Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Dari Dendam Menjadi Cinta


__ADS_3

Seorang kakek kurus berpakaian seorang resi. Rambutnya masih hitam digelung memperlihatkan lehernya yang panjang. Kumis dan jenggot tipis menghiasi wajahnya yang tirus.


"Ki Reksa, aki-aki m*sum akhirnya kau keluar juga!" seru Adijaya mengejutkan Nyi Warsih dan pengikutnya.


Nyi Warsih hendak melabrak karena gurunya dihina, tapi isyarat tangan Adijaya membuatnya urung.


"Budak edan! Lancang sia!" si kakek langsung memaki, kedua bola matanya bagai hendak meloncat dari rongganya.


"Kenapa? Malu, ya. Ketahuan perbuatan cabulmu!" balas Adijaya.


"Apa maksudmu?" Ki Reksa makin gusar dan marah. Tangannya mengepal menahan marah.


"Tahukah Nyai, kenapa dia menyuruhmu mengumpulkan pengikut?" tanya Adijaya kepada Nyi Warsih.


"Bagaimana kau bisa tahu?" terkejut Nyi Warsih.


"Pagi tadi, saat saya menginjakan kaki di halaman rumah ini. Saya mencium aroma cabul. Rupanya aki-aki itu sedang menggagahi salah satu pengikut Nyai,"


Terdengar suara menggeram dari Ki Reksa. Tubuhnya bergetar.


"Bahkan semua anak buah Nyai sudah dic*bulinya. Hanya mereka tak bisa menolak karena terkena pengaruh sirep!"


Sepuluh anak buah Nyi Warsih menampakan wajah masam.


"Tahukah untuk apa dia melakukannya? Dia sedang 'lelaku' ilmu hitam!"


Ki Reksa makin menggeram. Napasnya memburu. Kedua mata menyipit. Rahangnya menggembung.


"Bocah, kau sudah berani lancang kepadaku. Serahkan nyawamu!"


Salah satu tangan Ki Reksa menyentak, sebuah senjata rahasia melesat ke arah Adijaya.


Tring!


Payung terbuka sudah melindungi pemuda itu. Semuanya terkesiap. Termasuk Darma Koswara karena baru pertama kali melihat payung milik Adijaya.


"Pendekar Payung Terbang, rupanya kau!" seru Ki Reksa.


Adijaya tersenyum, payungnya sudah lenyap lagi.


"Kudengar kau telah mengalahkan Ki Rampal. Jangan harap bisa lepas dari tanganku!"


Ki Reksa mengangkat dua tangannya. Menghimpun seluruh kekuatannya. Tidak tanggung-tanggung dia mengeluarkan ilmu yang sedang diperdalam dengan cara menggauli wanita seperti kata Adijaya tadi. Ilmu 'Tarian Siluman'.


Hawa sakti buruk menyebar ke seantero tempat. Selain Ki Reksa dan Adijaya terpaksa mundur menjauhi mereka.

__ADS_1


Adijaya tetap tenang dengan wajah datar. Sementara tubuh Ki Reksa tampak mengeluarkan asap hitam. Sepasang matanya memancarkan cahaya merah. Lalu bergerak-gerak tangan dan kakinya seperti sedang menari.


Nyi Warsih baru melihat gurunya mengeluarkan ilmu semacam ini. Benarkah penguasaan ilmu ini dengan cara tidak senonoh? Terus kenapa hanya dilakukan kepada anak buahnya saja?


Ki Reksa mulai melepaskan serangan dengan gerakan yang seperti menari itu. Hawa sakti yang menyertainya terasa menggidikan.


"Ilmu aneh lagi," gumam Adijaya.


Jika orang biasa maka hawa sakti buruk yang memancar dari Ki Reksa akan mempengaruhi pikiran dan gerakannya melambat. Tapi hawa sakti yang memancar dari tubuh Adijaya mampu mengimbangi. Jadi pemuda ini tak terpengaruh sama sekali. Dia menunggu serangan datang.


Wussh!


Dalam beberapa saat, Adijaya mampu menciptakan gerakan menghindar. Gerakan lawan memang terlihat pelan seperti menari, tapi dia yakin jika satu saja terkena pukulannya pasti bahaya akibatnya.


Ilmu ini sangat berbahaya. Bukan hanya bisa melukai badan, tapi juga membuat pikiran kacau. Untungnya Adijaya tidak. Khasiat lumut ungu sangat tinggi.


Menurut Adijaya dalam benaknya, menghadapi Ki Reksa bukan mengalahkan dengan cara menciptakan jurus atau ilmu pemecah. Tapi harus memusnahkan. Namun, tidak membunuhnya.


Lalu apa?


Adijaya himpun tenaga lalu membuat gerakan cepat hampir tak kelihatan gerakannya. Tinjunya menghantam di beberapa tempat penting di tubuh Ki Reksa yang tak mampu menghindar lagi karena terkejut melihatnya.


Dess! Desss! Desss!


"Aaah..!"


"Kenapa ini?" suaranya bergetar sambil melihat dua telapak tangannya.


"Ilmumu sudah hilang!" ujar Adijaya.


"Apa!" wajah Ki Reksa memelas.


Bagaimana rasanya kehilangan suatu miliknya yang sangat berharga lebih dari nyawanya? Seperti itulah yang dirasakan Ki Reksa.


Tiba-tiba saja sepuluh anak buah Nyi Warsih menghambur, memukuli dan menendang Ki Reksa bahkan ada yang melepaskan ajian Tapak Wisa. Baik Adijaya, Darma Koswara atau Nyi Warsih tak bisa mencegah mereka lagi. Hingga akhirnya Ki Reksa tewas mengenaskan.


Mungkin kesepuluh pengikut Nyi Warsih ini melampiaskan dendam dan kekesalan karena selama ini jadi budak nafsu Ki Reksa. Pada saat digagahi mereka tak bisa melawan karena pengaruh sirep.


***


Di kebun tempat ditemukannya mayat Ki Bayan, Adijaya menjelaskan kepada Darma Koswara dan Nyi Warsih. Ini atas permintaan Nyi Warsih karena dirinya merasa difitnah atas peristiwa itu. Ini juga atas kemauan Adijaya sendiri mengusut misteri ini.


"Lihatlah, di sini banyak jejak kaki kuda. Sepertinya kuda ini mengamuk atau cuma berjalan di sini saja. Dan Ki Bayan ditemukan tewas di sini," tunjuk Adijaya ke tanah yang ada jejak tubuh manusia terbaring.


"Katanya," lanjut Adijaya. "Ki Bayan terkena ajian Tapak Wisa dari tanda luka di lehernya yang berbentuk tapal kuda. Tapi setelah saya periksa, itu hanyalah bekas injakan kaki kuda saja,"

__ADS_1


"Bagaimana cara mengetahuinya?" tanya Darma Koswara.


"Ini!" Adijaya membuka baju bagian atasnya. Menunjukan dada yang terkena ajian Tapak Wisa.


"Jadi untuk ini kau rela terkena ajian Tapak Wisaku?" tanya Nyi Warsih.


Adijaya mengangguk dan tersenyum. Darma Koswara melongo.


"Kau ini manusia atau dewa?" ujar lelaki itu.


"Lihatlah, memang luka akibat ajian Tapak Wisa seperti tapal kuda, tapi di sekitarnya kulit tampak gosong, ungu semu hitam. Sedangkan di leher Ki Bayan tidak ada kulit gosong,"


Kemudian Adijaya melangkah menuju sebuah gubuk kecil berada. Nyi Warsih dan Darma Koswara mengikuti.


"Tempat apa itu?" tanya Nyi Warsih.


"Kudanya ada di dalam gubuk itu,"


Nyi Warsih masih menunjukan tanda tanya sementara Darma Koswara tampak memerah wajahnya.


"Ki Bayan tidak tewas kebetulan, tapi disengaja, diinjak oleh kaki kuda, dan kudanya ada yang menunggangi,"


"Siapa penunggangnya?"


Adijaya melirik Darma Koswara.


"Kau!"


Darma Koswara langsung berlutut dan menangis. "Aku bersedia dihukum!"


"Tidak, bangunlah, juragan!" Adijaya mengangkat pundak Darma Koswara hingga berdiri lagi tapi wajahnya menunduk.


"Saya mengerti perasaan juragan, memfitnah Nyi Warsih karena ingin mengakhiri permusuhan. Juragan juga memilih Ki Bayan karena dia sudah tua dan sebatang kara. Tapi semua ini sudah berlalu dan tak perlu disesali lagi,"


Nyi Warsih mengerti dengan penjelasan Adijaya. Wanita ini merangkul calon suaminya.


"Sudahlah, aku akan melupakan hal ini dan menganggap tak pernah terjadi."


Tujuh hari kemudian. Darma Koswara dan Nyi Warsih melangsungkan pernikahan. Peristiwa yang membikin heboh seluruh desa bahkan ke desa tetangga. Dua orang yang bermusuhan berakhir di pelaminan.


Pesta berlangsung meriah. Semua warga desa diundang. Semuanya juga menyambut dengan gembira. Karena dengan begitu tidak ada lagi keributan yang terjadi akibat permusuhan dua orang itu.


Yang lebih bahagia tentu saja Adijaya. Ini sebuah pencapaian yang tak pernah diduga. Menyatukan dua insan yang sudah lama saling dendam.


"Kinasih, tunggulah giliran kita!"

__ADS_1


#Keterangan : kasus tewasnya Ki Bayan dan hilangnya kuda Darma Koswara terinspirasi dari cerita Sherlock Holmes.


__ADS_2