Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Dewi Kalajenget


__ADS_3

Setalah beres makan dan membayar, Adijaya dan istri segera keluar dari kedai. Mereka berjalan agak jauh dulu agar tak kelihatan saat menaiki kereta gaib. Kemudian mereka meminta agar mengikuti rombongan yang membawa gadis persembahan.


Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah berada di belakang rombongan tersebut yang kini sedang menaiki sebuah bukit kecil yang pepohonannya begitu rapat bagaikan di hutan.


Suasana di sana juga tampak mencekam seolah-olah di balik semak yang tersembunyi sudah ada makhluk mengerikan yang siap memangsa.


Karena kereta kuda terlindung tabir gaib sama saja dengan berada di alam tak kasat mata itu, jadinya tidak mengalami hambatan saat menaiki bukit yang melalui jalan sempit selebar tiga orang dewasa saja.


Kereta kuda bagaikan bayangan yang menembus setiap benda yang dilewati.


Rombongan pembawa Gadis Persembahan sampai di puncak bukit yang tanahnya datar dan cukup luas seperti lapangan yang sisi-sisinya dipagari pepohonan.


Di tengah-tengah lapangan itu ada sebuah lubang besar seperti sumur yang dikelilingi batu-batu ukuran sedang yang disusun melingkar. Lubang ini dijaga empat lelaki bertubuh kekar.


Gadis yang diusung tandu diletakan di dekat lubang sumur. Lalu entah dari mana asalnya tiba-tiba berkelebat satu sosok dan mendarat tepat di depan Gadis Persembahan. Seorang wanita berpakaian seperti putri bangsawan.


Wanita berumur sekitar tiga puluhan. Wajahnya dewasa, tapi cukup menarik karena terbantu bentuk tubuh sintal padat menggoda kaum lelaki. Di kepalanya terpasang sebuah mahkota kecil.


"Sembah untuk Dewi Kalajenget!"


Belasan lelaki yang membawa Gadis Persembahan membungkuk dalam termasuk empat penjaga sumur.


"Berdiri!"


Semuanya kompak berdiri lagi. Dewi Kalajenget memandang semua pengikutnya. Tatapannya tajam dan tegas. Aura kepemimpinan memancar kuat dari wajahnya yang tegas.


"Terima kasih atas Gadis Persembahan untuk purnama kali ini. Seperti biasa antarkan sedikit imbalan ini kepada orang tuanya!"


Salah satu penjaga sumur mengeluarkan buntalan kain yang berisi perhiasan emas. Salah seorang pengantar menerimanya.


"Lemparkan persembahan!" perintah Dewi Kalajenget.


Dua orang penjaga melepaskan gadis persembahan yang diikat di tandu. Kemudian diangkat dan dilemparkan ke dalam sumur. Tidak terdengar suara apapun saat si gadis melayang masuk ke lubang sumur.

__ADS_1


Setelah upacara persembahan yang hanya melemparkan tumbal ke dalam sumur, Dewi Kalajenget berkelebat lenyap lagi. Para pengantar langsung menuruni bukit.


Pada saat Gadis Persembahan dilemparkan, Adijaya sudah menggunakan ajian Ngaraga Sukma. Raga halusnya langsung melesat ke dalam sumur.


Ternyata lubang kecil hanya di atas saja. Setelah menembus satu tombak, ruangan di dalamnya cukup besar seperti ruangan dalam goa.


Tubuh si gadis yang jatuh melayang itu ditangkap oleh seseorang yang sudah siap menunggu.


Tap!


Begitu tertangkap, si gadis langsung diturunkan lagi. Kemudian orang ini menggiringnya ke sebuah lorong yang lebarnya hanya menampung satu orang saja. Si gadis berjalan di depan.


Sukma Adijaya mengikuti dari belakang. Lorong itu cukup panjang dan gelap. Karena ingin tahu lebih cepat, Adijaya melesat mendahului. Tidak ada kesulitan karena dirinya berupa bayang-bayang yang bisa menembus segala benda.


Setelah diselidiki ternyata lorong ini menuju sebuah rumah agak besar yang berdiri di lereng bukit. Tersembunyi di antara pohon-pohon yang menjulang tinggi.


Di dalam rumah itu, Dewi Kalajenget sudah menunggu bersama tiga orang lelaki yang berpakaian mewah seperti pejabat kerajaan.


"Bagaimana?" tanya Dewi Kalajenget meminta pendapat mengenai gadis itu.


Si gadis hanya diam pasrah sambil menundukkan wajah. Dia sama sekali tidak tahu akan seperti apa nasibnya setelah ini. Dia hanya menyangka akan dijadikan tumbal untuk Dewi Kalajenget wanita yang dianggap setengah siluman itu.


Dalam pikiran si gadis dia akan di makan mentah-mentah oleh wanita yang berdandan seperti dewi itu.


"Siapa namamu?" tanya salah satu lelaki.


"Wuni," jawab si gadis tak berani mengangkat kepala.


"Wuni, kau akan ikut mereka ke suatu tempat. Ketahuilah kau bukan jadi tumbal persembahan, tapi sebenarnya kau akan menerima kehidupan yang lebih menyenangkan daripada sebelumnya. Asalkan kau harus mematuhi perintah mereka!" Dewi Kalajenget menjelaskan.


Dalam pikiran si gadis bertanya-tanya. Namun, dia sudah menduga sesuatu. Mendadak saja sikapnya tampak ketakutan. Sementara Adijaya sudah paham dengan apa yang lihatnya.


"Benar, kan? Gadis itu dijual dan kemungkinan akan dijadikan wanita penghibur," batin Adijaya.

__ADS_1


Dia harus bertindak menyelamatkan gadis itu dan gadis-gadis sebelumnya yang dijadikan tumbal. Adijaya meminta kepada Padmasari agar sosok sukmanya bisa terlihat. Guriang wanita itu memberikan sebuah mantera.


Kemudian Adijaya masuk ke rumah itu lewat pintu depan. Kehadirannya yang tiba-tiba, sangat mengejutkan seisi rumah. Bagaimana tidak, tak ada satupun yang mengenal sang pendekar.


"Siapa kau?" Dewi Kalajenget langsung berdiri dengan mimik permusuhan.


"Aku Dewa Kalajanggi yang akan menyelamatkan dia!" Adijaya asal menyebut nama sambil menunjuk si gadis.


"Lancang!" maki Dewi Kalajenget menatap tajam seraya melepaskan satu pukulan tapak.


Adijaya diam menanti datangnya serangan. Tatapannya menembus bola mata wanita berpakaian mewah itu. Seketika jantung Dewi Kalajenget berdesir mendapat tatapan setajam itu. Apalagi memandang wajah si pemuda yang ternyata menggoda jiwa.


Sudah terkesima tambah terkejut lagi karena serangannya seperti menyentuh bayangan. Bahkan dia tak bisa menahan laju tubuhnya hingga terdorong ke depan. Dirinya menubruk Adijaya, tapi lewat begitu saja. Sosok Adijaya tidak bisa tersentuh.


Sementara itu tiga lelaki berpakaian bangsawan hendak menangkap gadis bernama Wuni. Namun, mereka langsung terpental menghantam dinding sebelum bisa menyentuh si gadis.


"Kalian jangan kabur!" seru Adijaya kepada tiga lelaki yang tak bisa berbuat apa-apa lagi karena seluruh badannya terasa lumpuh. Kemudian dia berbalik mengejar Dewi Kalajenget yang kini berada di luar rumah.


Wanita itu kebingungan. Seandainya Adijaya manusia biasa yang dapat disentuh mungkin dia masih bisa melawan, tapi melihat sosok pemuda yang seperti bayangan itu membuat pikirannya benar-benar menyangka dia sedang berhadapan dengan dewa.


"Sudah saatnya aku menghentikanmu!"


Dewi Kalajenget perlahan bergerak mundur. Adijaya tahu wanita ini hendak kabur. Sebelum itu terjadi, si pemuda segera menggunakan ajian Serap Sukma.


Sosok Dewi Kalajenget tertarik mendekati Adijaya. Secara tidak sengaja telapak tangan pemuda malah menempel di gundukan gunung kembar milik wanita itu.


"Eh!"


Adijaya terkesiap, tapi sudah terlanjur. Proses penyedotan kekuatan lawan sudah berlangsung. Wajah Dewi Kalajenget memerah. Tubuhnya bergetar bukan karena kekuatannya perlahan menghilang.


Tapi karena sentuhan tangan yang tidak sengaja itu membuatnya merasakan sesuatu yang sudah lama tak dia dapatkan. Akhirnya Adijaya segera melepaskan telapak tangannya.


Dewi Kalajenget terhuyung kehilangan tenaga lalu roboh dengan ekspresi yang aneh.

__ADS_1


__ADS_2