Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Sasaran Ke Tiga


__ADS_3

Sudah sebulan ini Kemala lebih memilih tinggal di penginapan milik kakaknya. Sang kakak memiliki penginapan yang besar. Kamarnya banyak, juga terdapat kedai besar.


Gadis jelita yang yang berumur delapan belas tahun ini tengah dirundung masalah. Kedua orang tua Kemala ingin cepat-cepat menjodohkan bahkan menikahkan dia dengan lelaki pilihan ayahnya.


Memang, lelaki yang hendak dijadikan suaminya bukan orang sembarangan. Seorang anak saudagar kaya gagah dan tampan lagi.


Tapi urusan menikah harus berdampingan dengan cinta. Cinta adalah urusan hati. Mau setampan dan sekaya apapun orangnya kalau hati tidak sreg, ya tak bisa dipaksakan walau diiming-iming kemewahan.


Kemala berpikir masih terlalu muda untuk menikah. Dia memang anak bungsu, kakak-kakaknya sudah berumah tangga dan tinggal terpisah dengan orang tua. Mandiri. Sedangkan dia belum siap dengan segala urusan rumah tangga walaupun nantinya ada pembantu. Atau tinggalnya masih sama orang tua karena dia anak bungsu.


Saat dia kabur dari rumah dan tinggal di penginapan, dia memohon dengan sangat agar kakaknya tidak memberitahukan keberadaannya kepada ayah dan ibunya. Sampai waktu yang tidak ditentukan.


Kemala baru saja masuk ke kamarnya setelah agak lama menghabiskan makan di kedai. Dia langsung membaringkan badannya di atas dipan.


Sedang enak-enaknya melepas penat. Tiba-tiba Kemala dikejutkan sesuatu. Pandangannya menemukan satu sosok yang entah kapan datangnya tahu-tahu sudah berdiri di tengah kamarnya.


Seketika langsung berjingkat badannya. Dadanya mendadak berdebar kencang. Bagaimana bisa ada orang masuk? Padahal dia sudah mengunci pintu sejak masuk tadi.


"Kau!"


Semakin terkejut gadis ini begitu mengenali orang misterius ini.


"Bagaimana kau bisa masuk?"


Lelaki berpakaian serba hitam ini tersenyum sinis dengan sorot mata tajam mengandung hawa sadis. Seperti elang hendak mencengkram mangsanya.


"Aku sudah menunggu kamu dari tadi." Suaranya besar tapi pelan dan seolah sengaja diserak-serakkan.


"Gila, kamu! Masuk tanpa ijin. Mau apa kamu? Mencuri?"


Si lelaki mengekeh pelan. "Ya, aku mau mencuri nyawamu,"


"B*ngs*t, kamu! Antara aku dan kamu sudah tidak ada hubungan lagi, sudah tidak ada masalah lagi. Mau apa lagi kamu?


"Sudah aku bilang, aku mau nyawamu. aku masih sakit hati dicampakkan sama kamu. Aku dendam, dan Kamu harus terima akibatnya,"


"Sint*ng, kamu! Pergi! Atau aku panggil kakangku buat menyeret kamu keluar!"

__ADS_1


"Aku tidak takut ancamanmu! Jangan mentang-mentang anak orang berada, ya. Kamu menganggap semuanya gampang!"


Si lelaki perlahan mendekat dengan wajah garangnya. Seperti ular hendak mengunci mangsanya. Bibirnya menyeringai seram.


"Pergi! Pergiii…!"


Kemala panik tak karuan. Takut, sangat takut. Kenapa orang ini jadi begitu menyeramkan? Padahal dulu baik. Apa benar yang dia katakan. Dendam karena cinta? Masa cuma soal itu sampai jadi begini?


Ah!


Apa yang harus dilakukan? Hari sudah malam walau belum larut. Gadis ini benar-benar panik. Bingung. Mungkin berteriak saja, pasti akan terdengar keluar, dan kakaknya juga akan mendengarnya.


Tapi ketika Kemala hendak berteriak, tangan kekar lelaki ini sudah menekap mulutnya hingga gadis ini sulit bernapas. Dia meronta-ronta dengan kuat. Akhirnya bisa lepas.


Lalu dengan modal nekad. Sekuat tenaga Kemala menerjang ke arah lelaki itu. Tinju dan tendangannya meluncur bersamaan. Namun, baru setengah jalan tubuhnya terdorong lagi dan jatuh ke dipan.


Brukk!


"Aih!"


Kemala mengeluh kesakitan. Saat menerjang tadi tiba-tiba saja tubuhnya seperti ada yang menyengat sangat kuat. Sehingga tubuhnya terguling. Lebih parah lagi kini seolah hilang tenaganya. Lemas sekujur badan. Sengatan itu masih terasa menjalar ke setiap uratnya.


Lelaki serba hitam ini duduk di samping Kemala. Tersenyum puas merasa menang.


"Dari sekian banyak gadis yang pernah aku cintai, kamu yang paling cantik dan menggairahkan," ujarnya. "Sayang, dulu waktu masih bersama aku belum sempat menikmati tubuhmu yang molek ini,"


Lelaki ini diam. Hanya pandangannya menyapu seluruh tubuh Kemala yang saat itu hanya memakai selembar kain sinjang besar yang melilit badan dari dada hingga lutut, sehingga menampakkan lekuk tubuhnya yang indah.


"Kamu adalah pengecualian," lanjut si lelaki. "Sebelum aku ambil nyawa kamu, aku mau menikmati apa yang dulu belum kesampaian."


Seringai si lelaki semakin sinis. Kemala benar-benar tak berdaya bagai orang lumpuh. Walaupun si lelaki itu melakukan tindakan tak senonoh dengan pelan. Tapi gadis ini tak mampu berontak.


Hanya titik putih di sudut matanya saja sebagai tanda bicara meratapi nasib yang sungguh tak pernah disangka-sangka.


Apakah ini dosa akibat melawan orang tua? Oh, Ambu, Abah. Maafkan anakmu yang tak berbakti ini.


Si lelaki kini mendesah setelah terlampiaskan perbuatan bejatnya. Namun, desahannya antara puas dan kecewa. Puas karena tersampaikan hasratnya.

__ADS_1


"Ternyata, kamu sudah tidak suci!" umpatnya. Rupanya itu yang buat dia kecewa. "Sekarang, terimalah ini!"


Dalam keadaan terhina dan tak berdaya, Kemala sudah tak bisa merasakan apa-apa lagi.


***


Besok paginya penginapan ini geger dengan penemuan mayat Kemala di kamarnya. Yang paling marah dan terpukul adalah orang tuanya.


Pertama marah karena sang kakak tidak memberitahukan keberadaan Kemala. Terpukul lagi kematian putri bungsunya di penginapan milik kakaknya.


Sudah menyembunyikan, tak bisa menjaga lagi. Bagaimana bisa ada orang jahat masuk ke dalam penginapan tanpa ada yang mengetahui. Padahal penginapan ini dijaga oleh beberapa centeng berpengalaman.


Petugas dari kerajaan pun turun tangan. Setelah diperiksa, disimpulkan bahwa korban diperk*sa sebelum dibunuh dan ditemukan sebuah luka goresan berbentuk tanda silang.


Kabar pun cepat beredar hingga sampai ke telinga sepasang pemuda yang sedang menyelidiki pembunuhan sahabatnya. Puspasari dan Adijaya.


"Dua hari tiga pembunuhan dengan petunjuk yang sama, goresan tanda silang!" ujar Puspasari.


"Pasti pelakunya orang yang sama!" timpal Adijaya.


"Aku harus memastikan kalau Kemala pernah menjalin hubungan dengan Seta Aji." Puspasari tampak geram.


"Dua yang harus kita cari keterangannya. Hubungan Kemala dengan Seta Aji, dan siapa lagi gadis yang pernah menjalin kasih dengan Seta Aji?"


"Nah, itu!" seru Puspasari seperti orang kaget.


Bola mata mereka saling bertatapan agak lama. Ada rasa berbunga-bunga dalam hati si gadis. Apalagi saat Adijaya melempar senyumannya.


Puspasari memalingkan wajahnya yang merona merah. Bagaimanapun dia tak bisa menyangkal perasaannya terhadap pemuda itu.


Apakan rencana pernikahannya dengan Jatnika hanya pelarian saja? Ah, entahlah. Yang penting sekarang menikmati masa-masa kebersamaan dengan Adijaya dulu.


"Karena kemungkinan dia akan jadi sasaran berikutnya. Jika pelakunya benar Seta Aji," kata Adijaya kemudian.


"Kita bagi tugas saja, bagaimana?"


"Boleh!"

__ADS_1


"Aku menyelidiki Seta Aji dan wanita yang pernah jadi kekasihnya."


"Baiklah, aku akan ke kediaman keluarga Kemala."


__ADS_2