
Waktu balebat Adijaya sampai di hutan kecil dekat padepokan Karang Bolong. Hutan yang digunakan Asmarini beristirahat sebelumnya. Adijaya hinggap di salah satu pohon yang batangnya besar. Dia ingin istirahat sejenak sambil menunggu hari terang.
"Dinda, semoga kau juga pulas dalam mimpimu malam ini," desisnya. Selalu teringat sang istri.
Ketika carangcang tihang, pendekar muda ini terbangun karena merasakan ada beberapa orang mendekat ke pohon yang dia tempati.
Setelah memperhatikan ternyata letak pohon ini berada di sisi hutan yang berbatasan dengan sebuah jalan yang agak lebar. Di bawah, Adijaya melihat lima orang berpakaian seragam yang pernah dia lihat sebelumnya.
"Dewan Kehormatan!" gumamnya.
Berarti padepokan Karang Bolong berada tidak jauh dari sini. Lima anggota Dewan Kehormatan itu sepertinya menuju suatu tempat. Pasti sedang melaksanakan tugas.
"Pasukan Gunung Sindu belum sampai. Dinda Asmarini pasti sudah memberitahu semuanya. Dan Karang Bolong juga pasti sudah mempersiapkan diri. Lalu mau kemana mereka?"
Adijaya akhirnya memutuskan untuk mengikuti lima anggota Dewan Kehormatan yang dipimpin langsung oleh sang ketua yaitu Anjasmara. Sebelumnya Anjasmara akhirnya bisa mengorek keterangan dari Pawana dan Wasta.
Selain mendapatkan teman-teman Pawana dan Wasta yang menjadi penyusup dan mata-mata di dalam padepokan, Dewan Kehormatan juga mengetahui markas kecil tempat sekelompok murid padepokan Gunung Sindu melakukan pengawasan terhadap padepokan Karang Bolong.
Menurut keterangan, di markas kecil murid Gunung Sindu terdapat lima belas orang. Tempatnya berada di sebuah kampung nelayan. Pagi ini, Anjasmara membawa empat anggotanya hendak menyerbu mereka. Sang ketua yakin lima orang cukup untuk melumpuhkan musuhm
Kampung nelayan itu cukup jauh jaraknya dari padepokan, sehingga begitu sampai di sana hari sudah haneut moyan. Mereka langsung menuju rumah yang paling besar di antara yang lainnya.
Murid-murid padepokan Gunung Sindu yang berada di sini menyamar menjadi sekelompok nelayan. Pagi hari biasanya nelayan sudah pulang melaut semalam. Anjasmara tidak ragu lagi langsung berteriak di halaman rumah itu.
"Murid-murid Gunung Sindu, keluarlah!"
Tidak ada jawaban. Namun, Anjasmara dapat merasakan keberadaan mereka di dalam. Bahkan hawa-hawa sakti sudah terasa memenuhi udara. Mereka sudah waspada.
Sementara beberapa warga yang menyaksikan kejadian ini tampak keheranan.
__ADS_1
"Keluar atau kudobrak pintunya!" teriak Anjasmara sekali lagi.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka lebar lalu keluarlah langsung lima belas orang yang sudah siap dengan senjata khas padepokan Gunung Sindu, parang. Wajah mereka menunjukkan raut permusuhan.
Sebelumnya di dalam, mereka cukup terkejut karena penyamaran mereka terbongkar. Tidak salah lagi pasti Pawana dan kawan-kawannya telah ketahuan. Sementara pasukan Gunung Sindu dikabarkan dua hari lagi akan sampai.
Untungnya hanya lima orang yang datang. Dengan jumlah yang lebih banyak, mereka yakin bisa menghabisi murid-murid Karang Bolong ini. Tapi ada yang aneh, kenapa seragamnya berbeda dari murid lain, walaupun masih ada ciri-ciri padepokan Karang Bolong?
"Sepertinya mereka yang disebut Dewan Kehormatan," bisik salah seorang kepada sang pemimpin.
Sang pemimpin murid Gunung Sindu menyeringai. "Karang Bolong terlalu jumawa, hanya mengirim lima orang. Kalian cuma mengantar nyawa!"
Anjasmara balas tersenyum. "Tentunya kalian pernah mendengar dari mata-mata yang kalian susupkan tentang Dewan Kehormatan!"
"Kalau begitu kami merasa terhormat bisa menjajal kemampuan Dewan Kehormatan!" Setelah berkata begitu, sang pemimpin memberikan aba-aba.
Lima belas murid padepokan Gunung Sindu langsung mengepung lima anggota Dewan Kehormatan padepokan Karang Bolong. Anjasmara langsung tertuju pada sang pemimpin yang bernama Mahesa, yang tempo hari menemui Wasta dan Pawana.
Dari jauh, Adijaya bisa menyaksikan dengan jelas. Murid yang tergabung dalam Dewan Kehormatan memang lebih unggul dari murid biasa. Mereka begitu percaya diri meskipun masing-masing lawannya lebih dari satu orang.
Anggota Dewan Kehormatan menggunakan senjata pedang untuk melawan musuhnya. Udara di sekitar tempat itu dipenuhi hawa panas. Suara benturan senjata yang cukup memekakkan terdengar bising.
Orang-orang kampung yang menyaksikan keributan itu langsung menjauh mencari tempat aman. Bahkan tetangga yang tinggal di dekat rumah itu tidak berani keluar. Mereka hanya mengintip dari dalam.
Penduduk kampung tidak menyangka sekelompok nelayan yang menghuni rumah besar itu ternyata murid-murid padepokan Gunung Sindu yang sedang menyamar. Di daerah itu sudah beredar kabar tentang permusuhan antara Karang Bolong dengan Gunung Sindu.
Mereka sebagai orang biasa jelas mendukung Karang Bolong karena beraliran putih. Murid-muridnya baik hati, banyak menolong mereka yang kesusahan.
Sudah beberapa lama pertarungan berlangsung imbang. Murid-murid Gunung Sindu kini merasakan kehebatan Dewan Kehormatan yang ternyata bukan omong kosong.
__ADS_1
Bahkan Anjasmara sudah melumpuhkan dua lawannya. Kini tinggal menghadapi Mahesa sendiri yang juga mulai kewalahan.
Mahesa sekarang harus mengerahkan seluruh tenaga dalamnya. Dia harus mempertahankan diri, setidaknya bisa kabur agar bisa melapor kepada pasukan yang masih dalam perjalanan.
Trang! Trang!
Dua senjata bertemu di udara. Yang satu menahan yang lainnya. Senjata parang milik Mahesa malah terpental balik. Beruntung genggamannya cukup kuat sehingga tidak lepas, tapi tangannya terasa kesemutan.
Anjasmara terus mencecar lawannya dengan sabetan dan ayunan pedang yang semakin cepat gerakannya. Mahesa bagaikan terkurung cahaya pedang. Benturan-benturan senjata malah semakin melemahkan tenaganya.
Rasa putus asa mulai menguasai pikiran Mahesa, apalagi melihat teman-temannya sudah banyak yang tumbang. Entah tewas atau cuma pingsan. Seketika nyalinya menciut.
"Sebaiknya menyerah saja, kau tidak akan bisa lolos!" seru Anjasmara mengintimidasi.
Sepintas dalam benak Mahesa saat itu lebih memilih mati saja. Karena dengan begitu dia tidak akan terlibat urusan yang lebih rumit atau terjerumus dalam penderitaan..
Akan tetapi sepertinya murid-murid padepokan Karang Bolong ini tidak mengincar nyawanya. Hanya melumpuhkan saja. Pasti ada rencana lain dibalik semua ini.
Dalam pikiran yang kalut membuat pertahanan Mahesa terbuka. Dia tak mampu menghindar lagi ketika satu sabetan pedang mengarah padanya. Maka secara reflek tangan yang memegang senjata mengangkat untuk menangkis.
Namun, rupanya ini yang diharapkan Anjasmara. Dalam sepersekian kejap arah sabetan pedang berubah sasaran. Mahesa terkejut bukan main.
Crass!
"Uaakh!"
Tangan Mahesa terkutung sebatas pergelangan. Otomatis parangnya juga terjatuh. Wajahnya langsung pucat bagaikan melihat sesuatu yang sangat menyeramkan. Badannya gemetar dan limbung.
Sret! Sret!
__ADS_1
Dua sabetan lagi memutus urat di kedua pergelangan kaki. Akibatnya tubuhnya roboh bagai ranting kering yang patah dan jatuh ke tanah.
Pada saat yang bersamaan, empat anggota Dewan Kehormatan yang lain telah selesai melumpuhkan semua lawannya. Tidak ada yang dibunuh. Mungkin itu tujuan mereka.