
Puluhan senjata rahasia melesat cepat mengarah ke mereka.
Sring! Sring! Sring!
Trang! Trang! Trang!
Payung Terbang dalam sekejap telah menjadi tameng mereka. Puluhan senjata itu mental berhamburan jatuh ke tanah. Kereta kuda berhenti.
"Apa kubilang, bahaya!"
Pancariti melepaskan pelukannya. Badannya melurus. Terkejut mendapat serangan seperti itu. Jelas itu mengarah ke dirinya. Tapi yang dipikirkan sejak bertemu Adijaya terbayarkan.
Gadis ini bisa melihat payung terbang milik Adijaya. Sewaktu di hutan dia tidak melihatnya karena begitu pemuda itu datang menolongnya tidak terlihat membawa payung itu.
"Tapi perasaanku yakin, berada di dekatmu aku akan selamat," ujar Pancariti. "Akhirnya aku bisa melihat payung terbang!"
Tring!
Payung Terbang hilang. Adijaya mengitarkan pandangan. Hawa saktinya ditebalkan. Dia menyirap ada hanya ada satu detak jantung. Berarti orang itu melemparkan puluhan senjata rahasia sekaligus. Hebat!
"Masuk," suruh Adijaya pelan sambil mendorong Pancariti pelan juga. Gadis itu menurut saja.
Ada rasa nyaman saat pemuda itu melindunginya. Namun, selama dia bersama Adijaya akan ada terus serangan demi serangan. Selain mengarah ke dirinya tentu saja menyasar tujuan utama yaitu Adijaya sendiri.
Tapi pendekar muda ini sulit diserang dengan cara bagaimana pun. Belum tahu apa kelemahannya.
Sepuluh tombak di depan sana terlihat satu bayangan muncul. Sepertinya sosok perempuan. Tapi bayangan itu malah berlari menjauh.
Adijaya tenang saja. Dia menarik tali kekang. Menggebrak hingga kuda berlari tidak terlalu cepat. Melaju sampai dua puluh tombak, terlihat sosok itu berdiri membelakangi sejauh lima tombak di depan.
Kereta berhenti mendadak membuat kedua kuda meringkik keras sambil mengangkat dua kaki depannya. Tapi Adijaya merasakan hawa membunuh dari belakang.
Tubuh Adijaya merebah ke belakang hingga wajahnya mendongak ke atas atap kereta. Lalu dua tangannya membentak ke atas.
Wusssh!
Serangkum angin padat menghantam satu sosok bayangan hitam di atas atap yang hendak menerobos masuk.
Desss!
Sosok bayangan hitam itu terpental ke atas lalu jatuh bergulingan di tanah belakang kereta.
__ADS_1
Ketika Adijaya bangkit lagi, sosok di depan ternyata sudah melesat dengan pedang terhunus. Mata pedangnya berkilau keemasan. Rupanya pedang ini terbuat dari bahan emas.
Trang!
Pucuk Payung Terbang yang tertutup tepat menahan ujung pedang emas itu. Benturannya menimbulkan getaran. Si pemilik pedang pun sampai terpentak balik. Hampir saja pedangnya lepas.
Sosok berpedang emas ini bersalto satu kali agar bisa mendarat dengan selamat.
Terlihat kini Adijaya berdiri di atap kereta sambil memegang payung tertutup yang seperti menopang ke atap kereta.
Di belakang kereta sosok serba hitam dengan wajah tertutup kain hitam bersiaga dengan kuda-kudanya. Dari perawakannya sosok ini laki-laki.
Sementara di depan sosok yang membawa pedang emas ternyata memang seorang gadis yang tak menyembunyikan jati dirinya. Pakaiannya serba hijau. Perawakannya tidak jauh beda dengan Pancariti. Wajahnya juga cantik. Hanya bentuknya agak bulat.
Kedua musuh Adijaya ini sadar. Bergerak sedikit saja, pendekar muda ini akan melindungi Pancariti.
Agak aneh si, awalnya Pancariti hendak membunuh Adijaya. Tapi kini justru gadis itu yang terancam nyawanya. Padahal dua orang baru ini juga mengincar nyawa Adijaya.
Jadi intinya mereka menginginkan nyawa keduanya.
"Nah, kalian bingung, kan?" ujar Adijaya tersenyum. "Mau lanjut tak mampu, mau mundur, mati!"
Memang benar yang dikatakan Adijaya. Satu-satunya jalan adalah maju hingga tetes darah terakhir. Karena mundur berarti bunuh diri. Dalam hati kecil mereka merasa dikorbankan oleh si dalang yang memberi perintah.
Kabar tentang kehebatan Payung Terbang memang bukan isapan jempol belaka.
Setelah beberapa saat berpikir, dua lawan Adijaya secara berbarengan melompat ke atap kereta. Menyerang dari depan dan belakang sekaligus.
Adijaya angkat dan buka payung. Satu tombak lagi dua orang itu mendekatinya, dia memutar badan.
Werrr!
Pusaran angin berhembus bersumber dari tubuh Adijaya. Pusaran ini menghempas dua lawannya terbawa mengikuti pusaran angin.
Yang di depan terhempas jadi kebelakang kereta. Begitu juga yang di belakang. Tetapi lelaki serba hitam ini melakukan sesuatu yang tak di duga-duga.
Sring! Sring!
Pada saat terhempas melewati pintu kereta, lelaki bertopeng kain ini melempar senjata rahasia ke dalam kereta.
"Aaaah!"
__ADS_1
Terdengar jeritan menyayat Pancariti. Ini benar-benar membuat terkejut Adijaya. Dia sangat tidak menduga taktik yang digunakan lawannya. Dalam hatinya menyesal tak bisa melindungi Pancariti. Ini kelengahannya. Bagaimana bisa dia tidak tahu rencana lawan?
Benar-benar menyesal. Amarahnya tersulut. Lalu dia lempar payung yang sudah tertutup seperti melempar tombak.
Ujung payung itu tepat menghantam dada lawan hingga terpental jauh lalu menghantam pohon dan ambruk kebawah.
Pada saat Adijaya melempar payungnya, satu tusukan pedang dari belakang mengenai punggungnya.
Plak!
Pedang patah. Gadis berbaju hijau terkejut lalu terlempar juga akibat dorongan pedang yang patah, hingga membentur pohon kemudian melorot ke bawah dan terkulai tak sadarkan diri.
Adijaya melihat lelaki serba hitam masih bergerak hendak bangkit. Dia hendak melompat menghampiri lelaki itu tapi segera mengurungkan niatnya begitu beberapa senjata rahasia meluncur lalu menancap di leher dan kepala lelaki itu hingga terlepas nyawanya.
Pendekar muda ini lebih memilih segera berkelebat ke arah gadis berbaju hijau lalu menghempas beberapa senjata rahasia yang hendak menghabisi nyawa gadis itu.
***
Pancariti telah dikuburkan di dalam hutan. Kini di dalam ruangan kereta yang mirip kamar tidur itu tergolek gadis berbaju hijau masih dalam keadaan tak sadarkan diri.
Dua nyawa melayang karena dirinya. Walaupun ketiga orang tadi ingin membunuhnya juga, tetapi mereka hanya orang suruhan. Dan Adijaya tak berhak menurunkan tangan. Baginya urusan mati dan hidup hanya hak Sang Hyang Widi.
Siapa dalang dibalik semua ini? Sepertinya bukan cuma mereka yang menjadi bidaknya. Tiga orang lelaki yang bersandiwara dengan Pancariti tinggal menunggu giliran muncul.
"Ki Sanak!"
Terdengar suara lembut dari dalam. Gadis berbaju hijau itu telah siuman. Adijaya masuk, tapi kereta terus melaju.
"kau sudah bangun?"
"Bunuh saja aku, Ki Sanak!"
Adijaya mengerti perasaan gadis itu. Sama saja dengan Pancariti. Bagaimana pun keadaannya, dia tidak akan selamat. Pancariti saja akhirnya terbunuh.
"Keadaanmu lemah, istirahat saja. Jangan berpikiran untuk mati,"
Gadis ini memperhatikan Adijaya secara mendalam. Sebelumnya dia melihat Pancariti sedang memeluk pemuda ini. Apakah Pancariti telah jatuh hati kepada pendekar tampan ini?
Diam-diam dia juga tertarik dengan Adijaya. Tak bisa dipungkiri kalau Pancariti jatuh hati. Karena dia juga merasakannya.
Tapi dia segera sadar. Bersama atau tidak dengan Adijaya, dirinya tetap dalam bahaya.
__ADS_1
Adijaya sudah berada di tempat kusir memegang tali kekang kuda.
Ada apa lagi yang akan dihadapi Adijaya?