Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Jembatan Ilmu


__ADS_3

Di kediamannya yang berupa rumah kecil, Ki Manguntara mengundang Adijaya secara pribadi. Sepertinya ada sesuatu yang amat penting untuk di bicarakan. Ini sangat kebetulan juga buat Adijaya, karena dia juga ada yang ingin diutarakan.


"Bagaimana hapalanmu?" Ki Manguntara memulai pembicaraan.


"Sudah bertambah, Kek. Sekarang juga aku akan menyetorkan hapalanku,"


"Nanti saja kalau pembicaraan kita sudah selesai,"


"Ada hal pentingkah?"


"Sebenarnya sudah lama aku memikirkan hal ini. Aku akan menceritakannya dulu,"


Kemudian sang mahaguru menceritakan bahwa dia mempunyai saudara seperguruan yang kini entah di mana rimbanya. Sampai sekarang dia tidak mendapatkan kabarnya.


"Dulu padepokan ini kecil, Eyang Mahaguru sang pendiri padepokan hanya mempunyai dua murid. Kedua murid diberikan pilihan bebas, apakah akan meneruskan padepokan atau berkelana.


"Tapi apapun pilihannya mereka diwajibkan mengangkat murid walau cuma satu orang. Akhirnya yang satu menetap di padepokan dan mengangkat dua orang murid.


"Dan yang satunya berkelana langsung ke negeri seberang. Begitulah seterusnya, dua murid angkatan kedua itu juga melakukan hal yang sama. Satu orang menetap dan meneruskan padepokan, mengangkat dua murid lagi. Salah satunya aku."


Namun, di masa ketika Ki Manguntara masih jadi murid, saudara seperguruannya salah paham. Dia menuduh gurunya berlaku tidak adil. Lebih banyak memberikan ilmu kepada Ki Manguntara.


"Dia kecewa lalu meninggalkan padepokan diam-diam. Nah, ketika aku mewarisi padepokan, aku mengangkat empat orang murid seperti yang kau ketahui. Dan aku suruh mereka mengambil murid sebanyak-banyaknya. Jadilah padepokan seperti sekarang ini,"


"Apa mungkin saudara seperguruan Kakek juga sudah berkelana ke negeri seberang seperti yang lainnya?" tanya Adijaya menduga-duga.


"Aku pikir tidak begitu, sebab dia meninggalkan padepokan sebelum tuntas menyelesaikan pelajarannya. Nah, aku mengundangmu ke sini karena ingin meminta bantuanmu!"


Adijaya tidak menunjukkan reaksi apapun. Dia menunggu sang mahaguru melanjutkan, tapi dia sudah menduga maksudnya.


"Aku ingin kau mencari dia dan membujuknya kembali ke sini," lanjut Ki Manguntara.


Dugaan Adijaya tidak meleset, tapi agak mendingan daripada di sini yang selalu digoda tiga nenek sakti yang ingin menjodohkan muridnya.


"Siapa namanya, Kek?"


"Jagatapa, asalnya dari sebuah desa di kaki gunung Salak. Sepertinya dia sudah tinggi ilmunya. Entah berguru kepada siapa. Sehingga dia bisa menyembunyikan keberadaannya dari mata batinku,"


"Kakek yakin aku mampu?"

__ADS_1


"Yakin, aku percaya padamu!" Ki Manguntara menatap serius kepada Adijaya seolah memperlihatkan kesungguhannya dan menaruh harapannya kepada pemuda itu.


"Aku boleh membawa serta istriku?"


"Tentu saja, dengan menaiki kereta kuda sakti!"


Adijaya terbatuk-batuk. "Rupanya Kakek juga sudah tahu kuda-kuda penarik kereta itu!"


"Dan satu lagi," kata Ki Manguntara. "Aku melihat sifat-sifat Jagatapa ada pada salah satu murid. Bahkan wajahnya pun agak mirip,"


"Siapa dia, Kek?"


"Namanya Tajimeta, kemarin dia melakukan protes sama seperti Jagatapa dulu. Dia menuduhku pilih kasih, tidak adil. Dan dia juga memutuskan keluar dari padepokan,"


"Oh, aku juga ingat!" potong Adijaya sambil angguk-angguk. Dia juga sempat melihat kejadian kemarin walau tidak seluruhnya.


"Baguslah, siapa tahu dia memang keturunan Jagatapa. Sekarang, apa yang ingin kau sampaikan?"


Adijaya mengatur napas terlebih dahulu. Menenangkan hatinya. Karena apa yang akan disampaikan mungkin tidak akan disetujui sang mahaguru.


"Begini, Kek!" kata Adijaya. "Setelah isi kitab Hyang Sajati aku hapal semua, aku berniat akan memberikannya kepada Anjasmara,"


Ki Manguntara kerutkan kening. "Untuk apa?"


Kedua mata cekung Ki Manguntara menerawang. Pikirannya berusaha mencerna ucapan Adijaya. Pemuda ini berjodoh dengan kitab Hyang Sajati. Secara otomatis dia berhak menjadi pemimpin menggantikan Ki Manguntara, tapi dia malah ingin menyerahkan kepada Anjasmara.


"Bisa kau jelaskan lagi!" pinta sang mahaguru.


"Aku memang berjodoh dengan kitab Hyang Sajati, tapi bisa jadi aku hanya sebagai jembatan saja,"


Ki Manguntara berpikir lagi sebelum berkata, "Aku mengerti, terus kenapa memilih Anjasmara?"


"Jelas dia lebih berpengalaman sebagai pemimpin. Saat ini bisa dibilang dia cukup baik dalam memimpin Dewan Kehormatan. Dan itu sebagai jembatan menuju pimpinan tertinggi padepokan,"


Si kakek angguk-angguk kepala pelan. Adijaya memang pendekar rendah hati. Memang benar kalau dibilang dia hanya jembatan. Perantara ilmu yang tersimpan dalam kitab Hyang Sajati.


"Lagipula Anjasmara lebih tahu tentang padepokan ini daripada aku," lanjut Adijaya.


"Baiklah!" Ki Manguntara menghela napas. "Aku akan mempertimbangkannya,"

__ADS_1


"Satu lagi, aku baru memimirkannya dadakan,"


"Apa itu?"


"Aku sudah menitipkan kitab itu kepada Ki Santang. Aku bisa menyuruhnya membukakan kitab itu dan membacanya sambil memejamkan mata. Jadi aku tidak perlu menghapalkannya dulu, Kakek dan para Nenek bisa mencatatnya langsung,"


"Bagus!" seru Ki Manguntara sambil jentikkan jari dan tersenyum lebar.


Kemudian Ki Manguntara mengajak Adijaya ke aula pertemuan. Dia juga menyuruh salah satu murid agar memanggil tiga nenek agar berkumpul di sana juga.


Setelan sampai di aula pertemuan, tidak lama kemudian tiga nenek sakti juga datang. Terkejutnya, ternyata tiga nenek itu membawa serta murid berbakatnya. Dengan mata berbinar mereka segera mengenalkan muridnya kepada Adijaya.


"Ini Wandira, murid berbakat yang aku punya," seruduk Nyai Rengganis. "Walaupun sudah janda, tapi masih bahenol. Iya, kan, hehehe...!"


Lalu Nyai Parasuri menyusul. "Dia masih gadis delapan tahun, namanya Sitaweni!"


"Dan ini yang paling muda. Masih enam belas tahun, tapi cantiknya seperti orang dewasa. Mantap. Citrawati namanya!" susul Nyai Sangga Manik.


Adijaya hanya tercekat sambil menelan ludah. Sebagai lelaki normal memang dia tidak memungkiri keindahan tiga perempuan itu, tapi dia harus menjaga hatinya.


Sementara tiga perempuan yang dikenalkan secara paksa itu hanya tersipu malu. Tak sanggup menatap lebih lama kepada Adijaya yang memang ketampanannya memikat hati. Namun, mereka tidak mengharap lebih mengingat pemuda gagah ini sudah beristri.


"Ini bukan acara perjodohan, kan?" sindir Ki Manguntara yang dibalas oleh tawa ketiga nenek sakti.


"Adijaya," panggil Nyai Parasuri. "Seorang raja selain memiliki permaisuri, dia juga mempunyai banyak selir. Betul, kan?"


Dua nenek langsung mengiyakan. Kompak.


Adijaya tampak bingung, tersenyum canggung dan garuk-garuk kepala. "Tapi aku kan bukan raja!" gumamnya.


"Sudah-sudah, siapkan alat tulis kalian. Sepertinya aku juga harus memanggil Anjasmara!" ujar Ki Manguntara.


"Nah, betul, Kek! Nanti dikenalin juga pada mereka!" sahut Adijaya.


Setelah Anjasmara datang, Adijaya mulai membacakan isi kitab Hyang Sajati. Semula keempat sesepuh yang akan menuliskannya, tapi akhirnya malah murid-muridnya yang melakukan.


Adijaya memejamkan mata, tapi di hadapannya terpampang kitab yang dipegang Ki Santang membuka halaman demi halaman yang isinya dibacakan dengan pelan, supaya yang menulis tidak ketinggalan.


Pada saat proses penulisan itu, terjadi saling lempar pandang antara Anjasmara dengan Sitaweni. Sementara Citrawati dan Wandira lebih sering memandang wajah Adijaya.

__ADS_1


_______


Cieee....


__ADS_2