Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Pembunuhan Di Asrama


__ADS_3

Pagi hari ketika semua murid terbangun dan hendak menuju tempat pemandian yang berupa pancuran yang berderet panjang di wilayah belakang padepokan yang masih seperti hutan kecil.


Di salah satu asrama murid laki-laki terjadi kegegeran. Pasalnya salah seorang murid bernama Susena di temukan sudah tak bernyawa di tempat tidurnya. Hal yang menarik perhatian adalah sebuah pedang menancap tepat di jantung dan tidak mengeluarkan darah.


Sebuah teknik membunuh lawan yang diajarkan padepokan ini. Membunuh tanpa meneteskan darah.


Semua murid yang tinggal di asrama ini tahu, pedang siapa yang telah mengambil nyawa Susena. Karena setiap murid--walau ratusan jumlahnya-- memiliki ciri senjata masing-masing.


Tentu saja yang menjadi tersangka adalah si pemilik pedang itu. Purana namanya, tinggal satu asrama dengan Susena. Dua orang anggota Dewan Kehormatan langsung menangkap Purana.


"Aku difitnah!" tolak Purana dengan wajah panik dan kebingungan juga ketakutan seolah-olah baru saja melihat hal yang mengerikan, bahkan terlihat gemetaran.


"Tapi pedangmu adalah buktinya!"


"Kalau aku pelakunya kenapa harus meninggalkan jejak?" bantah Purana lagi.


Seketika semua orang membenarkan ucapan Purana. Dan menyimpulkan bahwa mungkin pelaku sebenarnya mencuri senjata Purana digunakan untuk membunuh Susena, lalu sengaja ditinggalkan agar tuduhan jatuh ke Purana.


"Tetap saja, untuk penyelidikan lebih lanjut kamu harus ditangkap!"


"Tapi...!"


Salah satu anggota Dewan Kehormatan keburu menotok Purana hingga badannya tak bisa bergerak, lalu menggiring dengan paksa keluar asrama. Pedang milik Purana juga dibawa sebagai bukti.


Kemudian jasad Susena segera dikebumikan dengan layak. Kebetulan dia sudah sebatang kara, jadi tidak tahu hendak dipulangkan kemana.


Purana dimasukkan ke ruang kurungan tempat murid-murid yang melanggar aturan atau melalukan kesalahan lainnya. Sementara seluruh penghuni asrama tempat terjadinya pembunuhan diperiksa satu persatu.


Peristiwa itu sampai juga ke telinga Adijaya. Kasus ini mengingatkan pada kejadian Pedang Ular Hitam milik Puspasari. Mungkinkah pernyataan Purana benar bahwa dia difitnah seperti halnya Puspasari?


"Tidak ada satupun murid satu asrama yang mempunyai masalah dengan Susena," terang Asmarini, menjelaskan kembali hasil penyelidikan Dewan Kehormatan ketika memeriksa semua murid di asrama tersebut.


"Atau tidak mau mengakui," duga Adijaya.


"Bisa jadi!" sahut sang istri. "Untuk menyembunyikan jejak, tapi jadi sangat sulit mencari pelakunya,"


"Masih sulit dilacak. Sekarang kita ke tempat Parta Dinata dikurung, aku ingin mencoba mengobatinya."


Sepasang suami istri yang sebentar lagi memiliki momongan ini meninggalkan kereta kuda yang sudah bagaikan rumah itu menuju bangunan tempat dikurungnya murid-murid bermasalah.

__ADS_1


Sampai di sana, di depan pintunya ada dua anggota Dewan Kehormatan yang kebagian tugas jaga. Mereka langsung menjura dan mempertanyakan maksud kedatangannya.


"Aku ingin melihat Parta Dinata," jawab Adijaya.


Dua orang ini agak heran. Mereka pikir Adijaya akan melakukan kekerasan kepada Parta Dinata atas perbuatannya.


"Aku hendak mencoba mengobatinya," lanjut Adijaya setelah melihat tatapan keraguan dua penjaga itu.


"Silakan!"


Mereka pun membawa masuk Adijaya dan istrinya. Ada banyak ruangan kecil berderet di kiri dan kanan. Ruang kurungan untuk hukuman murid bermasalah. Bisa juga untuk menunggu hukuman.


Sampai di ruang tempat mengurung Parta Dinata, mereka berhenti. Lalu menunjukkan ruangannya.


"Itu dia!"


"Terima kasih!"


Terlihat Parta Dinata diikat pada sisi dinding belakang dengan lilitan rotan yang kuat. Kepala pemuda itu tertunduk, tapi mulutnya terdengar meracau walau pelan. Dari racauannya ini, nama Asmarini sering disebut-sebut.


Kondisinya cukup memprihatinkan. Keadaannya juga sudah tidak karuan. Rambut kusut dan acak-acakan. Pakaian kotor dan tidak rapi.


Adijaya merapalkan mantera yang diajarkan Padmasari. Tiba-tiba Parta Dinata meronta-ronta, tapi tidak mengeluarkan suara. Hanya sedikit erangan kecil. Tubuhnya menggeliat-geliat.


Dua penjaga merasakan bergidik melihat hal itu. Prasangka mereka muncul lagi. Benarkah Adijaya sedang menyembuhkan kawannya yang tidak waras itu?


Beberapa saat kemudian Parta Dinata tidak lagi meronta-ronta. Napasnya terengah-engah seperti habis berlari kencang. Lalu dia mengangkat wajahnya dan kaget.


"Kenapa, kenapa aku berada di sini?" kejutnya melihat keadaan diri sendiri yang terikat kuat. Dia mencoba melepaskan ikatan itu, tapi sia-sia karena tenaganya lemah.


"Buka saja, dan lepaskan!" perintah Adijaya.


Dua penjaga menurut. Salah satunya membukakan pintu kurungan.


"Parta, kamu sudah sadar?" teriak penjaga satunya.


"Apa yang terjadi, kenapa aku diikat dan dikurung di sini?"


"Tenang, sebaiknya kau memulihkan diri dulu!" Penjaga yang membukakan pintu tadi kini melepaskan tali-tali yang mengikat tubuh Parta Dinata, lalu membawanya keluar.

__ADS_1


Begitu di luar melihat Adijaya dan Asmarini berdiri, Parta Dinata langsung bersujud sambil menangis.


"Ampun, Tuan, ampuni saya...!" ratapnya berulang-ulang.


Adijaya segera menariknya agar berdiri. "Sudahlah, tidak perlu dipikirkan. Kau pulihkan dirimu saja!"


"Terima kasih, Tuan, Nona!"


Dibantu dua penjaga, Parta Dinata melangkah keluar dengan hati lega. Kekaguman juga terpancar di wajah dua penjaga. Melihat sifat Adijaya yang memaafkan malah menolong orang yang sempat mencelakai istrinya.


"Jadi sebenarnya bisa disembuhkan, kenapa Bibi membiarkannya jadi gila?" protes Asmarini kepada Padmasari, kendati tidak kelihatan, tapi dia tahu pasti ada dan mendengar ucapannya.


"Dia harus menerima hukumannya dulu," kilah Padmasari.


"Sampai kapan?"


"Sampai Juragan Besar yang membebaskannya."


Asmarini tidak menjawab lagi. Memang segala perbuatan yang merugikan orang lain harus ada hukumannya agar menjadi jera dan tidak mengulang kembali.


Sepasang suami istri kembali ke rumah kecilnya yang berupa kereta kuda itu. Rumah yang bisa berjalan ke mana-mana.


Tiga hari kemudian pembunuhan terjadi lagi. Seperti biasa, di pagi hari korban ditemukan sebelum balebat. Kali ini di asrama yang berbeda. Dan masih di asrama laki-laki.


Anehnya, senjata yang digunakan adalah pedang milik Purana lagi. Dengan teknik yang sama, yaitu membunuh dengan menusuk dada tepat menembus jantung dan tidak mengeluarkan darah.


"Purana masih dikurung, dan senjatanya disimpan di ruang khusus penyelidikan Dewan Kehormatan," Asmarini memberikan keterangan yang didapat setelah penyelidikan yang sama dilakukan.


"Berarti pelakunya dari anggota Dewan Kehormatan," duga Adijaya. "Karena hanya anggota saja yang bisa masuk ke ruang khusus itu,"


"Apakah orang yang sama?"


"Bisa jadi, tapi entahlah. Apa tujuannya memfitnah Purana, sedangkan semua orang tahu Purana sudah dikurung. Tak mungkin bisa keluar, kan?"


"Benar juga, apa Kakang akan melibatkan diri?"


"Sepertinya menarik!"


Peristiwa ini terjadi setelah ada murid-murid perempuan. Apakah ada hubungannya?

__ADS_1


Bisa saja Adijaya meminta informasi dari Ki Santang atau Padmasari, tapi itulah Adijaya. Tidak mau melibatkan dua guriang pengabdinya selagi dia masih bisa melakukannya sendiri.


__ADS_2