternyata benar geger orang-orang desa tadi pagi.


Kemungkinan Sekar Kusuma mengetahui rencana kakaknya hanya tidak tahu kapan waktunya. Sehingga pada saat kejadian gadis itu hanya mampu menyelamatkan diri sendiri.


Sekar Kusuma diajari si kakek yang menjadi gurunya cara agar racun tidak menyerang dan menyebar dalam tubuhnya. Lalu dia menunggu dalam kubur untuk diselamatkan si kakek.


"Lantas bagaimana caranya aku mencari anak durhaka itu?" tanya Sekar Kusuma kemudian.

__ADS_1


"Kita bisa menyambangi kediaman Munding Wirya. Dia yang menghasut kakakmu!"


Kemudian si kakek berdiri dan melangkah keluar diikuti Sekar Kusuma. Setelah membayar, mereka meninggalkan kedai.


Puk!


Adijaya kaget saat bahunya ditepuk Asmarini.


"Ada apa?"


"Kakang suka Sekar Kusuma, ya?"


Sesaat Adijaya tua melongo, lalu tertawa mengekeh dengan suara yang dibuat-buat seperti suara orang tua.


"Masa aku suka kepada yang masih hijau?"


"Semua laki-laki sama." dengkus Asmarini. "Mau tua atau muda tetap saja sukanya daun muda!"


Adijaya memegang lengan si gadis, agak meremasnya sedikit. "Dinda cemburu?" bisiknya.


"Tidak!" Pipi Asmarini bersemu merah. Dia memalingkan wajah ke arah lain.


"Sudah-sudah, sekarang sasaran kita adalah Munding Wirya,"


"Tuh, kan! Ternyata Kakang ingin bertemu lagi dengan gadis itu!" sungut Asmarini.


Adijaya tua hanya mendesah pelan. Perempuan kalau sudah cemburu akan membuat jadi serba salah. Dia hanya bisa eratkan pegangan tangannya sebagai tanda bahwa hanya Asmarini yang dia cintai.


"Kita akan mendahului mereka ke tempat Munding Wirya,"


"Kakang sudah tahu tempatnya?" Wajah Asmarini berubah cerah.


Tentu saja dengan mendahului, 'Kakang'-nya tidak akan bertemu lagi dengan Sekar Kusuma.


"Coba Dinda tanya kepada pemilik kedai ini." Adijaya tua tersenyum sambil menelengkan mukanya.


Asmarini mendengkus kesal. Tapi gadis ini tetap menyukai tatapan si 'tua' Adijaya yang lembut.


Selesai makan, Adajaya beranjak keluar menuju kereta kuda. Sementara Asmarini mendekati pemilik kedai untuk membayar.


"Saya mau tanya, Ki," ujar Asmarini.


"Silakan, Ni Sanak!"


"Kalau kediamannya Munding Wirya di mana, ya?"


Si pemilik kedai tampak melirik ke arah kereta kuda besar milik Adijaya. Dalam hatinya menduga-duga sesuatu.


"Kediaman Gusti Munding Wirya berada di desa Sukajadi,"


Asmarini terdiam sejenak saat pemilik kedai itu menyebut 'Gusti'. Pasti kedudukan Munding Wirya ini sangat penting, pikir si gadis.


"Terima kasih, Ki!"


"Sama-sama!"

__ADS_1


Asmarini menuju kereta kuda langsung masuk ke dalam disambut senyum lembut sang pujaan hati.


__ADS_2