Pendekar Payung Terbang

Pendekar Payung Terbang
Perubahan Ketentuan


__ADS_3

Tangan Sekar Kusuma yang menggenggam pedang tampak bergetar. Sepasang matanya menatap tajam ke arah kakaknya yang tewas dengan leher hampir putus. Hatinya berguncang, napasnya ngos-ngosan seperti habis berlari.


Antara percaya dan tidak, dia bisa melakukannya dengan mudah. Membunuh kakaknya sendiri. Ada rasa puas tapi ngeri juga.


Sekarang dia ingin segera meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba saja kesiur angin menghembus kuat dari arah belakang. Dengan sigap si gadis membalik badan sambil menebas.


Trang!


Dua pedang beradu. Sekar Kusuma sempat tersurut, tapi langsung menerjang ke depan. Sekali gerak lima tusukan mengancam lawannya. Dia harus menyingkirkan lawannya dulu supaya bisa kabur.


Tetapi yang dilawan gadis itu bukan sembarang orang. Semua serangannya berhasil dihindari. Gerakannya tampak lebih gesit dan kuat. Hawa membunuhnya juga terasa memancar pekat.


Jelas lawan Sekar Kusuma adalah Suta Wingit, senapati terpilih kerajaan baru itu. Pertarungan sudah terjadi di halaman. Namun, Suta Wingit juga dibuat kagum dengan jurus pedang si gadis.


Pedangnya panjang, tapi bilahnya kecil dan kelihatannya sangat ringan. Cocok dengan kelenturan tubuh si gadis saat bergerak meliuk memperagakan jurusnya.


Semua orang yang ada di kediaman sudah berhambur keluar karena mendengar suara ribut-ribut.


Ki Bandawa dan Asmarini sudah berdiri di depan pintu. Walaupun gelap, tapi mereka sudah tahu kalau gadis yang menghadapi Suta Wingit adalah Sekar Kusuma. Mereka pernah melihatnya di sebuah kedai bersama seorang kakek-kakek yang kemungkinan gurunya.


Yang mereka lihat sang senapati sedang menghadapi penyusup. Seorang gadis yang anehnya secara terang-terangan memperlihatkan wajahnya.


"Melapor, Gusti!" Seorang prajurit menjura di depan Patih Munding Wirya.


Sang Patih hanya mendongakkan kepala.


"Gusti Mentri Muda, tewas!"


"Pelakunya dia?" tunjuk sang Patih ke arah Sekar Kusuma.


"Betul, Gusti!"


"Urus mayatnya!"


"Sendika, Gusti!" Si prajurit bergegas pergi mengumpulkan temannya.


Ki Bandawa dan Asmarini melihat jasad Candra Kusuma yang bersimbah darah digotong beberapa pajurit.


"Apa Candra Kusuma tidak melawan?" tanya Asmarini pelan. Raut mukanya menunjukan rasa heran.


"Mungkin tidak sempat, karena kaget adiknya masih hidup,"


"Atau mungkin tidak punya ilmu bela diri!"


Kembali ke pertarungan. Sekar Kusuma tampak gigih membela dirinya dari serangan-serangan senapati Suta Wingit. Setelah bertukar jurus beberapa kali, dia tahu kepandaian senapati lebih unggul.

__ADS_1


Si gadis putri Brata Kusuma ini hanya ingin selamat saja. Tugasnya sudah selesai. Membunuh Candra Kusuma. Membalas dendam orang tuanya.


Lain lagi bagi Suta Wingit. Gadis itu adalah penyusup yang telah membunuh pejabat kerajaan. Jadi harus diringkus. Tidak ingin nama baik dirinya sebagai senapati terkesan buruk.


Lebih-lebih lagi nama baik kerajaan Purwa Sedana yang ibaratnya bagai telur yang baru menetas.


Tenaga Sekar Kusuma sudah mulai berkurang. Gerakannya tak selincah semula. Walaupun lawan belum bisa mencederainya, tapi dia sudah terdesak.


Trang!


Benturan senjata membuat tenaganya semakin terkuras. Yang dilakukan sekarang hanya menangkis dan menangkis. Justru ini malah semakin membuatnya terpepet dan gerakannya terasa berat walaupun pedangnya sangat ringan.


Trang!


Tangkisan terakhir membuat badannya terlempar ke belakang karena tenaga lawan bagai sepuluh kali lipat dari kekuatannya. Genggaman tangannya tak kuat lagi menahan getaran akibat beradunya senjata sehingga pedangnya terlepas dan jatuh.


Bruk!


Sekar Kusuma terjatuh. Seluruh badannya terasa remuk. Napasnya sesak. Pandangannya buyar. Samar-samar dia melihat senapati Suta Wingit menodongkan pedangnya.


"Tangkap dia!" perintah Suta Wingit.


Dua orang prajurit segara berlari menghampiri. Tapi belum juga keduanya menyentuh Sekar Kusuma tiba-tiba tubuh mereka terhempas bagai diterpa badai.


Wussh!


Bruk!


"Cari dan kejar!" teriak Suta Wingit.


Belasan prajurit segera melakukan perintah. Kemudian Patih Munding Wirya meminta semua tamu dan pejabat yang ada berkumpul di ruang penghadapan di kediamannya.


"Saya mohon maaf atas kejadian ini," ucap sang Patih. "Purwa Sedana baru menetas tapi sudah mendapat terpaan yang tak pernah diduga sebelumnya,"


"Itu wajar, Gusti!" sahut salah seorang saudagar.


"Tapi saya kira, sepertinya itu hanya persoalan pribadi antara Mentri Muda dan gadis penyusup itu," ujar salah seorang pendekar.


"Mungkin memang seperti itu," sahut sang Patih. "Namun, tetap saja kejadiannya di tempat ini. Mau tak mau, nama kerajaan juga ikut terseret,"


Yang lain tampak angguk-angguk kepala kecuali Ki Bandawa dan Asmarini. Kata-kata Patih barusan menyiratkan bahwa tempat ini bukan hanya sekedar kediaman pribadi. Bisa jadi inilah istana kerajaan Purwa Sedana.


Hanya saja disamarkan sebagai kediaman pribadi. Tujuannya agar tidak ada pihak yang curiga. Bukankah kerajaan ini belum menyatakan berdiri secara resmi?


"Untuk itu, aku memutuskan mengubah kententuan untuk para pendekar. Barang siapa yang mampu menangkap penyusup beserta orang yang membawa lari itu, dia yang akan menjadi pengawal pribadi raja,"

__ADS_1


Semuanya terdiam. Terpikirkan dalam kepala masing-masing, sosok yang membawa kabur Sekar Kusuma gerakannya sangat cepat dan tenaga dalamnya juga besar. Pasti bukan orang sembarangan.


Jadi jelas saja ini urusannya para pendekar. Makanya sang Patih langsung mengubah ketentuan untuk mendapatkan kedudukan.


"Silakan untuk para pendekar, sayembara ini bisa dimulai dari sekarang." pungkas sang Patih.


***


Di tempat Adijaya dan Asmarini setelah mereka kembali dari kediaman Patih.


"Kakang tidak ikut sayembara?"


Ki Bandawa menarik wajah dengan kening mengkerut. Asmarini tersenyum menggoda.


"Buat apa?"


"Tentu saja biar mendapatkan kedudukan sebagai pengawal raja. Itu tujuan utama kita, kan? Mengetahui siapa yang menjadi raja. Atau jangan-jangan Munding Wirya sendiri rajanya, untuk sementara dia mengaku Patih dulu,"


"Aku yakin ada orang lain di balik Munding Wirya. Mereka ini hanya wayang, pasti ada dalang!"


"Setuju dengan pendapat Kakang!"


"Kenapa tidak Dinda saja?" balik tanya Adijaya.


Asmarini tidak segera menjawab. Dia menatap penuh makna. Katanya "Memangnya Kakang tidak ingin bertemu Sekar Kusuma?"


Adijaya terperanjat. Sementara Asmarini terus senyum menggoda. Ki Bandawa alias Adijaya menghembuskan napas panjang sambil mengelus-elus jengot palsunya.


"Dindaaa... Dinda. Cintaku ini hanya untuk Dinda seorang!"


Asmarini tertawa kecil lalu menghambur ke dalam pelukan Adijaya tua.


"Kalau sudah ngantuk, Dinda tidur saja,"


"Kakang mau kemana?" rengek Asmarini manja.


Adijaya dekatkan wajahnya, berusaha menyelami bola mata si gadis yang hitam. Asmarini menahan napas. Ternyata lelaki itu hanya mencium keningnya.


"Aku mau berlatih seperti biasa, aku ingin memanfaatkan setiap waktu yang ada."


Si gadis membalas ciumannya. "Baiklah, semoga berhasil."


Asmarini lalu naik ke tempat tidur. Adijaya memilih tempat di ruang depan. Sebelumnya mereka mematikan damar. Kemudian Adijaya duduk bersila.


Pemuda ini sudah menghapal isi kitab tentang tenaga dalam peninggalan ayahnya. Di siang hari selagi ada kesempatan dia membaca isi kitab itu.

__ADS_1


Kini dia akan mencobanya. Lalu mulai semedi, memusatkan pikiran. Memejamkan mata dan menarik napas dengan teratur.


***


__ADS_2