Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Bukit Bedul Berguncang


__ADS_3

Dua hari kemudian betapa terkejut dan terpukul ketika Adijaya dan Puspasari sampai di sana, mendapati seluruh bangunan rumah telah roboh dan sebagian menjadi abu.


Di antara puing-puing rumah yang hangus itu, Mereka melihat dua jasad yang juga hangus. Dari ciri-cirinya jasad itu bisa dipastikan adalah nenek kembar. Yang satu terlihat bungkuk dan yang satunya menggenggam pedang yang telah rusak.


Bergegas Adijaya menuju kolam di belakang rumah. Hanya Asmarini yang dia pikirkan. Kolam itu masih utuh dan air bunganya masih ada, tetapi Asmarini tidak ada. Pemuda ini mendengkus kesal.


Seketika saja perasaan Adijaya panik, kalut dan takut berkecamuk jadi satu. Siapa yang telah melakukan ini semua? Kemana Asmarini, bagaimana nasibnya? Napasnya tersengal-sengal bagaikan habis berlari kencang.


Pikiran terhadap gadis kesayangannya begitu besar. Nasib apa lagi yang menimpanya? Sejenak dia merasa menyesal telah menerima tugas dari Nini Bedul. Akan tetapi tidak ada yang tahu nasib setiap mahluk di masa depan selain penciptanya.


Masih penasaran, kemudian dia mencari-cari di setiap sudut. Namun, tidak menemukan jasad lain selain jasad kedua nenek kembar itu. Berbagai pertanyaan muncul dalam pikirannya.


Prasangka yang paling memungkinkan adalah Asmarini dibawa oleh si pelaku yang menghancurkan tempat ini. Siapa orangnya yang mampu menandingi dua nenek kembar? Pasti sangat sakti.


Kemana Asmarini dibawa pergi? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat amarahnya memuncak. Tak bisa lagi mengendalikan emosi, Adijaya berteriak sekencang-kencangnya sambil melepaskan kekuatannya.


Wussssh!


Gelombang angin dahsyat keluar dari tubuhnya menghempaskan setiap benda di sekelilingnya. Bahkan Puspasari juga terkena imbasnya. Gadis ini terpental jatuh ke lereng.


Sekejap kemudian Adijaya sadar perbuatannya hampir mencelakakan orang. Segera saja dia berkelebat menyambar tubuh Puspasari sehingga gadis itu berhasil diselamatkan.


Puspasari baru tahu kekuatan Adijaya ternyata begitu mengerikan.


Setelah mendarat dengan selamat, Adijaya segera memeluk gadis ini dengan erat sambil berulang-ulang mengucapkan kata maaf.


"Maafkan aku, maafkan aku, maaf!"


Tak terasa gadis itu meneteskan bulir bening di kedua pipinya. Dia dapat merasakan betapa terpukulnya hati Adijaya. Kalau tidak ada hari pernikahan yang sebentar lagi dilaksanakan, sudah pasti dia akan terus menemani pemuda ini.


Karena sebenarnya di dalam hati kecilnya, Puspasari sudah menyayangi si pemuda. Diam-diam dia menyesal telah menerima lamaran Jatnika. Seandainya memungkinkan dia rela jadi apa saja asal selalu bersama Adijaya.


Beberapa saat kemudian ketika hari mulai senja, mereka kini duduk berdampingan di sebuah akar pohon besar yang menonjol dari tanah.


"Apa rencanamu?" tanya Puspasari.


"Menemukan Asmarini, bagaimana pun caranya,"


"Aku ingin menemanimu terus,"


"Besok lusa hari pernikahanmu, seharusnya kau sudah dipingit tujuh hari sebelum pernikahan. Tapi kau malah masih keluyuran bersama lelaki lain," Walaupun bicara begitu tapi sambil memeluk si gadis untuk menyenangkan hatinya.


Puspasari hanya diam menikmati pelukan hangat lelaki itu. Dia tidak peduli apakah Adijaya hanya mempermainkannya atau tidak. Baginya asal dekat saja sudah bahagia.

__ADS_1


"Tapi hari hampir malam, aku ingin bersamamu semalam lagi," rengek Puspasari.


"Kau tidak takut?"


"Buat apa takut? Sekalipun kau berbuat macam-macam terhadapku, aku pasrah!"


Berapa gadis yang sudah bersikap demikian terhadapnya? Apa yang dimilikinya? Rasanya dia hanya lelaki biasa saja. Dia tidak ingin merusak kehormatan calon istri orang.


Malam hari ketika Puspasari telah tertidur, Adijaya memanggul gadis itu. Lalu sosoknya berkelebat cepat menuruni bukit. Melayang dengan Payung Terbang.


Adijaya membawa gadis itu ke rumahnya. Lalu membaringkan di kamarnya. Dia menatap sejenak wajah cantik Puspasari. Tidak dapat dipungkiri, dia juga menyukai gadis itu.


Sebelum pergi, Adijaya sempat mengecup bibir si gadis. Dia kembali ke puncak bukit Bedul. Rencananya besok pagi dia akan mencari petunjuk di tempat itu. Siapa tahu ada sesuatu yang tertinggal.


Sepanjang malam Adijaya tak dapat memejamkan matanya. Dia selalu terbayang-bayang dengan nasib Asmarini. Untuk menenangkan pikiran akhirnya dia bersemedi. Menghilangkan pikiran pikiran buruk dan mendoakan keselamatan gadis pujaan hatinya.


Begitu waktu 'Carangcang Tihang' Adijaya merasakan ada hawa buruk mengancam jiwanya. Segera dia membuka matanya. Dia merasakan ada serangkum angin ganas menerpa dari arah belakang.


Wussssh!


Adijaya berguling ke depan menghindari serangan dadakan itu. Belum sempat melihat siapa penyerangnya, selarik cahaya kuning berkelebat mengarah ke dadanya.


Blaarr!


Kini baru dia melihat si penyerang yang berdiri lima tombak dari tempatnya. Seorang kakek kurus berambut putih digelung berpakaian seorang resi warna hitam.


"Siapa kau, kenapa menyerang saya?"


"Kau pura-pura tidak tahu apa dosamu!" Suara si kakek terdengar sember agak serak.


"Apa salah saya?"


"Masih saja mengelak!"


Si kakek menyerang lagi dengan ganas. Dia melepaskan puluhan sinar kuning mengurung Adijaya. Sepertinya tidak mau membiarkan Adijaya lolos.


Wussh! Wussh! Wussh!


Blaarr! Blaarr! Blaarr!


Namun, kenyataannya pemuda itu dengan mudah bisa menghindari semua serangan Si kakek. Sinar-sinar kuning itu hanya menghantam tanah yang mengakibatkan debu dan abu sisa pembakaran berhamburan ke udara.


Pagi itu puncak bukit Bedul terasa berguncang. Daun-daun kering berguguran karena guncangan akibat ledakan yang ditimbulkan sinar kuning.

__ADS_1


Ledakannya dahsyat, Adijaya sampai terasa sesak dadanya kalau tidak segera dialiri hawa sakti. Untung gerakannya cepat sekali, kalau tidak, mungkin tubuhnya sudah hangus terbakar sinar kuning itu.


Si Kakek menghentikan serangan karena baru kali ini ada orang yang mampu menghindarinya.


"Pantas saja kau mampu membunuhnya, rupanya kau berilmu tinggi!"


"Membunuh siapa?"


"Masih saja kau berpura-pura!"


"Aku memang tidak tahu, aku tidak berpura-pura!" Adijaya berteriak dengan pengerahan tenaga dalam karena saking marahnya.


Tubuh si Kakek sampai doyong ke belakang ketika mendengar teriakan Adijaya. "Nampaknya pemuda itu memang tidak berpura-pura," batin si kakek.


"Di pertapaanku aku mendapat firasat buruk tentang muridku, lalu aku segera ke sini dan ternyata hanya ada kamu di sini seorang. Siapa lagi yang membunuhnya kalau bukan kamu?"


"Siapa muridmu?"


"Penghuni tempat ini!"


Rupanya Kakek ini gurunya Nini Bedul. Kalau Nini Bedul saja sudah nenek-nenek, berarti kakek ini sudah sangat tua sekali. Adijaya tidak bisa menaksir berapa umurnya.


"Kau salah sangka, aku juga sedang mencari pelakunya,"


"Tapi hanya ada kau di tempat ini!" Si kakek keukeuh.


"Dengar dulu penjelasanku!"


"Kau masih menyangkal?"


"Lihat ini!" Adi Jaya memperlihatkan pedang Guntur.


Si Kakek terkejut lalu katanya, "Itu semakin membuktikan bahwa kau pembunuhnya!"


"Kenapa pikiranmu sempit sekali?" Adijaya mendengkus kesal.


"Sudahlah, jangan berusaha menghindar lagi serahkan pedang itu dan juga nyawamu!"


Adijaya menghentakkan kakinya ke bumi saking kesalnya. Kenapa ada orang tua semacam ini? Kemana dia punya otak? Atau hanya karena amarahnya jadi pikirannya buntu?


"Dengar, Kek!" seru Adijaya. "Kau tahu pemilik pedang ini? Kau tahu berada di mana pedang ini sebelum aku pegang? Dan kau juga pasti tahu siapa saja yang bisa memegang pedang ini!"


Si kakek terhenyak.

__ADS_1


__ADS_2