
Saat Carangcang Tihang barulah muncul dari sebrang sungai menggunakan sampan kecil. Tuan Besar alias Utusan Gusti Prabu yang wajahnya tetap ditutupi kain bersama seseorang tinggi besar yang membuat Adijaya terkejut.
"Dia lagi!" gumamnya.
"Kau mengenalnya?"
Adijaya mengangguk.
"Akhirnya Gusti bersedia datang," sambut Singgih sambil menjura bersama Jaladipa setelah dua orang yang ditunggunya sampai di hadapannya.
"Tentu saja, kalian telah berjasa besar kepadaku!"
Hawa membunuh mendadak muncul. Adijaya tahu gelagat. Segera dia melesat. Mengirimkan serangan jarak jauh ke arah si tinggi besar.
Wussh!
Si tinggi besar terkejut mendapat serangan dadakan. Dia segera menjatuhkan badannya. Walaupun serangan mengenai sasaran kosong tapi efek sampingnya membuat si Tuan Besar terdorong jauh karena tidak ada persiapan. Efek ini juga mengenai Jaladipa dan Singgih. Mereka hanya terhuyung beberapa langkah.
Si Tuan Besar terjatuh karena tak bisa menyeimbangkan tubuhnya. Melihat kesempatan ini, Cakra Diwangsa segera bertindak meringkusnya.
"Bantu aku melumpuhkan orang ini!" pinta Cakra Diwangsa.
Tanpa ragu dua murid Ki Sanca langsung membuat beberapa totokan yang membuat si Tuan Besar terkulai lemas.
Sementara itu, Adijaya menghadapi si tinggi besar.
"Lagi-lagi kau!" dengkus si tinggi besar marah. "Selalu menggagalkan rencanaku!"
"Gagal menjadi Maharaja, sekarang mau jadi penasihat raja bawahan. Seleramu turun, Ganggasara?" ejek Adijaya
Wajah Ganggasara memerah. Dia berpikir bagaimana cara menghindari pemuda ini. Dia sadar ilmunya belum bisa mengungguli anak itu. Walaupun sekarang sedang memperdalam ilmu baru, tapi dia tidak mau mengambil resiko.
"Sayangnya aku malas meladeni kamu!" Ganggasara kemudian berkelebat menyebrangi sungai lalu lenyap.
Adijaya mendengkus kesal.
"Kemana dia?" tanya Cakra Diwangsa setelah mengikat si Tuan Besar dengan tali yang kuat.
"Kabur, dia pernah kalah dulu, jadi dia takut begitu melihatku!" Adijaya sombong tapi sambil menyunggingkan senyum.
"Aku percaya!" Cakra Diwangsa juga tersenyum.
Si Tuan Besar dibawa ke kota raja. Setelah dibuka kain penutup wajahnya, Maharaja Wisnuwarman, Prabu Satyaguna dan Cakra Diwangsa terkejut melihat siapa orang ini sebenarnya.
"Wastudewa!" seru Maharaja.
Patih Cupunagara ini ternyata berambisi ingin menguasai tahta.
__ADS_1
Dalang fitnah atas Prabu Satyaguna telah terbongkar. Wastudewa dijatuhi hukuman mati. Kerajaan Cupunagara dikembalikan ke penguasa yang sah yaitu Prabu Satyaguna.
Adijaya ditawari menjadi pejabat, tapi menolak secara halus. Tapi dia tidak bisa menolak imbalan berupa beberapa kantong yang berisi kepingan emas. Lalu dia pamit duluan meninggalkan istana Tarumanagara.
***
Bila perut kosong, maka mencari kedai adalah hal utama. Mengingat simpanan kepeng emasnya bertambah, Adijaya berniat makan yang mewah. Kalau dipikir-pikir sama saja dia dengan murid-murid Ki Sanca, pendekar bayaran. Adijaya tersenyum memikirkan hal ini.
Setelah ketemu kedai yang lumayan besar, mungkin lebih cenderung disebut rumah makan. Segera saja Adijaya mencari tempat kosong dan memesan makanan.
Saat menyantap hidangan, seperti biasa jika di dalam kedai selalu ada banyak percakapan yang ia dengar. Salah satunya yang menggelitik hatinya.
"Kuda andalan juragan Darma semalam hilang,"
"Wah, yang benar? Dicuri?"
"Katanya ini perbuatan Nyi Warsih,"
"Masa Nyi Warsih sampai mencuri kuda?"
"Bisa jadi, Nyi Warsih kan musuh bebuyutan juragan Darma,"
"Kenapa harus mencuri kuda segala dan kenapa tuduhannya langsung ke Nyi Warsih?"
"Karena Ki Bayan, pengurus kuda-kudanya juragan Darma ditemukan tewas dengan luka bekas ajian Tapak Wisa di lehernya. Ajian Tapak Wisa, siapa lagi yang punya kalau bukan Nyi Warsih?"
"Ki Sanak, ini desa apa namanya?"
"Oh, Giri Mukti, Ki Sanak!"
Tidak salah lagi pasti juragan itu adalah Darma Koswara bekas majikannya dulu. Selesai makan dia menanyakan di mana letak rumah juragan Darma.
Begitu sampai di jalan depan rumah juragan Darma, Adijaya terkagum-kagum melihat rumah yang begitu besar. Halamannya juga luas. Benar-benar saudagar kaya. Mungkin orang terkaya di desa ini. Saat bertanya kenapa juragan Darma tidak mau jadi lurah atau pejabat yang lebih tinggi? Karena dengan kekayaannya bisa saja dia meraih jabatan itu.
Orang desa yang ditanyainya menjawab bahwa juragan Darma tidak mau terjun ke pemerintahan. Dia hanya ingin berdagang saja meneruskan pekerjaan orang tuanya. Satu yang masih menggelitik hatinya, juragan Darma belum menikah sampai di usianya yang sekarang.
Padahal orang seumurannya mungkin sudah memiliki dua atau tiga anak.
Perlahan Adijaya memasuki halaman rumah melalui gapura yang tak berpintu. Sampai di depan rumah...
"Sampurasun!"
"Rampes!" seorang lelaki tua menyambut salam Adijaya. Tampaknya dia pembantu juragan Darma. "Siapa Ki Sanak, dan ada keperluan apa?"
"Saya hendak bertemu juragan Darma, katakan saja nama saya Adijaya,"
Orang tua ini masuk ke dalam. Agak lama baru keluar lagi bersama seseorang yang sangat Adijaya kenal.
__ADS_1
"Ternyata benar, kau Adijaya!" Darma Koswara tersenyum lebar segera menarik Adijaya ke dalam.
Ruang tamu yang cukup luas, beralaskan permadani buatan negeri seberang. Di tengah-tengahnya sudah terhidang aneka makanan dan buah-buahan. Adijaya duduk menghadap hidangan ini.
"Guru bilang, kau sudah jadi orang hebat," ujar Darma Koswara setelah duduk bersila.
"Ki Brajaseti sudah kemari?"
"Beberapa waktu yang lalu, dia sudah kembali pulang,"
"Ki Brajaseti cuma melebih-lebihkan saja, saya masih orang biasa,"
Darma Koswara tertawa. "Kau yang begitu merendah, aku sudah tahu semuanya Pendekar Payung Terbang, ceritakan padaku apa kau masih dalam tugas membantu Raden Cakra Diwangsa?"
Adijaya sempat tercekat mendengar Darma Koswara menyebut julukannya. Lalu dia menceritakan semuanya tentang perjalanannya membantu Cakra Diwangsa.
"Jadi kau hendak pulang ke gunung Lingga?" tanya Darma Koswara. "Tidak masalah kan tinggal dulu di sini satu atau dua hari mah?"
"Baiklah juragan, mungkin saya bisa membantu kuda agan yang hilang,"
Darma Koswara mendadak berubah wajahnya. "Dari mana kau tahu?"
"Orang-orang di kedai membicarakannya,"
Darma Koswara mendesah menahan marah. "Semua ini ulah Nyi Warsih!"
"Apakah pengurus kuda yang bernama Ki Bayan itu sudah dikuburkan?"
"Belum, kenapa?"
"Saya ingin melihat luka bekas pukulan ajian Tapak Wisa itu."
"Mari!"
Darma Koswara bangkit lalu melangkah ke dalam. Adijaya mengikuti. Di halaman belakang rumah. Di atas sebuah bale, satu jasad manusia yang sudah kaku terbaring.
Adijaya langsung melihat bagian leher. Ada luka hitam yang membentuk tapal kuda. Tapi yang ia lihat luka itu hanya luka biasa saja. Bukan dikarenakan pukulan ajian yang mematikan. Lalu ia melihat sosok Ki Bayan keseluruhan. Sudah renta.
"Di mana dia ditemukan?" tanya Adijaya.
"Di kebun sana," Darma Koswara menunjuk sebuah kebun di belakang rumahnya.
Sang juragan kembali masuk. Adijaya mengikuti lagi.
"Istirahat dan makanlah dulu, mungkin kau lelah setelah menempuh perjalanan. Aku akan menyiapkan kamar untuk tamu istimewaku!"
Adijaya hanya tersenyum canggung mendengarnya.
__ADS_1