
Kuntala lipat gandakan tenaga. Malah dilapisi dengan tenaga dalam yang dipusatkan pada jari-jari tangannya. Setiap gerakannya menimbulkan angin padat yang dapat mengiris kulit. Apalagi kalau sampai terkena cakarannya.
Namun, tubuh Adijaya sudah kuat secara alami karena sering memakan lumut ungu sewaktu terjebak dalam goa. Serangan semacam itu bukanlah hal yang membahayakan.
Sampai lewat puluhan jurus, seperti biasa Adijaya menggunakan jurus tak bernama ciptaanya. Kadang-kadang mendadak membuat gerakan baru sebagai penangkal jurus lawan. Sampai suatu ketika, begitu pemuda ini memahami intisari jurus dan ilmu Cakrageni. Dia mempercepat tempo gerakan dan memperagakan jurus Cakrageni. Bahkan sambaran anginnya lebih dahsyat daripada punya Kuntala.
Anggota begal Cakrageni yang tersisa satu-satunya ini dibuat keteran menghadapi jurusnya sendiri. Selain tangan lawan yang sekuat batu karang, juga gerakannya lebih cepat. Dalam sekejap saja empat sampai lima gerakan dilakukan.
Kuntala terdesak mundur. Di puncak gunung yang udaranya dingin itu, keringatnya menetes di dahi. Sudah menambahkan lapisan tenaga dalamnya, tapi tetap saja lawannya masih di atas angin.
"Gila! Sejak kapan dia menguasai jurus Cakrageni? Tingkat terakhir lagi! Dan lebih sempurna!"
Kinasih yang menyaksikan dari tempatnya, tampak kagum melihat Adijaya yang begitu gagah menggunakan jurus-jurusnya. Dia merasa aneh, bukankah Adijaya termasuk murid padepokan Linggapura? Tapi kenapa Kinasih tak mengenali jurus yang diperagakan pemuda itu?
Tapi dia tertarik melihat gerakan jurus yang meliuk-liuk indah. Seindah orangnya. Orang yang membuatnya jatuh cinta lagi.
Kembali ke pertarungan.
Kuntala semakin terdesak. Dia sudah sampai di tepi puncak. Jika dia terdorong maka tubuhnya akan menggelinding ke bawah.
Sebenarnya Adijaya tidak berniat sampai membunuh Kuntala. Hanya melumpuhkan saja. Tapi bekas komplotan ayahnya ini cukup kuat juga bertahan walau sudah terdesak.
Tiba-tiba saja dari arah bawah angin berhembus kencang bagai badai yang menghantam membuat tubuh Adijaya terpental, tapi masih bisa mendarat dengan selamat. Saat terpental itulah satu sosok tinggi besar berkelebat menyambar Kuntala lalu lenyap dalam sekejap.
***
Setelah berada di tempat aman, Kuntala dan sosok tinggi besar itu berhenti.
"Jangan berurusan dengan anak itu!" ujar si tinggi besar.
Kuntala tak menjawab hanya mengatur nafasnya yang tak karuan.
"Dia yang menggagalkan rencanaku menjadi maharaja. Dia memiliki kekuatan dahsyat. Sepertinya dia jelmaan dewa. Karena tidak mungkin semuda itu sudah sangat sakti,"
"Dia anaknya Gandara," Kuntala memberitahu yang membuat si tinggi besar terperanjat.
"Apa kau bilang?"
"Ya, dia anak Gandara!"
"Kalau begitu mungkin dia ketitisan dewa. Hutan Mandapa tempat guru kita bersemayam bisa ditembusnya. Bahkan mampu mengimbangi guru dalam pertarungan,"
Kuntala mendengkus. "Pantas, untung Raka segera menolongku!"
__ADS_1
"Sekarang jangan pikirkan dia dulu. Sekarang kita mencari cara, bagaimana mengeluarkan sukma guru yang sudah menjadi siluman, yang kini terperangkap dalam jasad orang itu."
"Baiklah, Raka!"
***
"Kenapa Nyai berada di sini?" tanya Adijaya.
"Setiap tiga hari sekali, saat sore hingga senja aku selalu ke sini,"
Sepasang manusia yang sedang kasmaran ini duduk berdampingan di sebuah batu datar menghadap ke arah matahari terbenam.
"Untuk apa?"
"Menikmati pemandangan indah, terutama ketika sang surya tenggelam,"
"Lalu, bagaimana bisa ada Paman Kuntala?"
"Aku tidak tahu, rupanya dia sudah lama mengintaiku. Begitu kesempatan tiba, dia hendak mengumbar niat busuknya,"
"Oh,"
Perlahan mereka saling memandang, tapi cuma sebentar. Perasaan malu lebih menguasai diri.
"Sudah kewajibanku, Nyai,"
"Kalau boleh tahu, Akang sudah kenal lama dengan orang bernama Kuntala itu?"
Tanpa ragu, Adijaya menceritakan semua tentang dirinya dengan bahasa yang mudah dipahami. Dia yakin kalau dia jujur, sikap Kinasih tidak akan berubah. Apa yang disampaikan tidak terlewat satupun.
Dari mulai kabur dari rumah. Bekerja di kedai Sariti. Diselamatkan Arya Sentana. Tewasnya komplotan ayahnya kecuali Kuntala. Menjadi murid yang tersisih hingga terusir. Jatuh ke jurang lalu terjebak dalam goa. Tapi malah mendapatkan kekuatan. Mendapatkan payung terbang. Bekerja pada Darma Koswara. Mengikuti panglima Cakrawarman sampai kembali ke padepokan.
Kinasih menyimak penuturan Adijaya dengan seksama tanpa menyela.
Sore yang indah. Seindah hati mereka berdua yang sedang kasmaran.
Sebelum hari gelap, sepasang manusia ini telah kembali ke lereng.
***
Malam hari ketika sebagian besar penghuni padepokan telah terlelap dalam mimpi masing-masing. Adijaya tampak duduk di atas atap bangunan. Memandang langit cerah yang dihiasi bintang-bintang dan bulan yang cuma separuh.
Selain Kinasih yang mewarnai lamunannya, masih terpikirkan tentang guriangnya yang belum juga kembali. Mungkin untuk mendapatkan Labu Penyedot Sukma membutuhkan perjuangan besar. Lalu teringat pada sosok tinggi besar yang membawa kabur Kuntala.
__ADS_1
Memikirkan dua hal itu saja terasa rumit. Apa karena dia orang yang baru terjun dalam dunia persilatan. Belum banyak pengalaman. Tidak seperti Arya Sentana, Praba Arum apalagi Ki Ranggasura.
Kuntala jelas masih menaruh dendam kepada padepokan terutama kepada Arya Sentana. Karena Pendekar Tinju Dewa itu, kelompok begal Cakrageni kini tinggal nama. Dia pernah menarik murid-murid padepokan yang diusir untuk bergabung dengannya. Dengan menggunakan ilmu gendam, usahanya berjalan lancar. Bahkan Komara pun berhasil ditarik.
Tapi Komara selain kena gendam juga dirasuki siluman. Siapa siluman yang ada di tubuh Komara?
Menyembuhkan Komara, mencari Kuntala dan orang yang berada di belakangnya. Dan yang paling utama, mencari dan melenyapkan Birawayaksa. Apakah dia akan membunuh? Dia belum pernah membunuh orang.
Lalu Kinasih. Apakah urusan cinta ini akan menghambat tugasnya atau malah membantunya?
Adijaya merasa butuh banyak wejangan, baik dari Arya Sentana atau sekaligus dari Ki Ranggasura.
Lalu pemuda ini melayang turun. Gerakannya lambat saja. Menikmati semilir angin malam. Namun, baru saja menjejakkan kakinya di tanah. Seseorang telah menunggunya.
Seorang murid laki-laki yang perawakannya sama dengannya. Tapi wajahnya terlihat lebih tua. Sorot matanya tegas. Urat-urat di lehernya tampak menonjol. Rahangnya agak lebar seperti selalu terlihat mengeras.
"Kalau tidak salah, kau yang bernama Soma," kata Adijaya.
"Ya, aku Soma!"
"Ada keperluan?"
"Aku ingin menantangmu!"
Adijaya kerutkan kening. Dia mengira orang ini mungkin dulunya termasuk yang membencinya. Dan sekarang ingin menguji kemampuannya dengan menantang bertarung.
"Untuk apa?" tanya Adijaya.
"Untuk menentukan siapa yang pantas mendapatkan Kinasih!"
Adijaya tercekat menarik wajahnya. Menelan ludah. Dia pernah mendengar percakapan tentang pendekar yang memperebutkan wanita di kedai Sariti. Apakah sekarang dia akan mengalaminya?
"Kau...!"
"Ya, aku menyukai Kinasih. Waktunya besok saat latihan!"
Soma melangkah pergi tanpa menunggu jawaban.
Adijaya masih melongo sambil garuk-garuk kepala. Urusan cinta ternyata tak selancar air terjun yang tercurah dari atas ke bawah. Mau tak mau tantangan ini harus diterima. Tapi kenapa karena soal perempuan?
"Cinta itu butuh perjuangan, hahaha....!"
Itu suara Arya Sentana, tapi orangnya tak kelihatan. Adijaya hanya mendengkus pelan.
__ADS_1