Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Cerita Darma Koswara


__ADS_3

Sore harinya jasad Ki Bayan dikebumikan di pekuburan desa setempat. Ki Bayan sudah hidup sebatang kara sejak bekerja kepada Darma Koswara. Dia tidak memiliki sanak saudara lain di desa itu maupun di desa tetangga.


Pekerjaan Ki Bayan sebagai pekati sudah berpengalaman. Sebelumnya dia bekerja pada seorang pejabat istana. Namun, karena usia dia digantikan oleh yang lebih muda. Lalu Darma Koswara mengambilnya sebagai pekati karena dilihat dari pengalamannya.


Selain terkenal karena giat bekerja, patuh pada majikan, Ki Bayan juga dikenal baik sesama orang-orang desa. Tak sungkan-sungkan membantu bila ada yang membutuhkan pertolongan.


Melihat hal ini Darma Koswara tak hitung-hitungan dalam memberi upah kepada Ki Bayan. Karena pekerjaannya tidak mengecewakan.


Banyak penduduk desa yang ikut mengantarkan Ki Bayan menuju pembaringan terakhir.


Setelah penguburan selesai, sengaja Adijaya berjalan melewati kebun tempat ditemukannya mayat Ki Bayan. Dia berdiri memperhatikan keadaan sekitar.


Tadi malam Ki Bayan ditemukan tewas di sini. Dengan luka berbentuk tapak kuda di lehernya. Menurut orang-orang desa dan Darma Koswara sendiri, luka itu akibat ajian Tapak Wisa milik Nyi Warsih. Musuh bebuyutan Darma Koswara.


Adijaya melihat banyak jejak kaki kuda di tanah.


"Sepertinya kuda yang meronta-ronta," pikirnya.


Lalu dia mengikuti jejak kaki kuda yang sepertinya melangkah menjauhi tempat itu. Sampai belasan tombak jejak itu masih kentara. Kebun ini sangat luas seperti tak ada ujungnya. Kebun ini salah satu milik Darma Koswara.


Tapi setelah beberapa saat jejak kuda hilang bertepatan dengan sebuah gubuk kecil tiga tombak di depannya.


"Gubuk di tengah kebun!"


Adijaya tertegun, tidak berani melangkah lebih maju lagi. Dia hanya memperhatikan gubuk kecil yang tampak sepi.


"Sepertinya tidak berpenghuni, atau memang cuma gubuk untuk istirahat saja?"


Adijaya menggunakan hawa sakti untuk merasakan bila ada seseorang di dalam gubuk.


"Tidak ada detak jantung manusia, tapi... Jangan-jangan kuda itu ada di dalam!"


Pintu gubuk itu memang terbuka sedikit, tapi tidak bisa melihat ke dalamnya dari jarak jauh.


Akhirnya Adijaya memutuskan untuk kembali ke rumah Darma Kosawara. Dia memiliki suatu dugaan yang dipendam dalam benaknya.


***


Malam hari sehabis makan, Darma Koswara berbincang-bincang dengan Adijaya di teras rumah. Damar kecil yang bahan bakarnya dari buah Jarak hanya mampu menerangi seluas teras itu. Dan sepiring ubi bakar menemani obrolan mereka.

__ADS_1


"Orang-orang bilang Nyi Warsih musuh bebuyutan Agan, bagaimana ceritanya?" tanya Adijaya memulai percakapan.


Darma Koswara tidak langsung menjawab. Dia menarik dan menghembuskan napas yang panjang. Pandangannya menerawang. Mengingat masa lalu.


"Semua karena persoalan cinta,"


Adijaya melongo. Sudah sering mendengar kisah cinta yang berakhir dendam. Mungkin ini salah satunya.


"Awalnya kami saling mencintai. Bahkan berjanji akan menikah..."


Darma Koswara muda dikenal gagah dan tampan selain sebagai anak saudagar kaya. Dia rajin membantu ayahnya dalam berdagang. Banyak gadis yang suka kepadanya, baik di desa itu atau desa-desa tetangga. Tentu saja Darma Koswara adalah lelaki idaman para wanita. Tampan dan kaya.


Tapi hanya ada satu gadis yang memikat hatinya. Warsih namanya, dia anak salah satu buruh tani yang bekerja pada ayahnya. Mereka sering bertemu di ladang atau Huma milik ayahnya. Warsih selalu mengantarkan makanan untuk orang tuanya yang sedang bekerja. Darma juga sering memantau ladang dan humanya.


Dari sering bertemu itulah timbul rasa saling suka yang kemudian menjadi cinta. Semakin hari semakin dekat hingga akhirnya memutuskan untuk menikah.


Awalnya orang tua Darma Koswara setuju saja. Mereka tidak memilih-milih perempuan mana yang harus dinikahi Darma. Tidak memandang derajat. Sampai suatu ketika ayahnya Warsih kedapatan mencuri hasil ladang dan menjualnya secara diam-diam.


"Ayah Warsih dipecat, masih mending karena tidak dilaporkan kepada kerajaan yang mungkin hukumannya akan lebih berat,"


"Lalu hubungan Agan dengan Nyi Warsih?"


"Ayah Warsih bukannya jadi sadar malah gelap mata. Diam-diam dia jadi anggota perampok,"


"Dari mana Agan tahu dia jadi perampok?"


"Komplotan perampok itu bernasib sial saat membegal seorang bangsawan yang ternyata dikawal oleh para pendekar sakti,"


Semua anggota perampok dibantai habis. Saat diperiksa oleh prajurit keamanan, ternyata salah satu dari perampok itu adalah ayahnya Warsih.


Warsih semakin terpukul. Sangat malu menjadi gunjingan warga desa. Lalu dia hilang entah kemana untuk beberapa lama.


"Belakangan diketahui ternyata Warsih berguru kepada Ki Reksa," lanjut Darma Koswara."Dia kembali ke desa saat dia sudah memiliki kepandaian,"


"Termasuk ajian Tapak Wisa?"


"Ya, tidak ada warga lagi yang berani padanya. Dia mengumpulkan wanita-wanita yang senasib dari beberapa desa untuk jadi pengikutnya,"


"Berapa banyak sekarang?"

__ADS_1


"Mungkin sepuluh orang,"


"Dan dia membalas dendam?"


"Sewaktu orang tuaku masih hidup dia tidak berani. Tapi setelah aku sebatang kara dia mulai menggangguku,"


Nyi Warsih sering merusak ladang. Atau mengacau di desa. Sampai-sampai Darma Koswara dan Ki lurah menyewa pendekar untuk mengatasinya.


Karena Ulah Nyi Warsih berpangkal dari dirinya, maka Darma Koswara mencari guru untuk belajar silat agar bisa mengatasi sendiri wanita itu. Bertemulah dia dengan Ki Brajaseti.


"Sekarang setidaknya aku bisa mengimbangi kepandaiannya," ujar Darma Koswara.


"Lalu... kenapa Agan... belum menikah juga?" Adijaya agak ragu menanyakan hal ini. Takut menyinggung perasaan.


"Itulah, setiap aku mendekati wanita. Maka wanita akan diancam Warsih agar menjauhiku. Bahkan sampai ada yang dibunuh," Darma Koswara langsung menjawab karena pasti hal ini akan ditanyakan juga.


"Gelo, Nyi Warsih! Maksudnya apa itu?"


"Entahlah, mungkin dia ingin agar aku tidak menikah seumur hidupku. Sementara dia juga tidak menikah sampai sekarang,"


"Kejam sekali!"


"Itulah perempuan, kalau cintanya sudah berubah jadi benci,"


"Terus apa Agan akan seperti ini saja?"


"Inilah saatnya, aku mempunyai alasan untuk menghabisinya!"


Suasana jadi hening. Malam semakin larut. Langit tampak hitam tanpa kelap-kelip bintang. Sepertinya mendung karena angin yang berhembus terasa dingin beda seperti biasanya pertanda hujan akan turun.


Tak lama kemudian benar saja hujan turun begitu lebat. Tampak kilatan-kilatan di atas langit lalu terdengar geledek menggelegar. Adijaya dan Darma Koswara masuk ke kamarnya masing-masing.


Di dalam kamar Adijaya merenungi kisah masa muda Darma Koswara. Hanya ada satu ganjalan dalam hatinya, yaitu tentang kematian Ki Bayan.


Dia mempunyai dugaan-dugaan menurut pemikirannya sendiri. Untuk membuktikan dugaanya dia harus melakukan sesuatu. Tapi tidak boleh diketahui oleh Darma Koswara.


Dia akan bertindak sendiri.


Adijaya mendesah. Sejenak dia lepaskan pikiran yang masih mengganjal itu. Dia harus istirahat. Melepas lelah. Esok hari mungkin akan mulai bertindak.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian pemuda ini sudah terlelap.


__ADS_2