Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Misi Baru


__ADS_3

Parwati langsung menuju markas kakaknya berada. Dia diberi tahu Kantadalu letak markasnya sehingga tidak kesulitan saat mencarinya. Begitu sampai di sana, semua dibuat kaget karena Parwati membawa kepala Ki Somara.


Gadis itu langsung menceritakan kejadiannya. Siang itu juga kelompok Sudaliwa yang berjumlah dua puluh empat orang memasuki desa Rancawangi dengan menenteng kepala Ki Somara yang ditancapkan di sebatang tombak.


Beberapa penduduk yang tidak sengaja melihat mereka langsung memberitahu warga lain tentang kabar yang menggembirakan itu.


Para penduduk yang sedang dilanda ketakutan beberapa hari belakangan akhirnya muncul keberanian. Mereka berbondong-bondong mengikuti rombongan Sudaliwa sambil bersorak-sorai menyambut kebebasan.


Anak buah Ki Somara yang berkumpul di rumah Ki Wardana dam balai desa langsung menciut nyali ketika melihat kepala majikan mereka diacung-acungkan dengan tombak.


Yang sempat kabur segera melarikan diri, tapi banyak juga yang tertangkap anggota kelompok Sudaliwa. Kebanyakan mereka tidak diberi ampun. Mereka dibantai dengan sadis. Para warga sudah kadung benci kepada mereka. Jadi melampiaskan kemarahan mereka secara brutal.


Desa Rancawangi telah terbebas dari penjajahan Ki Somara. Jabatan lurah telah dikembalikan kepada Ki Wardana. Harta-harta yang telah dirampas juga dikembalikan. Sebagian warga yang sempat menyalahkan Ki Wardana tampak menyesal setelah mengetahui perjuangan Sudaliwa dan kawan-kawannya.


Hanya nasib Utari yang masih dibilang menyedihkan. Fisiknya memang sudah pulih. Tapi mentalnya agak menurun. Masih tampak depresi. Sering murung dan menyendiri. Namun, sang ibu dengan sabar merawat putrinya itu.


Beberapa hari kemudian Parwati dinikahkan dengan Kantadalu. Karena kondisi Ki Wardana yang sudah sakit-sakitan, dia mengundurkan diri jadi lurah. Dia menyerahkan kepada warga untuk memilih lurah yang baru.


Tadinya banyak yang menyarankan Sudaliwa menggantikan ayahnya. Tapi dengan halus dia menolak dengan alasan dia belum berkeluarga. Menjadi pemimpin rumah tangga saja belum, jadi dia merasa tidak pantas memimpin yang lebih luas cakupannya.


Pilihan akhirnya jatuh Ke Kantadalu, suami Parwati. Setelah diyakinkan oleh kakak iparnya, Kantadalu akhirnya menerima jabatan itu.


Di sebuah rumah sederhana yang baru dibangun. Di ruang depan. Adijaya, Asmarini dan kedua orang tua si gadis sedang bercengkrama.


"Ayah, sudah yakin dengan keputusan ayah?" tanya Asmarini ketika ayahnya, Ragadenta memutuskan untuk jadi warga desa Rancawangi.


Rumah tempat tinggal sudah dibangun, tapi Asmarini masih mempertanyakan keputusannya. Sedangkan sang ayah bingung harus tinggal di mana setelah Ki Somara tewas.


"Aku ingin memulai hidup baru sebagai manusia biasa. Aku sudah melupakan kehidupanku yang dulu. Aku sudah benar-benat memetik pelajaran dari kesalahanku yang dulu," Pada kata-kata terakhir ini Ragadenta memandang Adijaya dengan rasa menyesal.


"Ayah tidak perlu terus merasa bersalah," sahut Adijaya. "Aku sangat menyayangi Dinda Asmarini, aku tidak pernah dendam sedikitpun,"


Begitulah akhirnya Ragadenta bisa merasa tenang setelah sekian lama terlunta-lunta dihantui rasa bersalah dan menyesal. Mereka akan mengabdi untuk desa Rancawangi, tapi mereka menutup masa lalu bahwa Ragadenta bekas patih Wanagiri.


Beberapa hari Asmarini bersama suami tinggal di sana. Terutama si gadis yang masih ingin melepas kerinduan kepada orang tuanya. Ragadenta juga tidak keberatan kalau putrinya ingin melanjutkan petualangan bersama sang suami.

__ADS_1


Adijaya juga sudah memberikan mereka perhiasan dan keping emas cukup banyak untuk biaya hidup dan membuka usaha.


"Nanti kalau sudah punya momongan, kalian harus menetap tinggal. Jangan berkelana lagi."


Begitulah pesan sang ibu sebelum sepasang suami istri yang masih berjiwa muda ini kembali memacu kereta kuda. Meninggalkan desa Rancawangi.


...***...


Seorang wanita berumur tiga puluh tahun lebih tampak memacu kuda tunggangannya yang berwana coklat di sebuah jalanan yang cukup lebar. Wanita ini seperti sedang dikejar-kejar, atau mungkin sebaliknya. Sedang mengejar sesuatu.


Beberapa orang yang sedang berjalan kaki segera ke pinggir sambil memaki-maki karena takut tertabrak.


"Bikang gelo!"


"Jurig!"


"Kudanya kesurupan, tuh!"


Setelah berada di jalan sepi, lari kudanya melambat. Mulut kuda itu tampak mengangah dan mengucurkan air liurnya. Rupanya binatang ini kelelahan. Dia belum istirahat sama sekali.


Air jernih mengalir di atas parit. Si kuda langsung menceburkan mulutnya ke dalam air. Hewan ini benar-benar kehausan. Wanita ini duduk di pinggir parit, membiarkan kudanya memakan rumput yang tumbuh di sekitar parit.


Wanita ini juga menenangkan napasnya. Niatnya yang ingin cepat-cepat mencari seseorang terganggu karena hal ini. Raut wajahnya menunjukan kekhawatiran yang dalam. Apa yang dia khawatirkan? Siapa yang dia cari?


Namun, wajah khawatir itu berubah menjadi cerah dan senyum kecil mengembang di bibirnya. Ketika pandangannya tertuju pada sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda yang melaju pelan dari arah berlawanan.


Wanita ini langsung berdiri menghadang kereta kuda yang ternyata sedang dicari-carinya. Dia yakin inilah yang dicarinya karena ciri-cirinya sesuai dengan keterangan yang dia peroleh.


"Maaf, apakah Ki Sanak yang bernama Adijaya?" tanya wanita ini.


"Bibi mencari suamiku?" Asmarini balik tanya.


Wanita ini mengangguk kuat. "Aku Sundari ingin meminta bantuan pendekar Adijaya,"


Sepasang suami istri ini saling pandang. Lalu mereka menepikan keretanya. Mengajak Sundari menjelaskan maksudnya di ruang dalam.

__ADS_1


"Ceritakan apa masalah Bibi," pinta Adijaya. Dari kerut keningnya wanita ini memang sedang membutuhkan bantuan.


"Majikanku yang bernama Nyai Mandita, hilang,"


Nyai Mandita adalah wanita yang sudah berumur empat puluhan tapi masih perawan. Dia seorang keturunan bangsawan. Kekayaannya melimpah di mana-mana tapi hanya dia yang tahu di mana hartanya di simpan.


Banyak orang yang mengincarnya, karena Nyai Mandita sudah sebatang kara. Wanita itu tidak tinggal menetap, melainkan berpindah-pindah. Sudah pasti karena dirinya selalu terancam.


Banyak juga laki-laki yang mendekatinya secara baik-baik. Berusaha memikat hatinya, tapi tetap saja ujung-ujungnya mengincar hartanya.


Sundari adalah pembantunya yang selalu mengikuti kemana Nyai Mandita pergi. Tapi beberapa hari yang lalu dia mendapati kamar majikannya kosong. Setelah dicari-cari tak menemukan juga.


Akhirnya Sundari menemui sahabatnya untuk dimintai bantuan. Namun, sahabatnya malah menyarankan agar dia mencari Adijaya saja.


"Siapa sahabat Bibi?" tanya Asmarini.


"Raden Cakra Diwangsa,"


Adijaya dan Asmarini angguk-angguk kepala. Pantas saja. Cakra Diwangsa seperti menganggapnya serba bisa. Tapi ini suatu tantangan. Bukan melulu memecahkan kasus yang berhubungan dengan persilatan saja. Yang ini juga perlu dicoba.


"Bibi ingin aku menemukan Nyai Mandita?" tanya Adijaya.


"Iya, Pendekar,"


"Jangan sungkan-sungkan, panggil saja namaku, Adijaya!"


"Baik, Adijaya,"


"Kapan dan di mana Nyai Mandita hilang?" tanya Asmarini.


"Di sebuah penginapan empat hari yang lalu,"


"Kalau begitu kita akan menyelidiki mulai dari sana," kata Adijaya. "Mudah-mudahan Nyai Mandita belum jauh dari sekitar tempat itu."


Akhirnya Sundari berkuda di depan sebagai penunjuk jalan. Laju kereta kuda juga mengikuti kecepatan kuda tunggangan Sundari yang agak kencang.

__ADS_1


__ADS_2