Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Rencana Padepokan Gunung Sindu


__ADS_3

Tubuh Gardika terbakar lalu meledak hancur berkeping tak berbentuk lagi. Asmarini sendiri terpekik melihat kematian yang mengerikan itu. Gadis ini melompat mundur menghindari serpihan tubuh Gardika yang menjadi bagian-bagian kecil.


Sedangkan si kumis tipis wajahnya semakin mengkelam dilanda ketakutan yang amat sangat. Badannya lemas tak bertenaga sehingga sosoknya jatuh terduduk. Semua anak buahnya yang terluka kini dapat berdiri. Namun, mereka tak memiliki kekuatan lagi.


"Kalian pergilah melapor kepada Mahaguru kalian, dan tunggulah kedatangan kami!" suruh Adijaya.


Dengan langkah gontai dan perasaan yang campur aduk, rombongan yang sebelumnya menamakan diri Laskar Lembah Kuning ini meninggalkan sepasang pendekar muda.


Adijaya memeluk mesra istrinya setelah berada di dekatnya. Kereta kuda berjalan dengan sendirinya. Mereka duduk di tempat kusir.


"Dinda semakin hebat," puji Adijaya sambil membelai rambut sang istri tercinta.


"Semua berkat Kakang juga." Asmarini sandarkan kepalanya ke bahu sang suami.


"Lawan kita akan semakin berat, kita tetap harus terus meningkatkan kekuatan,"


Di langit sang penerang jagat telah melewati puncaknya. Udara agak sedikit terik, tapi dua insan ini tetap merasa sejuk. Perjalanan mereka kini melewati jalan yang agak menanjak. Di depan mereka tampak sebuah bukit kecil


**


Sementara itu di alam lain, tempatnya mahluk guriang. Padmasari tampak duduk bersila sambil memejamkan kedua mata. Mulutnya komat-kamit merapalkan berbagai mantera.


Sedangkan Ki Santang dalam wujud aslinya yang berupa raksasa berkulit biru sedang melakukan sesuatu yang tampak aneh. Tubuhnya berputar-putar salto di udara, cukup cepat dan tidak berhenti sekalipun.


Ki Santang yang sering berwujud Payung Terbang sedang menambah kesaktiannya dengan cara seperti itu. Bukan hanya payung yang kuat sebagai pelindung atau cepat dalam terbang melayang, tapi akan menambah fungsi lain yang sedang dibutuhkan oleh majikannya.


Padmasari sedang menciptakan mantera agar keberadaan mereka di dekat Adijaya tidak dapat disirap atau dideteksi guriang atau siluman yang lain.


Begitulah dua guriang ini bahu membahu membantu sang majikan dengan suka rela. Karena Adijaya yang telah mengakhiri hukuman mereka dari raja guriang. Sudah sepantasnya mereka mengabdi.


Lain halnya dengan Rangrang Geni atau Gentasora. Rangrang Geni menggunakan alat bernama Buhul Penjerat untuk menangkap guriang dan menjadikannya budak. Setelah lepas dari jeratan buhul, mereka tak peduli lagi dengan nasib Rangrang Geni.


Gentasora juga harus melakukan tapa khusus agar bisa bertemu dan bekerja sama dengan guriang. Akibatnya dia harus menyanggupi perjanjian dan memenuhi permintaan mahluk itu.



...***...

__ADS_1


Di padepokan Gunung Sindu ada lima dedengkot yang menjadi murid langsung Mahaguru Gentasora. Semuanya berusia hampir tujuh puluh tahunan. Gentasora sendiri sebenarnya sudah berusia seratus dua puluh tahun.


Lima dedengkot itu adalah, Abilawa, Hanujara, Dadung Aksa, Komba dan Gardika. Kecuali Gardika, keempat lainnya sedang menghadap mahaguru di ruang pertemuan khusus petinggi padepokan.


"Gardika sedang menjalankan tugas, jadi hanya kalian yang kuundang ke sini," kata Gentasora memulai pembicaraan. Dia belum tahu kalau Gardika sudah tewas.


"Apakah Mahaguru hendak membicarakan rencana yang sempat tertunda?" tanya Komba. Disahuti yang lain dengan anggukan kepala.


Keempat dedengkot ini menampilkan wajah menyeramkan. Ini karena efek ilmu yang dipelajari. Hampir semuanya ilmu hitam dan itu ajaran mahaguru mereka. Bisa dibilang mereka adalah murid langsung mahaguru.


"Ya, dulu salah satu dedengkot Karang Bolong sempat kita kuasai. Kita hampir saja berhasil kalau tidak ada anak yang berjuluk Pendekar Payung Terbang itu," ungkap Mahaguru.


Mereka sudah tahu gambarannya tentang pemuda yang tidak lain adalah Adijaya itu.


"Berarti Mahaguru sudah mempunyai kekuatan yang menandingi dia?" tanya Abilawa.


"Tentu, dia memiliki guriang pendamping, maka aku juga sudah mempunyai mahluk dari alam lelembut itu!"


Keempat muridnya tampak tersenyum senang dan saling pandang. Tentu saja senang karena mereka juga akan mendapatkan bagian bila mahaguru mereka berhasil menjadi orang terkuat di bumi Tarumanagara.


"Mahluk guriang akan melawan mahluk guriang lagi, aku akan mengatasi anak itu. Aku yakin, tanpa pendampingnya dia bukan apa-apa,"


"Lantas tugas kami?" tanya Dadung Aksa.


"Kalian pimpin murid-murid menyerang Karang Bolong. Padepokan itu sudah keropos karena murid utama Manguntara telah tewas semua. Aku yakin kalian berlima jika bergabung akan mampu mengalahkan Manguntara!"


Kembali empat dedengkot ini angguk-angguk kepala. Dalam pikiran masing membayangkan Mahaguru Manguntara yang tidak mampu membendung serangan mereka. Empat orang ini sama-sama menyeringai licik.


"Dan kitab Hyang Sajati?" tanya Komba lagi.


"Tentu saja temukan dan ambil," sahut Gentasora. "Dengan kitab itu, aku bisa menandingi Eyang Batara. Kalian juga akan mempelajarinya setelah aku duluan yang menguasai!"


Terdengar tawa puas dari empat dedengkot ini. Mereke sudah menerawang ketika mereka sudah sangat sakti nantinya.


"Kapan mulai bergerak, Mahaguru?" tanya Dadung Aksa.


"Setelah Gardika kembali. Namun, dari sekarang juga kalian harus mempersiapkan segalanya!"

__ADS_1


"Siap, Mahaguru!" ujar mereka serentak.


***


Si kumis tipis baru sadar dari lamunannya ketika ternyata dia hanya berjalan sendirian. Kemana anak buahnya? Lalu dia membalik badan dan menelusuri jalan yang semula dia lalui dengan langkah yang cepat.


Ternyata setelah puluhan tombak akhirnya mereka ditemukan. Tampak mereka sedang berdebat, entah apa yang dipermasalahkan? Si kumis langsung menghampiri mereka.


"Ada apa ini, kenapa kalian berhenti si dini?"


"Ada yang tidak ingin kembali ke padepokan!" jawab salah seorang dengan wajah ketakutan.


"Siapa?"


Orang itu menunjuk kepada beberapa temannya yang tampak memisahkan diri.


"Aku sudah tidak memiliki ilmu apapun lagi, berarti aku hanya orang biasa dan bukan lagi murid padepokan Gunung Sindu," salah satunya memberikan alasan yang diiyakan beberapa temannya.


"Apa kau lupa peraturan padepokan?" hardik si kumis.


Seketika orang-orang itu mengkerut ketakutan. Tentu saja mereka tahu aturan padepokan. Barang siapa yang ingin keluar atau tidak menjadi murid lagi, maka harus meninggalkan nyawanya.


Namun, sebenarnya sama saja bagi mereka kalau kembali ke padepokan. Mereka akan menerima hukuman. Yang paling berat tentunya hukuman mati.


"Baik, rupanya kalian ingin cepat mati." Si kumis tarik senjata parangnya.


Crass! Crass! Crass!


Dalam sebentar saja dia sudah membantai orang-orang itu tanpa ampun. Mereka jelas tak bisa melawan karena tidak berdaya lagi. Orang-orang lainnya berusaha memalingkan wajah. Baru kali ini mereka merasakan kengerian dan ketakutan.


Jalan mereka serba salah. Kemanapun arahnya pasti menemui kematian. Diam-diam mereka menyesal menjadi murid Padepokan Gunung Sindu.


Termasuk si kumis tipis juga. Dia hanya berharap setelah melapor nanti, hukumannya diperingan. Bagaimanapun juga kematian Gardika harus segera diberitahukan.


"Apa kalian juga ingin cepat mam pus seperti mereka?" Si kumis beralih ke anak buah yang tersisa. "Mati sekarang akan lebih baik daripada nanti akan menerima siksaan terlebih dahulu!"


Orang-orang itu hanya diam menunduk.

__ADS_1


__ADS_2