Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Kemelut Padepokan Karang Bolong


__ADS_3

Ki Rangkas dan Ki Bontang sudah hilang di kegelapan malam. Mereka tidak kembali ke penginapan. Sementara ada empat murid yang sedang membuat tandu untuk membawa Ki Legawa.


Tiba-tiba saja dari kegelapan muncul dua orang bertopeng langsung menikamkan pedang ke empat murid itu. Dalam beberapa kejap empat murid terkapar tak berkutik.


Ki Legawa yang masih terbaring lemah tidak menyadari kejadian itu. Baru ketika salah seorang bertopeng hendak menghujam dadanya dengan pedang, dia sangat kaget dan ketakutan.


Dia merasa ajalnya sudah dekat. Terbayangkan beberapa niatnya yang belum tercapai. Rasanya dia akan mati penasaran jika belum melakukan keinginanya. Ujung pedang yang lancip itu seolah bergerak lambat menuju jantungnya. Ki Legawa pejamkan matanya.


Tapi sekejap kemudian serangkum angin menggagalkan pembunuhan itu. Si topeng terhempas jauh. Lalu muncul satu sosok hendak menolong.


Ki Legawa buka mata lagi karena merasakan desiran angin. Dia tidak melihat pedang yang hendak menghabisi nyawanya lagi. Dia selamat, masih bisa menarik napas lega.


Hampir saja, batinnya.


Rupanya dua orang bertopeng tidak mengurungkan niatnya membunuh Ki Legawa. Mereka menyerang si penolong yang tidak lain adalah Adijaya.


Serangan pedang langsung bertubi-tubi mengurung Adijaya. Kelebatannya tam terlihat karena gelapnya malan. Sepertinya mereka ingin segera menuntaskan tugasnya. Maka mereka langsung mengeluarkan jurus terbaiknya.


Awalnya Adijaya dengan mudah lolos dari setiap serangan. Namun, sambaran pedang makin rapat bagai mengunci ruang geraknya. Dua orang bertopeng ini juga meningkatkan kecepatan dengan serangan kombinasi mengurung Adijaya dari segala arah.


Walaupun cuma dua buah pedang, tapi jadi terlihat banyak dan menutup celah Adijaya untuk membalas serangan. Beberapa waktu lalu dia mampu melawan puluhan orang dengan gaya seperti ini. Tapi dua orang ini ternyata lebih ganas.


Terpaksa Adijaya mengeluarkan Payung Terbang untuk menangkis serangan yang tidak sempat dihindari. Dua penyerang bertopeng ini terkejut ketika pedangnya berbenturan dengan payung.


Trang! Trang!


Tangan mereka gemetar akibat benturan itu. Genggamannya sedikit kendor karena kebas. Di sisi lain mereka juga terkejut karena lawannya seorang pendekar yang sudah punya nama besar.


Seketika mereka bimbang. Jika mereka mundur maka Ki Legawa dipastikan masih hidup. Sedangkan perintah majikan mereka, orang tua itu harus mati untuk memuluskan rencana selanjutnya.


Tapi bila mereka terus maju, kemungkinan gagal lebih besar daripada berhasil.


"Aku tahu, Juragan tidak ingin membunuh mereka. Tapi jangan sampai mereka melaporkan bahwa Ki Legawa masih hidup," saran Padmasari.

__ADS_1


Benar juga, kalau Ki Legawa diketahui masih hidup maka akan susah menyelidiki sumber permasalahan ini.


"Jadi bagaimana?"


Sambil menunggu jawaban, Adijaya menyerang duluan. Mencegah mereka agar tidak kabur. Dua orang ini ternyata melawan lebih ganas lagi. Sepertinya mereka terus berjuang sampai mati. Bisa dikatakan lebih baik mati daripada gagal.


Pantang menyerah sebelum menunaikan tugas.


Jurus yang mereka keluarkan adalah jurus pamungkas yang terkuat dengan pengerahan tenaga dalam penuh. Sehingga terpancar hawa panas menyelimuti tempat itu.


Adijaya memutar payungnya menangkis setiap serangan. Dia tidak sampai mengerahkan tenaga yang besar. Yang penting gerakannya lebih cepat dari lawan, sehingga serangan lawan terlihat seperti datang terlambat.


"Lumpuhkan saja, selanjutnya biar aku yang atur!" bisik Padmasari.


Kemudian Adijaya tingkatkan lagi kecepatan. Dalam sekejap tujuh gerakan dilakukan. Dua orang bertopeng hanya melihat satu gerakan kecil tahu-tahu pedang mereka telah lepas.


Trang! Trang!


Kejap berikutnya ujung atas payung yang tumpul telah menghantam ulu hati mereka bersamaan karena saking cepatnya. Sempat merasa eneg di perutnya sebelum sosok mereka ambruk tak sadarkan diri.


Pukulan tapak Ki Rangkas ternyata membuat luka di bagian dalam. Aliran darah Ki Legawa tak beraturan. Adijaya alirkan hawa sakti melalui telapak tangan Ki Legawa untuk melancarkan aliran darah dan memperbaiki bagian yang terluka.


Cukup lama dan banyak tenaga dalam Adijaya yang dikeluarkan. Semakin tinggi ilmu, semakin parah juga luka yang diakibatkan. Dan semakin besar tenaga dalam untuk menyembuhkan.


Setelah beberapa lama Adijaya menghentikan pekerjaannya karena sudah melihat perubahan pada wajah Ki Legawa yang kini tidak pucat lagi.


"Terima kasih," Suara Ki Legawa berat masih menahan rasa sakit yang sebenarnya sudah berkurang.


"Kakek istirahat saja sambil memulihkan diri,"


"Tampaknya aku harus meminta bantuanmu, anak muda," Ki Legawa malah melanjutkan bicara.


"Apa yang bisa saya bantu?"

__ADS_1


Sedikitnya Adijaya sudah tahu masalahnya dari Padmasari. Tapi tentu saja belum tahu apa yang harus dilakukannya. Dan bagaimana yang sesungguhnya


Sementara Ki Legawa langsung yakin meminta bantuan kepada pemuda ini setelah merasakan hawa sakti yang mengalir memulihkan tubuhnya. Bisa disimpulkan pemuda ini memiliki tenaga dalam luar biasa.


"Padepokan Karang Bolong dalam ancaman golongan hitam,"


Ki Legawa menuturkan bahwa padepokan Gunung Sindu yang beraliran hitam bernapsu ingin menguasai padepokan Karang Bolong. Karena di sana terdapat satu kitab pusaka yang berisi ilmu-ilmu tingkat tinggi.


"Kitab itu disimpan Mahaguru Manguntara, beliau tidak mengajarkan isi kitab itu kepada murid-muridnya karena beliau sendiri kesulitan menguasainya. Bahkan hampir merenggut nyawanya,"


Kitab itu bernama 'Hyang Sajati'. Kitab itu sudah ratusan tahun tersimpan di padepokan tapi tak ada seorang pun yang mampu mempelajari isinya. Mahaguru Manguntara yang tenaga dalamnya paling tinggi juga tidak mampu.


"Di antara Ki Rangkas dan Ki Bontang, salah satu dari mereka telah menjadi kaki tangan padepokan Gunung Sindu. Atau bisa jadi keduanya.


"Aku tidak dapat membayangkan seandainya mereka berdua ternyata kaki tangan Gunung Sindu. Padepokan Karang Bolong bisa hancur tinggal nama,"


Memang karena keserakahan, orang jadi lupa diri. Bahkan mengkhianati teman atau guru sendiri.


Ki Legawa mengaku telah salah menjatuhkan tangan kepada Ki Ganjar karena isu yang beredar. Dikabarkan Ki Ganjar sedang menyusun rencana untuk menjadi pemimpin tertinggi padepokan yang masih dipegang Mahaguru Manguntara.


Sedangkan isu kain menyebutkan tindak tanduk Ki Legawa seperti pendekar aliran hitam. Bahkan lebih parah lagi katanya dia ingin mengubah halauan padepokan menjadi aliran hitam.


"Ternyata semua itu adalah upaya adu domba antara aku dengan Ki Ganjar. Sebelum Ki Ganjar menghembuskan napas terakhir, dia meminta aku menyelidiki dan menyelesaikan sampai tuntas.


"Tapi sayang, aku tidak bisa membujuk Ki Rangkas. Itulah yang membuatku curiga dia kaki tangan Gunung Sindu. Sedangkan Ki Bontang, aku tidak bisa membaca pergerakannya,"


Mendengarkan penuturan Ki Legawa membuat Adijaya pusing. Masalah sampai serumit ini. Semuanya masih dugaan siapa yang jadi kaki tangan padepokan Gunung Sindu.


Sedangkan Gunung Sindu sepertinya sudah pasti mengincar padepokan Karang Bolong. Terutama kitab Hyang Sajati.


"Lalu di mana Mahaguru Manguntara"? Walau sudah tahu dari Padmasari tapi ingin lebih jelas lagi langsung dari salah satu muridnya.


"Beliau sedang Tapa Moksa, tapi kami belum mendapat wasiatnya tentang siapa yang akan menggantikannya kelak. Itu juga yang jadi masalah,"

__ADS_1


"Dari mana aku harus memulai?"


"Padepokan Gunung Sindu."


__ADS_2