Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Bangkit Dari Kubur


__ADS_3

Sampai di rumah Brata Kusuma hari sudah hampir senja. Keadaan juga sudah sepi. Tampaknya jasad keluarga Brata Kusuma dan para pembantunya sudah dikebumikan.


Kereta kuda ditempatkan di halaman sebuah kedai yang besar yang agak jauh dari rumah Brata Kusuma. Kedai ini belum tutup, masih agak ramai pengunjung.


Namun, sepasang kekasih ini tidak untuk makan di kedai. Mereka menuju tempat dimakamkan keluarga Brata Kusuma. Tempatnya ternyata di ujung halaman belakang rumah yang cukup luas.


Tampaknya penguburan itu baru selesai. Dilihat dari orang-orang desa yang bergerombol keluar meninggalkan wilayah rumah Brata Kusuma.


"Kita tidak perlu membongkar kuburan," bisik Adijaya. "Kita awasi nanti malam, karena tidak mungkin akan langsung sekarang. Pasti menunggu suasana sepi,"


"Benar!"


"Kita makan dulu, yuk!"


Adijaya menggaet tangan Asmarini. Membawanya kembali ke kedai. Ada rasa yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata ketika mereka berjalan sambil bergandengan tangan. Kalau sudah dimabuk cinta, dunia seakan milik berdua.


Sampai di kedai terlihat tinggal dua orang petani yang masih di sana. Sepasang pemuda ini mengambil tempat duduk lalu memesan makanan.


"Apa kedai ini sudah mau tutup?" tanya Adijaya kepada lelaki setengah baya pemilik kedai.


"Tidak, kedai kami buka sampai malam, walau di sebelah sana ada peristiwa pembunuhan. Kami tetap buka,"


Memang di beberapa tempat jika ada yang meninggal maka kedai atau warung yang letaknya dekat dengan yang meninggal akan tutup sebagai tanda ikut belasungkawa. Tapi entah kenapa kedai ini tidak peduli aturan adat?


Makan selesai ketika hari hampir sareupna. Adijaya dan Asmarini menjadi orang terakhir keluar dari kedai itu. Tak ada orang yang makan lagi akhirnya kedai itu tutup. Mungkin karena ada peristiwa pembunuhan itu kedai jadi tidak ramai.


Sementara Adijaya dan Asmarini sudah berada di dalam ruang utama kereta kuda yang besar itu. Sebelumnya mereka memesan makanan dan minuman untuk persediaan nanti malam.


"Ini," Adijaya menunjukan dua kitab yang ditemukan di bawah peti harta ayahnya.


"Apa itu?"


"Aku menemukan ini di bawah peti harta. Ini kitab tentang tenaga dalam dan sebuah ajian"


Adijaya memberikan kitab ajian Tapak Wangi kepada kekasihnya.


"Ajian Tapak Wangi," ucap Asmarini membaca tulisan di sampul kitab.


"Ya, sepertinya itu cocok buat Dinda. Yang wangi-wangi yang harum-harum,"


"Kakang juga harum sekarang mah,"


Adijaya tersenyum. "Aku juga tidak menyangka, tenaga dalam yang aku punya sekarang bisa memancarkan harum." Dia belum ingin menceritakan tentang Melati Tunjung Sampurna.


"Begitu rupanya," Asmarini mengerling. "Oh, ya. Ini Kakang kasih buat aku?"


"Ya, pelajari dan kuasai sampai sempurna. Dinda pasti bisa,"

__ADS_1


"Kakang baik sekali, terima kasih,"


"Aku akan mempelajari yang ini." Adijaya mengacungkan kitab yang satunya. "Nanti setelah selesai akan aku berikan buat Dinda juga,"


"Tidak usah repot-repot, Kakang." Si gadis mungil memegang tangan Adijaya.


"Aku ingin Dinda juga mengalami perkembangan yang bagus dalam hal tenaga dalam,"


Asmarini melempar senyum mesranya. Betapa bahagianya mempunyai calon suami yang perhatian.


"Oh, ya. Kapan kita bergerak?"


"Saat Harieum Beungeut,"


Asmarini membuka jendela mendongak ke langit. Masih terlihat jingga di langit barat. Ruangan di dalam kereta diterangi dua damar yang di letakan di sudut atas.


Keberadaan kereta kuda di sana agak mencolok. Beberapa orang desa yang melihat seperti penasaran. Adijaya yang mengerti keadaan menghampiri orang yang kebetulan lewat.


"Maaf, Ki Sanak. Kami sedang dalam perjalanan dan sedang istirahat menunggu besok pagi,"


"Apa tidak sebaiknya di halaman kelurahan saja?"


"Oh, iya. Terima kasih atas sarannya. Mungkin agak malam kami akan ke sana. Di mana letak balai kelurahan?"


Orang itu menjelaskan letak balai kelurahan sebelum pergi.


Suasana desa tampak sepi. Setelah orang tadi, tidak ada orang lagi yang kelihatan. Langit sudah gelap seluruhnya.


Asmarini keluar, berdiri di samping Adijaya. Memandang berkeliling. Suasana begitu sepi mencekam. Orang-orang desa seperti takut keluar rumah. Peristiwa kematian keluarga Brata Kusuma membuat semua orang merasa ngeri.


"Ayo, Kakang!"


Suara Asmarini berbarengan dengan sosoknya yang berkelebat ke atas wuwungan. Melompat dari satu atap ke atap lain. Ringan tanpa bersuara.


Adijaya menatap takjub. Saatnya dia juga mencoba ilmu meringankan tubuh tanpa memakai Payung Terbang. Lalu sekali menggenjot kecil sosoknya sudah mengejar Asmarini.


Di atas wuwungan paling belakang rumah Brata Kusuma, mereka duduk memperhatikan ke arah kuburan. Mereka kerahkan tenaga dalam untuk memperjelas penglihatan.


Sampai sepeminuman teh mereka belum melihat sesuatu yang mencurigakan. Beberapa saat kemudian, salah satu dari kuburan terlihat tanahnya bergerak-gerak.


Seperti ada dorongan dari bawah. Tanah kuburan itu semakin bergerak naik. Bagian atasnya menyeruak. Sedikit demi sedikit terbuka sebuah lubang.


Lalu muncul satu tangan dari dalam. Muncul lagi tangan satunya. Peristiwa ini seperti sesosok mayat yang bangkit dari kuburnya. Orang biasa yang melihatnya mungkin akan menyangka demikian.


Tapi justru hal ini yang sedang ditunggu-tunggu oleh sepasang muda-mudi ini.


Satu sosok tinggi besar keluar dari dalam kubur. Badannya hanya dibalut kain putih. Seorang laki-laki.

__ADS_1


Adat orang Sunda jaman dahulu, jika ada yang meninggal di darat maka jasadnya dikubur. Jika meninggalnya di air atau sungai maka jasadnya ditenggelamkan.


Sosok ini berlari cepat masuk ke dalam rumah. Sepasang manusia di atas atap segera mengikuti dari atas. Dengan mudah mereka menemukan ke mana orang yang bangkit dari kubur itu masuk.


Di dalam salah satu kamar, orang itu berganti pakaian. Asmarini sempat palingkan mukanya sampai orang itu selesai berpakaian.


Adijaya dan Asmarini kini sudah menutup wajahnya dari hidung ke bawah dengan secarik kain hitam. Lalu mereka berkelebat ke depan.


Ternyata di halaman depan telah berdiri seseorang. Sepertinya sedang menunggu orang yang di dalam.


Tak ingin kehilangan sasaran, dua anak muda ini segera melepas pukulan jarak jauh ke arah mereka begitu melihat mereka hendak lari.


Wushh!


Desss!


Dua orang di bawah tak menyangka akan ada serangan mendadak. Tubuh mereka terpental bergulingan. Terlihat sesuatu terjatuh dari badan orang yang bangkit dari kubur itu.


Ketika Asmarini dan Adijaya melompat turun hendak menangkap buruannya, tiba-tiba satu bayangan hampir tak kelihatan melesat membawa kabur mereka dengan mudah seperti menjinjing barang ringan saja.


Asmarini hendak mengejar.


"Sudah, Dinda. Tidak perlu!"


Gadis itu tampak kesal. Tapi segera hilang setelah Adijaya menunjukan sebuah gulungan kulit yang tadi jatuh dari orang buruannya.


"Apa itu?"


"Kita lihat di kereta saja!"


Kemudian mereka berkelebat kembali ke kereta. Langsung masuk ke dalam.


"Orang yang membawa kabur mereka sangat sakti!" dengkus Asmarini masih kesal.


Adijaya membuka gulungan kulit yang agak besar itu di lantai ruangan. Terpampang sebuah tulisan.


TANDA KEHORMATAN JASA


DIBERIKAN KEPADA CANDRA KUSUMA


DENGAN JABATAN SEBAGAI MENTRI MUDA


ATAS JASA SUMBANGSIHNYA


UNTUK KERAJAAN PURWA SEDANA


ATAS NAMA

__ADS_1


RAJA PURWA SEDANA.


Sepasang pemuda ini saling pandang.


__ADS_2