
Asmarini beringsut ke depan. Membuka pintu lalu berdiri di tempat sais. Dia melihat ada belasan orang menghadang di jalan. Rata-rata mereka berumur tiga puluhan. Penampilan rapi, tapi seringainya licik.
"Aku kira kereta mewah ini tidak ada pemiliknya, ternyata ada wanita cantik di dalamnya!" ujar lelaki yang paling depan dengan senyum sinis yang didukung oleh kumis tipis.
Belasan orang di belakangnya menyambut dengan tertawa lantang. Semuanya menatap nakal, menggerayangi tubuh mungil Asmarini dari atas ke bawah.
"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Asmarini tenang dan tersenyum manis. Dua tangannya dilipat di depan dada.
"Oh, Nona ini! Selain cantik ternyata berhati baik!" Yang paling ujung sebelah kanan angkat suara.
"Ya, aku yakin Nona cantik ini juga pasti seorang dermawan!" timpal yang lain diakhiri dengan tawa.
"Anda beruntung bertemu dengan kami, Laskar Lembah Kuning!"
Asmarini tekuk kedua kaki, mengambil posisi duduk. Dia mendengar suara pelan yang berasal dari kuda jantan. Kuda guriang itu memberitahukan tentang Laskar Lembah Kuning.
"Gusti Putri, mereka dikenal Perampok Budiman. Karena hasil rampokannya selalu dibagi-bagikan kepada warga yang membutuhkan. Padahal itu cuma kedok. Harta yang dibagikan cuma sedikit.
"Mereka sebenarnya sedang membangun kekuatan. Mereka adalah murid padepokan Gunung Sindu yang ditugaskan khusus mengumpulkan biaya. Dan satu lagi, tidak ada tempat yang bernama Lembah Kuning."
Asmarini berdiri lagi. "Katakan saja apa yang kalian minta!"
Si kumis tipis yang menjadi pemimpin mereka melangkah mendekati sampai jarak satu tombak berdiri di sebelah kiri Asmarini.
"Kami menjadi tumpuan hidup beberapa desa yang tidak tersentuh kerajaan. Mereka hidup dalam kesengsaraan. Sudilah kiranya Nona membantu kami." Si kumis tipis bermain kata.
"Berapa yang harus kuberi?" tanya si gadis lagi. Dalam hati dia mengumpat. Ternyata bermacam-macam cara manusia untuk memenuhi keserakahannya.
"Semuanya, kecuali kereta kuda ini agar Nona bisa pulang dengan selamat,"
Asmarini kerutkan kening. Dia merasakan si kumis ini pancarkan hawa menekan, tapi sayangnya tidak berpengaruh kepada si gadis dan lelaki itu tidak menyadarinya.
"Sebelumnya aku ingin bertanya dulu," kata Asmarini kemudian.
__ADS_1
"Apa yang ingin Nona tanyakan, mungkin aku bisa memberikan jawabannya!"
"Apa kalian tahu tujuanku hendak kemana?"
Si kumis tipis tersenyum lalu memandang ke arah anak buahnya. Mereka menggeleng juga sambil senyum meremehkan.
"Kami tidak tahu, Nona!" jawab si kumis.
"Kalau begitu aku akan memberi tahu." Asmarini jongkok agar wajahnya lebih dekat ke si kumis tipis. "Aku hendak menumpas padepokan Gunung Sindu!" katanya pelan, tapi terdengar oleh semuanya.
Si kumis tipis tersurut mundur. Perkataan si gadis cukup membuktikan kalau dia tahu yang sebenarnya tentang mereka. Apalagi diucapkan dengan kerlingan mata sinis.
Belasan orang yang mengaku Laskar Lembah Kuning ini berubah wajahnya. Tidak lagi pura-pura ramah. Satu orang yang tahu identitas mereka, berati dia bukan orang sembarangan. Siapa wanita itu? Itulah yang ada di dalam pikiran mereka sekarang.
Tidak disangka, penyamaran mereka yang begitu rapi telah dibongkar seorang wanita yang sama sekali tidak dikenal mereka.
"Bagaimana?" tanya Asmarini bersikap menantang.
"Berarti kau cari mati!"
"Sebenarnya aku tidak ingin melukai tubuhmu yang indah itu!" Salah seorang maju dengan senjata parang.
Serangannya tampak meremehkan si gadis karena bertubuh mungil, sedangkan dia tinggi besar. Padahal sebelumnya dia terkejut karena si gadis tahu identitasnya. Namun, kecepatan Asmarini membuatnya kerepotan. Hanya tiga kali gebrakan dirinya sudah terpukul mundur.
"Maju semuanya!" teriak Asmarini.
Mereka saling pandang. Merasa diremehkan. Benarkah gadis ini cuma sendirian. Apakah di dalam kereta kuda tidak ada orang lagi?
Melihat orang-orang itu belum bergerak, Asmarini bergerak lebih dulu. Pedang Bunga Emas diayunkan cepat. Angin keras yang disertai aroma harum membersit menyambar bagai hembusan badai.
Wusssh!
Belasan orang ini tersurut mundur. Terkejut karena tidak menyangka anginnya saja sudah begitu dahsyat. Asmarini ingin membuktikan bahwa dia tidak asal sesumbar. Dia ingin menunjukkan bahwa kekuatannya harus diperhitungkan.
__ADS_1
Asmarini tidak memberi kesempatan kepada orang yang paling dekat. Pedangnya sudah memberikan luka sabetan cukup dalam di perut dua orang sekaligus.
Crass! Crass!
Kemarahan orang-orang Laskar Lembah Kuning ini mulai tak bisa ditahan lagi. Namun, sayang persiapan mereka menyerang terhitung lambat. Ini karena awalnya menyepelekan kemampuan si gadis.
Kini mereka sudah menyerang secara bersamaan dan bergantian. Mempersempit ruang gerak Asmarini. Tidak tanggung-tanggung senjata parangnya langsung digunakan. Awalnya mereka tergiur dengan kemolekan tubuh Asmarini, sekarang tidak segan-segan lagi.
Tenaga dalam Asmarini yang sudah meningkat berkat bantuan suaminya cukup membantu gerakannya sehingga lebih cepat dan gesit. Sekali ayun, mampu menangkis beberapa senjata lawan.
Selain itu, aroma harum yang memenuhi udara juga membantunya, membuat lawan-lawannya terasa pusing sehingga gerakannya sedikit kacau.
Si kumis tipis berada agak jauh dari arena pertarungan. Dia mencari jalan untuk menyerang secara curang. Dia menunggu saat Asmarini lengah. Namun, dia juga terganggu dengan aroma harum yang terpancar. Maka dia mencoba menutup indera penciumannya.
Sementara itu, meski dikeroyok ternyata belum satupun serangan lawan yang mampu menyentuh si gadis. Dalam hati sendiri, Asmarini merasa girang dengan peningkatan kemampuannya. Tubuhnya semakin ringan dan gerakannya juga semakin gesit.
Yang dia hadapi sebenarnya murid-murid padepokan Gunung Sindu yang dibilang padepokan aliran hitam terkuat. Apalagi ingat suaminya yang ingin menumpas mereka, maka diapun merasa ini juga bagian dari tugasnya.
Tidak tanggung-tanggung, begitu mendapat kesempatan, Asmarini menyerang balik. Sekali babat lima tangan lawan terputus oleh pedangnya.
"Uaakh!" Jeritan kesakitan terdengar dari mereka yang langsung mundur dari arena pertarungan.
Si kumis tipis geram bukan main. Dimasukkan tangannya ke balik baju, dia mengambil senjata rahasia. Dia bergerak memutar mencari posisi yang tepat untuk melancarkan serangan bokongan.
Sementara anak buah yang dia pimpin mulai berkurang karena banyak yang terluka. Bukan luka ringan, tapi luka yang membuat mereka tak mampu melanjutkan serangan.
Setelah beberapa saat kini terbuka kesempatan buat si kumis tipis. Senjata rahasia yang berupa paku-paku kecil sudah tergenggam di tangan. Segera dia lemparkan ke arah Asmarini.
Wutt!
Sring!
Si kumis tipis terkejut karena tiba-tiba saja ada angin kuat menghempaskan senjatanya. Bahkan ada beberapa yang melesat balik ke arahnya. Beruntung dia lebih cepat menghalaunya dengan parang.
__ADS_1
Lelaki ini mendengkus kesal. Jelas ada orang lain yang melindungi Asmarini. Berarti gadis itu tidak sendiri. Dia mengitarkan pandangan, mencari siapa dan di mana orang itu.
Pandangannya terpentok pada kereta kuda. Di tempat sais itu kini telah berdiri seorang pemuda yang tengah tersenyum ke arahnya.