Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Ilmu Perawan Abadi


__ADS_3

Sebelumnya.


Adijaya dan Puspasari sedang merencanakan cara menemukan siapa yang telah memfitnah gadis itu. Mereka berada di dalam rumah Puspasari yang sudah ditinggalkan itu. Secara sembunyi-sembunyi mereka memasuki rumah itu.


"Pertama, kau ingat-ingat siapa yang telah mencuri pedangmu," kata Adijaya.


Puspasari rapatkan bibir, keningnya mengkerut dan matanya menyipit. Sepertinya dia berusaha keras mengingat-ingat sesuatu.


"Pedang Ular Hitam hilang sebelum aku meninggalkan rumah ini. Sepertinya pencuri mengambilnya ketika aku masih tertidur. Karena begitu bangun aku langsung sadar senjataku telah hilang.


"Lalu aku meninggalkan rumah untuk mencari keberadaan pedangku, hingga berhari-hari lamanya aku tak pernah kembali lagi ke sini. Sampai sekarang baru kembali,"


Lalu keadaan sunyi karena keduanya diam. Mereka tidak menyalakan penerangan untuk menghindari kecurigaan warga. Hanya dengan menggeser atap sedikit, sinar bulan separuh memasuki ruangan itu.


"Pencuri itu sengaja tidak membunuhmu karena sudah punya niat memfitnahmu," ujar Adijaya pelan.


Karena suasana malam yang sunyi dan sepi, suara tarikan napaspun terdengar jelas.


"Karena aku tidak tahu siapa pencuri pedangku, jadi mulai dari mana kita menyelidik?" tanya Puspasari.


"Dari dua pembunuhan itu aku menyaksikan Ki Jantaka menjadi orang pertama menyaksikan korban dibawa oleh pelaku. Terus dia meyakinkan orang bahwa pembunuhnya adalah kau dengan bukti luka tusukan Pedang Ular Hitam.


"Dan ketika kau ditolong Nini Bedul, dia langsung menghembuskan kabar bahwa kau adalah muridnya. Jelas tujuannya meruntuhkan nama baikmu,"


Diam-diam Puspasari terus memperhatikan sosok Adijaya yang terlihat seperti bayangan hitam karena kurangnya cahaya. Baginya tetap terlihat gagah melihat lekuk tubuh pemuda itu.


"Kau mencurigai Ki Jantaka?"


"Hanya perasaanku saja, tapi aku yakin dia pasti ada hubungannya,"


"Aku tahu rumahnya!"


"Kita mulai dari dua tempat,"


"Dua tempat?" Puspasari tidak mengerti.


"Begini, aku akan mengawasi rumah Ki Jantaka dan kau mengawasi rumah Jatnika,"


"Jatnika?" Si gadis terperanjat. "Apa hubungannya?"


"Kabar yang beredar di desa ini, kau membalas dendam kepada semua laki-laki yang pernah menyakitimu. Dan yang tersisa tinggal Jatnika..."

__ADS_1


"Maksudmu dia akan menjadi incaran si pembunuh berikutnya, biar semua orang percaya akulah pelakunya?"


Bayangan Adijaya mengangguk. Si gadis juga tidak menyadari kalau Adijaya selalu memperhatikannya. Menikmati lekuk tubuh jangkung yang tampak seperti siluet.


"Tapi kau harus merubah penampilan!"


***


Besoknya mereka memulai aksinya. Siang hari Puspasari mengawasi rumah Jatnika yang ternyata banyak dijaga pendekar bayaran. Gadis ini memperhatikan di atas pohon tinggi yang keberadaannya tidak disadari dan sulit dilihat orang.


Dengan alat-alat yang dibeli Adijaya, si gadis menyamar jadi wanita tua berambut putih. Seharian mengawasi rumah bekas kekasihnya itu belum melihat sesuatu yang mencurigakan.


Begitu juga Adijaya yang mengawasi rumah Ki Jantaka. Dia hanya melihat seorang wanita muda, itu juga sekilas. Ditunggu-tunggu ternyata wanita yang mungkin anaknya Ki Jantaka itu tidak pernah keluar.


Ki Jantaka sendiri keluar hanya memeriksa kebun yang berada di belakang rumahnya. Entah disengaja atau tidak kebetulan bertemu dengan warga lain yang lewat.


"Eh, hati-hati! Aku mendapat kabar Nini Bedul akan mengirimkan teluhnya ke desa ini. Harap jangan keluar malam hari!" begitu kata Ki Jantaka memberitahu.


Maka tersebarlah berita ini ke seluruh desa. Sehingga pada malam harinya suasana tampak mencekam.


Adijaya memutuskan mengajak Puspasari mengawasi rumah Ki Jantaka bersama. Lagi pula jika banyak pendekar bayaran di rumah Jatnika maka si pembunuh akan sukar menerobos masuk.


Maka malam harinya mereka berdua mengawasi rumah Ki Jantaka. Mereka menyaksikan Ki Jantaka keluar malam-malam menuju pekuburan lalu kembali sambil menggendong mayat.


Besoknya lagi...


Mereka masih tetap mengawasi rumah Ki Jantaka. Mereka melihat laki-laki setengah baya itu keluar menuju rumah Ki Basra. Dari rumah orang terkaya di desa itu, Ki Jantaka keluar bersama Jatnika.


Semua itu tak lepas dari pengawasan sepasang pemuda ini. Yang mengikuti dengan cara melompat dari atap ke pohon atau sebaliknya.


Selanjutnya Adijaya dan Puspasari melihat Jatnika dan Ki Jantaka dihadang wanita muda. Jatnika ditotok, sedangkan Ki Jantaka lari tapi balik lagi langsung memanggul tubuh anak Ki Basra. Lalu dibawa kesuatu tempat.


Pada saat mengikuti mereka inilah yang sangat berkesan buat Puspasari. Bagaimana tidak, Adijaya menggunakan Payung Terbang melayang sambil membawa serta Puspasari dengan cara dipeluk erat mengikuti Ki Jantaka dan wanita muda itu.


Karena gerakan melayang Adijaya yang halus dan tidak meninggalkan suara, mereka yang dibawah tidak menyadari kalau mereka sedang dibuntuti.


Sementara Puspasari tak melewatkan momen berkesan ini. Dia memeluk erat Adijaya, kapan lagi ada kesempatan seperti ini?


Lanjut cerita...


Ketika wanita muda yang ternyata bernama Sukawati itu hendak menusukkan Pedang Ular Hitam ke dada Jatnika. Adijaya terbang merendah. Lalu Puspasari yang masih dalam penyamaran melompat turun sambil mengirim pukulan jarak jauh.

__ADS_1


Selanjutnya sampailah ke cerita sekarang. Sukawati dikurung beberapa orang. Sementara Ki Jantaka tak berdaya di tangan Adijaya.


Sukawati sudah kehabisan tenaga. Akhirnya dia terjengkang ambruk. Pedangnya lepas. Dua orang pendekar bayaran segera memegang dua bahu wanita itu. Bermaksud mencegah agar tidak bisa kabur.


Ki Jantaka diseret ke sana. Dilempar hingga jatuh di depan Sukawati.


"Jantaka, sebaiknya kau jelaskan semua!" perintah Ki Dipasara.


Laki-laki setengah baya itu gemetar ketakutan. Keringatnya bercucuran. Dia tahu nasib buruk akan menimpanya. Ada baiknya dia menjelaskan semuanya, mungkin saja akan mengurangi hukuman yang akan dia terima.


"Istriku Sukawati berambisi ingin menyempurnakan ilmu 'Perawan Abadi', tapi syaratnya harus menumbalkan dan memakan mayat tiga laki-laki yang masih perjaka.


"Dia mencuri Pedang Ular Hitam milik Puspasari, digunakan untuk membunuh sasaran juga untuk mengalihkan tuduhan," Ki Jantaka terdiam menunduk.


Pantas saja paras Sukawati tampak lebih muda dari usianya. Rupanya memiliki ilmu yang sebenarnya dibilang ilmu sesat. Karena selain menjadi tampak lebih muda, ilmu ini juga mengubah pemiliknya menjadi berwatak jahat.


"Jadi yang membunuh anakku, dan Lesmana itu istrimu?" bentak Nyi Rengganis.


Adijaya baru tahu kalau Sukawati itu istrinya Ki Jantaka. Kemarin dia mengira putrinya.


Ki Jantaka mengangguk sambil menangis sesegukan dan memohon ampun. Sementara Sukawati tampak pucat bagai mayat tak ada sinar kehidupan lagi di matanya.


"Tapi nyawa harus dibayar dengan nyawa!" seru Nyi Rengganis. Tangannya bergerak, tahu-tahu pedang melesat cepat langsung menembus jantung Sukawati.


Wuut! Jlep!


Sukawati langsung terkulai. Nyawanya melayang. Secara perlahan tubuhnya berubah dari cantik dan muda menjadi tua dan keriput bahkan lebih tua dari usianya.


Ki Jantaka semakin meraung-raung melihat kematian istrinya yang mengerikan.


Puspasari sudah melepaskan penyamarannya. Semua orang memandang ke arahnya.


"Maafkan atas tindakan kami tempo hari," kata Ki Dipasara.


Gadis ini hanya tersenyum manis.


"Apa benar sekarang kau muridnya Nini Bedul?" tanya Nyi Rengganis.


"Tentu saja bukan," tukas Puspasari segera.


Ki Basra mendekati gadis itu. "Sebagai permintaan maaf bagaimana kalau kau kunikahkan kepada Jatnika?"

__ADS_1


Si gadis terkejut dan salah tingkah, wajahnya memerah. Dia melirik ke arah Adijaya. Pemuda itu hanya tersenyum nakal.


__ADS_2