Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Kampung Perampok


__ADS_3

Adijaya menatap ke arah Suwirya. Dia melihat sinar mata aneh pada orang itu. Sikapnya tidak menunjukan kalau dia dendam dan ingin membunuhnya. Walaupun lumpuh, setidaknya dia bersikap menggebu-gebu ingin membunuhnya. Tapi Suwirya seperti tenang-tenang saja.


Malihat hal ini akhirnya dia dapat ide. Dia bangkit, tenaga dalamnya sudah tersalurkan ke dua tangan. Lalu salah satu tangannya mengibas.


Wussh!


Desss! Desss!


Orang-orang yang mengepungnya terjungkal ke belakang. Mereka tidak menyangka dengan serangan ini. Tentu saja karena mereka tidak tahu siapa Adijaya.


Lalu Adijaya berkelebat ke arah Suwirya. Lelaki lumpuh ini kaget dengan muka pucat. Maruta dan Ki Sobana segera maju mengirimkan serangan. Bahkan orang tua yang disebut tabib juga ikut menyerang.


Tapi serangan mereka hanya mengenai udara saja karena gerakan Adijaya sangat cepat, dia sudah memanggul tubuh Suwirya dan melesat ke atas. Sosoknya melayang cepat meninggalkan kampung itu menggunakan Payung Terbang.


Orang-orang di sana tampak melongo melihatnya. Ki Sobana dan Maruta saling pandang.


"Pendekar Payung Terbang!" ujar Ki Sobana. Ada raut penyesalan di wajahnya.


Sementara Maruta tampak khawatir tidak menyangka dengan apa yang dilihatnya.


Merasa sudah aman, Adijaya mendarat lalu melemparkan sosok Suwirya ke tanah. Terdengar suara mengaduh dan mengejutkan, ternyata Suwirya tidak lumpuh. Dia langsung bangkit hendak kabur.


Tapi tangan Adijaya lebih cepat meraihnya. Dibanting lagi badannya hingga tulangnya terasa remuk sungguhan. Lelaki berumur tiga puluh lima tahun ini meringis kesakitan. Tubuhnya lemas tak bertenaga.


"Kubikin kau cacat sungguhan, mau?" ancam Adijaya.


"Ampun,ampuni aku pendekar!" Suwirya memelas, suaranya gemetar. Tatapannya minta dikasihani.


"Katakan, apa tujuanmu?" Adijaya benar-benar kesal. Ingin rasanya dia pecahkan kepala orang ini.


"Sebenarnya kami hanya ingin memeras Ki Sanak,"


"Kami? Memeras?" dugaan Adijaya tidak meleset. "Kalian sekongkol?"


Suwirya tak bisa menyembunyikan kebohongannya lagi. Dari sekian banyak penjebakan, ini yang pertama kali gagal. Dia menjelaskan bahwa semua orang di kampung itu adalah satu komplotan.

__ADS_1


Komplotan perampok. Cara merampok yang digunakan salah satunya seperti itu. Ki Sobana tentu dia adalah pemimpin tertinggi.


Adijaya tidak menyangka satu kampung telah menipunya. Cara mereka bersandiwara sungguh apik. Tapi dia masih penasaran. Dia tidak membawa sesuatu yang berharga. Mau memeras apanya?


"Aku tidak membawa harta berharga, kenapa aku jadi sasaran?"


"Jika Ki Sanak telah kami kuasai, kami akan menghubungi kerabat atau saudara Ki Sanak. Meminta sejumlah harta mereka dengan alasan menebus kesalahan Ki Sanak,"


Begitu rupanya, kesannya tidak seperti perampokan. Mereka memang memiliki kepandaian. Tapi jika dibandingkan dengan Adijaya, tidak seberapa walau bergabung satu kampung.


"Kau tahu siapa aku?" tanya Adijaya kemudian. Setelah tadi melakukan aksinya dengan Payung Terbang, tidak mungkin komplotan ini tidak mengenalnya.


"Apa Ki Sanak yang bergelar Pendekar Payung Terbang?"


"Nah, kau tahu rupanya!"


Adijaya berpikir apa yang harus dilakukan terhadap kampung perampok itu. Yang paling sakti di antara mereka mungkin si tabib itu. Kedudukannya berada di atas pemimpin. Bisa jadi orang yang di 'tua'kan atau sesepuh mereka.


Suwirya ditarik hingga berdiri, tapi dia tidak mampu berbuat apa-apa.


"Aku punya rencana bagus untuk kampungmu!" Lalu Adijaya menyeret Suwirya kembali ke kampung.


Adijaya terus menyeret Suwirya sampai ke balai kampung. Di sana sudah berdiri Ki Sobana, Maruta dan tabib dengan raut wajah tegang.


Sebelum kedatangan Adijaya, mereka sudah menentukan rencana bila pemuda itu kembali. Karena mau tak mau kedok mereka pasti akan terbongkar.


"Jangan takut dengan nama besarnya, aku yakin dia tak akan sanggup bertahan jika diserang bersama-sama!" Si tabib yang nama aslinya Ki Tandaka.


Dan sekarang, ketika Adijaya sudah datang kembali, mereka seolah merasa ketakutan.


"Untuk apa kau kembali, anak muda? Bukankah kau sudah bebas jika hendak pergi?" tanya Ki Sobana.


"Ya, anggap saja kau benar, bukan pelaku pembunuhan warga kami!" timpal Ki Tandaka yang sebenarnya hanya omong kosong.


Adijaya dorongkan Suwirya ke depan hingga hampir menabrak Maruta kalau tidak segera menyeimbangkan diri.

__ADS_1


"Aku berubah pikiran!" jawab Adijaya. "Sebelumnya aku memang bukan pelaku pembunuhan komplotan kalian. Tapi sekarang aku akan menjadi pelaku sungguhan!"


Ekspresi mereka terlihat biasa saja ketika mendengar jawaban itu. Adijaya berpikir mereka pasti sudah punya rencana. Dia akan mengikuti permainan ini, bagaimana bentuknya.


"Apa rencanamu?" tanya Ki Tandaka.


"Aku sudah mengirim pesan ke Maharaja agar mengirim pasukan untuk meringkus kalian!"


Kali ini baru mereka terkejut. Kabar tentang kedekatan Adijaya dengan Maharaja Wisnuwarman memang santar terdengar. Entah sungguhan atau hanya kabar burung, tapi dari perkataan Adijaya tadi tampaknya rumor itu bukan bualan belaka.


"Baiklah, karena kau sudah masuk terlalu dalam. Maka kami tidak akan membiarkanmu lagi. Apa tindakan pihak kerajaan jika kau kami sandera?" Ki Tandaka memberi tanda.


Ki Sobana, Maruta, Suwirya dan sekitar dua puluh orang sudah mengepung Adijaya. Termasuk Ki Tandaka sendiri sudah siap.


"Jangan biarkan lolos, tangkap hidup-hidup!"


Kecuali Ki Tandaka, semuanya serentak menyerbu dengan serangan terpola. Pertama lima orang maju dengan senjata golok mengarah ke lima titik berbahaya.


Adijaya tidak berniat buru-buru menuntaskan permainan ini. Dia ingin bertahap. Lima serangan awal ini tentu saja mudah di elakkan dengan meloncat ke atas setinggi dua tombak sehingga serangan itu hanya mengenai tempat kosong.


Tapi di atas ternyata sudah datang serangan susulan dari enam orang lainnya. Salah satunya Maruta. Adijaya langsung sigap. Dia tidak menghindari serangan ini, tapi tubuhnya berputar seperti baling-baling.


Trak! Trak!


Tangan dan kaki Adijaya berhasil menyabet enam penyerangnya. Ada yang mengenai perut, dada dan pinggang. Enam orang ini terpental kembali.


Ketika tubuhnya hendak mendarat, dari bawah sudah menyambut serangan baru. Adijaya putar tubuh ganti posisi kepala di bawah. Dua tangan yang sudah terisi tenaga dalam memukul ke bawah.


Duarr!


Serangkum angin padat membuyarkan serangan, bahkan lima penyerangnya sampai terpental mundur. Kemudian Adijaya berhasil mendarat dengan kedua kaki.


Semua yang dituliskan itu tentu dituturkan dalam gerak lambat. Aslinya gerakan itu hanya beberapa kejap saja.


Ki Tandaka yang memperhatikan diam-diam kagum. Nama besar Pendekar Payung Terbang memang bukan cuma isapan jempol. Pendekar biasa yang menghadapi formasi serangan itu tidak akan selamat.

__ADS_1


Pola serangan berikutnya adalah secara bergantian. Dua orang pertama menyerang dari arah depan dan belakang, jika gagal maka segera mundur. Dua orang lainnya langsung mengirim serangan susulan dari arah lainnya.


Begitu seterusnya mereka melakukannya secara cepat tanpa memberi jeda dan celah lawan sekadar untuk menarik napas saja. Namun, bagi Adijaya ini adalah tantangan baru seberapa kuat dirinya disibukkan seperti ini, dan seberapa cepat gerakannya menerima beberapa serangan sekaligus?


__ADS_2