
Keesokan harinya Mentri Jero Danapati mengumpulkan para saudagar yang jumlahnya lima orang. Bertempat di kediaman sang mentri sendiri.
Hal ini membuat Adijaya semakin yakin, bahwa tempat ini bukan cuma kediaman Patih, tapi merupakan istana kerajaan. Mungkin bila sudah saatnya, tempat ini akan diperluas.
Lima orang kaya atau saudagar rata-rata sudah berumur di atas lima puluhan tahun. Kecuali Adijaya karena penampilannya hanya samaran. Asmarini tidak diikutkan bersamanya.
"Sebelum kita mulai pembahasan ini, ada baiknya kita saling mengenal terlebih dahulu. Agar tidak merasa sungkan lagi," ujar Ki Danapati diakhiri dengan tertawa.
"Baiklah, ijinkan saya yang pertama mengenalkan diri, nama saya Kusmana dari Kawung Girang!"
"Saya Jayana dari Gandawesi,"
"Saya Waruga dari Lebak Haur,"
"Upasara dari Girilaya,"
"Dan saya Bandawa dari Gajah Depa."
Mentri Jero tertawa gembira. "Terima kasih-terima kasih..."
Beberapa pelayan datang menyuguhkan hidangan berupa makanan, buah-buahan dan minuman.
"Saya tidak akan berbasa-basi lagi," lanjut sang Mentri. "Saya akan menjelaskan persyaratan yang harus dipenuhi untuk bergabung di kerajaan Purwa Sedana,"
Ki Danapati memandang satu persatu tamunya. Sementara para saudagar itu hanya menunggu dia melanjutkan bicara.
"Persyaratannya tidak berat, hanya menyerahkan emas entah itu berupa kepingan, batangan atau perhiasan. Yang penting beratnya seratus kati..."
Para saudagar tampak saling pandang. Namun, dari semuanya tidak ada satupun wajah yang menunjukan keberatan. Termasuk Adijaya atau Ki Bandawa yang selalu tampak tenang.
Artinya, bagi mereka persyaratan itu memang tidak memberatkan.
"Atau..." lanjut Mentri lagi. "Bisa juga dengan perak, hanya beratnya menyesuaikan dengan nilai emas. Jadi lebih banyak lagi,"
"Saya sanggup!" ujar saudagar yang bernama Waruga. Lalu ditimpali oleh yang lainnya sama-sama menyatakan sanggup.
Tiba-tiba ada seorang prajurit melapor. Dia membisikan sesuatu di telinga sang Mentri Jero. Setelah selesai, si prajurit keluar lagi.
Wajah Ki Danapati alias Mentri Jero tampak lebih sumringah lagi setelah mendengar laporan prajurit tadi.
"Sungguh beruntung bagi kita yang hadir di sini. Hari ini, sebentar lagi raja kita akan tiba di sini,"
Terdengar gumaman para saudagar. Mereka menunjukan wajah antusias. Tentu saja semuanya -apalagi Adijaya- ingin melihat sang raja yang akan jadi junjungan mereka.
__ADS_1
Bahkan sang Mentri pun sebenarnya belum pernah berjumpa dengan raja. Yang pernah bertemu raja hanya satu orang, yaitu Patih Munding Wirya.
Beberapa saat kemudian, semua yang ada di tempat itu sudah bersiap menyambut kedatangan raja, kecuali para pendekar karena sedang mengikuti sayembara. Mengejar dan menangkap penyusup semalam.
Mereka berbaris di halaman depan kediaman Patih. Dari pintu gerbang sampai ke tempat itu jaraknya lumayan panjang. Kira-kira sampai empat puluh tombak.
Semuanya seperti menahan napas saat terlihat sebuah kereta kuda besar memasuki pintu gerbang.
Di saat ingin segera melihat sosok sang raja, waktu terasa berjalan lambat. Ki Bandawa dan Asmarini juga tak bisa melawan rasa berdebar menunggu kedatangan raja.
Padahal sebelumnya Adijaya pernah berhadapan dengan Prabu Satyaguna di Cupunagara. Bahkan pernah menghadap maharaja Wisnuwarman di Tarumanagara. Tapi kenapa seperti baru pertama kali saja.
Begitu juga Asmarini yang pernah tinggal di lingkungan istana tentunya pernah bertemu dengan raja.
Apakah karena ini raja baru, yang dari semua yang ada kecuali Patih, belum pernah melihat atau bertemu raja?
Kereta kuda berhenti di depan mereka. Lalu dari dalam turun dua orang. Yang pertama seorang pemuda berparas tampan yang dikepalanya terdapat mahkota. Pakaian dengan pernak-pernik dan hiasan raja.
Semua menyangka pasti dialah rajanya. Rupanya masih muda, mungkin seumuran dengan Adijaya.
Asmarini tak dapat menyembunyikan kekagumannya. Melihat raja yang masih muda dan gagah.
Kemudian yang kedua adalah seorang resi. Orang yang membuat Adijaya terkejut bukan main. Orang yang selalu dia sangka dan duga. Orang yang telah membuatnya terjerumus dalam malapetaka.
Tapi Adijaya harus menahan gejolaknya. Harus mencari alasan supaya bisa menempurnya.
Asmarini melihat perubahan muka kekasihnya. Tapi dia menahan diri agar tidak bertanya. Karena saat itu sang raja dan resi memasuki kediaman mentri.
Di dalam sudah tersedia singgasana kecil. Sang raja langsung duduk di sana, sedangkan sang resi berdiri di sampingnya.
Seperti sudah ada yang mengatur, yang sudah menjadi pejabat duduk bersila di barisan sebelah kanan. Dan di barisan sebelah kiri untuk para tamu.
Patih Munding Wirya berdiri. Menjura ke arah raja dan resi. Lalu menghadap ke para hadirin.
"Saya perkenalkan, inilah junjungan kita semua. Raja Purwa Sedana, Prabu Hanggarasa!"
Semua yang ada tampak menyembah takjim.
"Terima kasih!" ucap sang Raja. Walau masih muda, suaranya cukup berwibawa. "Paman Patih silakan duduk,"
Sang Patih menjura sebelum duduk kembali.
"Terima kasih untuk tuan-tuan sekalian, yang telah sudi dengan ketulusan hati bergabung dengan Purwa Sedana. Kita akan bersama-sama membangun kerajaan ini menuju kegemilangan dan kemakmuran,"
__ADS_1
Sang raja mengitarkan pandangan. Ingin mengenal wajah-wajah para abdinya. Tatapannya berhenti agak lama saat memandang Asmarini.
Raja yang masih muda, melihat seorang gadis cantik. Tentu saja ada rasa tertarik. Dalam pada ini Suta Wingit tampak gelisah.
Prabu Hanggarasa melanjutkan. "Aku, selain dibantu oleh kalian semua. Juga akan dibimbing oleh sang penasihat yang juga adalah ayahku..."
Sang rasa menunjuk kepada sang resi. Menunjuk dengan telapak tangan terbuka.
"Resi Ganggasara!" sebut sang Raja.
Mendengar nama ini Asmarini terkejut, tapi segera memperbaiki sikap agar tidak kentara. Gadis ini melirik Adijaya. Wajah Ki Bandawa tampak dingin mengkelam.
Acara perkenalan kemudian dilanjutkan dengan pesta dan makan-makan. Sejumlah penari telah didatangkan untuk menghibur.
Meskipun pejabat kerajaan baru beberapa orang, pesta tetap diadakan semeriah mungkin.
***
Malam hari ketika pesta sudah usai. Di tempatnya Adijaya dan Asmarini.
Si gadis yang penasaran sejak tadi siang langsung meluapkannya kepada sang kekasih.
"Ganggasara itu resi yang selama ini Kakang cari?"
"Sejak kapan dia jadi resi?" Adijaya malah menerawang. Karena seingatnya dia dulunya seorang mentri yang berkhianat.
"Aku ingat Kakang pernah bilang, Ganggasara tidak perlu dicari. Dia akan muncul sendiri, biasanya menjadi dalang di sebuah kejadian. Ternyata benar!"
"Tadinya aku menduga dialah yang menjadi raja..."
"Makanya Kakang menyamar!"
"Iya, dan rupanya dia menjadikan anaknya sebagai boneka,"
"Tetap saja dia dalangnya, iya, kan?"
Adijaya mengangguk sambil menghempas napas pelan.
"Sekarang sudah nyata semua, Ganggasara masih berambisi ingin jadi penguasa. Tinggal bagaimana caranya supaya aku bisa menempur dirinya,"
Tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Sepasang pemuda ini saling pandang. Dengan isyarat mata, Adijaya menyuruh kekasihnya untuk membukakan pintu. Sementara dia merapihkan penyamarannya.
"Siapa?" tanya Asmarini dari dalam. Pelan.
__ADS_1
"Saya, Jayana!"