Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Rintangan Baru


__ADS_3

Pertempuran berhenti ketika Jayana alias senapati Anggada keluar dari ruangan sambil menawan raja. Beberapa prajurit gabungan juga sudah menahan Ganggasara, Mentri Jero dan Mangkubumi. Tiga orang saudagar yang baru gabung juga dijadikan tawanan.


Dari lima saudagar yang bergabung itu, dua di antara mereka sedang menyamar. Ki Bandawa alias Adijaya dan Jayana alias senapati Anggada.


Semua prajurit Purwa Sedana yang tersisa menjatuhkan senjatanya. Kemudian semua tawanan digiring, dibawa ke kota raja pusat Tarumanagara. Semua yang terlibat pasti akan dijatuhi hukuman.


***


Adijaya dan Asmarini sudah dalam perjalanan dengan kereta kudanya. Jika tidak ada rintangan lagi, maka sebentar lagi mereka akan sampai di kerajaan Wanagiri. Tempat tinggal Asmarini.


Hati Adijaya jadi berdebar karena di sana dia akan bertemu orang tua gadis pujaannya. Berdebar karena orang tua Asmarini adalah Patih di kerajaan itu.


"Kenapa Kakang tidak membunuh Ganggasara?"


"Aku tidak pernah membunuh lawanku,"


"Oh, iya!" batin Asmarini. Pantas saja ketika dia membunuh Patih Munding Wirya, wajah Adijaya tampak menyesal.


"Bagaimana kalau dia balas dendam?" tanya si gadis kemudian.


"Aku sudah melenyapkan ilmunya,"


"Dia bisa mencari sumber kekuatan lagi,"


"Tidak perlu khawatir, dia tidak akan bisa menghindar dari hukuman mati,"


"Oh, iya!" Asmarini tampak senang mendengarnya. Baru mengerti kalau kekasihnya ini tidak mau mengotori tangannya sendiri.


Setelah beberapa saat mereka terdiam. Kereta melaju tidak terlalu kencang melewati jalan desa yang agak ramai. Walau matahari sudah berada di puncaknya, udara terasa sejuk. Langit tampak sedikit mendung.


"Apa yang Kakang pikirkan?" tanya Asmarini memecah kesunyian.


"Aku gugup,"


Si gadis heran lalu menatap wajah si pemuda dengan lekat. Wajah Adijaya terlihat datar.


"Apa yang Kakang rasakan?"


Adijaya menghela napas panjang. Memikirkan bagaimana menjelaskan perasaannya yang gelisah.


"Aku takut, tidak tahu bagaimana cara menghadap orang tua Dinda," keluh Adijaya.


Asmarini menyandarkan dirinya ke bahu Adijaya. Jari-jari tangannya dijalinkan dengan jari-jari tangan si pemuda lalu menggenggam erat.

__ADS_1


Betapa si gadis juga tidak dapat menggambarkan perasaannya. Sebelum kepulangannya, sang guru telah menjelaskan kepada orang tuanya tentang calon suami yang kini duduk di sampingnya.


Calon suami yang cocok dengan kepribadian Asmarini yang berjiwa petualang. Rencananya mereka akan melangsungkan pernikahan sederhana saja, tidak mengadakan perayaan yang mewah. Setelah itu mereka akan berpetualang lagi.


***


Setelah menempuh perjalanan selama tiga hari. Kereta kuda yang membawa sepasang kekasih ini sampai di istana Wanagiri saat matahari sudah berada di ujung barat.


Prajurit jaga yang mengenal Asmarini langsung mengijinkan masuk. Kereta kuda langsung menuju ke kediaman Patih.


Sampai di sana ada sambutan kecil menyapa mereka. Sepertinya sudah dipersiapkan sebelumnya. Berarti kedatangan mereka sudah diketahui sebelumnya sehingga pihak orang tua Asmarini merencanakan penyambutan ini.


Tidak seperti yang dikhawatirkan sebelumnya, ternyata Adijaya tidak segugup yang ia kira ketika berbicara dan bercengkrama dengan keluarga Asmarini.


Tapi perasaan canggung tetap menguasai dirinya. Merasa rendah diri di berada di antara keluarga bangsawan. Seketika timbul tanya dalam benaknya, apa dia pantas bersanding dengan Asmarini.


Karena hari sudah sareupna, Adijaya diperkenankan untuk istirahat di kamar yang telah disediakan untuknya. Tentu saja tidak ditemani Asmarini. Gadis itu menempati kamar pribadinya.


Di dalam kamar, Adijaya tampak merenung. Ada rasa bahagia tapi juga ada rasa khawatir. Bahagia karena akan mempersunting pujaan hatinya. Khawatir karena perbedaan kasta. Dari pembicaraan tadi, keluarga Asmarini akan mencari hari baik untuk melangsungkan pernikahan.


***


Tengah malam ketika Adijaya sudah terlelap karena kelelahan. Tiba-tiba dia terbangun karena mendengar suara langkah halus di dekat kamarnya.


Kekuatannya yang sudah bertambah membuat perasaannya semakin peka. Penglihatan dan pendengarannya pun semakin tajam.


Perlahan Adijaya mendekati jendela. Suasana gelap karena lampu damar dimatikan. Semakin dekat semakin tegang. Apa maksud orang diluar mengintai kamarnya?


Satu jengkal lagi dengan daun jendela.


Tebb!


Ujung pisau yang tajam mencuat dari daun jendela. Pisau ini dilemparkan dari luar lalu menancap ke daun jendela hingga mampu menembusnya ke bagian dalam.


Brak!


Adijaya mendobrak jendela. Terlihat satu bayangan berkelebat kabur. Segera dia melompat mengejar bayangan itu.


Bayangan yang berlari di depan terpaut hingga sepuluh tombak lebih. Tapi Adijaya masih mampu melihatnya. Si bayangan hitam berlari dan melompat dari atap ke atap bangunan di wilayah istana.


Adijaya tidak sempat memperhatikan sekelilingnya. Dia hanya fokus mengejar bayangan si pelempar pisau itu dengan ilmu meringankan tubuh yang semakin meningkat setelah beberapa hari lalu berhasil mengalahkan Ganggasara.


Semakin lama semakin dekat jarak orang yang dikejarnya. Tapi arahnya semakin keluar dari wilayah istana. Kini bayangan itu berkelebat dari pohon ke pohon. Entah di mana letaknya, tapi yang pasti ini sebuah hutan.

__ADS_1


Jika di dalam istana masih ada beberapa obor yang menerangi, kini di dalam hutan sangat gelap. Namun, dengan hawa saktinya bisa membuat pandangan lebih awas. Bola matanya bersinar seperti mata kucing ketika di tempat gelap.


Sosok bayangan hitam semakin terkejar. Lalu dengan sekali menjejakkan kaki ke sebuah pohon sosok Adijaya berhasil melampaui buruannya.


Wussh!


Tubuh Adijaya berbalik sambil mengibaskan tangan sambil mendarat juga.


Serangkum angin menghempas menghantam si bayangan serba hitam.


Jduk!


Orang itu terpental membentur pohon di belakangnya. Saat tubuhnya jatuh ke bawah, dua tangannya melempar sesuatu.


Serrr! Serrr!


Puluhan senjata rahasia yang tak terlihat bentuknya melesat menyerang Adijaya.


Tring! Tring!


Payung terbuka telah menjadi tameng menghalau semua serangan senjata rahasia itu. Tapi begitu payung ditutup, ujung pedang telah siap menusuk wajahnya.


Tang!


Gerakan payung memutar lebih cepat lagi dari tusukan. Menangkis kuat sehingga pedang hampir lepas dari tangan pemiliknya kalau tidak digenggam erat.


Mendapati serangannya gagal, si bayangan hitam berputar berkelebat hendak kabur. Tapi sosok Adijaya sudah menghadangnya.


Begitulah, kemanapun sosok bayangan itu hendak lari, Adijaya lebih cepat lagi gerakan menghadangnya.


Hingga suatu ketika. Kesekian kalinya Adijaya menghalangi lawannya untuk kabur. Kali ini Pendekar Payung Terbang kecele. Baru saja kakinya mendarat di tanah.


Bruss!


Tanah yang diinjaknya jebol. Ternyata di bawahnya ada lubang. Tak sempat melompat lagi tubuhnya keburu terperosok ke dalam lubang yang cukup dalam.


Bruk!


Tubuhnya terjatuh ke dalam sebuah ruang bawah tanah yang sempit, pengap dan juga gelap. Lalu terdengar suara berdebam dari atas. Ternyata lubang itu telah ditutup batu besar dari atas.


Adijaya baru sadar, rupanya orang itu memang sengaja menjebaknya agar terperosok ke ruang bawah tanah yang entah berada di mana ini.


"Apa maksud semua ini"? gumam Adijaya.

__ADS_1


Rintangan apalagi yang akan dihadapi Adijaya si Pendekar Payung Terbang?


Ikuti terus kisahnya.


__ADS_2