
Puluhan manusia kayu dari segala arah menyerang bersamaan. Saatnya Adijaya mempraktekan isi kitab Hyang Sajati meski baru hapal sedikit. Hebatnya manusia kayu yang dikendalikan dari jauh ini bisa menyerang dengan gerakan yang berbeda-beda.
Adijaya menciptakan gerakan yang hemat dan praktis. Sekali gerak bisa menahan beberapa serangan. Tentu saja walau berhasil memukul mundur, manusia kayu tidak merasa kesakitan. Mereka kembali menyerang.
Satu hal yang ditemukan Adijaya dalam pertarungan ini. Setiap pukulan atau tendangan yang mengenai sasaran ternyata menghasilkan tenaga dorongan balik sebesar tenaga yang dia keluarkan, kendati manusia kayu itu terpukul mundur.
"Jangan sungkan-sungkan, Juragan!" ujar Padmasari.
Adijaya mengerti sekarang. Dia lipat gandakan tenaga terutama ke tangan dan kaki. Kini setiap pukulan dan tendangan mampu menghancurkan manusia kayu.
Prak! Krak!
Manusia kayu yang paling dekat jadi sasaran keganasan serangan Adijaya, tapi jumlah mereka semakin banyak seolah tiada habisnya. Bagaikan pasukan semut yang datang dari bergerombol.
Sosok Adijaya melayang, dia berlari dengan menjejakkan kaki ke setiap kepala manusia kayu. Setiap kepala yang terinjak kakinya menjadi hancur hingga ke seluruh tubuhnya.
Adijaya berlari berputar-putar menghancurkan manusia kayu dengan injakan kakinya. Sambil berlari itu dia memeriksa setiap sudut lembah yang selalu diselimuti kabut tipis.
Ratusan manusia kayu telah dia hancurkan, tapi jumlahnya tidak habis-habis. Selalu banyak. Setelah diperhatikan ternyata manusia kayu yang sudah hancur terbentuk lagi dengan sendirinya.
"Waduh, sampai kapan begini terus?"
Akhirnya Adijaya melesat ke atas sampai setinggi sepuluh tombak. Lalu menukik lagi. Posisinya berbalik, dua tangan mengarah ke bawah. Tenaga sakti Melati Tunjung Sampurna sudah terkumpul di telapak tangannya.
Tiga tombak lagi mendekati tanah, Adijaya hentakkan dua tangan. Segelombang angin dahsyat keluar dari telapak tangan. Menghempas kuat seluruh manusia kayu.
"Bantai Jagat!"
Wussh! Bumm!
Bagai dihantam meriam, manusia kayu berhamburan ke segala arah dengan kondisi tak berbentuk lagi. Lembah itu seperti diguncang gempa. Suara ledakannya sampai terdengar ke dua puncak gunung.
Begitu mendaratkan kaki, Adijaya langsung menggunakan ilmu Membelah Tanah Menarik Sukma.
Derr!
__ADS_1
Tanah lembah terbelah, lalu dari dalamnya ada kekuatan yang menyedot potongan manusia kayu yang sudah tak berbentuk hingga habis semua tak bersisa. Lalu tanah menutup kembali.
Adijaya menghembuskan napas sambil garuk-garuk kepala. Akhirnya dia mengeluarkan ajian Bantai Jagat. Kitab Hyang Sajati untuk sementara belum memberikan manfaat. Karena sejatinya isi kitab itu hanya untuk melawan manusia.
Suasana kembali sepi. Hembusan napas Adijaya sampai mengeluarkan uap dingin. Ini di puncak, apa di lembah? pikirnya.
"Ki Sawung!" teriak Adijaya. Suaranya tersebar ke setiap pelosok. "Saya hanya ingin bertanya saja, saya tidak mencari urusan lainnya!"
Masih sepi. Tak ada jawaban.
"Loba uget, sia!" maki Adijaya kemudian.
"Gerrrrrr!
Sebuah suara auman sama sekali tidak mengejutkan Adijaya. Dia malah mencari di mana asal suara itu.
"Macan, maung, meong!" seru Adijaya seperti orang marah. "Sini, aku tidak takut!"
"Hrrrr!"
Dari arah yang tidak disangka-sangka, seekor harimau melompat sambil mengarahkan cakarnya ke wajah Adijaya. Secara refleks karena tidak mau ambil resiko, Adijaya keluarkan Payung Terbang untuk melindunginya.
Harimau belang terpental kembali, tapi secara sigap binatang mendarat dengan keempat kakinya. Mulutnya terbuka memamerkan taring yang panjang dan tajam disertai auman yang semakin keras.
"Mengendalikan hewan juga bisa, ya?"
"Apapun bisa dikendalikan, Juragan!"
Adijaya mendengkus keras. "Hei, Sawung! Aku tantang kau kendalikan aku kalau bisa!"
Si harimau sudah siap menyerang kembali. Namun, Adijaya merasa percuma melawan. Lalu dalam sepersekian kejap dia mendapatkan akal. Kaki kanannya menghantam bumi, mulutnya merapal mantera.
"Membelah Tanah Menarik Sukma!" Entah kenapa sekarang dia suka mengucapkan nama ilmu sambil menyerang.
Brak! Bless!
__ADS_1
Tanah terbelah tepat di bawah kaki yang diinjak harimau. Kontan saja keempat kaki hewan dengan julukan raja rimba itu amblas ke dalam tanah. Kemudian ketika baru tersedot sampai siku, tanah merapat kembali.
Jadinya, empat kaki harimau tertanam. Binatang ini menggeliat-geliat menarik kakinya. Namun, tanah itu menjepit sangat kuat, sehingga si macan tak berdaya untuk membebaskan dirinya.
"Nah!" Adijaya tertawa geli. "Sebaiknya kau diam saja daripada tersiksa!"
Kejap berikutnya tiba-tiba saja Payung Terbang bergerak sendiri melindungi kepala tuannya. Adijaya langsung menyadari karena melihat ada segulung asap hitam melesat hendak menghantam kepalanya.
Gulungan asap hitam itu membentur daun payung lalu sirna di udara.
"Jika asap itu berhasil masuk ke tubuh, maka Juragan akan berada dalam kendalinya," jelas Padmasari.
Adijaya hanya menggumam tak jelas sambil angguk-angguk kepala. Secercah pikiran muncul lagi dalam otaknya. Lalu Adijaya mendekati harimau yang masih saja berusaha untuk melepaskan diri dari jepitan tanah.
Pendekar Payung Terbang memeriksa sekujur tubuh harimau itu. Ketika tangan Adijaya meraba-raba tubuh harimau itu seketika binatang itu terdiam. Jari-jari Adijaya menyusuri setiap bulu harimau belang itu.
Setelah beberapa saat akhirnya Adijaya menemukan sesuatu. Sebuah sembilu sepanjang jari kelingking menancap di bagian leher atas.
"Ini dia!" kata Adijaya sambil mengambil sembilu itu lalu memperhatikannya dengan baik-baik.
Adijaya mengelus-elus leher binatang itu pelan dengan perasaan lembut dan kasih sayang. "Sekarang kau bebas, Can!"
Kakinya kembali menghantam tanah, seketika keempat kaki harimau telah terbebas dari jepitan tanah. Harimau ini langsung mengusap-usapkan wajahnya ke kaki Adijaya sebagai tanda terima kasih. Lalu sang harimau berlalu meninggalkan sang pendekar.
"Ki Sawuuung...!" teriak Adijaya lagi sambil mengitarkan pandangan. "Ternyata kau baik, aku ucapkan terima kasih!"
Kemudian Adijaya meninggalkan lembah itu. Dia menyusuri jalan semula yang dilalui hingga keluar dari daerah yang diselimuti kabut tipis itu.
***
Suatu malam di padepokan Karang Bolong. Di setiap asrama dan tempat-tempat lainnya ada murid atau anggota Dewan Kehormatan yang dapat giliran jaga. Semuanya tampak seperti malam-malam biasanya.
Namun, di tempat tersembunyi lagi yang tidak diketahui semua orang termasuk para penjaga, beberapa anggota Dewan Kehormatan yang ditunjuk langsung secara rahasia oleh Anjasmara, tengah bersiaga mengawasi setiap tempat.
Karena yang mereka awasi hanya manusia, jadinya mereka tidak menyadari ada segulung asap hitam tipis melayang di atas wuwungan lalu merasuk ke dua orang yang menjaga pondok Dewan Kehormatan, di mana tersimpan kembali senjata milik Purana.
__ADS_1
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa dua penjaga ini sama-sama memegang kunci pondok, tapi salah satunya kunci palsu. Secara bergantian dua penjaga ini mengeluarkan kunci dan membuka pintu.
Salah seorang yang memegang kunci asli berhasil membuka pintu langsung masuk dan mengambil pedang milik Purana. Kemudian orang ini keluar meninggalkan pondok Dewan Kehormatan menuju salah satu asrama laki-laki.