
Penyelidikan dibagi menjadi dua kelompok. Sawitri bergabung dengan Wirapati dan Surya Manggala. Sundari tetap bersama sepasang pendekar muda, Adijaya dan Asmarini.
Jika Wirapati mencoba menelusuri jejak yang pernah disinggahi Nyai Mandita, maka kelompok Adijaya kembali ke penginapan. Mereka makan di kedai yang terletak menempel di sebelah penginapan.
Tanwira selain pemilik penginapan juga yang punya kedai kebetulan sedang berada di sana. Jadi tanpa ragu lagi Adijaya mengajukan pertanyaan di sela-sela sedang makan.
"Ki Sanak, apa pernah mendengar tentang Resi Danuranda?"
Tanwira tampak kerenyitkan kening. Berusaha mengumpulkan ingatannya. Banyak sudah orang yang singgah baik ke penginapan atau cuma makan di kedai. Dari mereka Tanwira banyak mendapatkan bermacam-macam berita.
"Bisa sedikit memberikan gambarannya," pinta Tanwira yang belum berhasil menemukan ingatannya.
"Seorang resi yang pengikutnya kebanyakan dari orang-orang berada," jawab Asmarini.
"Apakah saurdara-saudara sedang mencari beliau?" tanya seorang pengunjung yang duduk di bangku paling ujung. Semuanya menoleh ke arah orang itu.
Seorang lelaki paruh baya berpakaian sederhana, tapi dari kebersihan badannya menunjukan dia jarang keluar rumah. Bahkan sorot matanya memancarkan kewibawaan seorang bangsawan.
"Sepertinya Ki Sanak tahu banyak tentang dia," ujar Adijaya.
Lelaki ini tersenyum sebelum menjawab. "Saya Bayunata, saya baru saja mengundurkan diri sebagai menteri di kerajaan Malabar karena memutuskan untuk jadi pengikut Eyang Resi Danuranda,"
Semua orang pun segera menjura hormat kepada Bayunata.
"Kalau begitu, Gusti hendak ke tempatnya Eyang Resi?" tanya Adijaya mengikuti sebutan 'eyang' untuk menghormati.
"Maaf, saya sudah tidak layak dengan sebutan itu," sanggah Bayunata dengan senyum ramah.
"Kalau begitu maaf, Ki Bayunata," balas Adijaya dengan senyum juga.
"Terima kasih, sejujurnya saya juga belum tahu di mana kediaman Eyang Resi. Saya hanya disuruh datang ke hutan Gintung, di sana katanya akan ada yang menjemput,"
Adijaya saling pandang dengan Asmarini dan Sundari. Sementara Tanwira hanya menyimak saja. Entah ini suatu kebetulan atau memang sudah diatur oleh Sang Maha Kuasa? Kesempatan ini tidak boleh dilewatkan.
"Boleh kami ikut bersama Ki Bayunata?" pinta Asmarini.
__ADS_1
Bayunata tidak segera menjawab, dia memperhatikan ketiga orang yang ingin ikut bersamanya ke hutan Gintung.
"Apakah saudara-saudara juga ingin jadi pengikut Eyang Resi?"
"Bibi ini ingin ketemu saudaranya yang sudah jadi pengikut Eyang Resi," jelas Adijaya memperkenalkan Sundari. "Dan kami juga sepertinya tertarik menjadi pengikut Eyang Resi," lanjutnya mengenalkan diri dan Asmarini sebagai suami istri.
"Tidak masalah, malah saya senang tidak sendirian lagi."
***
Bayunata menunggangi seekor kuda jantan yang cukup gagah. Perawakannya tinggi. Di pinggang kuda itu tergantung dua buah kotak kayu di kiri dan kanan. Itu adalah kotak harta milik Bayunata.
Lelaki setengah baya ini mengundurkan diri jadi menteri karena hidupnya kesepian walaupun menjadi pejabat kerajaan. Selama jadi menteri dia mempunyai satu istri dan tiga selir, tapi dari semuanya tidak memberikan keturunan.
Setelah mundur dari kerajaan, dia ceraikan istri dan selir-selirnya. Mereka diberikan bekal hidup yang cukup layak, dan memutuskan untuk menjadi pengikut resi Danuranda setelah mengenal sang resi tiga purnama sebelumnya.
Bayunata berjalan di depan sebagai penunjuk jalan. Sementara Sundari ikut dengan kereta kuda Adijaya. Mereka menginap dulu satu malam sebelum berangkat pagi ini.
"Mudah-mudahan tengah hari nanti bisa sampai ke hutan Gintung." kata Bayunata sebelum berangkat.
Sebenarnya bekas mentri ini merasa heran, karena sepengetahuannya pengikut Resi Danuranda tidak datang mengajukan sendiri. Tapi mendapat tawaran setelah agak lama berkenalan dengan sang resi. Kemudian bila sudah siap maka sang resi akan menyuruh datang ke suatu tempat dengan membawa seluruh kekayaannya.
Perkiraan Bayunata tepat. Mereka sudah sampai di sisi hutan Gintung saat matahari berada tepat di atas kepala. Cuacanya tidak terasa terik karena udara di sekitar hutan begitu sejuk.
Seorang pemuda berpakaian resi sudah menunggu di sana. Wajahnya langsung menunjukan curiga ketika Bayunata tidak datang sendirian.
"Siapa mereka?" tanya pemuda ini. Bayunata sudah mengenal pemuda ini karena sering melihatnya bersama sang resi.
Dengan canggung Bayunata menjelaskan tujuan mereka. Pemuda yang jelas tahu cara kerja Resi Danuranda wajar curiga kepada tiga orang yang kini sudah turun dari kereta kuda.
Si pemuda mendekati mereka. "Dari mana kalian tahu tentang Eyang Resi?" selidiknya.
Sesuai rencana yang sudah diatur sebelumnya, Sundari menjawab. "Saudara saya sudah lebih dulu ikut Eyang Resi, saya dan keponakan saya ini juga ingin mengikuti jejak saudara saya,"
"Siapa saudara yang kau maksud?"
__ADS_1
"Namanya Nyai Mandita,"
"Apa kalian tahu syaratnya?"
Kemudian Adijaya menunjukkan peti besar yang terikat di kolong kereta kuda. Dengan sedikit membukanya, terlihatlah tumpukan perhiasan dan batangan emas.
Pemuda ini terperangah melihat petinya yang cukup besar tidak muat kalau ditaruh di dalam kereta, jadi harus diikat di kolongnya.
"Saya kira cukup untuk tiga orang," ujar Adijaya sambil senyum.
Melihat harta yang begitu banyak, kecurigaan si pemuda seketika hilang. Tapi wajahnya tetap datar malah sedikit angkuh.
"Baiklah, semoga Eyang menerima kalian. Karena sebelumnya kamu tidak pernah menerima pengikut dengan cara begini,"
"Terima kasih!"
Kemudian si pemuda berpakaian resi menyuruh mereka mengikuti jalannya. Ternyata masuk ke dalam hutan yang pepohonannya cukup rapat. Beruntung kereta kuda Adijaya bisa masuk ke jalan yang tampaknya sengaja di buat khusus.
Setelah masuk agak dalam, ternyata pohon-pohonnya tumbuh agak renggang. Kini mengerti, rapatnya pepohonan di pinggir ternyata merupakan pagar atau benteng alami. Dari luar orang tidak akan melihat keadaan yang di dalam.
Sampai di tengah hutan, mereka dibuat tercengang karena melihat ada tiga bangunan yang terbuat dari kayu. Dua bangunan besar berhadapan dan satu bangunan kecil di ujungnya.
Bangunan kecil bentuknya seperti rumah biasa. Sedangkan bangunan besar, yang satu tertutup dengan dinding. Yang satunya tanpa dinding, ruangan terbuka yang ditopang puluhan tiang di sisi dan tengahnya. Sepertinya ini bangunan khusus untuk pertemuan.
Kereta kuda Adijaya disimpan sekitar lima tombak sebelum wilayah yang ada bangunannya.
"Kebetulan Eyang Resi belum pulang, jadi kalian harap menunggu di dalam asrama," si pemuda menunjuk ke arah bangunan berdinding.
"Bagaimana kalau kami menunggu di kereta kuda saja," usul Adijaya.
"Terserah!" jawab si pemuda angkuh lalu meninggalkan mereka.
Bayunata juga pamit hendak menunggu di asrama saja. Laki-laki ini tampak lebih antusias setelah sampai di sini.
"Mumpung Eyyang Rresssi belum ada, aku akan menyelidiki tempat ini," kata Adijaya dengan penekanan kata saat menyebut 'eyang resi'.
__ADS_1
Asmarini terkikik mendengarnya. Sedangkan Sundari tampak tegang.
"Bibi tenang saja," ucap Asmarini yang melihatnya.