Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 101 - Hasil Diskusi Tiga Pria


__ADS_3

\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


[[[ Slmat thn baru 2022 kakak kakak semuanya.. ]]]


[[[ Btw, enggak terasa udah sampe bab 100 aja nih kita yah kak? Juga ternyata udah 1 tahun kita di sini.. Udah lama bgt ternyata.. 😂 ]]]


[[[ Oke lah enggak usah banyak umpruk / berbuih. Langsung aja MARKIJUUUT.. 😗😗 ]]]


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


"HENTIKAN!"


Lina bergegas keluar dan meraih kuncup bunga kecil yang terbakar dan dengan cepat memadamkan api yang menyala di tubuh si bunga kecil.


Di permukaan kelopak kuncup bunganya, kini telah menghitam karena terbakar. Bunga kecil itu pun menangis.


"Sakiiit! Ibuuu!"


Melihat hal itu, hati Lina juga seperti ikut menangis, kemudian dengan lembut membelai-mbelai si bunga kecil, sambil bersuara dengan lembut untuk menghiburnya, "Cup cup cup.. Jangan menangis.. Sudah.. Sudah.. Nah Gitu..."


Saat ini Leon memperhatikan pemandangan itu dengan dingin dan berkata sambil tersenyum, "Bukankah kamu ingin menjauh dariku? Di tubuh makhluk ini sudah mengalir darahku dan darahmu. Selama dia masih hidup, itu artinya kamu dan aku masih terikat sebagai orang tuanya. Akan lebih baik jika aku langsung membakarnya hingga hangus, dan kamu juga akan benar-benar bebas."


Lina menjadi sangat marah.


"Entah itu merupakan hal yang baik atau buruk jika dia memanggilmu ayah. Tapi kenapa kamu bisa begitu kejam?"'


Wajah Leon segera berubah seolah mengejek.


"Kalau bicara soal kekejaman, siapa yang bisa dibandingkan denganmu?" Setelah mengatakan ini, Leon pun segera pergi.


Sedangkan Lina membawa pulang si kuncup bunga kecil. Dia meletakkannya di baskom, lalu menggigit jarinya dan memberikan setetes darahnya ke dalam air.


Kuncup bunga kecil yang sebelumnya sudah terlihat layu, segera menjadi jauh lebih energik.


Kemudian kuncup bunga kecil mengusap jari-jari Lina.


"Ibuu."


Lina balas menyentuh si bunga kecil.


"Kamu istirahatlah yang baik, tidurlah supaya rasa sakitnya segera hilang.."


Di tengah malam, saat Lina sudah tertidur lelap. Uriel, Wiro dan Saga, ketiga Orc tersebut bersembunyi di ruang bawah tanah untuk pertemuan kecil mereka.


Di ruang bawah tanah yang sangat gelap seperti ini, seorang manusia pasti tidak akan dapat melihat jari-jari mereka sendiri.


Tapi berbeda dengan mereka bertiga yang kesemuanya adalah Orc. Mereka dapat melihat dengan jelas bahkan dalam kegelapan.


Saat ini Uriel mulai membuka pembicaraan, "Kita harus menggali Urat Bijih yang ada di bawah Gunung Batu."


Wiro tidak mengerti dengan perkataan Uriel.


"Bukankah kemarin aku sudah mengatakan kalau kita tidak usah menggali?"


Uriel berkata, "Aku ingin menggali Urat Bijih untuk Lina. Aku juga tidak tahu kenapa dia menginginkannya. Maka dari itu kita harus menggali Urat Bijih untuknya." Setelah jeda sesaat, Uriel melanjutkan, "Meskipun Lina tidak mengatakan apa-apa, tapi aku bisa melihat kalau dia sebetulnya ingin membuka Gunung untuk menambang. Tapi karena dia tidak ingin menimbulkan masalah bagi semua Orc yang ada di sini, Lina selalu menahan dirinya."


Mendengar apa yang Uriel katakan, Wiro segera bertepuk tangan satu kali, kemudian berkata dengan mantap tanpa perlu berpikir panjang, "Jadikan!"

__ADS_1


Betina kecilnya sangatlah imut, Wiro juga tidak ingin membuat betina kecilnya merasa teraniaya!


Saga kemudian bertanya, "Jika Gunungnya jadi kita gali, lalu di mana kita akan tinggal?"


"Semua kebun sayuran dan buah-buahan kita ada di sini. Lebih baik tetap tinggal di sini dan tidak pindah kemana-mana," kata Uriel.


Wiro mengerutkan keningnya dan bertanya, "Tapi jika kita benar-benar akan menambang, apakah tidak berbahaya jika tetap tinggal di Gunung?"


“Itu semua tergantung dari ukuran uratnya. Kalau uratnya kecil, kita bisa langsung mengosongkan semua Bijihnya lalu membangun rumah di atas pondasi aslinya. Tapi kalau uratnya besar, resiko runtuhnya pasti sangat tinggi, itu artinya kita memang harus pindah dan mencari tempat tinggal yang baru." Uriel berhenti berkata untuk sesaat, kemudian dia bertanya, "Ada yang ingin aku tanyakan. Jika nanti kita mulai menggali, kita pasti tidak bisa menyembunyikannya dari klan Bulu yang ada di puncak Gunung Batu. Haruskah kita memberitahukan kepada mereka terlebih dahulu?"


Saga, "....."


Saga hanya bisa terdiam. Ular juga ditakdirkan untuk selalu berurusan dengan hewan Berbulu, Saga adalah salah satunya.


Wiro berpikir sejenak, setelah itu berkata, "Aku akan berbicara dengan pemimpin klan Bulu."


Uriel bertanya, "Apa kamu yakin kamu dapat membujuknya?"


Wiro mengingat penampilan Sky Letta yang marah saat negosiasi terakhirnya. Dia menyentuh hidungnya dan dengan tenang berkata, "Seharusnya sih berhasil."


Mungkin caranya adalah dengan pertarungan. Siapa pun yang menang pasti akan di dengarkan oleh yang lain.


Tiga Orc laki-laki tersebut melanjutkan berdiskusi tentang menambang dan membangun rumah.


...........


Saat baru bangun di pagi hari, Lina tidak melihat satupun keluarga laki-lakinya berada di rumah.


Saat Lina melihat sup di panci yang masih hangat, dia pun segera menyesap sup tersebut hingga kenyang. Setelah itu dia mencuci bersih mangkuk dan sekaligus panci bekas supnya.


Begitu kuncup bunga kecil melihat Lina datang mendekatinya, bunga kecil itu pun segera menjerat Lina dengan tangan kecilnya.


"Ibuu.."


Kemudian Lina menyentuh kelopak bunganya dan berkata, "Mulai sekarang, kamu akan tinggal bersamaku, tidak usah lagi kamu pedulikan si b*j*ng*n itu."


Kuncup bunga kecil bersuara, "Aemm?"


Kuncup bunga kecil tampaknya tidak mengerti apa yang di katakan oleh Lina.


Sebelumnya Lina sudah memperkirakan kalau sayuran di kebun seharusnya sudah siap petik, dia juga membawa serta kuncup bunga kecil menuruni gunung, dan siap untuk berkeliling kebun sayuran.


Tapi dia bertemu dengan beberapa Orc yang sedang berkumpul di kaki gunung.


Dengan penuh rasa ingin tahu, Lina mendekati mereka dan melihat Uriel dan Saga ada di antara orang banyak. Mereka sedang menggali lubang dengan menggunakan cakar tajam mereka.


"CRAK! SROK!"


"CRAK! SROK!"


"Apa yang sedang kalian lakukan?" Lina segera bertanya.


Mendengar suara gadis kecilnya, Uriel segera melompat keluar dari lubang.


"Kami sedang menambang. Sudahkah kamu memakan sup daging yang ada di panci? Aku memasaknya untukmu."


Lina mengangguk.

__ADS_1


"Sudah habis."


Kemudian sejenak Lina merasa terkejut, lalu dia membuka matanya lebar-lebar setelah dia baru menyadari akan sesuatu.


“Kenapa kalian menambang di sini? Bukankah kalian mengatakan kalau kalian tidak akan menggali Urat Bijih di sini?”


“Tadi malam kami sudah berdiskusi. Karena ada Urat Bijih di dasar Gunung, maka dari itu kami harus menggalinya. Jika tidak, maka akan sangat disayangkan."


Uriel mengatakannya dengan santai dan seolah apa adanya.


Tapi berbeda dengan Lina, yang kini pemikirannya mulai rumit.


"Pasti ada sesuatu yang lain, sampai-sampai mereka dengan tiba-tiba merubah pikiran mereka, tentang sesuatu yang sudah mereka putuskan. Aku juga tidak tahu apakah itu ada hubungannya denganku atau tidak. Aku juga tidak bisa bertanya secara langsung. Jika aku salah menebak, nanti aku dianggap sentimental."


Kemudian Lina berkata, "Kalau begitu, kamu lanjutkan lagi menggalinya, aku akan pergi ke kebun sayur untuk melihat-lihat."


Uriel mengusap-usap kepala gadis kecilnya sambil berkata, "Hati-hati, jangan sampai kamu terjatuh."


Lina menjawab sambil tersenyum manis, "Ok."


Kemudian Lina pergi menuju ke kebun sayur. Saat tiba di kebun, Lina melihat rumput air dan kuncup kubis sudah matang, para Orc juga sedang memanen sayuran tersebut. Karena keadaannya yang sekarang sedang hamil, Lina tidak bisa membantu mereka. Setelah sebentar berada di situ, dia kemudian pergi menuju ke kolam.


Kolamnya kini sudah ditumbuhi oleh daun teratai hijau, subur dan sangat indah. Si kuncup bunga kecil pun segera melompat turun ke kolam.


"Leon selalu memanggil bunga kecil dengan sebutan pria kecil, tapi aku merasa kalau dia lebih seperti gadis kecil yang lucu dan juga genit."


Bunga kecil tiba-tiba mengangkat selembar daun teratai dan dengan lembut meletakkannya di kepala Lina, untuk menutupinya dari sinar matahari yang terik.


"Eh! Seketika aku merasa kalau aku sekarang jauh lebih keren! Hihi.." Kemudian dia berkata kepada kuncup bunga kecil, "Berikan aku beberapa daun teratai lagi.."


Dengan patuh, si bunga kecil memberikan ada lebih dari sepuluh daun terarai kepada Lina.


Kemudian Lina berjalan menuju ke arah Uriel dan Saga, untuk memberi mereka berdua daun teratai.


Saat Uriel melihat ada daun teratai besar di kepala Lina, matanya segera melebar.


"Gadis kecilku terlihat sangat cantik."


Baru saja Uriel akan menggoda gadis kecilnya, tiba-tiba Lina telah meletakkan daun teratai besar di kepala Uriel.


Lina berkata, "Daun ini bisa menghalangi sinar matahari yang panas. Pasti akan terasa nyaman."


Uriel yang seketika merasa keren pun mengangguk-angguk sambil memuji, "Penutup kepala ini sangat bagus."


Kemudian Lina juga memberikan Saga daun teratai dan berkata sambil tersenyum, "Daun ini supaya kamu tidak merasa cepat kepanasan.."


Saga yang merasakan ada daun teratai di kepalanya, juga merasakan kehangatan khusus di hatinya.


"Lina memang sungguh gadis kecil yang manis!"


Lina juga membagikan daun teratai yang tersisa untuk Orc yang lainnya.


"Daun ini berguna untuk kalian, jika kalian bekerja di bawah sinar matahari yang terik, kalian tidak akan mudah berkeringat."


Tapi tiba-tiba saja.


Mereka semua dikejutkan oleh sosok Rei yang berlari menuruni gunung dengan tergesa-gesa dan berseru, "Gawat! Ketua Wiro sedang bertarung dengan pemimpin klan Bulu!"

__ADS_1


__ADS_2