Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Terbayar Sudah


__ADS_3

Adijaya menghampiri Wuni yang masih tampak ketakutan. Dia menyuruh gadis itu pulang dan membawa warga desa ke bukit ini untuk menangkap orang-orang yang telah menipu warga selama setahun ini.


"Dewi Kalajenget bukan siluman atau manusia setengah siluman. Dia manusia biasa. Gadis-gadis yang telah dijadikan persembahan aslinya dijual dijadikan wanita penghibur,"


Begitulah Adijaya meyakinkan Wuni agar berani mengungkapkan kebenarannya. Tiga lelaki yang sedianya akan membawa Wuni itu diikat jadi satu di sebuah pohon.


Kemudian Adijaya menggendong Dewi Kalajenget yang terbaring lemah ke dalam rumah. Wanita itu dibaringkan di lantai kayu yang sudah mengkilap.


Dewi Kalajenget yang masih setengah sadar merasakan tatapan lembut pemuda gagah itu. Bahkan senyum Adijaya menyeruak mengobrak-abrik sanubari sang Dewi. Seketika kesadarannya pulih.


Debaran jantung wanita dewasa yang bertubuh molek ini bagaikan menghentak hendak menembus keluar tatkala wajah tampan Adijaya begitu dekat dan merasakan hembusan napasnya.


Dewi Kalajenget sudah lupa segalanya. Saat ini dia menginginkan sentuhan yang sudah lama tak ia nikmati. Sampai-sampai lirih suaranya mendesah pelan.


Bagaimana tidak, karena saat itu tangan Adijaya sudah menyusup ke balik kemben yang kini longgar dan meraba sesuatu yang kenyal di dalamnya.


Wanita itu menggelinjang kegelian. Bahkan kedua tangannya bergerak menarik punggung Adijaya sehingga pemuda ini menindih tubuhnya. Pemuda ini mengatur perasaannya. Kulit tubuh Dewi Kalajenget masih terasa halus..


"Aku akan mengabulkan keinginanmu," bisik Adijaya di telinga Dewi Kalajenget. "Asalkan kau memenuhi permintaanku!" Lalu menghembuskan napasnya ke leher wanita itu.


"Apapun permintaanmu... Ahhh!... Aku akan berikan... Owh!" Dewi Kalajenget merasakan sensasi yang tak tergambarkan ketika menerima hembusan napas dan sentuhan yang membuat urat-uratnya menegang.


"Kemana gadis-gadis itu dijual?" Bisik Adijaya lagi sambil meremas gundukan yang masih kencang itu. Membuat wanita ini semakin merasa terbang.


Dewi Kalajenget memberitahukan apa yang diminta Adijaya sambil tangannya meraba ke bagian bawah lelaki gagah itu. Secara refleks kedua kakinya merenggang. Namun, ketika geloranya tak mampu dibendung lagi tiba-tiba tubuhnya terkulai lemas.


Adijaya segera merapikan kembali pakaian wanita itu yang acak-acakan. Dewi Kalajenget menatap antara kesal dan merengek. Kesal karena hasratnya tak tersalurkan. Merengek, sudah pasti karena terlanjur nafsu. Dia ditipu, tapi tidak marah.


Setelah berada di luar, Adijaya mengatur napasnya. Rencananya berhasil walau hampir saja terjerumus ke dalam jurang nista. Entah kenapa pikiran itu begitu saja muncul di benaknya.


Dia menebak Dewi Kalajenget haus akan cumbu rayu, sehingga untuk mengorek keterangannya harus dengan cara merayunya. Untung tidak kebablasan.


"Itu jurus baru, Juragan?" goda Padmasari.

__ADS_1


Adijaya menyembunyikan wajah merahnya. "Kenapa aku bisa menyentuh orang lain, sedangkan mereka tidak?" tanyanya kemudian.


"Ya, memang begitu sifat ilmunya!"


Kemudian Adijaya melesat kembali ke raga kasarnya. Asmarini yang tahu tanda-tanda sang suami sudah kembali segera menanyakan kejadiannya.


"Dugaan kita benar," jawab Adijaya kemudian menceritakan apa yang terjadi kecuali saat dirinya merayu Dewi Kalajenget.


Adijaya menyuruh kereta kuda yang masih gaib itu menuju ke balik bukit di mana terdapat rumah yang digunakan untuk menjual para gadis desa.


Agak lama kemudian terdengar suara langkah kaki orang banyak. Lalu tempat itu kini diserbu warga desa. Mereka segera membawa tiga lelaki yang terikat dan juga Dewi Kalajenget yang terbaring lemah.


"Kita lanjutkan perjalanan, gadis-gadis itu katanya dijual ke tempat hiburan di pesisir pantai selatan,"


"Kita akan membebaskan mereka juga?"


"Ya, karena kebetulan arah ke sana akan melewati sekitar gunung Salak terlebih dahulu."


Kereta kuda menuruni bukit dengan cara melayang. Dalam waktu sebentar saja sudah berada di sebuah jalan besar yang akan membawa ke tempat tujuan mereka.


***


Padmasari melaporkan hasil temuannya perihal Jagatapa dan Tajimeta. Kedua orang itu memang memiliki hubungan. Tajimeta adalah anaknya Jagatapa walaupun cuma anak angkat.


Jagatapa mendirikan padepokan kecil di sebuah desa di kaki gunung salak. Menurut Padmasari padepokan yang pimpin Jagatapa masih beraliran putih.


"Kenapa dia mengirim anaknya ke Karang Bolong?" tanya Asmarini.


"Besar kemungkinan ingin menyelidiki apakah Ki Manguntara juga bersikap tidak adil seperti anggapan Jagatapa kepada gurunya sendiri," duga Padmasari.


"Dan kebetulan kejadian seperti itu," timpal Adijaya. "Padahal dia hanya salah sangka!"


"Apa Kakang bisa meyakinkan Ki Jagatapa tanpa harus ada pertarungan?"

__ADS_1


"Sepertinya tidak!"


Kereta kuda kini melintasi jalan yang di sebelahnya terdapat sungai besar yang banyak batu-batu juga berukuran besar. Seketika saja Adijaya ingin mandi, maka dia menghentikan kereta.


"Dinda, lihat sungai berair bening itu. Aku ingin mandi sebelum malam tiba!"


"Aku ikut, Kakang!" Asmarini tampan antusias.


Kemudian mereka turun. Melihat pemandangan sungai begitu indah. Batu-batunya besar. Mereka mencari tempat dikelilingi batu agar tersembunyi ketika mereka merendam di air.


Asmarini mengerling penuh arti ketika sang suami mengajaknya ke sini. Wajahnya jadi bertambah cantik saat seperti ini.


"Pasti Kakang ada maksud tertentu!"


Adijaya tidak menjawab. Dia hanya menatap mesra lalu menggendong sang istri dan nyebur ke sungai yang kedalamannya mencapai pinggang di bagian sisinya. Pinggang Asmarini, bukan pinggang Adijaya.


Rasa dingin merasuk kulit mereka ketika air sungai membasahi badan bagian bawah. Angin sejuk mengibarkan rambut Asmarini sehingga menyibakkan leher indahnya.


Memang benar, setelah hampir kejadian dengan Dewi Kalajenget, Adijaya menahan hasratnya. Sampai akhirnya menemukan sungai yang mengingatkannya dulu ketika gagal bercinta karena harus menolong kuda guriang.


Sekarang dia ingin mencurahkannya. Dengan pelan dan lembut Adijaya melucuti semua pakaian istrinya sehingga nampaklah tubuh mungil, tapi indah. Paling indah menurut kata hatinya.


Adijaya memperhatikan detil setiap lekuknya sambil meraba-raba pelan. Dia sengaja berlama-lama agar Asmarini terpancing gai rahnya. Dan memang si mungil itu menikmati setiap sentuhan yang sebelumnya tidak selembut ini.


Asmarini mulai mengerang kecil ketika bukan tangan lagi yang menyapu seluruh tubuhnya, tapi lidah dan bibir sang suami. Terutama saat menghisap buah mungilnya yang semakin mengencang.


Selanjutnya mereka terlarut dalam keindahan dan sensasi yang sempat terpendam. Sensasi di dalam air. Kadang-kadang mereka sampai menyelam untuk mendapatkan sensasi yang lebih indah.


Kadang juga sambil bersandar ke batu yang agak miring. Dinginnya air sungai tidak mampu mendinginkan kehangatan yang mereka ciptakan. Tempat itu seolah menjadi milik mereka berdua.


Sampai akhirnya tubuh mereka mengambang di air sambil berpelukan. Mereka seperti tertidur di atas dipan saja. Mereka benar-benar menikmati hingga lupa waktu. Begitu langit mulai menggelap, barulah mereka beranjak naik.


Tentu saja setelah keduanya berpakaian rapi lagi. Mereka berjalan sambil berangkulan layaknya anak muda yang baru kasmaran. Wajah mereka berseri-seri, seakan-akan mereka paling bahagia di dunia.

__ADS_1


Akhirnya, terbayar sudah...



__ADS_2