Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Tugas Yang Sia-sia


__ADS_3

Jika ditempuh dengan berkuda maka membutuhkan waktu sampai tujuh hari untuk sampai ke bukit Gajah Depa. Gagakseta dan Trikarsih memiliki ilmu yang bernama 'Lengkah Jurig'. Dengan ilmu ini mereka bisa mencapai ke sana dalam waktu semalam.


Ilmu ini didapat dari siluman yang menjadi junjungan mereka. Ilmu ini hanya bisa digunakan malam hari. Mereka jarang menggunakan ilmu ini kecuali untuk hal penting. Karena ilmu ini sangat menguras tenaga dalam.


Seperti malam ini, sepasang kekasih ini berlari di udara dengan kecepatan tinggi. Dalam sekali tarikan napas harus tepat mencapai tujuan. Maka dari itulah karena sekujur badan hampir kaku akibat menahan napas, mereka mendarat dengan cara menjatuhkan diri.


Sosok mereka jatuh berguling-guling di kaki bukit. Badan terasa remuk dan sakit bukan main. Beberapa lama mereka tak berkutik untuk memulihkan kondisinya. Sampai waktu Haneut Moyan barulah mereka bisa menggerakkan badan.


Gagakseta memandang ke puncak bukit, seperti yang tergambar dalam Jendela Air milik ibunya.


"Ini memang tempatnya, kita cari mereka di atas!" ujar Gagakseta sambil menunjuk ke lereng.


Sebelum naik mereka memulihkan kekuatan terlebih dahulu hingga benar-benar sempurna.


"Tunggu, Seta!"


"Ada apa?"


Trikarsih mengeluarkan sesuatu dari balik ikat pinggangnya. Dua buah kotak kecil pipih berwarna hitam legam.


"Ini jimat untuk penangkal sihirnya!"


Gagakseta mengambilnya satu kemudian di selipkan di balik ikat pinggang. Dengan langkah cepat, tapi selalu waspada sepasang pemuda ini mendaki bukit. Mereka menyusuri jalan lebar yang bisa dilalui kereta kuda.


Karena jalur lainnya hanya berupa jalan setapak, dan mengingat Adijaya beserta istrinya menaiki kereta kuda, maka sudah dipastikan buruan mereka melewati jalan lebar ini.


Namun, ketika sampai di lereng, jalan lebar berakhir alias buntu. Sementara di sekitarnya tidak ada sesuatupun semisal gubuk atau rumah, bahkan kereta kuda juga tidak terlihat berada di mana.


Di sekeliling tempat itu hanya ada pepohonan yang menjulang tinggi. Daunnya tidak begitu rimbun hingga langit cerah masih terpampang di atas sana.


"Aneh, kenapa tidak ada apa-apa di sini?"


"Mungkin mereka di puncak, Seta!"


"Bagaimana bisa kereta kuda yang besar itu naik ke puncak, sedangkan tidak ada jalan lebar lagi menuju ke atas?"


"Bukankah kereta itu bisa terbang?"


"Oh!" Gagakseta menghempas keras napasnya. Dia baru ingat hal itu.


"Kita coba ke puncak, Seta!"

__ADS_1


Trikarsih mendahului kekasih melangkah, dia mengambil jalan setapak yang hanya ada satu-satunya di sana. Sepanjang jalan mereka selalu mengitarkan pandangan. Apalagi bila menemukan tempat yang datar.


Sampai di puncak, mereka tetap tidak menemukan apapun. Aneh, tak habis pikir. Tidak mungkin mereka salah, jelas-jelas yang terlihat di Jendela Air, kereta kuda terbang menuju bukit ini. Bukit Gajah Depa.


"Apa kita tertipu oleh sihir mereka lagi?" Trikarsih terpikirkan hal itu.


"Jimat yang kita pakai bukan sembarangan, sihir apapun tidak akan mempan!" Gagakseta tidak percaya kalau jimat pemberian ibunya itu tidak berfungsi.


Akhirnya mereka duduk di bawah pohon untuk melepas lelah. Dari pagi mereka belum mengisi perut.


***


Sementara itu di dalam rumah. Asmarini senyum-senyum melihat kebingungan yang menimpa Gagakseta dan kekasihnya. Tentu saja tabir pelindung yang dibuat Adijaya lebih kuat.


Sehingga apa yang mereka cari tidak kelihatan. Sepasang kakek nenek jelmaan kuda guriang menemani si cantik mungil ini.


"Dari mana mereka tahu aku berada di sini?" tanya Asmarini.


"Pasti mereka atau ibunya memiliki suatu alat yang bisa melihat benda dari kejauhan," jawab si nenek.


"Mereka membawa semacam jimat untuk menangkap sihir, tapi sayangnya yang Juragan gunakan bukan sihir, hehehe..." ujar si kakek.


"Mereka sepertinya kelaparan!" kata Asmarini.


"Beri saja, kasihan!"


"Mereka punya niat jahat!" sanggah si nenek.


"Tidak mengapa, penjahat juga butuh makan," sahut Asmarini diakhiri tawa yang terdengar renyah.


"Baiklah, aku yang akan ke sana!" kata si kakek.


Mereka berada di ruang dimensi lain. Dari jendela depan itu bisa melihat Gagakseta dan Trikarsih. Si kakek mendekati pintu yang ada di samping jendela, lalu membuka dan keluar.


Gagakseta dan Trikarsih terkejut tiba-tiba saja ada seorang kakek muncul di hadapan mereka. Si kakek tertawa mengekeh. Sepasang kekasih ini memperhatikan dengan jelas, barangkali saja kakek ini mempunyai niat jahat.


"Tidak usah takut, anak muda!" ujar si kakek. "Aku tinggal di sini, di sebelah sana rumahku!" tunjuk si kakek asal.


"Tinggal di sini, sendirian?" tanya Gagakseta.


"Bersama istriku, lah, hehehe...!"

__ADS_1


"Tidak ada orang lain lagi?"


"Tidak ada, sepertinya kalian belum makan, ini aku bawakan makanan!"


Si kakek keluarkan sebuah bungkusan berisi nasi dan lauknya. Dia juga mengeluarkan dua kendi berisi air. Sepasang pemuda ini heran, rasanya tadi si kakek tidak membawa apapun, tapi tiba-tiba saja bisa mengeluarkan makanan dan minumannya.


"Makanlah, aku hendak cari kayu bakar dulu!"


Si kakek menaruh makanan dan kendi di depan mereka. Kemudian sosoknya berjalan menuruni bukit. Dalam sebentar saja sosok si kakek sudah tak kelihatan.


Gagakseta dan Trikarsih tampak ragu memandangi bungkusan nasi dan kendi di depannya. Namun, karena lapar tak bisa dikompromi lagi akhirnya mereka menyantapnya dengan lahap.


Mereka seolah lupa dengan tugas yang diberikan Madari yang kini tampak kesal melihat kelakuan mereka dari Jendela Air.


"Dasar bodoh! Apa yang kalian lakukan?"


Madari menyesal telah salah memberikan jimat. Mereka tidak bisa menemukan tempat tinggal Asmarini karena terlindung tabir gaib.


"Mereka tidak hanya memiliki ilmu sihir, ternyata ada guriang yang selalu mendampingi dan melindungi. Pantas saja mereka sukar dihadapi!"


Khawatir anaknya dalam bahaya, segera saja Madari memanggil mereka dengan ilmu telepati. Namun, sayang putra bungsu dan kekasihnya itu langsung tak sadarkan diri setelah makanan habis dilahap.


"Sial!"


Madari membanting tangannya hampir menumpahkan air di dalam mangkuk tembaga. Dia bingung antara menunggu mereka sadar atau menyusul ke sana.


Kalau menunggu mereka sadar, takutnya sesuatu hal buruk menimpa mereka. Tapi kalau menyusulnya dengan ilmu Lengkah Jurig, tenaganya akan habis begitu sampai di sana.


***


Si kakek sudah kembali lagi ke rumah.


"Harus diapakan mereka, Gusti Putri?" tanya si kakek.


"Kalau aku tidak sedang mengandung, mungkin lebih baik dibunuh saja. Mereka akan meresahkan warga karena selalu menculik bayi,"


"Apakah mau seperti yang Juragan lakukan terhadap lawan-lawannya?" usul si nenek.


"Nah, itu bagus!" seru Asmarini. "Hilangkan semua ilmu dan kekuatan mereka, lalu kirim kembali ke ibunya!"


Sepasang kakek nenek tertawa mengekeh berbarengan.

__ADS_1


"Kalau yang itu biar aku saja!" kata si nenek langsung pergi tanpa menunggu persetujuan lagi.


Begitulah, Gagakseta dan Trikarsih dilenyapkan semua ilmu dan kekuatannya. Kemudian dengan cara makhluk guriang, mereka dilemparkan hingga kembali ke tempat bersemayamnya Madari.


__ADS_2