Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 213 - Gawat! Masalah Serius yang Menimpa Saga!


__ADS_3

Setelah selesai mandi, Lina pun melilit tubuhnya dengan selendang yang terbuat dari kulit binatang, lalu berjalan menuju ke kamar Saga.


"CEKREK! KREEEETT!"


Begitu Lina membuka pintu kamar Saga, dia melihat Saga yang sedang memasukan kayu bakar ke dalam tungku batu.


Api di dalam tungku batu itupun segera menyala, dan membuat ruangan kamarnya terasa hangat.


"Untuk apa kamu menyalakan api di dalam tungku?" Tanya Lina yang kini telah masuk dan berada di dalam kamar, lalu menutup pintu kamar Saga.


"KREEETTT! CEKRETT!"


"Dingin." Jawab Saga singkat.


Mendengar apa yang Saga katakan, Lina pun terkejut, "Kamu bisa merasakan panas dan dingin?"


"Aku takut kamu akan kedinginan." Kata Saga sambil menatap Lina.


Setelah berkata seperti itu, dia pun menundukkan kepalanya, dan menatap lantai tanah sambil berkata, "Aku tidak lagi bisa merasakan dingin ataupun panas, jadi, aku tidak tahu, bagaimana membuatmu supaya bisa merasa nyaman, saat berada di kamar ini. Jika kamu merasa kedinginan, katakan padaku, aku akan menambahkan beberapa kayu lagi."


Mendengar ini, Lina yang sebelumnya sedang merasa terkejut pun seketika itu hilang rasa terkejutnya, kemudian berkata seperti sedang tak berdaya, "Apa karena kata-kata Leon tadi, hingga membuatmu khawatir kalau aku akan kedinginan? Aku tidak seperti yang saat ini sedang kamu pikirkan."


Melihat Saga yang hanya tertunduk seperti sedang merasa kecewa, Lina pun segera mendekati Saga yang sedang duduk di dekat tungku batu, lalu duduk di pangkuan kedua kaki Saga dan memeluknya, kemudian menempelkan pipinya ke dada Saga dan berkata, "Baiklah. Entah itu nanti akan terasa panas ataupun dingin, aku pasti akan memberitahukannya padamu."


Kemudian, dengan lembut Saga pun membopong Lina dan meletakkannya di tempat tidur batu. Lalu dia berjongkok, untuk melepaskan sepasang sepatu yang Lina pakai.


Saat Saga sedang berjongkok melepaskan kedua sepatunya, Lina pun mengulurkan tangannya untuk mengusap pipi Saga.


"Kulit Saga selalu terasa dingin, rasa dingin seperti ini akan terasa nyaman jika saat sedang musim panas, tapi, saat sedang musim dingin seperti saat ini, kulitnya terasa sangat dingin." Batin Lina, sambil masih terus mengusap-usap dengan lembut pipi Saga.


Setelah itu, dia pun ikut membungkuk dan mencium bibir Saga.


"Terima kasih untuk gaun yang sudah kamu buatkan untukku. Aku sangat menyukainya." Kata Lina.


Saat melihat kedua bola mata Lina yang cerah dan wajahnya yang cantik dan manis, saat itu juga Saga sudah tidak lagi bisa menahan dirinya.


Dengan lembut dia pun mulai mendorong tubuh Lina untuk berbaring, lalu mengurung Lina dengan posisi tubuhnya yang berada di atas Lina.


Sebelum Lina datang ke kamarnya, Saga telah lebih dulu merapihkan kamarnya, meskipun sebenaranya sudah rapih, termasuk juga tempat tidur batunya, lalu mengganti seprei lama dengan seprei baru yang terbuat dari kulit binatang yang tebal dan berbulu, yang tentu saja akan membuat Lina merasa sangat nyaman, saat dia sedang berbaring.


Pada saat ini, terdengar suara Saga yang terdengar dingin sedingin orangnya, tapi jernih sejernih suara tetesan air yang menetes jatuh kedalam genangan air.


"Aku ingin memakanmu."


Mendengar apa yang baru saja Saga katakan, Lina pun segera mengaitkan kedua tangannya di leher Saga, lalu tersenyum menggoda dan terlihat sangat imut.


"Aku juga ingin dimakan olehmu." Kata Lina.


Detik itu juga, Saga pun segera menundukkan kepalanya, dan mulai memagut dengan lembut bibir Lina yang mungil dan tipis, dan terasa manis.


Napasnya yang dingin, segera berhembus kedalam mulut Lina dan menyapu setiap sudut yang ada di dalam mulutnya.


Mendapat perlakuan lembut dari Saga, secara naluriah Lina pun mengangkat pinggangnya, supaya tubuhnya bisa lebih dekat lagi dengan tubuh Saga.


Akibatnya, selendang kulit binatang yang dia kenakan pun terlepas, dan terlihatlah kulitnya yang putih mulus dan terasa halus.


Merasakan tubuh bawah Lina yang saat ini tengah menyentuh perutnya, satu tangan Saga pun segera meraih pinggang Lina dan mengusap-usapnya dengan lembut.


Telapak tangan dan jari-jari Saga yang terasa dingin, jelas sangat bisa Lina rasakan, saat Saga mengusap-usap p*h*nya dengan sangat lembut.


Saat ini gejolaknya telah membara, dan masih berbaring membalas setiap serangan bibir Saga yang juga terasa dingin di bibirnya.


Kedua matanya mulai terasa kabur, saat mencoba untuk menatap Saga.


Rambut panjangnya yang hitam dan terurai di tempat tidur, saling terjerat bersama dengan rambut Saga yang juga panjang dan berwarna hitam, seolah seperti tak ingin terpisahkan.


Setelah dirasa cukup melakukan perang bibir melawan Lina, Saga pun mulai melepaskan pakaian yang dia kenakan.

__ADS_1


Hingga akhirnya, kini kedua kulit mereka pun saling bertemu, saling bergesekan, dan saling membelai dengan sangat mesra.


Lina pun mulai melakukan aksinya dengan menjepitkan kedua kakinya di pinggang Saga, dan kedua tangannya dia kaitkan di punggung Saga.


Kemudian, dengan gerakan yang lembut, dia pun mulai mengayunkan pinggangnya, hingga napasnya naik turun, penuh dengan harapan untuk segera menuju ke babak selanjutnya.


"Mmhhhh.."


Setelah sekian lama, akhirnya mereka berdua pun bisa seintim ini lagi.


Kedua tangan Saga memegang pinggang Lina yang ramping, lalu merubah posisinya untuk duduk, dengan Lina yang masih merangkulnya dan dengan posisinya yang kini sedikit berjongkok sambil menghadap Saga, dan mulai bersiap untuk melakukan aksi penyatuan mereka.


Kedua tangan Lina kini berpindah memeluk punggung Saga, menyandarkan kepalanya di bahu Saga, sambil dengan sabar menunggu Saga untuk mulai masuk.


Satu detik..


Dua detik..


Satu menit pun berlalu!


Tapi..


Setelah sekian lama Lina sabar menunggu Saga, belum juga terasa adanya kunci yang mencoba untuk menyeruak masuk, kedalam lubang kunci miliknya.


Dia pun segera berbisik di telinga Saga untuk bertanya, "Kenapa tidak kamu masukkan?"


Dengan kedua tangannya yang masih memegang dan menahan pinggang Lina, supaya Lina bisa dalam posisi sedikit berjongkok, Saga pun mulai membuka mulutnya dan berkata dengan sedikit ragu, "Bagaimana kalau malam ini, kita tidak melakukan ini?"


DUARRR!! GLUNTANG!! PYARR!!


Saat itu juga Lina pun tercengang, setelah mendengar apa yang baru saja Saga katakan.


Gairah, hasrat dan keinginannya yang telah sampai di ubun-ubun kepalanya, seketika itu juga segera turun kembali ke level 0.


Lalu dia pun segera mendongakkan kepalanya untuk menatap Saga dan bertanya, "Kenapa?"


Tapi..


Disaat yang paling kritis..


Kenapa tiba-tiba saja Saga mengatakan tidak?


"Apakah Saga berkata seperti itu, karena dia sudah tidak lagi tertarik padaku?" Pikir Lina yang saat ini penuh dengan tanda tanya.


Cara Saga mengatakannya tadi, memang terdengar seperti dia sama sekali tidak terarik dengan ini!


Menghadapi pertanyaan Lina, Saga pun mulai terlihat bereaksi aneh.


"Hari ini aku merasa tidak sehat. Kita lakukan ini di lain hari saja." Kata Saga.


Meskipun sangat enggan, mau tak mau akhirnya Lina pun melepaskan pelukannya.


Siapapun mereka, yang sedang berada di atas ranjang bersama dengan pasangannya, bahkan telah melepaskan seluruh pakaian mereka, hingga gairah dan keinginan mereka telah memuncak, dan telah sampai pada langkah terakhir untuk melakukan penyatuan mereka, tapi tiba-tiba saja, salah satu dari mereka ada yang berkata "tidak ingin melakukannya", tentu saja pihak yang satunya lagi akan merasa sangat marah, kan?


Begitu juga dengan Lina.


Dia pun segera mendorong tubuh Saga untuk menjauh, lalu melilitkan kembali selendangnya ke tubuhnya.


Dengan posisi duduk di atas tempat tidur, Lina pun terus menatap Saga, kemudian membuka mulutnya dan bertanya, "Katakan yang sebenarnya padaku, kenapa kamu tidak ingin melakukannya?"


Saga pun segera menghindari tatapan mata Lina. Dan dengan perasaannya yang sedang merasa tidak tenang, dia pun mencoba untuk berkata, "Tubuhku benar-benar sedang terasa tidak sehat."


"Tatap mataku, saat kamu sedang berbicara denganku." Kata Lina dengan tegas, yang masih terus mencoba untuk mendapatkan jawaban yang sebenarnya dari Saga.


Mau tak mau, Saga pun menatap Lina dan berkata tanpa daya, "Maafkan aku. Malam ini aku telah membuatmu kecewa."


"Bukan permintaan maaf yang ingin kudengar, aku ingin mendengar yang sebenarnya, langsung darimu." Kata Lina. Setelah diam sejenak, kemudian dia pun lanjut berkata lagi, "Kenapa tiba-tiba saja kamu berhenti dan berkata tidak ingin melakukannya? Apa karena kamu sudah tidak lagi menyukaiku dan sudah tidak ingin melakukannya denganku lagi?" Cecar Lina bertubi-tubi kepada Saga.

__ADS_1


"Tentu saja tidak seperti itu." Jawab Saga tanpa ragu-ragu.


Mendengar apa yang baru saja Saga katakan, kemarahan di dalam hati Lina pun sedikit berkurang, setelah mendengar jawaban dari Saga.


"Lalu, kenapa tiba-tiba saja kamu berhenti? Jika malam ini kamu tidak memberikanku penjelasan yang masuk akal, tidak boleh ada satupun dari kita yang boleh tidur." Kata Lina tegas.


Meskipun Lina selalu tampak lemah lembut, tapi dia juga sangat keras kepala dalam beberapa hal.


Sebenarnya, Saga tidak peduli jika malam ini dia akan tidur atau tidak, karena bagaimanapun juga, dia tidak lagi bisa merasakan lelah.


Tapi berbeda dengan Lina, dia itu rapuh dan lemah. Jika malam ini dia sampai tidak, dia pasti akan jatuh sakit.


Dan pada akhirnya, Saga pun menyerah dan mencoba untuk mengatakan sesuatu kepada Lina, meskipun dirinya merasa tidak nyaman jika harus mengatakan hal ini, "Malam ini, aku sedang tidak dalam kondisi yang baik.."


"Kondisi yang seperti apa?" Tanya Lina dengan buru-buru.


Tapi, bukannya menjawab pertanyaan Lina, Saga malahan hanya menatap Lina, dalam diam.


Lina pun juga balas menatap mata Saga.


Dua orang yang sedang duduk di atas ranjang batu, kini sedang saling menatap untuk waktu yang lama.


Hingga akhirnya, tanpa disengaja, Lina melihat sendiri kenyataan yang sebenarnya saat ini sedang terjadi.


Tanpa sengaja, Lina melihat benda besar yang ada di bawah perut Saga.


Bentuk dan ukurannya memang masih terlihat sangat luar biasa, meskipun disaat benda itu sedang lembek.


Tapi saat ini, sama sekali tidak terlihat, adanya tanda-tanda kalau benda itu sedang mendongakkan kepalanya.


Melihat hal ini, Lina pun sangat terkejut dan segera bertanya kepada Saga, "Itu.. Benda milikmu tidak mengeras? Kenapa bisa sampai seperti itu? Apa kamu sudah tidak lagi bisa merasakan apa-apa terhadapku?"


"Tidak. Ini tidak ada hubungannya denganmu. Ini terjadi karena sesuatu hal." Setelah berkata seperti itu, Saga pun mengambil pakaiannya dan lanjut berkata lagi dengan tanpa daya, "Sebenarnya, di dalam hatiku, aku sangat ingin k*w*n denganmu, tapi tubuhku berkata lain, tubuhku tidak bisa merespon keinginanku ini."


Singkat kata, Saat ini Saga sudah tidak lagi setangguh seperti Saga yang sebelumnya.


"Ini adalah masalah yang sangat serius!" Batin Lina.


Kemudian dia pun buru-buru bertanya pada Saga, "Apakah ini terjadi karena efek dari ramuan air melupakan cinta?"


"Bisa jadi." Jawab Saga tanpa ekspresi.


"Lalu setelah ini, apa yang akan terjadi dengan kita? Apakah kita tidak akan pernah bisa k*w*n lagi selama sisa hidup kita? Lalu bagaimana aku bisa memberikanmu anak-anak?" Tanya Lina yang kini mulai merasa sedikit panik.


Setelah Saga selesai mengenakan kembali pakaiannya, dia pun segera menggendong Lina untuk berbaring di tempat tidur, lalu menutupi tubuh mereka berdua dengan selimut, kemudian berkata, "Jangan khawatir, aku pasti akan mencari cara untuk menyelesaikan masalah ini."


Berada dalam pelukan Saga, Lina pun terdiam untuk sejenak. Tak lama kemudian, dia pun membuka mulutnya dan bertanya kepada Saga, "Tidak ada masalah pada ginjalmu, kan? Atau, aku akan merebuskan beberapa ramuan obat, untuk menguatkan ginjalmu, ok?"


"Tidak usah." Kata Saga.


"Tidak perlu takut dan menghindari perawatan medis. Ginjal yang bermasalah, bukanlah hal yang bisa dianggap sepele, terlebih lagi di umurmu yang terbilang masih muda. Jika masalah seperti ini bisa diketahui lebih awal dan segera diobati, tentu proses pemulihannya akan lebih cepat." Kata Lina yang mencoba untuk menasehati Saga.


...........


Setelah beberapa saat mereka terdiam, tiba-tiba saja Saga berkata, "Tadi kamu sedang sangat menginginkannya, kan? Tapi tiba-tiba saja aku berhenti. Hal itu pasti sudah membuatmu merasa sangat tidak nyaman, kan? Bagaimana jika aku menggunakan jari-jariku untuk menyelesaikannya?"


Setelah berkata seperti itu, tangan Saga pun segera bergerak menuju di antara kedua kaki Lina.


Karena merasa takut, Lina pun segera merapatkan kedua kakinya, dan dengan kesal berkata, "Tidak perlu, sekarang ini aku sudah merasa tenang!"


"Kalau begitu, lebih baik sekarang kita tidur." Kata Saga.


"Ya." Sahut Lina.


...........


Keesokan paginya, saat Lina telah terbangun dari tidurnya, dia pun segera berlari menuju kedapur, dan mulai merebuskan ramuan obat untuk Saga.

__ADS_1


Dia merasa, kalau dirinya harus bisa menyembuhkan masalah disfungsi e*r*ks* yang tengah dialami oleh Saga, supaya Saga bisa kembali menjadi binatang buas, seperti Saga yang sebelumnya.


__ADS_2