
Setiap Rangrang Geni memutar tongkat, lidah api yang menjulur berbentuk cambuk semakin memanjang berbelit-belit melibat sukma Adijaya.
Sang pendekar menangkis dengan payung, tapi dia terkejut ternyata cambuk api ini lebih kuat dari sebelumnya. Tidak seperti sebelumnya bila ditangkis maka akan terpental balik.
Sekarang lidah api berbentuk cambuk malah melilit tubuhnya. Semakin keluarkan tenaga semakin kuat lilitannya. Adijaya merasakan ada yang mendidih di dalam tubuhnya.
Seperti darah yang mendidih, padahal ini raga halus, tapi rasanya seolah raga kasar. Hawa dingin yang dia keluarkan berulang kali selalu lenyap setelah bertemu hawa panas. Namun, dia berusaha tetap tenang supaya pikirannya tidak buntu.
Adijaya terus melepaskan hawa dingin berkesinambungan untuk mengimbangi panasnya nyala api yang melilit tubuhnya. Dia tidak lagi mengerahkan tenaga agar lilitannya tidak semakin kuat.
Di depan sana Rangrang Geni menambah intensitas kobaran api pada tongkatnya. Lidah api semakin membesar, seluruh tubuh Adijaya kini dikobari api.
Padmasari tampak cemas melihat majikannya, tapi dia belum merasa terpanggil untuk membantu. Dia yakin Adijaya masih mempunyai cara untuk melawan musuhnya.
Adijaya merasakan dirinya seperti membara. Kalau saja yang terbakar raga kasarnya, mungkin sudah hangus menjadi abu. Hanya ada satu dalam pikirannya sekarang, yaitu mengubah energi.
Isi kitab Hyang Sajati kini sangat berguna untuknya. Dia mengubah energi panas api menjadi dingin. Kobaran api yang berwarna merah perlahan berubah menjadi putih kebiruan.
Dalam beberapa saat Adijaya tidak lagi merasa terbakar. Api menjadi dingin dan lilitannya mengendur. Dia pindahkan payung ke tangan kiri, lalu tangan kanan memegang cambuk api.
Sekarang Adijaya bisa mengerahkan tenaganya. Dia kirimkan hawa dingin melalui cambuk api. Terlihat dari warna api yang berubah secara merembet.
Duarr!
Begitu api dingin mencapai ujung tongkat, sosok Rangrang Geni terpental bersamaan dengan ledakan di ujung tongkatnya. Cambuk api putus dan langsung lenyap di udara.
Padmasari menunjukkan wajah lega, sudut bibirnya terangkat. Dugaannya benar, sang majikan selalu punya cara mengatasi musuhnya.
Rangrang Geni yang tetap tanpa ekspresi dan tidak terpengaruh apapun yang menimpanya sudah bersiap menyerang kembali. Dia memutar tongkat di atas kepala seperti baling-baling.
Dari putaran tongkat itu melesat ratusan panah api menyerbu ke arah Adijaya. Namun, setiap panah yang mengenai sukma Adijaya langsung pecah jadi percikan lalu lenyap.
__ADS_1
Ini karena tubuh Adijaya sudah kembali dipenuhi hawa sedingin es. Panah-panah api lainnya dihalau oleh putaran payung yang juga melepaskan hawa dingin.
Kemudian Adijaya merangsek maju walau panah api menghujani tiada henti. Dia mendekati sukma Rangrang Geni. Dia harus melepaskan buhul yang menempel di tengkuknya.
Meski jarak semakin dekat, Rangrang Geni tidak berusaha mengambil jarak. Dia tetap menyerang lawan dengan hujan panah api. Atau mungkin dia punya rencana lain.
Begitu jarak tinggal satu tombak lagi, Rangrang Geni hentikan memutar tongkat. Kejap berikutnya dia sabetkan tongkat dari atas ke bawah mengenai bahu Adijaya.
Desss! Werrr!
Kobaran api langsung muncul membakar seluruh tubuh Adijaya. Namun, sang pendekar membiarkan saja. Seperti tadi dia mengubah api menjadi dingin. Pada saat itu kesempatan datang.
Tangan Adijaya bergerak menarik leher Rangrang Geni. Meraih tengkuknya. Lalu mencabut benda yang menempel di sana.
Bret!
Setelah berhasil Adijaya langsung melompat mundur. Seketika kobaran api langsung lenyap. Sukma Rangrang Geni jatuh berlutut. Wajahnya tampak berwarna dan jubahnya berubah putih.
Rangrang Geni menatap Adijaya tanpa ekspresi. Sewaktu masih hidup ilmunya dilenyapkan orang ini. Dia tewas mengenaskan oleh orang-orang yang membencinya. Sekarang dia diselamatkan dari jeratan buhul Jurig Kaladetya.
"Tidak tahu terima kasih!" umpat Padmasari.
Adijaya menatap gerbang ke tiga sambil menormalkan kondisinya. Ada apa lagi di dalam? Berapa gerbang lagi yang harus dia lewati? Apakah Jurig Kaladetya begitu hebat.
Kalau saja tidak mengganggu urusan manusia, mungkin Adijaya tidak akan mencampuri urusannya. Siluman ini akan membangkitkan kembali Ganggasara. Yang berarti akan hidup di alam manusia. Sudah pasti akan membuat kekacauan.
Untuk itu tujuan Adijaya kali ini menggagalkan kebangkitan Ganggasara. Namun, apa dia sanggup seorang diri?
***
Sudah lima hari Ki Manguntara bersemedi di ruang bawah tanah yang dulu tempat menyimpan kitab Hyang Sajati. Sebelumnya dia sudah tiga kali bermimpi didatangi seorang kakek yang lebih muda darinya.
__ADS_1
Kakek itu mengatakan bahwa Adijaya membutuhkan bantuan. Pemuda itu sedang berusaha menggagalkan kebangkitan manusia iblis yang akan mengganggu ketentraman manusia.
Si kakek yang tidak lain Ki Ranggasura mengatakan dirinya tak bisa membantu karena dia baru saja terbebas dari perbudakan sukma. Yang bisa membantunya adalah manusia yang masih hidup dan bisa masuk ke alam lelembut.
Memang, setelah hancurnya padepokan Gunung Sindu tidak ada lagi ancaman besar untuk dunia persilatan atau orang awam sekalipun. Ternyata masih ada manusia berwatak buruk yang bersekutu dengan siluman seperti Madari yang hendak menghidupkan kembali suaminya.
Ki Manguntara bersemedi dengan maksud ingin bertemu dengan Eyang Batara yang lebih sakti darinya. Sepengetahuannya, tokoh paling sakti itu belum melakukan tapa moksa.
Pada malam ke enam semedinya, mahaguru padepokan Karang Bolong ini merasakan hawa yang berbeda di dalam ruangan ini. Yang tadinya terasa lembab menjadi hangat.
Dulu ruangan ini terang karena cahaya kitab Hyang Sajati. Sekarang menjadi gelap sebelum datangnya hawa hangat ini. Dari salah satu dinding ruangan terbersit cahaya yang awalnya kecil perlahan menjadi besar.
Kemudian cahaya itu membentuk sosok kakek serba putih. Inilah Eyang Batara, tokoh yang disegani bangsa manusia maupun bangsa lelembut. Tokoh yang konon katanya paling sakti di negeri ini.
"Sampurasun, Eyang!" ucap salam Ki Manguntara pelan dan sopan.
Eyang Batara tersenyum ramah. Dari tempat persemayamannya yang tidak seorangpun tahu, sang sesepuh merasakan panggilan batin Ki Manguntara.
"Rampes,"
"Kiranya Eyang sudah mengerti maksud saya,"
"Tentu saja, kita memang harus turun tangan,"
"Terima kasih, Eyang!"
"Terima kasih juga telah mengabarkan hal ini. Ajak kawan-kawan lain yang bersedia membantu. Semakin banyak semakin bagus."
"Baik, Eyang!"
Sosok Eyang Batara kembali memudar seperti kedatangannya semula. Hanya untuk beberapa kata itu, Ki Manguntara harus semedi sampai lima hari. Namun, dia puas dengan hasilnya. Sang Eyang Batara mau turun tangan.
__ADS_1
Selanjutnya dia akan mengajak serta tiga nenek sakti untuk membantunya. Seperti saran Eyang Batara, semakin banyak semakin bagus.
Keesokan harinya Ki Manguntara mengadakan pertemuan khusus dengan tiga nenek sakti. Tentu saja mereka langsung menyanggupi apalagi membantu Adijaya. Seorang pendekar baik hati dan banyak jasa, menurut mereka.