Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Pengangkatan Pemimpin Baru


__ADS_3

Tentu saja Arya Sentana takut akan masuk perangkap lagi, mengingat banyak keanehan menimpa selama perjalanan mereka.


"Ini jalan pintas menuju padepokan," ujar Adijaya.


Arya Sentana masih ragu begitu juga istrinya. Sementara Asmarini dan Sekar Kusuma jelas pasrah saja terserah pemuda itu.


Kembali Arya Sentana ingat kejadian semalam saat mengunjungi kedai jadi-jadian. Dia tahu pasti Adijaya mendapat bantuan dari mahluk guriang wujud asli Payung Terbang.


Kali ini pemuda itu menunjukan jalan pintas. Kemungkinan bantuan dari guriang itu lagi. Akhirnya dia menghilangkan keraguannya.


"Baiklah!"


Arya Sentana melangkah mendahului memasuki jalan itu. Yang lain pun mengikuti dari belakang. Alangkah terkejutnya sepasang suami istri itu ketika sampai di ujung jalan. Mereka melihat gapura gerbang padepokan Linggapura.


"Ajaib!" ujar Arya Sentana.


"Sepanjang jalan kita memang selalu menjumpai hal-hal ajaib," timpal Praba Arum.


Sementara Asmarini dan Sekar Kusuma tidak merasa terkejut karena belum pernah ke sini sebelumnya. Juga Adijaya karena semua ini atas bantuan Padmasari dan Ki Santang.


Beberapa murid yang sedang berjaga segera menyambut mereka. Salah seorang berlari ke dalam untuk melapor. Sampai di balai pertemuan, Komara menyambutnya dengan senang hati.


Selain berhasil kembali membawa Praba Arum, juga kedatangannya bersama Adijaya membuat murid ke dua Ki Ranggasura ini lebih senang. Komara merasa sangat berterima kasih karena dulu Adijayalah yang telah menyelamatkannya saat raganya dirasuki siluman.


Adijaya memperkenalkan Asmarini sebagai calon istrinya. Sedangkan Sekar Kusuma diperkenalkan oleh Praba Arum sebagai murid baru padepokan. Setelah berbasa-basi sebentar mereka kembali ke tempat masing-masing.


Sekar Kusuma dibawa ke tempat murid-murid perempuan. Karena sebagian ada yang sudah menikah dan membangun rumah baru bersama suaminya, jadi masih ada banyak bilik yang tidak ditempati. Sekar Kusuma menempati salah satunya.


Tak lupa dia juga diberikan beberapa pakaian ganti. Dengan demikian Sekar Kusuma menjadi murid satu-satunya yang masih gadis.


Sedangkan Adijaya dan Asmarini sudah disediakan tempat khusus. Walaupun nantinya Asmarini diberi tempat terpisah lagi karena mereka belum boleh bersama.


Satu hal yang mengejutkan Adijaya. Ternyata kereta kuda beserta hartanya telah ada di padepokan. Menurut Komara, ada utusan dari kerajaan Wanagiri mengantarkan kereta kudanya. Adijaya sempat berpikir ini pasti pekerjaan Cakra Diwangsa.


Setelah beberapa saat istirahat sambil bersantap. Adijaya ingin mengunjungi kuburan Ki Ranggasura. Ditemani Asmarini dan Komara sebagai penunjuk jalan, mereka menuju lereng atas di mana tempat dimakamkan Ki Ranggasura.

__ADS_1


Sampai di sana Adijaya hanya duduk bersimpuh dengan wajah sedih. Dia ingat ketika hampir semua murid padepokan memusuhinya, justru Ki Ranggasura sang guru besar selalu baik padanya.


Adijaya mengenang saat-saat bersama si kakek, walaupun tidak pernah diajarkan satu jurus pun. Karena waktu itu dia tidak ingin jadi pendekar. Setelah beberapa lama hanyut dalam renungan, baru dia bangkit lalu kembali.


Setelah lewat tengah hari mereka berkumpul lagi di balai pertemuan. Tidak hanya mereka tapi beberapa murid andalan dan juga empat pelatih diikutsertakan dalam pertemuan.


Dengan alasan yang sangat penting, Adijaya meminta untuk berbicara pertama. Dia menjelaskan tentang akan ada serangan dari kelompok yang menamakan diri Laskar Rangrang Geni.


"Semua ini karena pimpinan mereka menaruh dendam yang amat dalam kepada saya, jadi mereka ingin membalaskan kepada siapa saja yang ada hubungan dengan saya. Dan saya akan bertanggung jawab sepenuhnya atas masalah ini,"


Semua tak ada yang bersuara selama beberapa saat, sampai Komara memecahkan kesunyian.


"Tentunya kami tidak akan tinggal diam begitu saja, kami siap melawan. Adijaya sudah menjadi bagian dari padepokan ini. Apalagi aku, sangat berhutang budi padanya,"


Adijaya tampak tersipu mendengarnya, dia tidak tahu harus berkata apa.


"Betul, masalah ini tidak perlu dikhawatirkan berlebihan. Padepokan kita sudah memiliki murid-murid handal dan berpengalaman," Arya Sentana menimpali.


"Sekarang, karena sudah berkumpul semua dengan lengkap. Maka pembicaraan mengenai pimpinan padepokan bisa diputuskan," ujar Praba Arum.


Semua orang mengira Praba Arum akan menyarankan suaminya untuk jadi pemimpin karena gaya bicaranya yang antusias sekali.


"Silakan!" kata Komara.


"Menurut saya karena Paman guru Arya adalah murid pertama Kakek guru, maka beliau layak memimpin,"


Terdengar berbagai gumaman dari yang lainnya lalu berhenti ketika Arya Sentana mengangkat tangannya.


"Soal kepemimpinan bukan ditentukan dari siapa yang lebih dulu menjadi murid, tapi dari sifat dan sikap yang dalam hal ini mengerti dan mampu menjadi pemimpin," jelas Arya Sentana.


"Betul, Kanda Arya sering berada di luar padepokan. Jadi dia kurang tahu persis yang ada di dalam padepokan," timpal Praba Arum membuat semua jadi heran.


"Dalam hal ini Rayi Komara lebih mengerti dan layak untuk memimpin. Aku harap Rayi bersedia memegang jabatan ini," pinta Arya Sentana kemudian yang mencengangkan banyak orang di sana.


Sedangkan Komara tampak terdiam seperti sedang menyusun kata-kata. Beberapa murid juga ada yang setuju dengan usulan ini. Memang benar, keadaan di dalam padepokan, Komara lebih tahu.

__ADS_1


Keempat pelatih juga akhirnya sepakat mendukung Komara. Sehingga hampir semua yang hadir menyetujuinya.


"Baiklah!" Akhirnya Komara angkat bicara. "Jika aku dipercaya, aku akan terima amanat ini dan akan berusaha sebaik mungkin memimpin padepokan ini. Hanya saja..."


Komara berhenti sejenak, menarik napas, memandang semua yang hadir lalu melanjutkan.


"Hanya saja tentunya aku tidak bisa bekerja sendirian. Aku mengaku masih kurang pengalaman, jadi aku membutuhkan bantuan kalian semua. Kita bekerja bersama memajukan padepokan. Jangan sungkan memberikan teguran atau peringatan, jika aku melenceng dari jalan kebenaran."


Akhirnya pertemuan ini menemukan kata sepakat tanpa mengalami kendala. Komara dinobatkan sebagai pemimpin baru menggantikan Ki Ranggasura. Semua setuju dan dengan sukarela mendukung pemimpin barunya.


Mengingat tentang bahaya yang sedang mengancam padepokan, maka tidak diadakan acara resmi pengangkatan pemimpin baru. Pelantikan hanya diadakan secara sederhana dan memenuhi syarat saja.


...***...


Suatu sore di belakang padepokan yang agak jauh dari bangunan-bangunan yang berdiri di sana. Tampak Adijaya sedang berduaan dengan Asmarini.


Dari kekasihnya ini, Asmarini sudah banyak tahu tentang padepokan Linggapura. Sebenarnya gadis ini takut jika Adijaya akan terkenang lagi wanita masa lalunya yang tinggal di sini.


Namun, dari sikapnya sepertinya Adijaya sudah melupakannya. Sebagai wanita, Asmarini tetap cemburu. Tapi selama kekasihnya itu tidak terlihat aneh, dia menahan cemburunya.


"Siapa yang akan menjadi penghulu kita, Dinda?"


Asmarini terkejut mendengar pertanyaan ini. Apa mungkin Adijaya ingin segera menikahinya?


"Sudah pasti Paman Arya atau Paman Komara,"


"Apa mereka sudah pantas menjadi penghulu? Mereka belum bisa dibilang sesepuh!"


"Terus siapa?"


Adijaya berpikir. Tangannya menggenggam erat tangan mungil si gadis, bagaikan tidak ingin terlepas lagi.


"Ah!" Adijaya naikkan alisnya sambil tersenyum.


"Kakang ingat seseorang?"

__ADS_1


"Ya, Ki Brajaseti!"


Adijaya merangkul si gadis ketika agak jauh di depan sana terlihat seseorang berjalan pelan sambil memegang perutnya yang buncit. Seorang wanita yang kebetulan melihat ke arah mereka.


__ADS_2