Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Halangan Pertama


__ADS_3

Ketika waktu 'Tangage' alias tengah hari kereta kuda Adijaya sudah jauh meninggalkan padepokan. Mereka memasuki sebuah desa yang agak ramai lalu lalang orang di jalanan.


"Perasaan, waktu aku membawa kereta ini dari Wanagiri ke padepokan Linggapura, kudanya bukan warna putih," kata Cakra Diwangsa.


"Istriku yang menggantikan kudanya," jawab Adijaya. "Mereka kuda ajaib!"


"Ajaib?"


"Ya, coba saja lepaskan tali kekangnya. Kita berkumpul di dalam!"


Awalnya Cakra Diwangsa agak ragu. Sekar Kusuma juga menunjukkan raut bertanya-tanya. Lalu dengan perlahan Cakra Diwangsa lepaskan tali kekang. Sepasang kuda itu masih berlari.


"Kemarilah!" ajak Asmarini.


Akhirnya suami istri itu masuk, tapi tetap membiarkan pintunya terbuka. Setelah di dalam, kereta terus melaju dengan kecepatan tetap dan mengikuti arah jalan.


"Paman dan Bibi kuda, kalau ada kedai kita berhenti!" perintah Asmarini kepada sepasang kuda putih.


Cakra Diwangsa dan istri memasang muka heran. Hati mereka masih diliputi kecemasan, sedangkan Adijaya dan Asmarini tersenyum melihat raut wajah mereka.


"Tenanglah, kalau kereta ini berhenti berarti ada kedai!" ujar Adijaya.


Benar saja, begitu ada kedai di pinggir jalan kereta kuda langsung menepi dan berhenti, tapi tidak sampai menghalangi jalan masuk ke kedai.


Cakra Diwangsa dan Sekar Kusuma melepas napas lega walau masih diliputi keheranan. Sepasang kuda itu memang ajaib. Mereka baru tahu ada kuda ajaib. Adijaya dan istrinya memang unik. Sudah punya Payung Terbang, sekarang ditambah kuda ajaib.


Dua pasang suami istri turun dari kereta kuda lalu masuk ke kedai yang lumayan besar dan ramai. Para pengunjung kebanyakan sama seperti mereka yang sedang dalam perjalanan. Setelah mendapatkan tempat duduk, mereka memesan makanan.


Tidak lama hidangan datang. Merekapun segera menyantapnya. Namun, kejadian naas menimpa ketika makan hampir selesai. Asmarini terbatuk-batuk sampai memuntahkan kembali makanannya.


"Dinda, ada apa?" Adijaya langsung cemas. Dia tidak meneruskan makannya. Begitupun dua temannya.


Asmarini tampak pucat, bibirnya juga menghitam. Tubuhnya kejang-kejang dan menggigil kedinginan.


"Keracunan!" seru Sekar Kusuma.


Adijaya tampak panik. Dia segera menyalurkan hawa sakti melalui punggung istrinya. Sementara Cakra Diwangsa menerjang ke arah pemilik kedai langsung mencekiknya.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan?" geram Cakra Diwangsa.


Sepertinya memang disengaja hanya meracuni Asmarini. Karena yang lainnya tidak merasakan ada sesuatu yang aneh di dalam makanannya.


"Jangan berbuat kasar pada orang tua!" Satu suara menghardik pelan, membuat Cakra Diwangsa melepaskan cekikannya.


Pemilik kedai tampak ngos-ngosan sambil memegangi lehernya. Beberapa saat tadi dia tak bisa bernapas.


"Siapa kau?" cecar Cakra Diwangsa pada lelaki paruh baya yang tiba-tiba saja muncul itu.


"Aku yang meracuninya!" jawab laki-laki setengah baya itu. "Kalau ingin selamat kau harus menuruti perintahku!" lanjutnya sambil menunjuk Adijaya.


"Apa maumu?" tanya Adijaya.


"Batalkan ke kota raja!"


"Tidak mungkin!" bentak Cakra Diwangsa. "Memangnya siapa kau berani melawan titah Maharaja?"


"Aku tidak peduli. Kalau tidak menurut, maka aku tak akan memberikan penawarnya!"


Lelaki ini menyeringai licik penuh kemenangan. Bahkan tatapannya seperti mengejek Cakra Diwangsa. Lalu menatap tajam Adijaya.


"Untuk apa aku harus menjawab? Urusanku hanya dengan mereka!"


"Kau!" Cakra Diwangsa siap melepaskan pukulan yang mengandung tenaga dalam.


Lelaki itu segera mengacungkan sebuah bumbung bambu kecil yang lubang atasnya disumpal potongan ranting. Cakra Diwangsa hendak merebut, tapi tangan laki-laki itu lebih cepat menghindar.


"Jangan macam-macam, atau penawar satu-satunya ini akan hilang sia-sia!"


"Kau yang jangan macam-macam, cepat serahkan penawarnya atau kau akan berurusan dengan kerajaan!" ancam balik Cakra Diwangsa.


"Siapa kau berani mengancam?" Lelaki itu memandang rendah Cakra Diwangsa. "Majikanku bisa dengan mudah memenggal kepalamu!"


"Tapi, sepertinya kami tetap akan ke kota raja!" kata Adijaya masih di tempat duduknya sambil merangkul istrinya.


"Berarti kau sudah tidak sayang istrimu lagi!" tuding lelaki paruh baya.

__ADS_1


"Bukan begitu!" sanggah Adijaya. Kini bibirnya mengulum senyum. "Karena istriku masih sehat, tidak terkena racun apapun!"


Lantas Adijaya dan Asmarini berdiri. Nampak si cantik mungil itu terlihat segar bugar. Wajah berseri dan sorot mata indah memancar. Tidak ada tanda-tanda keracunan sedikitpun.


Malah keduanya melangkah keluar. Sambil lewat Adijaya melemparkan kepingan emas kepada pemilik kedai.


Mulut lelaki setengah baya terbuka tanpa suara. Tidak percaya dengan apa yang dilihat. Padahal racun yang dia gunakan sangat ganas.


"Sekarang kau harus kutangkap, karena mencoba meracuni kerabat Maharaja!" seru Cakra Diwangsa sembari menerjang.


Namun, lelaki setengah baya sudah sigap. Dia menghindar lalu melompat keluar hendak melarikan diri. Cakra Diwangsa langsung berkelebat menghadangnya.


Terjadilah pertarungan antara keduanya. Banyak jurus dan ilmu yang sudah diserap Cakra Diwangsa sejak menjadi murid Ki Brajaseti. Tekad dan keinginan yang kuat membuatnya cepat berkembang.


Terbukti serangannya mampu mengimbangi lelaki setengah baya yang ternyata memiliki tenaga dalam yang lumayan. Serangan jurusnya juga mematikan. Kombinasi tinju dan cakar.


Lelaki setengah baya ini sebenarnya tidak sendiri, ada satu kawannya yang bersembunyi. Mereke ditugaskan untuk meracuni Asmarini dengan tujuan inti menggagalkan perjalanan Adijaya ke kota raja.


Namun, setelah belasan jurus berlalu, temannya belum juga muncul membantu. Beberapa kejap kemudian dia baru sadar ternyata temannya tengah menghadapi Sekar Kusuma. Sepasang pengawal ini ternyata bukan orang sembarangan.


Sementara Adijaya dan Asmarini berdiri di dekat kereta kuda menyaksikan pertarungan yang terjadi di halaman kedai.


Jangan lupa, walaupun bukan ahli meracik racun, Asmarini tahu berbagai jenis racun. Sewaktu kasus kematian kedua orang tua Sekar Kusuma yang diracun saja, Asmarini dengan mudah menemukan jenis racunnya.


Ketika hendak makan tadi Asmarini curiga dengan masakan yang menurut mata jelinya tampak berwarna beda. Juga dari baunya. Serapi apapun menutupi racunnya, Asmarini dapat mengendusnya.


Dengan isyarat matanya dia memberitahu sang suami. Adijaya yang mengerti langsung meminta Padmasari mengganti makanan dengan yang baru, sedangkan yang beracun dibuang.


Selanjutnya Asmarini berpura-pura keracunan sampai pelakunya menampakan diri. Soal wajah pucat dan ciri-ciri lainnya hanya tipuan Padmasari.


Berbagai pertanyaan muncul dalam pikiran Adijaya atas peristiwa ini. Dia akan menanyakan kepada Cakra Diwangsa nanti.


Kembali ke pertarungan. Sekar Kusuma tidak menemui kesulitan menghadapi lawannya. Pedang di tangannya meliuk-liuk indah, tapi mengancam. Lelaki yang menjadi lawan Sekar Kusuma tampak lebih muda dari temanya yang menjadi lawan sang suami.


Sekar Kusuma berhasil mendesak lawannya. Kendati lelaki itu menggunakan senjata parang yang lebih besar dari pedang Sekar Kusuma, tapi tenaganya tidak memadai. Akibatnya dia semakin terpojok.


Sampai akhirnya senjata parang terlepas karena tangannya kebas akibat benturan dua senjata yang keras. Raut mukanya seperti putus asa akibat menanggung beban yang begitu berat.

__ADS_1


Tapi apa yang terjadi selanjutnya?


__ADS_2