Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Hari Bahagia


__ADS_3

Pagi hari. Sekar Kusuma terburu-buru dalam melakukan pekerjaannya. Dia merasa terlambat karena bangun kesiangan. Kini dia sedang tergesa-gesa berpakaian.


Setelah selesai dia langsung keluar hendak menuju ke lapangan latihan. Tapi dia mendapati murid-murid tidak ada di sana. Lalu dia melihat orang berduyun-duyun ke balai pertemuan.


Sampai di sana tempat itu sudah penuh bahkan sampai ke luar ruangan.


"Ada apa ini?" tanya Sekar Kusuma pada salah satu murid wanita


"Memangnya tidak tahu, ya. Inikan acara pernikahan Asmarini dan Adijaya!"


"Apa!" Sekar Kusuma terkejut bukan main. Pekikannya membuat orang-orang didekatnya menatap heran ke arahnya.


Bagaimana bisa, padahal semalam dia telah membunuhnya? Lalu, sejak kapan Adijaya datang? Aneh, apa yang dibunuhnya bukan Asmarini? Lantas kenapa padepokan tidak geger seandainya ada yang menemukan mayatnya?


Keanehan ini membuat Sekar Kusuma menjadi pusing kepala. Sebenarnya siapa yang dia bunuh semalam?


Asmarini memang tidak terbunuh. Yang terbunuh itu hanyalah bayangan tipuan yang dibuat Padmasari. Guriang wanita ini memberitahukan Adijaya bahwa calon istrinya dalam bahaya.


Ketika itu Adijaya bersama Ki Brajaseti dan Cakra Diwangsa baru datang. Mereka langsung menemui Komara dan Arya Sentana. Padmasari melapor saat mereka masih berbasa-basi.


Adijaya pamit keluar setelah mendapat laporan. Di tempat yang aman dia Ngaraga Sukma. Sukmanya langsung berkelebat menuju ke tempat Asmarini berada.


Ketika Asmarini tidak sadarkan diri karena hembusan angin. Sebenarnya dia masih sadar. Dia melihat sukma Adijaya datang.


"Jangan keluar, Dinda!"


Asmarini langsung merasa tenang ketika kekasihnya datang. Dia ingin meluapkan kegembiraan. Namun, situasinya sedang menegangkan.


Sukma Adijaya menunjuk ke depan. Tiba-tiba muncul sosok yang mirip Asmarini. Selanjutnya terjadilah pembunuhan seperti yang diceritakan sebelumnya.


Setelah si pembunuh pergi, baru sukma Adijaya mengajak Asmarini keluar. Gadis ini melihat sosok palsunya tiba-tiba lenyap begitu saja. Sukma Adijaya membawa Asmarini ke tempat raganya berada.


Sampai di sana Asmarini baru tahu kalau Adijaya sedang Ngaraga Sukma. Dia menyaksikan Sukma Adijaya perlahan masuk ke dalam raganya.


Keesokan harinya agak siang mereka melangsungkan ritual pernikahan yang dipenghului oleh Ki Brajaseti.


Sekar Kusuma yang tidak mengerti keadaannya memilih kembali ke biliknya karena kepalanya terasa pusing.


Setelah ritual selesai, diadakan pesta yang cukup meriah yang hanya dinikmati murid-murid padepokan. Karena tentu saja tidak sempat menyebarkan undangan ke padepokan lain.


Termasuk Cakra Diwangsa dia ingin mengundang Prabu Satyaguna bahkan Maharaja Wisnuwarman. Tapi tidak sempat karena kedua mempelai sangat ingin buru-buru.

__ADS_1


Hal yang tak diduga sebelumnya. Ternyata selain Adijaya dan Asmarini ternyata ada pasangan lain yang merupakan murid laki-laki dan perempuan juga ingin dinikahkan. Mumpung ada penghulu, begitulah katanya. Dan bukan hanya satu pasangan saja, ternyata ada empat pasangan yang melangsungkan pernikahan.


Pesta semakin meriah karena yang berbahagia bukan hanya sepasang tapi lima. Murid-murid lelaki melakukan atraksi memperagakan jurus-jurus yang mereka kuasai. Sedangkan murid perempuan ada yang menyuguhkan tarian yang indah.


Semua bergembira karena makanan dan minuman juga berlimpah walau agak terlambat karena acara dadakan.


"Kapan aku nikah, ya? Murid-murid perempuan tidak ada yang melirikku!"


"Perbaiki penampilanmu, jangan kucel begitu!"


"Nah, kamu juga kapan, berani bilang begitu padaku?"


"Aku, kan lagi mendekati Sekar Kusuma!"


"Huh, mimpi!"


Di obrolan lain. Percakapan murid perempuan.


"Adijaya pantas mendapatkan gadis itu, serasi!"


"Iya, setelah dikhianati Kinasih dia mendapatkan yang jauh lebih cantik,"


"Mungkin dia tidak memikirkan hal ini, karena sebentar lagi dia punya momongan,"


"Oh, iya, inikan sudah bulannya!"


Kinasih juga tidak ikut menikmati pesta itu. Dia terbaring di rumahnya. Perutnya sudah terasa mulas-mulas. Dia sudah menyuruh suaminya mencari paraji.


Soma melaporkan keadaan istrinya kepada murid ahli pengobatan sebelum dia keluar padepokan untuk menemui paraji alias dukun beranak di desa terdekat.


Sementara di bilik Sekar Kusuma. Gadis ini sedang tersedu-sedu dalam tangisannya. Dia tidak peduli seandainya ada orang yang melihatnya menangis.


Dia merasa dunia ini tidak adil. Kenapa penderitaan selalu menghampirinya? Setelah kehilangan keluarga dan juga gurunya, sekarang cintanya terhalangi.


Walaupun tahu dia terlambat mengenal Adijaya, dan juga belum tentu lelaki itu menaruh hati untuknya. Rasanya dia ingin pergi saja dari padepokan ini. Tapi kemana?


Dia belum begitu tahu luasnya dunia. Kepandaiannya juga belum seberapa. Karena di luar sana pasti ada banyak pendekar yang lebih hebat darinya.


Bagaimana kalau dia jatuh ke tangan pendekar berwatak jahat?


Tapi kalau tinggal di sini...?

__ADS_1


Beberapa saat berlalu. Baginya waktu seolah berjalan lambat. Seolah sengaja ingin menyakitinya lebih lama. Sehingga sesuatu terbersit dalam pikirannya.


Sekar Kusuma ambil pedangnya. Lalu bergegas keluar menuju tempat pesta berlangsung. Dia melewati orang-orang yang sedang asyik menikmati pesta.


Sebagian lain tampak heran melihatnya karena dia membawa senjata.


"Dia kenapa?"


"Sejak adu tanding kemarin, sikapnya aneh!"


"Ah, dia memang angkuh!"


Sekar Kusuma tidak peduli omongan orang terhadapnya. Dia terus melangkah maju mendekati pelaminan. Kedua matanya menatap tajam ke arah pengantin.


Ketika jaraknya sekitar lima tombak lagi menuju sasaran. Sekar Kusuma angkat pedang. Seketika orang-orang menjadi panik dan menjauh. Acara hiburan juga mendadak berhenti.


Tanpa peduli keadaan, dengan kekuatan penuh Sekar Kusuma menjejakkan dua kaki ke tanah. Tubuhnya meluncur cepat dengan pedang terhunus mengarah ke Asmarini.


Dalam keadaan biasa gerakan ini tak bisa dihindari. Asmarini tampak panik, dia langsung memeluk dan menyembunyikan wajah ke bahu suaminya.


Bukk!


Asmarini segera menoleh ketika mendengar suara jatuh. Ternyata sosok Sekar Kusuma terjatuh sebelum mencapai dirinya. Gadis itu tampak kaku tak bisa menggerakkan badannya. Sudah pasti ini kerjaannya Adijaya.


Beberapa murid wanita bergerak hendak memberi pelajaran. Tapi tangan Adijaya keburu melambai. Cakra Diwangsa melesat ke sana, dengan gerakan cepat dia memondong Sekar Kusuma pergi ke tempat aman.


Acara pun dilanjutkan setelah Adijaya menyatakan baik-baik saja. Tidak perlu dipermasalahkan. Dia sudah merencanakan dengan Ki Brajaseti, bila Sekar Kusuma masih bersikap tidak menyenangkan, maka Ki Brajaseti siap menampungnya.


Kakek ini akan menjadikan gadis itu muridnya. Selain itu, siapa tahu berjodoh dengan Cakra Diwangsa.


Hari itu, walau ada sedikit gangguan, selain lima pasangan meresmikan jalinan kasihnya menuju sehidup semati. Juga bergembira atas kelahiran putra Kinasih.


Murid wanita lain yang sudah mengandung jadi tidak sabar ingin segera melahirkan. Termasuk Praba Arum meski usia kandungannya masih muda.


Setelah larut malam, pesta pun usai. Semua kembali ke tempat masing-masing. Seperti biasa Adijaya dan Asmarini melewatkan malam di dalam kereta kuda yang sudah seperti rumah.


Kali ini Adijaya tidak lagi merasa takut atau ragu karena Asmarini telah sah jadi istrinya.


"Dukung aku agar menjadi suami terus membahagiakanmu!"


"Bimbing aku agar menjadi istri yang baik!"

__ADS_1


__ADS_2