Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Rahasia Ki Manguntara


__ADS_3

Dedengkot Gunung Sindu ini tak bisa bergerak ketika dua tangan Adijaya berhasil memegang dua pundaknya. Tubuhnya semakin menggigil sampai giginya bergemeretakan. Dari rambutnya mengepul uap dingin.


Adijaya sudah menggunakan ajian Serap Sukma. Menghadapi Abilawa tidak seberat ketika melawan gurunya. Tenaganya mulai menyedot kekuatan lawan.


Badan Abilawa mengkeret tak kuasa menahan dingin yang menusuk tulang. Bibirnya membiru dan wajahnya pucat seperti mayat. Dia merasakan organ-organ tubuh bagian dalamnya seperti tertarik ke depan.


Abilawa merasakan seluruh kekuatannya terserap. Energinya habis. Bahkan untuk sekedar bersuara saja sudah tak mampu. Keadaannya begitu mengenaskan. Badannya jadi kurus kering.


Pada saat sudah tak ada yang tersisa lagi, Adijaya lepaskan tangannya. Lalu menonjok Abilawa hingga terpental dan jatuh tepat di hadapan Dadung Aksa yang juga sedang meregang nyawa seperti yang telah di ceritakan sebelumnya.


Berakhirlah pertempuran dua padepokan yang saling bermusuhan ini dengan kemenangan diraih pihak Karang Bolong. Para tawanan yang diikat di tiang dilepaskan. Sosok Abilawa yang masih hidup, namun tanpa daya dibawa oleh salah satu tawanan.


Tidak ada yang tewas dari murid-murid padepokan Karang Bolong. Hanya yang luka-luka cukup banyak. Mereka segera kembali ke padepokan.


***


Selain ruang pribadi yang berada di salah satu bangunan, Ki Manguntara juga punya rumah kecil yang letaknya terpencil di area belakang padepokan. Tidak sembarang orang yang bisa datang ke sini.


Hari itu Adijaya beserta sang istri mendapat kehormatan diundang langsung ke rumah kecil itu. Ki Manguntara langsung yang menjamu mereka.


"Bagaimana pun juga, kalian berdua telah berjasa kepada padepokan ini,"


"Kami hanya membantu sebisa kami," ujar Adijaya merendah. "Selebihnya, murid-murid Kakek memang luar biasa,"


Ki Manguntara tertawa pelan sambil mengelus-elus jenggotnya.


"Seandainya di padepokan ini ada sepasang pendekar sakti seperti kalian bersedia mengajari murid-murid di sini," kata Ki Manguntara, yang sebenarnya adalah sebuah tawaran atau mungkin permintaan.


Adijaya saling pandang dengan istrinya. Ada senyum canggung di antara mereka.


"Kami masih terlalu muda dan sedikit pengalaman. Belum berani, Kek!" jawab Asmarini.


"Iya, di padepokan Linggapura yang lebih kecil saja kami tidak berani," sambung Adijaya.


Ki Manguntara kembali terkekeh. "Tidak sekarang juga tidak apa-apa. Nanti, jika kalian merasa ingin menurunkan ilmu-ilmu yang kalian miliki, di sini masih membuka pintu selebar-lebarnya,"


"Saya boleh usul, Kek?" tanya Asmarini.


"Silakan,"

__ADS_1


"Bagaimana kalau padepokan ini menerima murid perempuan?"


"Usul yang bagus, apalagi kalau istri Pendekar Payung Terbang yang melatihnya,"


Asmarini tampak bersemu merah. Secara refleks tangannya menyelinap ke siku tangan suaminya.


"Ada satu hal lain yang ingin aku tunjukkan kepada kalian," ujar Si Kakek yang sebenarnya sudah berumur seratus tahun lebih ini.


Sepasang pendekar muda tidak bersuara, mereka menunggu si kakek melanjutkan bicaranya. Apa yang ingin si kakek tunjukkan?


"Apakah salah satu muridku pernah menyinggung soal kitab pusaka?" tanya Ki Manguntara kepada Adijaya.


"Pernah!" Adijaya tentu ingat dengan penuturan Ki Legawa.


"Aku akan menunjukkannya, mari ikut aku!"


Ki Manguntara berdiri lalu melangkah ke bagian ruangan yang lebih dalam tepatnya sebuah kamar. Kamar pribadinya. Adijaya dan Asmarini mengikuti sang mahaguru.a


Di dalam kamar itu hanya ada tempat tidur kecil terbuat dari papan. Ki Manguntara mengangkat salah satu sisinya. Tempat tidur terangkat seperti membuka tutup peti. Ternyata di bawahnya ada sebuah lubang cukup besar.


Ki Manguntara sandarkan tempat tidur ke dinding, lalu dia melompat masuk ke dalam lubang.


Adijaya lebih dulu melompat diikuti Asmarini kemudian. Dalamnya lubang sampai dua tombak lebih. Di sana ternyata ada lorong lagi yang lubangnya setinggi satu tombak begitu juga lebarnya.


Lorong itu hanya sepanjang tiga tombak saja karena di ujung lorong terdapat sebuah ruang bawah tanah yang cukup besar berbentuk kotak.


Ruangan itu terang benderang, tapi bukan oleh cahaya obor atau damar. Melainkan dari sebuah kitab yang tersimpan di atas batu kotak yang menempel pada dinding belakang ruangan.


Ki Manguntara sudah berdiri di depan kitab itu menghadap ke arah Adijaya dan Asmarini.


"Inilah kitab Hyang Sajati," tunjuk Ki Manguntara dengan kelima jarinya.


Adijaya dan Asmarini merasakan hawa sakti yang begitu kuat di dalam ruangan ini. Adijaya ingat menurut Ki Legawa, kitab itu tidak mudah untuk dipelajari. Bahkan kalau tidak mampu akan melukai diri sendiri.


"Sudah turun temurun kitab ini diwariskan kepada yang dianggap mampu memimpin padepokan. Namun, hanya pendiri padepokan saja yang berjodoh dengan kitab ini," jelas Ki Manguntara.


Ini artinya Ki Manguntara juga tidak berjodoh dengan kitab itu. Kabarnya Gentasora juga mengincar kitab ini. Rupanya mereka yang menginginkan kitab ini tidak tahu, kalau kitab ini hanya mencari jodohnya.


"Tanda kalau berjodoh dengan kitab itu apa, Kek?" tanya Asmarini.

__ADS_1


Sebelumnya mereka berdua masih formal memanggil Ki Manguntara dengan sebutan mahaguru. Namun, si kakek meminta agar menyebut 'kakek' saja.


"Bisa melihat aksara yang tertulis di dalamnya!"


Sepasang suami istri mendekat ke tempat kitab. Memperhatikan sampul depan kitab itu yang kosong tanpa tulisan.


"Cobalah buka, jika melihat tulisan di halaman dalam berarti itu jodohnya," saran Ki Manguntara.


"Kakek saja sebagai pewaris tidak berjodoh apalagi kami!" tukas Asmarini.


"Mungkin saja kitab ini tidak memandang garis keturunan atau hubungan guru dan murid, silakan coba saja?" saran si kakek sekali lagi.


"Dinda, cobalah!"


Asmarini menatap ragu kepada sang suami. Adijaya mengangguk pelan. Menguatkan perasaan. Si cantik mungil pun maju. Perlahan tangannya memegang kitab yang memendarkan cahaya itu. Hatinya berdebar.


Agak gemetar Asmarini membuka sampul kitab secara perlahan. Cahaya yang memancar semakin terang. Hawa sakti juga semakin kuat bagai menekan sampai ulu hati.


Si cantik mungil menahan napas. Begitu terbuka, kedua matanya terbelalak dan menghembuskan napas kecewa. Dia tidak melihat satu aksara pun di halaman pertama kitab itu. Lalu dia menutup kembali dengan pelan.


"Tidak berjodoh!" ujarnya sambil menatap satu persatu dua orang di dekatnya.


"Giliranmu!" Ki Manguntara menyilakan Adijaya.


Adijaya juga berdebar dalam hatinya. Meski rasa pesimis lebih menguasai dirinya. Namun, ada setitik harapan dalam hatinya. Dia melakukan hal sama seperti istrinya sebelumya.


Begitu kitab terbuka, kedua mata Adijaya terbelalak tak percaya. Dia sempat kucek-kucek mata dan cubit-cubit pipi sendiri. Memastikan bahwa ini bukan mimpi.


"Bagaimana, Kakang?"


"Aku melihat beberapa baris tulisan!" Suara Adijaya tercekat. Mencoba menenangkan perasaannya yang masih tak percaya dengan penglihatannya.


Ki Manguntara menghela napas lega. "Akhirnya kitab ini menemukan jodohnya,"


"Jadi bagaimana, Kek?" tanya Adijaya.


"Berarti itu milikmu!"


Asmarini tampak senang, dia menggamit pinggang sang suami. Sementara Adijaya malah kebingungan.

__ADS_1


__ADS_2