
Dalam beberapa malam sebelumnya, baik ketika Adijaya sendirian atau ditemani Puspasari. Ketika masih di sekitar bukit Bedul atau dalam perjalanan pulang pergi ke gunung Sembung, Adijaya telah menciptakan beberapa ajian.
Seperti ketika dia mengamuk tak bisa menahan emosi karena kehilangan Asmarini, dia mengeluarkan ajian 'Bantai Jagat'. Ajian ini hampir mencelakakan Puspasari.
Ajian Bantai Jagat akan digunakan ketika dia diserang oleh orang banyak. Dia menargetkan lima puluh orang di sekelilingnya akan terpental jauh. Untung saja waktu itu dia tidak mengerahkan tenaga banyak, sehingga Puspasari bisa diselamatkan.
Kemudian dia juga menciptakan ajian untuk menyedot lawan. Menyedot badannya kemudian setelah menempel ke telapak tangannya, seluruh tenaga dalam lawan akan tersedot. Namanya ajian 'Serap Sukma'.
Menciptakan kedua ajian itu tidaklah gampang. Walaupun kekuatan Melati Tunjung Sampurna telah mengisi penuh di dalam tubuhnya. Mengolahnya menjadi sebuah ajian itulah yang prosesnya cukup sulit.
Sedangkan untuk menghadapi lawan dalam pertarungan adu jurus, Adijaya akan menggunakan kemampuan yang seperti dulu ketika baru mendapatkan kekuatan dari lumut ungu. (Baca episode 8 : Terjebak Dalam Goa).
Yaitu kemampuan untuk memahami dan menguasai jurus lawan dalam waktu sebentar saja. Kemudian dia akan menyerang balik lawan dengan jurus milik lawannya sendiri.
Kemampuan ini dia dapatkan kembali setelah menelan bunga melati biru. Kali ini dia memberi nama jurus 'Membalik Langit'.
Adijaya kini dalam perjalanan menuju gunung Indrakilla. Kitab Jagat Pamungkas milik Nini Bedul ada di lereng sebelah barat gunung itu. Gunung yang menjadi lambang kerajaan Indraprahasta.
Konon katanya resi Sentanu yang memberi nama gunung itu. Resi Sentanu dan rombongannya adalah pengungsi dari India, karena di negeri itu sedang terjadi peperangan.
Dia meminta suaka kepada raja Salakanagara (kerajaan besar sebelum Tarumanagara) yang masih ada pertalian darah dengannya. Kemudian sang raja memberinya sebuah wilayah yang masih hutan.
Wilayah yang berada di lereng gunung sebelah timur. Gunungnya diberi nama Indrakilla. Resi Sentanu membuka hutan itu menjadi pedukuhan. Lama-lama semakin besar dan ramai. Akhirnya menjadi kerajaan yang bernama Indraprahasta.
Tentu saja Indraprahasta statusnya masih bawahan Salakanagara. Ketika Salakanagara telah pudar pengaruhnya, berdirilah penguasa yang baru yaitu Tarumanagara. Indraprahara menjadi bawahannya sampai sekarang.
Kembali ke Adijaya, kini dia telah membuat warangka untuk pedang Guntur. Sebenarnya dia merasa risih menenteng pedang ke mana-mana. Tapi dia tidak bisa menyimpan pedang itu seperti Payung Terbangnya.
Sampai suatu hari, dua orang menghadangnya karena dapat mencium pedang pusaka itu. Dua orang lelaki, yang satu pendek gemuk berkepala botak. Dan yang satunya tinggi kurus.
"Hei, lihat pedang yang dia bawa!" seru si tinggi kurus.
"Apa itu, Destawana?" tanya Si Hulu Wesi yang pendek botak.
"Itu adalah pusaka Pedang Guntur," tunjuk Destawana, si tinggi kurus yang bergelar Tangkurak Merah sesuai dengan bentuk badannya juga wajahnya yang seperti tengkorak.
"Anak muda, melihat usiamu yang masih muda, kau tidak akan mampu bertahan di dunia persilatan yang keras ini. Sebaiknya kau di rumah saja menjadi petani, dan..." Madrawi melirik sejenak ke temannya.
__ADS_1
"Serahkan pedang itu, kau tak pantas menggunakannya," Destawana menjulurkan tangannya yang panjang meminta Pedang Guntur.
Adijaya menghela nafas sejenak. Diacungkan pedang pusakanya.
"Kalian benar, kalian sudah berpengalaman merasakan pahit manisnya dunia persilatan tentunya bisa menakar kemampuan seseorang. Terima kasih atas belas kasihan kalian yang telah peduli kepadaku,"
Jreb!
Pedang Guntur menancap di tanah bersama warangkanya hampir setengahnya.
"Aku serahkan pedang itu untuk kalian, aku akan menjadi petani sesuai saran kalian," kata Adijaya lagi tapi dia masih tetap berdiri di tempatnya.
Si kurus dan si gemuk saling pandang heran. Kenapa begitu mudahnya pemuda itu menuruti perkataan mereka. Mereka melihat kini Adijaya mundur menjauhi pedang yang tertancap.
Si Hulu Wesi maju. Dengan yakin dia pegang gagang pedang lalu mencabutnya. Tapi apa yang terjadi? Dia tak mampu mencabut Pedang Guntur bahkan sekedar menggerakkan pun susah padahal sudah keluar tenaga besar.
"Kenapa kau, Madrawi?"
Madrawi geleng-geleng, dia lepaskan pegangannya. Dua orang ini sama-sama memandang Adijaya.
"Biar kucoba!" ujar Tangkurak Merah.
Tangkurak Merah terkejut, dia bisa mencabut pedang dari warangkanya. Dia tersenyum lebar, tapi senyum itu tampak menakutkan.
"Sepertinya pedang ini jodohku, Hulu Wesi!"
"Wah, kau beruntung Tangkurak Merah!"
Dua lelaki hampir tua ini menatap Adijaya yang menunjukan raut muka datar saja.
"Sekarang kita apakan pemuda itu?" tanya Destawana si Tangkurak Merah.
"Habisi saja, tak berguna ini!"
"Kenapa?" seru Adijaya. "Bukankah pedang sudah kau dapatkan dan aku akan menuruti saran kalian menjadi petani?"
Si gemuk dan si kurus tertawa terbahak-bahak keras sampai menggetarkan seantero tempat. Namun Adijaya bergeming.
__ADS_1
"Kami tidak bodoh seperti kau bocah ingusan, tentu saja kau tak akan kami biarkan hidup begitu saja, ha...ha...ha...!" seru Tangkurak Merah seraya mengayunkan pedang hendak menerjang ke arah Adijaya.
Tapi apa yang terjadi dia malah menyerang ke arah temannya. Hampir saja si botak tertebas lehernya.
"Apa-apaan kau ini!" sentak Si Hulu Wesi.
Tangkurak Merah terkejut sejenak tapi kemudian kembali dia menyerang Si Hulu Wesi.
Wutt!
"Jurig edan, sia!" maki si botak terpaksa dia keluarkan jurus-jurusnya untuk menghadapi kawan sendiri.
"Aku tidak tahu, Madrawi, pedang ini bergerak sendiri dan aku tak bisa mengendalikannya!" teriak Destawana sambil terus membabatkan pedang memburu sasaran.
Gerakan Destawana alias Tangkurak Merah ini membentuk sebuah jurus tapi bukan jurus yang dia miliki.
Adijaya juga tampak terkejut melihatnya. Padahal dia hanya memberikan 'kehendak' kepada Destawana. Tapi pedang itu sepertinya mengamuk. Dia ingat ketika di gunung Sembung juga begitu.
Serangan Tangkurak Merah semakin ganas dan Si Hulu Wesi makin kewalahan, badannya sudah bermandikan keringat.
"Lepaskan saja pedangnya!" teriak Madrawi marah.
"Tidak bisa! Tanganku lengket!"
"Sialan! Jurig edan!"
Mau tak mau Si Hulu Wesi harus mengeluarkan ilmu andalannya. Dia salurkan seluruh kekuatan berpusat di kepala hingga kepala botak itu tampak bercahaya hitam. Dengan ilmu Hulu Wesi membuat kepalanya menjadi sekeras besi.
Kemudian Si Hulu Wesi melompat, meluncur menjulurkan kepalanya menumbuk Destawana alias Tangkurak Merah.
Pada saat itu tentu saja tak bisa ditahan lagi tangan panjang si kurus ini membabatkan Pedang Guntur menyambut luncuran kepala botak.
Trang!
Prakk!
Destawana terkejut dan langsung bergidik ngeri. Wajahnya yang mengerikan tambah seram. Dia melihat kepala botak milik temannya terbelah oleh Pedang Guntur. Seketika Si Hulu Wesi ambruk langsung tewas.
__ADS_1
Si tinggi kurus tampak panik memandangi tangannya yang masih memegang pedang. Walaupun tidak menggenggam tapi pedang itu menempel di telapak tangannya.
Si Tangkurak Merah ini tampak ketakutan. Tak pernah dia merasa ngeri seperti ini.