
Adijaya terkejut ketika mendapati orang ini ternyata sudah lumpuh karena luka bacokan yang memutuskan sendi-sendinya. Pemuda ini menghela napas menyesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyembuhkan secara total. Mungkin hanya bisa menyelamatkan nyawanya saja.
Ketika sedang membersihkan luka-luka orang ini, Adijaya merasakan kehadiran beberapa orang di belakangnya. Dia tenang saja dan meneruskan pekerjaannya.
Memang ada tiga orang lelaki kira-kira berumur tiga puluhan tahun yang telah siap menghunus goloknya hendak membacok Adijaya. Entah, apakah mereka temannya orang lumpuh ini atau justru pelaku pembantaian.
Namun, demi melihat pemuda itu sedang membersihkan luka, mereka urungkan niatnya dan menyarungkan kembali senjatanya.
Adijaya yang menyangka akan ada serangan menoleh setelah menunggu ternyata tidak ada yang menyerang satupun.
"Apa Ki Sanak mengenal orang ini?" tanya Adijaya.
"Dia dan lima orang itu warga kampung kami!" jawab salah seorang.
"Siapa yang melakukan ini semua?" tanya yang lain.
"Entahlah, ketika aku datang semuanya sudah seperti ini. Hanya orang ini yang bertahan hidup, tapi badannya lumpuh!" jawab Adijaya. Keterangan yang terakhir membuat mereka terkejut.
Segera saja salah seorang memeriksa, lalu memandang lesu ke arah dua temannya. Memberitahukan yang dikatakan Adijaya benar adanya.
"Kita buat tandu untuk membawanya pulang!"
"Tapi Ki Sanak juga harus ikut kami!"
"Kenapa?" tanya Adijaya belum mengerti.
"Siapa tahu Anda yang telah berbuat sadis seperti ini!"
"Kalian bisa tanyakan kepadanya setelah sadar!" tunjuk Adijaya ke arah orang yang luka-luka dan lumpuh.
"Maka dari itu, kau juga harus ikut kami!"
Adijaya berpikir tidak ada salahnya ikut dengan mereka. Toh dia bukan pelakunya.
Kemudian dua orang dari mereka menggotong orang lumpuh itu dengan tandu yang sudah dibuat. Sementara Adijaya dan orang satunya berjalan di belakang.
Mereka memasuki sebuah kampung yang tak jauh dari hutan kecil itu. Orang-orang yang melihat tampak terkejut dan penasaran.
"Tolong pergi ke hutan, ada lima warga kampung kita yang tewas terbunuh. Segera diurus!" perintah orang yang berjalan bersama Adijaya yang langsung dituruti dengan perasaan panik karena menduga-duga siapa yang jadi korban.
Adijaya mengikuti mereka sampai di balai kampung. Seorang lelaki paruh baya menyambut dengan wajah duka.
"Ki Sobana, lima warga kampung ditemukan tewas di hutan. Hanya Suwirya yang selamat tapi keadaannya sangat mengenaskan, dia lumpuh karena luka-lukanya!"
__ADS_1
"Maruta, siapa orang ini?" tanya Ki Sobana menunjuk Adijaya.
"Kami melihat dia saat menemukan Suwirya dan teman-temannya.
Kemudian Adijaya dan Maruta disuruh masuk dan menunggu di ruang pertemuan yang tidak berdinding itu. Sementara Suwirya sudah di bawa ke ruang dalam untuk mendapat perawatan.
"Kita akan menunggu Suwirya sadar, setelah itu kita dengarkan keterangannya," kata Ki Sobana.
"Siapa nama Ki Sanak?" tanya Maruta.
"Adijaya,"
"Ini kepala kampung kami, Ki Sobana,"
Adijaya menjura hormat dengan senyum ramah. Beberapa saat kemudian berdatangan orang-orang yang membawa kelima mayat warga kampung yang tewas di hutan.
"Bawa ke belakang, beritahu keluarganya!" perintah Ki Sobana.
"Pembunuhnya sadis!"
"Pasti bukan manusia!"
"Kalaupun manusia pasti hatinya denawa!"
"Kasihan keluarganya!"
Setelah beberapa lama muncullah lelaki tua yang rambutnya telah memutih semua. Dia langsung berbisik ke telinga Ki Sobana. Sang kepala kampung tampak menatap Adijaya.
"Anak muda, Suwirya sudah siuman dan menurut keterangannya, kaulah pelakunya!"
Adijaya terkejut bukan main. Dia menatap satu persatu orang di dekatnya. Mencari tahu, barangkali saja mereka bersekongkol.
"Bagaimana bisa, aku baru datang setelah kejadian itu selesai, Kang Maruta ini saksinya!"
"Itulah maksudku, kenapa kau harus ikut kami!" ujar Maruta. "Lagi pula, kami hanya menemukan kau seorang. Siapa tahu sebenarnya kau sedang berpura-pura menolong Suwirya begitu kami datang!"
Tidak disangka Maruta malah memojokannya, walaupun dugaan Maruta ada benarnya. Tapi itu karena dia dan teman-temannya tidak melihat sebelumnya.
"Biar lebih jelas bawa Suwirya kemari!" usul Ki Sobana.
Tak lama kemudian Suwirya dibawa dengan tandu, diletakan di samping kepala kampung. Posisinya bisa melihat Adijaya dengan sekali menoleh.
"Suwirya, katakan dengan jelas, siapa yang telah membuatmu begini?" tanya Maruta.
__ADS_1
Suwirya menoleh ke wajah Adijaya. Telunjuknya mengangkat ke arah pemuda itu. Adijaya kerutkan kening. Bagaimana bisa orang lumpuh ini menunjuk ke arahnya, sedangkan waktu ditolong dia dalam keadaan tak sadarkan diri?
"Dia... dia yang telah membantai teman-temanku dengan sadis dan membuatku lumpuh!" Suwirya terbata-bata.
Kembali Adijaya menatap satu persatu orang-orang di hadapannya. Mereka semua memandangnya sinis. Jangan-jangan benar mereka bersekongkol.
"Tidak-tidak, kau pasti salah lihat!" sanggah Adijaya.
Suwirya menggeleng pelan. "Aku tidak salah lihat, aku ingat semua, jelas sekali aku masih ingat. Kau orangnya!"
Adijaya mendengkus kesal. Apakah ini jebakan? Kejadian ini mengingatkan dulu ketika mengejar-ngejar Birawayaksa. Dia difitnah telah membunuh warga desa. Kemudian setelah ditelusuri ternyata pelakunya Birawayaksa yang malih rupa menjadi dirinya.
Lalu sekarang! Apakah motifnya sama? Kalau benar, siapa orang yang menyamar jadi dirinya. Atau, ini cuma kongkalikong Suwirya dan kepala kampung saja?
"Bagaimana Adijaya, saksi satu-satunya sudah memberikan keterangan yang jelas?" tanya Ki Sobana.
"Jadi aku harus bagaimana?" Adijaya menahan perasaannya.
"Jadi mau mengaku?" desak Maruta.
"Tentu saja tidak, karena aku benar-benar bukan pelakunya!"
"Apa kau bisa membuktikannya?" Ki Sobana menatap tajam penuh selidik.
Seketika Adijaya terdiam. Memang dirinya tidak bisa membuktikan kalau dia tidak bersalah. Masalahnya kenapa Suwirya mengaku dirinya yang melakukan?
"Aku tetap bilang, aku bukan pembunuh!"
"Kalau begitu terpaksa kau kami tangkap!" seru Ki Sobana sambil memberi isyarat.
Seketika muncul beberapa orang membawa golok mengurung Adijaya yang masih duduk. Adijaya tak bergerak. Dia menenangkan perasaannya. Dia pernah mengalami hal ini sebelumnya jadi tidak perlu panik.
"Kalau berusaha kabur itu artinya kau benar-benar pelakunya!" seru Ki Sobana.
"Bagaimana kalau aku menyelidik mencari siapa pelaku yang sebenarnya?" tawar Adijaya.
"Suwirya sudah jelas dengan gamblang mengatakan kaulah pembunuhnya, mau cari siapa lagi!" tukas Maruta.
Adijaya semakin bingung, dalam keadaan seperti ini dia tidak bisa berpikir tenang. Kalau mengatakan ada orang yang menyamar menjadi dirinya, kemungkinan besar tidak ada yang percaya.
"Kau harus bertanggung jawab!" desak Ki Sobana.
Posisi Adijaya benar-benar sulit. Dibiarkan tertangkap atau kabur, tetap sama tuduhan terhadapnya atas pembunuhan lima warga kampung tidak hilang begitu saja. Jadi sekarang cara apa yang paling mendesak tapi menyelamatkannya?
__ADS_1
Sebenarnya bisa saja dengan sekali gebrak merobohkan semua pengepungnya. Bahkan Ki Sobana, Maruta dan orang lain yang ada di situ. Tapi tuduhan sebagai pembunuh akan semakin melekat padanya. Dia ingin lolos dan namanya tetap bersih.
Tapi bagaimana caranya?