
Sebelumnya.
Ketika Sundari dan istrinya masuk ke penginapan. Adijaya curiga kepada seseorang yang berdiri di depan penginapan. Gerak-geriknya seperti sedang mengawasi Sundari. Walaupun jauh tapi Adijaya bisa melihat jelas wajah orang itu berbinar begitu melihat Sundari.
"Sepertinya dia sedang menunggu Bibi," gumam Adijaya. Dia turun dari kereta. Berjalan perlahan. Jaraknya ke penginapan lumayan jauh sehingga dia bisa mengawasi lelaki setengah baya tanpa ketahuan.
Setelah beberapa langkah terlihat Asmarini dan Sundari keluar lagi. Lelaki itu segera membelakangi mereka, pura-pura tidak melihat. Setelah dua wanita itu tak terlihat lagi, lelaki ini segera berjalan ke arah jalan yang dilalui mereka.
Adijaya juga segera mengikuti lagi. Tapi setelah beberapa langkah lagi, dia merasakan ada orang yang mengawasinya dari tempat tersembunyi. Adijaya terus melangkah, pura-pura tidak tahu sambil menyirap keberadaan orang itu.
Pendekar Payung Terbang ini memikirkan siasat bagaimana caranya memancing orang yang mengawasinya agar keluar dari persembunyiannya. Setelah beberapa saat, Adijaya mendapat ide. Dia percepat langkah mengejar lelaki paruh baya itu.
Langkah Adijaya berubah jadi berlari. Salah satu tangan bersiap melepaskan pukulan. Lima tombak sebelum mencapai sasaran, Adijaya merasakan hembusan angin kuat dari arah kanan. Hawa sakti langsung menyelimuti udara sekitar.
Satu sosok berkelebat tahu-tahu sudah menghadang, bahkan langsung menyerang. Seorang pemuda berumur hampir tiga puluh. Berbadan tegap berotot. Wajahnya yang agak kotak menunjukan ketegasan.
Ilmu silatnya lumayan tinggi. Sepertinya dia mengalami gemblengan yang sangat ketat. Gerakannya mantap dan cepat. Adijaya mengagumi kehebatan lawannya. Ternyata pemuda ini melindungi lelaki setengah baya itu.
Siapa dia, siapa juga lelaki itu?
Adijaya tidak memperlihatkan kekuatan aslinya. Dia menyetarakan dengan kekuatan lawan. Seperti biasa dia menggunakan ilmu 'Membalik Langit' untuk mempelajari pola gerak jurus lawan.
Pancingannya berhasil, sebenarnya dia hanya pura-pura hendak menyerang lelaki di depannya.
Si pemuda itu menjadi heran ketika Adijaya hanya menghindar saja. Menurutnya, seharusnya Adijaya langsung menyerang balik karena sedang memburu orang yang dilindunginya.
Setelah belasan jurus berlalu, barulah si pemuda ini sadar. Adijaya hanya memancingnya keluar. Terkejut juga karena tertipu oleh Adijaya yang pura-pura tidak mengetahui keberadaannya.
Setelah bertukar banyak jurus, si pemuda sempat mengukur kekuatan Adijaya. Tapi begitu tahu siasat Adijaya, dia menduga lawannya ini mampu menyembunyikan kekuatan. Berarti sudah sangat tinggi ilmunya.
Pemuda ini mengambil jarak dan menghentikan serangannya. Memandang kesal ke arah Adijaya.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
Adijaya hanya tersenyum. "Apa maksud dia mengikuti dua wanita itu?" tunjuk Adijaya kepada lelaki paruh baya yang sudah tidak kelihatan lagi sosoknya.
Si pemuda tampak salah tingkah. Apakah dia harus berterus terang saja? Lagi pula dia tahu dua wanita yang diikuti itu tidak bermaksud jahat.
"Sepertinya kau tahu masalahnya!" Si pemuda mencoba mengorek keterangan dari Adijaya.
Tidak perlu merasa sungkan atau curiga, Adijaya menjelaskan bahwa mereka sedang mencari Nyai Mandita yang hilang. Si pemuda menghela napas setelah mendengarnya. Sesuai dengan dugaannya.
"Aku Surya Manggala, dan orang itu pamanku, Wirapati, kekasih lamanya Nyai Mandita,"
Adijaya terkejut mendengarnya. Sebuah keterangan yang tidak pernah Sundari utarakan sebelumnya. Atau mungkin wanita itu tidak tahu tentang kisah cinta majikannya. Atau, bisa jadi Surya Manggala berdusta, mengingat banyak yang mengincar harta Nyai Mandita.
Surya Manggala menceritakan bahwa Wirapati diam-diam selalu mengikuti kemana saja Nyai Mandita pergi. Bahkan secara diam-diam juga mereka melindungi wanita itu dari gangguan orang-orang jahat.
"Paman juga kehilangan jejak Nyai Mandita. Namun, dia tidak bisa menyelidiki secara langsung. Akhirnya dia menunggu keterangan dari wanita pembantu Nyai Mandita,"
"Kalau begitu kita susul dia!" ajak Adijaya mendahului melangkah. Dia ingin mengetahui seberapa jauh tentang Wirapati. Benarkah dia kekasih lama Nyai Mandita?
Surya Manggala segera mengikuti. Pemuda ini sudah memperhatikan Adijaya sejak turun dari kereta kuda. Rasanya dia pernah mendengar tentang sepasang pendekar yang selalu naik kereta kuda, tapi pikirannya belum mengingatnya.
Setelah bertukar belasan jurus lelaki setengah baya itu tetap tidak melakukan serangan balasan. Mulutnya terlihat beberapa kali terbuka, seperti hendak mengucapkan sesuatu. Asmarini menduga orang ini tidak bermaksud jahat.
"Wirapati, kaukah itu?" seru Sawitri setelah berhasil mendapatkan ingatannya.
Asmarini berhenti menyerang. Teriakan Sawitri menandakan seseorang yang menemukan kembali kenalan lamanya. Tidak ada kesan ketakutan di dalamnya.
"Benar, ini aku, Sawitri!" sahut Wirapati canggung. Dia hampir tidak mengenali wanita itu. Karena dulu Sawitri tidak tinggal di sini. Sejak kapan dia pindah ke sini? Dan tidak menyangka yang ditemui Sundari ternyata Sawitri.
Kemudian datanglah Adijaya bersama Surya Manggala. Wirapati tampak heran melihat keponakannya bersama seseorang. Keheranannya langsung terjawab ketika Asmarini menyapa Adijaya.
Beberapa saat kemudian semuanya berkumpul di ruang depan rumah Sawitri. Mereka membahas satu orang yang telah hilang tanpa jejak. Nyai Mandita.
"Dia bilang ingin menyepikan diri, tidak lagi berpindah-pindah dan meninggalkan keduniawian," cerita Sawitri ketika terkahir kali bertemu dengan Nyai Mandita.
__ADS_1
"Apa dia menyebut suatu tempat atau nama orang?" tanya Wirapati.
"Dia bercerita tentang seseorang yang selalu memberinya wejangan hingga dia merasa harus menjadi semacam pertapa, begitu!" jawab Sawitri sambil mengerutkan kening karena sedang berusaha mengingat sesuatu.
"Seseorang yang mengajarkan hakikat hidup yang sesungguhnya? Apa dia seorang resi?" tanya Adijaya.
"Sepertinya begitu, aku sedang berusaha mengingat namanya," jawab Sawitri lagi.
"Resi Danuranda?" Wirapati menyebut nama.
"Nah, itu!" seru Sawitri seperti menemukan jarum di dalam tumpukan jerami.
Sementara Wirapati terkejut, raut wajahnya berubah pucat. Seperti menyimpan kecemasan.
"Paman tahu tentang dia?" selidik Asmarini.
Resi Danuranda dikenal sebagai tokoh yang menjadi panutan orang-orang kaya tapi kesepian yang hampir putus asa. Sudah banyak yang menjadi pengikutnya, semuanya menyerahkan kekayaan yang dimiliki kepada sang resi.
"Konon katanya, harta itu dibagi-bagikan kembali kepada warga miskin," tutur Wirapati.
"Tapi kenapa paman kelihatan cemas?" tanya Asmarini lagi.
"Aku curiga ini hanya kedok saja. Kenapa yang didekati untuk menjadi pengikutnya hanya orang-orang kaya?" jawab Wirapati.
"Dan aku tidak pernah mendengar tentang seorang resi atau orang lain yang membagi-bagikan harta kepada rakyat miskin," Surya Manggala menimpali.
"Terlepas siapapun dia, kita tetap akan menyelidiki untuk menemukan Nyai Mandita," kata Adijaya. Karena memang tujuan utama mereka mencari Nyai Mandita.
"Benar, petunjuk ini cukup meyakinkan!" ujar Asmarini. "Kita harus memastikan saja, benar atau tidak Nyai Mandita menjadi pengikut Resi Danuranda,"
"Di antara kita, siapa yang sudah tahu tempat berdiamnya Resi Danuranda?" tanya Sundari yang sejak tadi belum bersuara.
Semuanya terdiam. Karena tak satupun ada yang tahu. Sementara Adijaya memikirkan bagaimana cara menemukannya walaupun tidak tahu di mana tempatnya.
__ADS_1
"Inilah masalahnya, dia memang sudah terkenal. Tapi tidak sembarangan orang yang tahu tempatnya," sesal Wirapati.