Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Racun Pelebur Jiwa


__ADS_3

Kereta kuda Adijaya sudah meninggalkan bukit Gajah Depa. Kini sedang melintasi sebuah jalan desa. Hari masih pagi, udara terasa sejuk dan langit tampak cerah.


Sepasang muda-mudi ini duduk berdampingan di tempat kusir.


"Kapan Kakang mencari Ganggasara?"


"Aku tidak tahu dia di mana,"


"Jadi bagaimana cara menemukannya?"


"Biasanya dia menjadi dalang suatu peristiwa,"


"Ilmunya pasti sangat tinggi,"


"Ya, dulu aku bertarung bukan dengan jurus. Tapi dengan hawa sakti,"


"Siapa yang kalah?"


"Dia kabur."


Percakapan mereka terhenti ketika melihat orang berbondong-bondong masuk ke sebuah rumah besar yang kebetulan terletak di pinggir jalan.


Rumah dengan halaman luas mengingatkan Adijaya kepada Darma Koswara. Sepertinya pemilik rumah ini juga orang kaya. Kereta kuda berhenti di pinggir jalan di depan pagar rumah besar itu.


Tanpa bertanya lagi, Asmarini turun dan ikut masuk ke dalam. Adijaya garuk-garuk kepala melihat tingkah gadis itu.


Dari keterangan yang didapat, pemilik rumah dan semua penghuninya tewas karena diracun. Mereka ditemukan tetangga yang hendak ada keperluan kepada juragan Brata Kusuma.


Brata Kusuma, istrinya -Kadarsih, anak laki-laki -Candra Kusuma dan Sekar Kusuma, anak perempuannya ditemukan terkapar di ruang makan dengan mulut berbusa. Tanda-tanda keracunan.


Semua pembantu di rumah itu juga tewas dengan tanda-tanda yang sama. Yang lebih menghebohkan, harta kekayaan milik keluarga saudagar itu raib.


Banyak yang beranggapan ada orang yang sengaja meracuni mereka, kemudian menggasak seluruh hartanya.


Keluarga Brata Kusuma dikenal baik di desa itu. Suka menolong dan tidak membeda-bedakan. Brata Kusuma seorang pedagang besar. Tapi ternyata ada saja yang iri dan dengki kepada mereka. Siapa orangnya yang begitu kejam membunuh keluarga itu semuanya tiada tersisa? Bahkan semua pembantunya juga.


Yang dilakukan Asmarini adalah menerobos masuk ke ruang dapur. Memeriksa barangkali masih ada sisa makanan yang dibubuhi racun itu.


Gadis ini tampak girang menemukan apa yang dicarinya. Dia memperhatikan dalam-dalam setiap makanan dijumpainya.


Asmarini banyak belajar mengenal racun dari gurunya. Jadi dia bisa membedakan makanan yang sudah dibubuhi racun. Melihat warnanya, bentuknya. Walaupun tidak kentara, tapi masih bisa dibedakan.


Yang lebih hebat, Asmarini bisa melihat hawa racun yang memancar dari makanan beracun itu. Orang yang bukan ahlinya tidak akan bisa melihatnya walau ilmunya cukup tinggi.


Gadis mungil ini kembali ke kereta setelah mendapatkan penemuannya. Ternyata Adijaya masih di tempatnya.

__ADS_1


"Kakang tidak ingin melihat?"


"Aku ingin tahu dari Dinda saja,"


Si gadis tersipu. Ia senang merasa dibutuhkan. Lalu dia menceritakan apa yang terjadi di rumah itu.


"... sepertinya mereka tewas semalam," tutup Asmarini.


"Apa yang Dinda lakukan?"


"Menemukan racun,"


"Oh, ternyata Dinda paham tentang racun?"


"Ya, mereka terkena racun Pelebur Jiwa!"


"Racun Pelebur Jiwa?"


Tidak disangka ternyata gadis pujaannya ini tahu seluk beluk racun. Pasti dari gurunya. Diam-diam Adijaya merasa bangga.


"Yang bisa meracik racun ini hanya Ki Candala. Kakang, aku tertarik ingin mengungkapkan siapa pelakunya. Maukah Kakang membantuku menyingkap misteri ini?"


Adijaya menatap lembut gadis mungil di sampingnya.


"Perjalanan ke Wanagiri cukup jauh, membutuhkan waktu yang lama. Sambil jalan sambil berpetualang. Membantu orang-orang yang membutuhkan. Menumpas kejahatan. Siapa tahu bisa menemukan musuh Kakang. Bagaimana?"


Si pemuda melempar senyum. Asmarini selalu mempesona di matanya. Rasa sayangnya semakin besar.


"Aku akan selalu berada di dekatmu, Dinda." Adijaya membelai rambut gadis itu.


Asmarini berkedip mesra. "Kita mulai dari Ki Candala,"


"Baik, Dinda tahu tempatnya?"


Si gadis mengangguk sebelum Adijaya menarik tali kekang. Kereta kuda melaju meninggalkan keramaian.


***


Ternyata tempat Ki Candala tidak jauh dari desa tadi. Hanya selama sepeminuman teh dengan laju kereta yang cepat, telah sampai di rumah seorang ahli racun.


Letak rumahnya juga tidak aneh, misalnya di tengah hutan atau di puncak bukit. Tapi berada di antara rumah-rumah penduduk lain. Rumahnya agak besar dan ada halaman luas di depannya.


Asmarini melompat turun. Belum sampai menginjak halaman, dua orang telah menghadangnya dengan senjata golok terhunus.


"Berhenti! Ngoloyong wae, mau apa kau?" hardik salah seorang yang memiliki kumis tebal.

__ADS_1


"Aku ada perlu dengan majikan kalian, minggir!" sentak Asmarini.


"Tunjukkan tanda undangan!" pinta yang satunya yang badannya agak kerempeng.


"Aku ada perlu mendadak, tidak usah pakai tanda segala!"


"Kalau begitu tidak bisa!"


"Kalau begitu aku memaksa!"


"Gelo sia! Gadis cilik!"


Si kerempeng sudah bergerak duluan memutar goloknya. Niatnya hanya menakut-nakuti agar Asmarini urungkan niatnya.


Siapa tahu si gadis malah melawan dengan jurus tangan kosong. Ia berani menyongsong serangan lawan.


"Euleuh boga kawani sia, bikang!" seru si kumis tebal seraya ikut menggempur Asmarini.


Pertukaran jurus segera terjadi. Gerakan si gadis meliuk lembut indah dan lincah bagai burung. Ini namanya jurus Tarian Japati.


Adijaya yang baru pertama kali melihatnya tampak kagum. Jiwa petualang si gadis memang besar. Asmarini merasa mendapat angin. Dibiarkan menyelesaikan masalah tanpa di minta. Jiwanya bukan seorang putri bangsawan. Tapi jiwa pendekar pengelana.


Meski menggunakan golok, dua penjaga rumah Ki Candala ini belum mampu menyentuh lawan. Awalnya hanya bermaksud menggertak saja. Karena sudah menjadi aturan kalau hendak bertemu Ki Candala harus menunjukan tanda undangan.


Tapi ternyata si gadis mungil yang lincah ini bersikukuh ingin masuk. Ia tidak segera menarik pedang warisan gurunya. Ia merasa bisa mengatasi kedua orang ini tidak sulit.


Setelah bertukar beberapa jurus, Asmarini bisa mengukur seberapa besar kekuatan lawan. Tapi ia tetap berlaku waspada. Nasihat gurunya, jangan menganggap enteng lawan walaupun tahu kekuatan atau kepandaiannya masih di bawah.


Jurus Tarian Japati yang diperagakan mempunyai tujuh tingkatan. Sejauh ini Asmarini sudah memainkan sampai tingkat ke empat. Ini karena dia tidak menggunakan senjata. Tapi dia masih merasa sanggup melawan.


Asmarini gadis mungil murid Nyai Gandalaras ingin mencoba pengalaman. Ini bukan pertarungan pertamanya, sebelumnya dia pernah menggebrak tiga lelaki hidung belang yang hendak mengganggunya.


Sementara dua lelaki penjaga rumah ini merasa kehabisan akal untuk melumpuhkan lawan. Terkadang senjata mereka suka bentrok sendiri karena kelepasan gerakan akibat kelincahan si gadis yang sering menipu.


Dalam keadaan seperti itu, dua penyerang Asmarini sering saling pandang. Seolah-olah bertanya, bagaimana lagi caranya menjatuhkan gadis itu.


Mereka tidak menyangka gadis semungil itu ternyata sangat lincah dan cepat gerakannya. Mereka hampir putus asa. Tapi rasa gengsi lebih menguasai. Masa menghadapi gadis muda saja keteteran?


Tapi beberapa saat kemudian karena kebuntuan pikiran dan suasana hati yang resah membuat mereka lengah.


Deg! Deg!


Mereka kaget ketika dua tendangan mendarat telak di dada masing-masing. Dua penjaga tersungkur.


Asmarini menggunakan kesempatan ini untuk berkelebat masuk ke rumah. Tapi ternyata seorang kakek telah berdiri di teras rumah menanti kedatangannya dengan bertolak pinggang.

__ADS_1


__ADS_2