Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Labu Penyedot Sukma


__ADS_3

"Jadi, adu tanding ini tidak ada hasilnya!" tegas Arya Sentana. "Karena urusan sengketa cinta hanya diselesaikan dengan cara memilih. Biarlah yang bersangkutan, yang diperebutkan cintanya menentukan pilihan.


Sekarang kembali latihan seperti biasa. Adijaya, ajarkan kepada kami jurus yang tadi kau gunakan!"


Sekali lagi Adijaya kaget. Bagaimana bisa? Tadi dia asal gerak saja mengiringi gerakan lawan. Tapi dia segera dapat akal. Adijaya tersenyum lalu memandang ke arah Kinasih. Wanita itu balas tersenyum.


Semua murid pun bersiap memulai latihan yang sempat tertunda karena adu tanding.


Latihan kali ini berbeda dari biasanya. Murid-murid hanya berbaris seperti tadi. Menonton adu tanding. Namun, bukan lagi adu tanding memperebutkan cinta. Tapi adu tanding mengamati celah kelemahan jurus dan menciptakan jurus pemecah.


Tidak tanggung-tanggung, empat pelatih turun bersama mengeroyok Adijaya. Keempatnya menggunakan jurus yang berbeda untuk menyerang Adijaya.


Seperti biasa Adijaya menghadapi dengan tenang. Setenang mungkin karena pikirannya terpecah menjadi empat. Dalam sekali gerak dia harus memecahkan empat bahkan lebih gerakan lawan yang mencari sasaran.


Pola jurus yang dimainkan Adijaya terbentuk dengan sendirinya. Ini berkat kekuatan alami yang didapatnya dari lumut dan air sakti di dalam goa. Yang membuat perasaannya sangat peka. Indra pendengar dan penglihatannya sangat tajam. Juga otaknya yang encer cepat dapat memahami intisari jurus-jurus lawan.


Semua gerakan Adijaya ini diamati dengan seksama oleh Arya Sentana. Seakan matanya tak pernah berkedip memantau semua gerakan kemudian disimpan dalam ingatan.


Karena pertarungan empat lawan satu ini bukan untuk saling menjatuhkan, maka gerakannya tampak biasa saja seperti sedang melakukan pertunjukan memamerkan jurus-jurus indah.


Pertarungan ini tujuannya untuk mencari celah kelemahan setiap jurus dan melihat pemecahannya yang semuanya dipantau oleh Arya Sentana, kini dibantu oleh istrinya.


Sudah beberapa jurus andalan diperagakan. Sesuai perintah Arya Sentana, hanya jurus-jurus andalan saja yang dikeluarkan. Sampai akhirnya...


"Cukup!"


Arya Sentana menghentikan pertarungan. Empat pelatih dan Adijaya tampak bermandikan keringat. Tak terasa matahari sudah mencapai puncaknya.


"Makan dulu!" ujar Praba Arum.


Serentak semua murid bubar sambil menggumam tak jelas. Mereka menuju tempat makan.


***


Sehabis makan Adijaya mendapat perintah agar menemui Ki Ranggasura. Ternyata sampai di sana sudah menunggu pula Arya Sentana beserta sang istri. Mereka duduk bersila melingkari sosok Komara yang masih terbaring seperti mayat.


Adijaya mengambil tempat duduk di samping Ki Ranggaguna.


"Bagaimana kabar tentang Labu Penyedot Sukma?" tanya Ki Ranggasura.


"Guriang saya belum kembali, tampaknya dia belum mendapatkannya,"


"Ada orang mengincar jasad Rayi Komara," kata Arya Sentana. "Sepertinya dia ada hubungan dengan siluman yang merasuki raga Komara,"


"Apakah itu Paman Kuntala?" tanya Adijaya.


"Salah satunya dia," jawab Ki Ranggasura.


"Berarti ada orang lain lagi?" tanya Adijaya lagi.


"Ya, aku tidak mengenalnya. Orangnya tinggi besar. Mereka kutemukan sedang mengendap-endap mengintai bilik ini," tutur Ki Ranggasura.

__ADS_1


"Saya ingat, kemarin saya sempat bertarung dengan Paman Kuntala di puncak gunung. Lalu ada seseorang yang membawanya lari," kata Adijaya kemudian menceritakan kejadian saat di puncak gunung kemarin ketika menolong Kinasih.


"Berarti dua orang itu masih berkeliaran di sekitar padepokan ini," ujar Praba Arum. "Tujuannya jelas mengambil tubuh Raka Komara kemudian mengeluarkan siluman peliharaan mereka,"


"Kita harus selalu berjaga-jaga. Mereka menunggu saat kita lengah," Ki Ranggsura mengingatkan.


***


Di tempat lain, masih di lereng gunung Lingga.


Lelaki tinggi besar tampak mondar mandir sambil memegang dagunya. Sedangkan Kuntala duduk menunduk di sebuah batu.


"Aku tak habis pikir, kenapa guru yang menguasai raga orang itu bisa dilumpuhkan bahkan dikunci. Siapa yang melakukannya?" si tinggi besar mendengkus kesal.


"Siapa lagi kalau bukan dia, yang dibilang titisan dewa itu,"


"Hmmh! Anak itu benar-benar penghalang!"


"Jadi kita harus bagaimana?"


"Harus segera menguasai Mantra Penyirap,"


"Mantra Penyirap?"


"Ya, dengan mantra itu kita bisa menarik sukma siluman guru yang terkunci dalam raga si Komara itu,"


"Tidak ada cara lain?"


"Sebenarnya ada, ada buah sakti namanya Labu Penyedot Sukma. Tapi buah itu adanya di alam siluman," si tinggi besar memdengkus kesal.


"Ayo, kita cari tempat aman!"


Si tinggi besar sudah berkelebat duluan, diikuti Kuntala kemudian.


***


Kembali ke bilik Ki Ranggasura.


"Sebenarnya tujuan Kuntala itu apa?" tanya Praba Arum.


"Membalas dendam atas tewasnya kawan-kawannya," jawab Arya Sentana.


"Siapa kawan-kawannya itu dan siapa yang telah membunuh mereka?"


"Kuntala itu adalah satu orang yang tersisa dari Lima Begal Cakrageni," jawab sang suami lagi.


"Oh!" Praba Arum angguk-angguk mengerti.


"Dinda tahu, kan, pimpinannya?"


"Ya, Gandara!"

__ADS_1


"Nah, Adijaya inilah anaknya!"


"Hah!"


Memang, Arya Sentana belum memberitahukan seluruhnya tentang Adijaya kepada istrinya. Jadi pantas kalau Praba Arum tampak kaget begitu mengetahuinya.


Adijaya hanya tersenyum tipis. "Biasa saja, Bibi!"


Tiba-tiba angin berputar kencang di dalam ruangan itu, membuat semua orang panik. Lalu...


Pluk!


Sebuah payung terjatuh ke panggkuan Adijaya.


"Guriang!" seru Adijaya sambil memegang payung lalu dilemparkan ke atas.


Tring!


Payung berubah jadi mahluk raksasa berkulit biru yang tingginya hampir menyentuh langit-langit. Praba Arum yang baru pertama kali melihatnya tampak ketakutan. Dia menghambur memeluk suaminya.


"Tenang, Dinda. Dia abdinya Adijaya!" Arya Sentana memberitahu. Sang istri kembali tenang.


"Juragan, ini, saya sudah mendapatkan labunya,"


Mahluk guriang ini menunjuk.


Tring!


Sebuah labu berbentuk bulat panjang sudah berada di pangkuan Adijaya.


"Buka tutup yang ada di bagian atas lalu arahkan lubangnya ke mahluk siluman yang dituju," guriang menerangkan. Suaranya besar menggema menggetarkan dada.


Tring!


Mahluk guriang menghilang lagi. Adijaya meletakan labu itu di tengah-tengah. Orang yang ada di dalam ruangan itu memperhatikan buah yang dinamakan Labu Penyedot Sukma ini. Bentuknya seperti labu biasa. Di bagian atasnya ada satu guratan yang merupakan batas antara tutup dan bagian badan.


"Ternyata labu di alam siluman juga sama dengan labu alam manusia," Ki Ranggasura terkekeh mencairkan suasana yang tampak tegang.


Sepasang suami istri terdengar menghela napas sambil saling pandang.


"Apakah kita gunakan sekarang juga?" tanya Adijaya.


"Tunggu dulu," kata Ki Ranggasura. "Aku akan menghitung, mencari hari apesnya siluman. Supaya usaha kita tidak sia-sia,"


"Ya, betul," sahut Arya Sentana. "Tapi kita harus tetap waspada. Kuntala dan kawannya itu juga pasti mengincar labu ini."


"Aku akan menyimpan dan melindunginya dengan kekuatan sakti, kalian boleh lanjutkan latihan. Aku juga akan bersemedi untuk menemukan hari apesnya siluman."


"Baik, Kakek!" sahut Adijaya lalu pamit keluar.


Sepasang suami istri juga pamit keluar.

__ADS_1


Ki Ranggasura memasukan buah labu itu ke dalam sebuah gentong, ditutup lalu diberi hawa pelindung menggunakan kekuatan saktinya.


Kemudian kakek guru besar padepokan ini mengambil tempat di salah satu sudut ruangan. Duduk bersila dan mulai memejamkan kedua matanya.


__ADS_2