Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Pertarungan Sengit


__ADS_3

Ki Ranggasura termasuk tokoh silat yang sudah diakui kesaktiannya oleh dunia persilatan. Termasuk pengetahuan tentang alam siluman. Walaupun belum pernah memasuki alam lelembut itu, setidaknya pernah berjumpa dengan sosok siluman ataupun guriang. Namun, tidak sampai menimbulkan silang sengketa dengan mahluk beda alam itu. Hanya sekedar saling mengenal.


Sebenarnya sudah berhari-hari sejak Komara terbaring di biliknya, Ki Ranggasura mencoba mencari tahu tentang siluman yang merasuki raga muridnya itu dengan kekuatan sakti miliknya.


Namun, kekuatan hawa siluman di dalam tubuh Komara sangat besar. Susah ditembus. Seperti sengaja menutup diri dengan tabir gaib. Sehingga Ki Ranggasura berkesimpulan bahwa siluman yang terkunci di dalam badan Komara merupakan siluman yang tingkat kesaktiannya sangat tinggi.


Setelah tujuh hari tujuh malam bersemedi. Akhirnya Ki Ranggasura membuka matanya. Dia telah memecahkan hitung-hitungan tentang hari apes siluman. Kemudian dia memberitahukan kepada Arya Sentana dan Adijaya bahwa tengah malam nanti saatnya mengeluarkan dan menyedot siluman ke dalam labu.


Maka, saat 'Tengah Peuting' tiba. Ketika semua murid telah terlelap. Ki Ranggasura, Adijaya, Arya Sentana dan Praba Arum sudah siap sedia.


Ki Ranggasura memegang tangan dan bahu kanan Komara, Arya Sentana memegang sebelah kirinya. Adijaya memegang labu dan Praba Arum menunggu perintah untuk membuka tali yang mengikat jempol kaki Komara.


Ruangan itu hanya diterangi cahaya lentera yang menempel di salah satu dinding. Di luar, di langit tampak bulan sabit memancarkan sinarnya yang temaram ke seantero padepokan.


"Adijaya, sekarang buka tutup labunya," perintah Ki Ranggasura.


Begitu dibuka, angin mendadak bertiup kencang. Lentera padam akibat hembusan angin itu. Pada saat itu Praba Arum segera melepas tali di jempol kaki Komara.


Tiupan angin yang bagai badai menimbulkan suara gemuruh menggidikkan. Membuat bulu roma meremang. Merinding. Meskipun orang-orang di dalam ruangan ini memiliki kekuatan sakti.


Kejap berikutnya sekujur tubuh Komara memancarkan cahaya merah menyala yang membuat ruangan kembali terang. Mulutnya keluar suara seperti binatang yang meraung. Kedua matanya melotot juga memancarkan sinar merah. Tubuhnya menggeliat-geliat seperti orang kepanasan.


Ki Ranggasura dan Arya Sentana memeganginya dengan mengeluarkan tenaga dalam. Rontaan Komara sangat kuat.


Sementara Adijaya tampak gemetar memegang labu. Tangannya merasakan seperti ada yang bergejolak kuat di dalam labu.


Beberapa saat kemudian dari dalam tubuh Komara, samar-samar terlihat satu bayangan menyerupai bentuk manusia. Bayangan itu melayang berputar-putar dan mengeluarkan suara jeritan yang memekakkan telinga.


Bayangan itu berupa lelaki dengan tubuh pendek dan bulat. Adijaya mengenal bayangan ini.


"Birawayaksa!" desis pemuda ini. Tapi semua orang bisa mendengarnya.

__ADS_1


Bayangan Birawayaksa kadang-kadang tertarik ke arah lubang labu. Tapi kadang juga terbetot ke atas seperti hendak menerobos atap.


"Ada kekuatan lain yang berusaha menarik dia!" teriak Ki Ranggasura menyadari keadaan. "Arum, cari dia!"


Tanpa bicara lagi, Pendekar Kipas Perak segera menghambur ke luar. Dia menatap ke atas wuwungan. Terlihat cahaya merah remang-remang berputar-putar. Ada ekornya yang memanjang ke arah belakang padepokan, menunjukkan dari mana cahaya itu berasal..


Praba Arum segera berkelebat ke arah sana. Ditemukan dua orang lelaki yang sedang duduk bersila, memejamkan mata dan mulutnya komat-kamit merapal mantra.


Mereka adalah Kuntala dan si tinggi besar. Selama tujuh hari juga mereka telah menguasai Mantra Penyirap. Dan pada malam ini mereka segera menggunakan mantra itu untuk mengeluarkan sukma siluman guru mereka yang terkunci dalam tubuh Komara. Sayangnya mereka tidak hitung-hitungan mencari hari yang tepat.


Praba Arum langsung keluarkan senjata kipasnya.


Wush!


Dikibaskan kipasnya, menderulah angin kencang memudarkan pikiran dua lelaki itu.


"Kau bereskan dia!" perintah si tinggi besar kepada Kuntala lalu kembali dia melanjutkan mantranya.


Praba Arum menyambut dengan mengibaskan kipas, menangkis serangan.


Trak!


Kuntala terjajar mundur, tapi segera menyerang kembali.


Kipas Perak Praba Arum bukan kipas buatan orang Tatar Sunda yang biasanya terbuat dari anyaman Wilah (bambu yang dibelah tipis-tipis) dan bentuknya kotak. Senjata kipas ini didapatkan dari negeri seberang lautan. Yang mana orang-orangnya berkulit putih dan matanya sipit. Karena guru Praba Arum yang juga temannya Ki Ranggasura adalah orang dari negeri seberang itu. Nama asli Nyai Wastini adalah Zhao Buhui.


Kipasnya bisa dilipat dan dikembangkan. Jika dilipat berbentuk tongkat pendek. Jika dikembangkan bentuknya setengah lingkaran. Ada gambar bunga di tengahnya. Terbuat dari pelat perak tipis yang saling berakaitan sisinya.


Saat ini kipasnya tengah terkembang guna menahan serangan Kuntala. Selain kuat juga ringan. Sekali-sekali tampak cahaya berkilau memantul dari sinar bulan sabit.


Gerakan jurus Kipas Menari Merobek Rembulan diperagakan begitu indah. Luwes, gemulai tapi cepat dan mematikan.

__ADS_1


Berkali-kali cakaran Kuntala selalu tertangkis atau membentur kipas. Rasanya seperti membentur baja. Membuat tangannya kebas. Tapi selalu cepat-cepat tambah tenaga lagi.


Wush!


Trak!


Sudah lama pula Kuntala mendengar nama Pendekar Kipas Perak. Dan kali ini dia tengah menjajal kehebatan wanita yang telah menorehkan namanya di dunia persilatan. Ternyata bukan isapan jempol belaka.


Angin sambaran yang dihasilkan dari kibasan kipas bagaikan sembilu yang menimbulkan perih bila menyayat kulit. Untungnya kulit Kuntala sudah terlatih dan kuat menahan segala serangan angin.


Dua puluh jurus berlalu. Praba Arum sudah berganti jurus dengan Kipas Menari Merobek Langit. Serangannya semakin ganas. Dia ingin segera menjatuhkan lawan. Agar bisa menghentikan orang yang satunya yang sedang membaca mantra.


Praba Arum kerahkan tenaga dalam lebih besar lagi. Kipasnya mengeluarkan hawa ganas. Memancarkan cahaya biru dan sedikit mengepulkan asap. Inilah ilmu Kipas Memburu Nyawa.


Melihat perubahan gerak dan cahaya yang memancar dari senjata lawan, Kuntala semakin berhati-hati. Dia mengeluarkan senjata yang jarang digunakan. Senjata berupa golok melengkung mirip bulan sabit.


Saat senjata golok tercabut dari warangkanya, hawa pembunuh memancar dari golok yang berwarna hitam pekat itu. Kalau tidak ada cahaya bulan, maka tidak akan kelihatan tangannya yang memegang golok.


Kuntala kerahkan seluruh tenaga, dialirkan ke tangan dan golok. Dengan jurus Golok Iblis Memangsa Jiwa, Kuntala menerjang sambil membabatkan goloknya.


Dari pengalamannya, batu sebesar kerbau akan hancur jika terbabat goloknya. Apalagi cuma senjata kipas tipis yang digerakan oleh tenaga perempuan.


Begitupun Praba Arum membuat gerakan menebas dari samping kanan bawah ke samping kiri atas.


Wush!


Trang!


Prak!


Dua senjata saling babat. Kuntala kaget bukan main. Golok andalannya terbabat putus setengahnya oleh kipas perak milik Praba Arum. Belum hilang kagetnya, sambaran angin tajam dari kipas merobek wajahnya. Cuma angin, tapi terasa seperti betulan terkena langsung.

__ADS_1


Akibatnya wajah Kuntala terasa perih menyengat. Pandangannya gelap. Tubuhnya limbung. Bergerak mundur lalu ambruk tak bernyawa lagi. Habis sudah anggota Begal Cakrageni yang tinggal satu-satunya ini.


__ADS_2