
Dua hari kemudian mereka sampai di penginapan tempat terakhir Nyai Mandita tinggal sebelum hilang. Tapi kereta kuda Adijaya berhenti masih jauh dari penginapan itu. Tidak ingin kelihatan mencolok.
"Sebaiknya Dinda saja yang menemani Bibi Sundari," saran Adijaya.
"Apa Kakang juga akan ikut membantu nantinya?"
"Tentu saja, aku akan mencari keterangan dengan caraku sendiri. Sementara Dinda bantu saja apa yang dibutuhkan Bibi Sundari,"
"Baiklah kalau begitu!"
Asmarini turun lalu menemani Sundari masuk ke penginapan. Mereka langsung menuju ruangan pemiliknya.
"Anda datang kembali," sapa si pemilik penginapan yang bernama Tanwira. Sepertinya dia juga sudah menantikan kedatangan Sundari. Dia memandang Asmarini sejenak.
"Aku butuh keterangan tentang majikanku, apakah sudah ada pencerahan?"
"Aku hanya mendapat satu keterangan, Nyai Mandita sempat menemui seseorang tiga hari sebelum menghilang,"
Wajah Sundari tampak berseri, ada harapan dia akan menemukan majikannya. "Apa kau tahu orangnya?"
"Namanya Sawitri, kebetulan dia warga desa sini. Sepertinya mereka teman baik,"
"Bisa Bapak terangkan letak rumahnya?"
"Tentu saja!"
Kemudian Tanwira memberikan apa yang diminta Sundari. Wanita ini sangat berterima kasih kepada pemilik penginapan ini. Beberapa hari yang lalu si pemilik belum bisa memberikan keterangan apa-apa.
Karena merasa bertanggung jawab Tanwira mencari keterangan kepada orang-orang yang pernah melihat wanita kaya itu. Ya, Nyai Mandita menyewa kamar untuk satu purnama lamanya. Tapi baru tiga hari dia dinyatakan hilang, karena tidak ada melapor bahwa dia akan menyelesaikan sewanya.
"Terima kasih atas bantuannya. Oh, ya, ini temanku Asmarini yang juga akan membantu mencari Nyai Mandita!"
Asmarini mengangguk sambil senyum. Tanwira membalas senyum juga.
Sundari dan Asmarini pun segera keluar lagi menuju rumah Sawitri. Tanwira tampak lega setelah memberi keterangan. Namun, hatinya masih berat karena Nyai Mandita sudah membayar lunas sewanya. Apakah harus mengembalikan sisanya kepada Sundari?
__ADS_1
***
Nyai Mandita adalah putri tunggal dari seorang bangsawan yang menjabat sebagai menteri di suatu kerajaan bawahan. Sewaktu remaja dia mempunyai seorang kekasih dari kalangan orang biasa.
Mereka saling jatuh cinta dan berencana menikah. Namun, kedua orang tua Nyai Mandita jelas tidak merestui karena perbedaan kasta. Sang kekasih menghilang entah kemana karena merasa terhina.
Sedangkan Nyai Mandita juga tidak mau dijodohkan atau dinikahkan dengan siapapun. Dia selalu menolak pilihan orang tuanya. Hidupnya juga sering kabur-kaburan.
Karena ulahnya itu membuat ibunya jadi sakit-sakitan yang akhirnya meninggal. Tak lama ayahnya juga menyusul karena tak kuat menahan malu mempunyai putri yang tidak bisa diatur. Bahkan kelakuannya seperti wanita murahan saja.
Sebagai pejabat kerajaan, orang tuanya meninggalkan harta yang banyak. Nyai Mandita mengemasi semua harta itu ke dalam lima peti yang cukup besar. Kelima peti itu disimpan terpisah dan tidak ada orang yang tahu kecuali dirinya.
Dia tahu banyak lelaki yang mencoba mendekatinya, seolah-olah iba akan kehidupannya. Tapi dia tahu itu hanya sandiwara memikat hatinya. Tujuan mereka sebenarnya adalah mengincar hartanya.
Selama dua puluh tahun lebih, hidup Nyai Mandita berpindah-pindah dari penginapan ke penginapan lain. Tapi hartanya seolah tidak pernah habis. Sekali menyewa kamar paling sebentar hanya satu purnama.
Bila ada perampok yang memaksanya agar memberitahu tempat penyimpanan hartanya, Nyai Mandita selalu mempunyai cara untuk lolos dari siksaan perampok. Dia juga tidak akan terbuai oleh lelaki yang bermulut manis. Bahkan yang datang dengan cara halus sekalipun, dia tidak terggoda.
Sampai suatu ketika dia bertemu seorang resi yang penuh wibawa dan bijaksana. Seorang resi yang menjauhi gemerlapnya dunia. Setiap berjumpa, sang resi selalu memberi wejangan tentang kehidupan fana yang menurutnya hanya menipu saja.
"Mereka selalu merasa dahaga meskipun telah memiliki harta yang tidak habis tujuh turunan," kata sang resi. "Tapi itu sebelum menjadi muridku,"
"Aku mendapatkan ketenangan setelah menjalani hidup bersama Eyang Resi," ujar salah satu muridnya yang dari kalangan bangsawan.
Mereka menyerahkan seluruh hartanya kepada sang resi. Kemudian Resi Danuranda membagikan kembali harta itu kepada warga miskin.
Begitulah setiap wejangan Resi Danuranda selalu membuat hatinya tentram. Tidak takut lagi dikejar-kejar orang yang mengincar hartanya.
"Bila kau sudah siap menjadi manusia paling bahagia, beritahu aku segera." Begitu pesan sang resi di setiap akhir perjumpaan.
***
Asmarini merasakan ada seseorang yang selalu mengikuti perjalanan mereka semenjak dari penginapan. Namun, gadis itu tidak menghiraukan karena tidak merasakan adanya hawa jahat.
Rumah Sawitri ternyata cukup jauh berada di pelosok desa. Rumahnya begitu sederhana halamannya juga tidak luas. Sundari langsung mengetuk pintu.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian dari dalam muncul seorang wanita yang seumuran dengan Nyai Mandita. Sawitri tampak heran karena belum mengenal kedua tamunya.
Ketika pemilik rumah mempersilakan masuk, Asmarini sempatkan menoleh ke belakang. Ternyata orang yang mengikutinya sudah tidak ada. Mungkin sudah sembunyi di suatu tempat.
Setelah berbasa-basi sejenak, barulah Sundari mengutarakan maksud kedatangannya.
"Aku adalah pembantu Nyai Mandita, kudengar Anda mengenal majikanku,"
"Benar, dia salah satu teman baikku. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi padanya, sehingga Anda datang kemari, betulkah?" Sawitri bisa membaca keresahan Sundari dari raut wajahnya.
"Nyai Mandita hilang, apakah Bibi belum mengetahui kabar ini?" jawab sekaligus tanya Asmarini.
Sawitri tidak menunjukkan rasa terkejut seolah-olah dia sudah tahu kejadian itu. Tapi jawaban yang dia berikan lain lagi.
"Aku belum tahu, tapi tidak aneh!"
Sundari dan Asmarini saling pandang. Mereka menduga wanita ini pasti mengetahui sesuatu. Atau jangan-jangan sebenarnya dia tahu.
"Kudengar Anda sempat bertemu dia beberapa hari yang lalu, benarkah " tanya Sundari.
"Benar!"
"Apakah anda mengetahui sesuatu sehingga tidak merasa aneh kalau majikanku menghilang?"
Ketika Sawitri hendak menjawab, tiba-tiba Asmarini menerjang ke arah pintu. Kaki kanannya menendang pintu, lalu terdengar suara pekikan di luar. Gadis ini segera meloncat keluar dan menyerang seorang lelaki setengah baya.
Ternyata laki-laki itu memiliki ilmu silat juga. Tapi dia hanya bergerak menghindar saja, tidak berniat membalas atau menyerang balik. Namun, Asmarini tetap curiga. Untuk apa dia mengintip pembicaraan tadi kalau tidak ada maksud jahat?
Asmarini terus mendesak laki-laki itu. Dia bermaksud meringkusnya dulu untuk dikorek keterangannya. Namun, setelah sepuluh jurus lebih, laki-laki itu masih bertahan. Tenaga dalamnya cukup kuat mengimbangi si gadis.
Sawitri dan Sundari menyaksikan di depan pintu. Keberadaan Asmarini sangat membantu untuk situasi seperti ini, karena Sundari sama sekali kurang dalam hal ilmu silat.
Sementara Sawitri tampak mengerutkan kening yang sudah kerut alami sebelumnya. Dia tengah memperhatikan lelaki yang sedang menghadapi Asmarini. Sepertinya dia mengenalinya.
Siapa lelaki itu?
__ADS_1