
Suara tawa riuh terdengar lagi. Wajah Madari terlihat merah membara saking marahnya. Kesal bukan main. Serangannya tidak berguna, sedangkan lawan dengan mudah melukainya walau dengan batu kecil.
"Diam, kalian!"
Tapi suara tawa terus mengiang-ngiang di ruangan goa itu.
Di sebelah sana Asmarini terpingkal-pingkal melihat kemarahan Madari.
"Makanya sebelum berbuat kau harus berpikir matang-matang terlebih dahulu!" kata si kakek. "Kudu Ngukur ka awak nimbang ka kujur..."
"Terbalik Kakek," sela si nenek. "Ngukur ka kujur nimbag ka awak!"
"Benar!" timpal Asmarini. "Kau harusnya bercermin dulu, siapa dirimu!"
"Ini sih namanya Pacikrak ngalawan merak," sambung si nenek lagi.
Madari berteriak keras sampai mengeluarkan semua suaranya sehingga terdengar serak. Jiwanya terguncang. Bagaimana bisa dia telah menempa diri begitu lama. Berbagai cara dilakukan agar dirinya kuat berilmu tinggi.
Ternyata, musuh begitu mudahnya mempermainkan dirinya. Jeritan-jeritan yang memekak telinga menggetarkan ruangan goa. Dia tidak terima diperlakukan seperti ini.
Rasanya percuma susah payah mendapatkan semua ilmunya, kalau masih ada yang mengunggulinnya. Madari benar-benar kalap. Dia sampai melepaskan pukulan-pukulan tenaga dalamnya.
Blarr! Blarr! Blarr!
Dinding-dinding goa berantakan terhantam pukulan tenaga dalamnnya. Bahkan seluruh goa bergetar hebat. Asmarini dan sepasang kakek nenek hentikan tawa mereka. Madari sepertinya mengamuk.
Emosinya tak terkendali lagi. Bahkan sepertinya wanita itu sudah lupa akan dirinya sendiri. Dia terus melancarkan pukulan tenaga dalam ke setiap arah.
Langit-langit goa mulai retak. Serpihan kerikilnya berjatuhan. Sebentar lagi goa ini tampaknya akan runtuh. Sementara Madari semakin gila.
Brugh!
Akhirnya keseluruhan goa benar-benar runtuh. Bongkahan langit-langitnya menimpa tubuh Madari. Wanita ini langsung tak berkutik terhimpit bongkahan batu yang besar. Bahkan kepalanya pecah.
Goa yang telah lama ditempati untuk menambah kekuatan dan rencana membangkitkan Ganggasara kini ambruk dan menjadi kuburan bagi dirinya sekeluarga.
Asmarini langsung mematikan gambar yang tertampil di jendela karena merasa ngeri menyaksikannya.
__ADS_1
"Ini berarti Ganggasara gagal bangkit lagi!" gumam Asmarini.
"Benar, tugas Juragan jadi lebih ringan!" sahut si nenek.
"Apa Kakang tidak bisa kembali saja?"
"Dia harus menghentikan rencana jahat siluman yang menjadi junjungan Ganggasara. Karena kemungkinan bukan hanya Ganggasara yang menjadi sarananya."
Asmarini menghela napas ringan sebelum kembali ke atas. Matanya terasa ngantuk, dia ingin istirahat.
***
Tiga sosok menyongsong serbuan ratusan prajurit Puri Iblis. Bahkan sepertinya bertambah lagi. Dua tangan Adijaya melepaskan ajian Bantai Jagat, sementara kakinya menggunakan ilmu Membelah Tanah Menarik Sukma.
Wussh! Dess!
Puluhan prajurit terpental, puluhan lainnya tersedot ke dalam tanah yang terbelah. Begitu juga dengan Padmasari dan Ki Santang menggunakan ilmunya masing-masing untuk memukul mundur lawan.
Setiap selesai mengobrak-abrik lawan, Adijaya merangsek maju secara perlahan. Prajurit yang terhantam ajian Bantai Jagat bisa bangun dan menyerang lagi.
Adijaya melihat cara Padmasari menghabisi lawannya. Pertama wanita itu hantamkan pukulan jarak jauh yang membuat puluhan prajurit terpental.
Ilmu Membelah Tanah Menarik Sukma memang didapat dari Padmasari.
Akhirnya Adijaya mengikuti cara Padmasari. Dia lepaskan dulu ajian Bantai Jagat dilanjutkan Membelah Tanah Menarik Sukma untuk menyedot mereka yang terjatuh.
Dengan begitu jumlah mereka semakin berkurang.
Beda lagi dengan Ki Santang, dia menggunakan ilmu menghisap. Setelah belasan prajurit terjerat ilmu hisapnya, dilemparkannya mereka ke belakang seperti melempar kain saja.
Adijaya bersama dua pembantunya semakin merangsek maju. Namun, ternyata jumlah pasukan seakan-akan tidak pernah habis.
"Jangan pedulikan mereka yang terus bertambah, yang penting bisa kita mencapai pintu utama itu!" teriak Padmasari memberitahu.
Benar, anggap saja ini rintangan alam seperti yang telah mereka lalui sebelumnya. Ada hutan rimba, danau yang seperti laut, jurang dengan lautan api, padang rumput yang tiada ujungnya dan air terjun raksasa.
Sekarang rintangannya adalah lautan sukma yang tak pernah habis. Karena kemampuan yang terbatas, Adijaya hanya mampu menyingkirkan puluhan prajurit saja. Kalau manusia biasa mungkin bisa ratusan.
__ADS_1
Lama-lama tenaga terkuras juga, sementara ratusan lawan seperti tak pernah merasa lelah. Akhirnya untuk menghemat tenaga, Adijaya melewati mereka dengan berlari di udara dengan ilmu meringankan tubuh, satu tombak di atas kepala mereka.
Setelah cukup jauh terlewati kemudian mendarat dan melakukan hal seperti tadi. Mendorong dengan Bantai Jagat lalu menyedot dengan ilmu aneh dari Padmasari dan merangsek maju setelahnya.
"Ini sangat menguras tenaga, aku harus cari cara lain!" seru Adijaya sambil berpikir keras.
Dalam sekejap saja dia sudah mendapat akal. Adijaya himpun energi di sekitranya. Dengan ilmu perubahan, dia membuat dinding tak kasat mata dari energi yang terkumpul. Dinding ini melindungi dirinya.
Apa yang terjadi? Ketika Adijaya tidak lagi melepaskan dua ilmunya, para prajurit langsung menyerangnya. Namun, mereka tidak bisa menggapai Adijaya. Jangankan melukai, menyentuhpun tidak bisa.
Mereka terpental oleh dinding gaib. Adijaya hanya berjalan terus ke depan. Sosoknya seperti perahu yang membelah arus. Terus maju. Para prajurit terpental ke samping kiri dan kanan.
Akhirnya dia bisa menghemat tenaga. Sementara Padmasari dan Ki Santang masih tetap dengan caranya masing-masing akan, dan mereka juga bisa terus maju membelah pasukan yang tidak pernah habis ini.
***
Lima sesepuh padepokan Karang Bolong berkumpul di kediaman Ki Manguntara. Selain pemilik rumah ada Ki Jagatapa yang beberapa waktu lalu telah bergabung kembali ke padepokan.
Kemudian ada tiga nenek sakti yaitu Nyai Rengganis, Nyai Sangga Manik, dan Nyai Parasuri.
"Menurut Eyang Batara," kata Ki Manguntara memulai pembicaraan. "Yang akan kita lumpuhkan adalah siluman yang bernama Jurig Kaladetya, kabarnya dia akan menggunakan manusia untuk membuat kekacauan di alam kita,"
"Aku dengar siluman tidak bisa dilumpuhkan, tapi agar tidak bisa berbuat jahat lagi, maka harus dikurung dalam cupu atau labu khusus," kata Nyai Rengganis.
"Untuk hal itu, Eyang Batara sudah mendapatkan keterangan bahwa Adijaya telah membawa Labu Penyedot Sukma," terang Ki Manguntara.
Yang lain tampak lega mendengarnya.
"Aku yakin, kalian semua sudah menguasai ilmu Ngaraga Sukma, kan?" tanya sang mahaguru kemudian.
"Tentu!" jawab Ki Jagatapa disambut anggukan tiga nenek sakti.
"Kalau begitu, kita bisa mulai sekarang. Memasuki alam lelembut membantu Adijaya. Eyang Batara juga akan segera menyusul!"
"Baiklah!"
Kemudian lima orang sakti ini mengambil sikap semedi. Menghimpun hawa sakti dan memusatkan pikiran. Pada awalnya masih bernapas pelan-pelan. Lama-lama napasnya tertahan.
__ADS_1
Tampak tubuh mereka bergetar beberapa saat sebelum menjadi kaku bagaikan patung. Dari dalam raga kasar masing-masing keluar satu bayangan yang wujudnya serupa dengan badan kasarnya.
Itulah sukma mereka yang telah lepas dari raga kasarnya. Bayangan sukma itu melayang ke atas. Tembus ke langit-langit.