Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Ujian Pembuktian


__ADS_3

Tujuh hari berikutnya Adijaya terus mengolah tenaga dalamnya. Dengan racikan tumbuhan ajaib ditambah menghirup aroma harum Melati Tunjung Sampurna. Dia belum ada niat memakan bunga itu. Hanya menghirup aromanya saja yang tak pernah hilang walau sudah dipetik dari tangkainya. Bunga berkelopak biru itu juga tidak pernah layu.


Selain itu juga Adijaya masih harus bersemedi, tapi tidak penuh tujuh hari. Kini hanya tiga hari, kemudian besoknya selama satu hari melatih gerakan dan ilmu meringankan tubuh. Tiga hari berikutnya bersemedi lagi untuk pemantapan.


Hari ke delapan. Saatnya untuk turun.


Sebenarnya Adijaya belum merasa benar-benar pulih seperti sedia kala. Belum merasa kuat seperti setelah memakan lumut ungu. Terkadang ada godaan untuk segera memakan bunga Melati biru.


Namun, hatinya menegaskan. Dia ingin bertahap. Sekarang Pendekar Pedang Bunga telah menunggu di bawah untuk mengujinya.


Benar juga, setelah sampai di sana. Nenek bermuka seram itu telah berdiri di halaman rumah yang luas itu. Sementara Asmarini berdiri di teras.


Dalam jarak empat tombak, Adijaya dan Nyai Gandalaras berhadap-hadapan.


"Keluarkan seluruh kemampuanmu anak muda, aku tidak akan segan-segan menebas batang lehermu!"


Pendekar Pedang Bunga tarik senjatanya. Aroma harum menebar. Harum bercampur hawa membunuh. Harum yang menggidikan.


Adijaya memandang ke arah Asmarini. Gadis ini melempar senyum imut membuat hati berdebar tapi juga berbunga-bunga. Lalu pemuda ini mendongak. Hari sudah 'Haneut Moyan'.


Tring!


Payung Terbang tergenggam di tangan. Ini pertarungan pertama setelah memulihkan kekuatan. Adijaya tidak akan main-main.


Begitu Adijaya mengangkat payung, Nyai Gandalaras telah menghambur, menusukkan pedang langsung menyasar leher.


Wutt!


Adijaya memiringkan kepala dengan cepat. Ujung pedang menembus udara kosong. Pada saat itu payungnya menusuk ke depan.


Trang!


Pedang Bunga tahu-tahu sudah menangkis saja. Gerakannya tak terlihat. Hati Adijaya lega, serangan pertama dapat dia atasi. Perasaanya seperti baru pertama kali bertarung.


Selanjutnya dua manusia berbeda umur dan jenis ini saling bertukar jurus. Adijaya sangat hati-hati gerakannya. Dia mengeluarkan jurus ciptaannya yang belum diberi nama. Ini jurus yang berbeda ketika melawan Lima Beruang Merah. Di mana ketika itu dia langsung menamai jurusnya.


Trang! Trang!


Pedang dan payung sering beradu keras. Adijaya menggenggam kuat senjatanya. Meski begitu tetap saja tangannya bergetar saat payungnya membentur senjata lawan.


Si pemuda mengerahkan setengah tenaga dalamnya untuk melapisi jurusnya. Dia tidak khawatir payungnya akan rusak. Dia hanya perlu memainkan dengan cepat dan tepat.


Sementara si nenek mengerahkan lebih dari setengah hawa saktinya. Dia merasakan kekuatan lawan masih berada di bawahnya. Tapi keunggulan pemuda itu adalah gerakan yang lebih cepat. Sehingga dia hampir tertipu beberapa kali.


Pada awalnya Adijaya masih gugup dan berdebar. Lama kelamaan dia bisa menguasai dirinya. Lebih tenang. Menemukan kembali gaya bertarungnya seperti dulu. Mampu mencari celah jurus lawan.

__ADS_1


Seketika dia ingat ucapan Asmarini. Syaratnya hanya bila mampu bertahan dalam sepuluh jurus. Jadi, pertarungan kali ini setidaknya asal dia tidak kalah. Tak perlu berpikir harus menang.


Aroma harum menebar akibat dari pertarungan ini. Harum dari senjata pedang bercampur harum dari tubuh Adijaya. Pemuda ini tidak menyangka, semakin banyak bergerak semakin menebar harumnya.


Di tempat berdirinya, Asmarini dapat membedakan antara harum pedang gurunya dan harum yang dipancarkan Adijaya.


"Beberapa hari yang lalu aku mencium harum dari tubuh Kakang Adijaya, tapi tidak sesantar sekarang."


Tiba-tiba gadis mungil ini tersadar. "Hah, sudah berapa jurus ini?"


Dia melihat Adijaya tampak tenang seperti menikmati pertarungan itu. Sementara gurunya begitu menggebu ingin menjatuhkan.


"Nenek, sudah lebih dari dua puluh jurus!" teriak Asmarini.


Si nenek bermuka seram melompat mudur lalu menyarungkan pedang.


"Aku lupa!" ujarnya tanpa rasa menyesal.


Asmarini bersorak girang. Gadis ini berlari mendekati Adijaya.


"Dasar, malah mendekati dia!" umpat Nyai Gandalaras.


Asmarini hanya tertawa. Adijaya sudah tidak menggenggam payung.


Si nenek melotot sambil menggeram marah.


"Sudah-sudah, dia lulus, kan?" tanya Asmarini.


"Hemh!" Si nenek hanya mendengkus lalu melemparkan pedangnya ke arah muridnya.


Dengan sigap Asmarini menangkap pedang itu.


"Aku wariskan pedang itu untukmu!" seru Nyai Gandalaras sebelum sosoknya berkelebat lalu menghilang.


"Gurumu sifatnya aneh," ujar Adijaya.


"Begitulah," sahut Asmarini sambil menimang-nimang pedang pusaka yang telah menorehkan nama besar gurunya. Kini pedang itu jadi miliknya.


Berarti, dialah penerus Pendekar Pedang Bunga.


"Sekarang bagaimana?" tanya Asmarini kemudian.


"Ya, nikah..."


"Iiih!" Asmarini menekan hidung Adijaya.

__ADS_1


Tapi dalam hatinya berbunga-bunga. Rasa bahagianya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Entah dia harus berkata apa? Berbuat apa?


Calon suaminya ini benar-benar orang yang diinginkannya.


"Kita pulang, Kakang harus menemui orang tuaku dulu. Karena mereka yang akan menikahkan kita,"


"Sekarang?"


"Tahun depan!" sentak Asmarini kali ini sambil mencubit pinggang Adijaya.


"Aw!"


Besoknya mereka bersiap-siap turun bukit. Hendak meminta restu kedua orang tua Asmarini untuk meresmikan hubungan mereka dalam wadah pernikahan.


Mereka akan menggunakan kereta kuda milik Adijaya dalam perjalanan. Harta di dalam peti yang terpendam di lantai kamar dibawa. Diikatkan kuat di bawah lantai kereta. Jadi tidak akan kentara jika dilihat dari luar.


Ketika mengangkat peti itu keluar dari pendamannya. Di bawah peti itu Adijaya menemukan dua buah kitab. Satu kitab tentang tenaga dalam. Ini akan berguna untuk peningkatan tenaga dalamnya. Satu lagi kitab ajian Tapak Wangi.


Sejenak berpikir dari mana ayahnya mendapatkan dua kitab ini? Tapi itu tidak penting. Adijaya menyimpan kitab itu ke dalam kotak yang ada di keretanya.


Saat semuanya sudah siap. Semua barang keperluan telah dimuat dalam kereta yang cukup besar itu. Adijaya dan Asmarini sama-sama duduk di tempat kusir. Tiba-tiba Ki Santang datang.


"Mohon maaf juragan, saya tidak bisa menemani perjalanan Anda. Saya ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan,"


"Tidak apa-apa, Ki Santang. Lagi pula, aku sudah ditemani bidadari." Adijaya mengerling ke Asmarini. Gadis ini menyikut pelan.


Lalu Ki Santang pergi. Padahal ini hanya sandiwara saja. Jelmaan guriang itu menghilang ke alamnya. Dan akan muncul dalam bentuk payung bila dipanggil.


"Dinda, apa gurumu cuma begitu saja? Tidak memberikan wejangan atau apa gitu?"


"Entahlah, Kakang. Yang aku tahu dia perawan tua, ups!" Asmarini terkikik.


"Lancang, sama guru sendiri begitu." Giliran Adijaya yang mencubit hidung lancip gadis itu.


"Sudah-sudah, kapan berangkatnya?"


Adijaya tertawa pelan. "Sudah tidak sabar, ya?" godanya kemudian.


"Iiih, Kakang!" si gadis bersemu merah.


Kemudian Adijaya menarik tali kekang, seketika kedua kuda penarik mulai menggerakkan kaki-kakinya.


Perjalanan baru menjemput restu mengukuhkan cinta. Semoga ini adalah benar-benat jodohnya.


(Jangan bertanya, kudanya dikasih makan nggak? Author tak sempat menceritakannya, ya. Wkwkwk...)

__ADS_1


__ADS_2