
Di malam terakhir menjelang balebat. Biasanya udara sangat dingin. Kulit terasa beku. Seluruh bagaikan diselimuti salju. Tapi kali ini berbeda. Angin hangat berhembus masuk ke celah batu karang itu.
Si pemuda merasakan ada hawa mahluk lain di dekatnya. Semakin lama semakin tebal. Ibarat dari jauh semakin dekat. Bahkan kini dia merasakan ada satu mahluk yang berdiri di depannya.
"Kau sudah memanggilku, buka matamu!"
Suara lembut mengalun mendayu-dayu menyapa si pemuda yang secara perlahan menuruti perkataan lembut itu.
Tubuhnya sedikit tersentak begitu pandangannya membentuk satu sosok perempuan cantik rupawan yang menggambarkan wanita impian yang sedang diincarnya. Namun, dia tahu perempuan ini bukan manusia, karena sosoknya hanya berupa bayangan.
"Seperti ini, kan, wanita impianmu?" tanya perempuan bayangan itu.
Si pemuda hanya mengangguk tak bisa berkata apapun. Dia terkesima karena sosok di depannya benar-benar serupa pujaan hatinya.
"Tapamu sudah lulus, aku akan mengabulkan keinginanmu. Aku akan merasuk ke dalam wanita pujaanmu. Pulanglah, saat bertemu dengannya dia sudah jatuh hati padamu!"
Bayangan perempuan ini perlahan hilang. Suasana kembali sedingin di puncak gunung, tapi senyum kegembiraan tiada tara mengembang di bibir pemuda itu sehingga tidak terasa udara yang begitu menusuk tulang sampai ke sum-sum.
Si pemuda segera meloncat keluar dari celah batu karang itu. Dia berlari ke bibir pantai. Membasuh sebagian badannya.
"Nini Kewuk, aku akan segera kirim imbalan buatmu!" ucapnya lalu meninggalkan tempat itu dengan perasaan bahagia.
Dia tidak tahu kalau sejak keberangkatannya selalu ada yang membuntuti. Bahkan ketika dia bertapa juga tak pernah lepas dari pengawasan si penguntit.
Baru setelah jauh dari pantai, si penguntit mengejarnya lebih cepat. Di suatu jalan yang masih sepi karena hari baru lewat balebat, si penguntit berkelebat mendahului kemudian menghadang si pemuda.
"Anjasmara!" kejut si pemuda begitu melihat penghadangnya.
"Apa yang sudah kau lakukan, Parta Dinata?"
Pemuda yang ternyata salah satu anggota Dewan Kehormatan bernama Parta Dinata tampak salah tingkah. Gelagapan harus menjawab apa.
"Katakan!" desak Anjasmara.
"Ini... hanya urusan pribadi," jawab Parta Dinata dengan suara pelan dan menunduk.
"Urusan pribadi?"
"Benar, tidak berhubungan dengan dunia persilatan apalagi sampai membawa nama padepokan,"
"Kenapa pergi secara diam-diam?"
__ADS_1
"Karena sangat mendesak!"
"Sampai tiga hari?"
Parta Dinata terperanjat. Tatapannya penuh selidik walaupun kepada pimpinan sendiri. Benaknya penuh tanda tanya.
"Tidak salah, aku memang mengikutimu sejak awal!" Anjasmara menyeringai miring.
Parta Dinata menghela napas panjang. "Jadi kau tahu apa yang aku lakukan?"
"Tentu saja!"
"Benar, kan? Hanya urusan pribadi?
"Kamu gila, Parta!"
Mereka kini berjalan beriringan. Mentari pagi menyapa di ufuk timur. Angin segar menerpa setiap benda.
"Bukankah kau juga menaruh hati padanya?" balas Parta Dinata.
"Tapi aku tahu diri, tidak nekad sepertimu. Bahkan sekarang aku takut setelah tahu suaminya!"
Anjasmara tertawa merendahkan. "Dia yang dijuluki Pendekar Payung Terbang. Sebelum datang ke sini, dia telah melumpuhkan Gentasora, Mahaguru Gunung Sindu!"
Mendadak Parta Dinata hentikan langkah dengan wajah tak karuan. Beberapa saat lalu dia terlihat sumringah. Sekarang pikirannya mendadak ruwet. Sementara Anjasmara terus melangkah meninggalkannya.
Usahanya mengejar cinta sebentar lagi berhasil. Mahluk bayangan berwujud perempuan idamannya mengatakan begitu bertemu kelak, dia sudah jatuh hati padanya.
Demi cinta dia nekad menggunakan ilmu pelet untuk merebut wanita pujaannya dari suaminya. Dalam bayangannya, ketika Asmarini sudah berada dalam genggamannya, maka si suami akan tidak berdaya karena istrinya lebih memilihnya.
Dan akan merelakan demi kebahagian istrinya. Tapi... Setelah tahu bahwa si suami adalah pendekar besar yang sudah tersohor, apa mungkin sang pendekar akan melepas begitu saja?
Kenapa Anjasmara tidak memberitahunya dari awal? Sesalnya. Sekarang dia tidak mempunyai keberanian untuk pulang ke padepokan.
"Karena ini urusan pribadimu, maka aku tak akan ikut campur!" ujar Anjasmara mengejutkan karena tiba-tiba saja sudah berada di hadapannya lagi.
Parta Dinata tak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya dia masuk ke padepokan dengan cara menyelinap lewat jalan pintas.
***
Sore hari setelah kegiatan berlatih selesai, Mahaguru Manguntara mengumpulkan seluruh anggota Dewan Kehormatan di ruang pertemuan. Sudah sering mengadakan musyawarah seperti ini guna membahas tentang urusan padepokan.
__ADS_1
"Aku ingin menyampaikan suatu hal baru untuk kelangsungan padepokan kita ini," Mahaguru Manguntara memulai pembicaraan setelah semua anggota lengkap.
Tidak ada yang berani menjawab sebelum sang mahaguru melanjutkan. Suasana hening sejenak.
"Aku berencana untuk menerima murid perempuan!"
Sontak semua anggota Dewan Kehormatan terperanjat. Semuanya tidak pernah menyangka hal ini sebelumnya. Terdengar beberapa gumaman. Namun, Ki Manguntara malah tersenyum.
"Kami belum bisa berkomentar," ujar Anjasmara mewakili semua anggota. "Masih menunggu penjelasan Eyang!"
Mahaguru Manguntara menghela napas sejenak. "Baiklah, pertama calon murid perempuan mulai dari umur lima tahun sampai usia remaja. Bukankah ini baik? Suasana padepokan akan lebih hidup, betul?"
Seisi ruangan tampak bising. Namun, sepertinya satu suara. Setuju.
"Lalu siapa yang akan melatihnya, Eyang?"
"Aku sudah menghubungi beberapa pendekar wanita yang merupakan temanku. Dan kabar baiknya mereka bersedia,"
"Terus, bagaimana cara mencari atau mendatangkan murid perempuan?"
"Nah, ini yang kedua," jawab Ki Manguntara. "Diutamakan mereka yang sudah yatim piatu. Kabar baiknya lagi, teman-temanku itu masing-masing akan membawa beberapa murid. Selainnya, kalian bisa mencari ke kampung-kampung,"
Hening lagi. Rencana ini memang membuat hati mereka senang. Anjasmara teringat ucapan Asmarini bahwa dunia ini luas. Dengan hadirnya murid perempuan, maka akan banyak pilihan nantinya. Sepertinya sang mahaguru mengerti keadaan murid-muridnya.
"Selanjutnya kita akan membahas peraturan baru untuk hal ini," lanjut mahaguru. "Karena perkara perempuan itu sangat rumit!"
Ki Manguntara sebenarnya selalu memikirkan usulan Asmarini tentang murid perempuan. Hingga dia sempat merenungkan bagaimana baik dan buruknya. Dia juga sempat mendengar cerita tentang padepokan Linggapura dari si cantik mungil itu.
Selanjutnya mereka membuat aturan-aturan mengenai hal ini. Entah kenapa semuanya jadi sangat bersemangat. Adanya perempuan memang penyemangat.
***
Sejak dua hari yang lalu Adijaya sudah mulai mempelajari kitab Hyang Sajati di dalam ruang bawah tanah. Sementara Asmarini sedang menyendiri di dalam ruangan kereta kuda. Dia berharap suaminya akan cepat menguasainya.
Selama berlatih, Asmarini boleh mengunjungi sang suami untuk mengantarkan makanan setiap tiga hari sekali. Adijaya hanya meminta Ki Santang menemani dan menjaganya.
Sementara Padmasari ditugaskan untuk menjaga Asmarini walau si mungil itu sudah mempunyai pengabdi berupa kuda dari alam lelembut.
"Gusti Putri, harap berhati-hati, akan ada yang datang!" seru kuda betina yang merasakan suatu keanehan.
"Ada yang datang?" Asmarini kerutkan dahi.
__ADS_1