
Heli Belang membawa Josh pergi kembali ke gua, untuk merawat luka-lukanya. Lina juga sudah mendapatkan daftar bahan-bahan untuk membuat anggur, seperti yang dia inginkan.
Wiro memerintahkan beberapa Orc laki-laki pergi ke gua di mana Heli Belang tinggal, untuk mengambil dua tong anggur.
Setelah menyelesaikan masalah ini, Lina segera bersiap untuk pergi melihat Uriel.
Ketika dia baru saja berjalan ke pintu, dia mendengar teriakan di belakangnya!
"Wiro!" Teriak Sito Gering.
Lina kemudian berbalik dan melihat Wiro telah jatuh ke tanah.
Dia dan Sito dengan segera berlari menghampiri dan membantu Wiro untuk duduk.
Lina yang begitu menyentuh tubuhnya langsung terkejut.
"Tubuhnya sangat dingin! Kenapa tubuhnya bisa seperti ini! Dinginnya seperti es. Tidak seperti suhu orang normal pada umumnya!"
Sito Gering melihat tato yang samar di lengan Wiro. Seketika ekspresinya berubah.
"Pola bintang ..."
Dia segera memanggil dua Orc pria yang bertubuh kekar dan menyuruh mereka untuk membopong Wiro.
"Ayo segera bawa Ketua ke rumahku!"
Melihat reaksi Sito yang cemas membuat Lina merasa takut. Dia pun berjalan cepat mengikuti di belakang mereka.
Hanya ada satu tempat tidur batu di kamar si dukun. Saat ini, tempat tidur itu ditempati oleh Uriel yang sedang terluka. Sito juga tidak punya waktu lagi untuk meminta mereka membuatkan tempat tidur batu lagi. Sebaliknya, dia menyuruh mereka meletakan dua tumpuk kulit yang paling tebal di tanah. Kemudian membaringkan Wiro di atasnya.
Kemudian dia memberi perintah pada kedua Orc jantan itu, "Tetap berjaga di pintu. Tak peduli siapapun yang datang, jangan biarkan dia masuk!"
Mereka berdua langsung bergegas berjalan dan berdiri untuk berjaga di luar pintu.
Wiro terbaring di tanah dengan matanya yang tertutup, alisnya yang berkerut, suhu tubuhnya yang juga semakin terus menurun.
Di permukaan tubuhnya, terlihat lapisan es tipis yang mulai terbentuk.
Melihat kondisi Wiro yang seperti itu, Lina khawatir jika dia terus seperti ini, dia pasti akan mati beku.
Dia pun tak bisa menahan diri untuk bertanya, "Ada apa dengan Wiro?"
Sito Gering menjawab dengan sangat cemas, "Pola bintangnya muncul, roh binatang di tubuhnya sudah bangkit. Seharusnya ini adalah hal yang baik, tapi kenapa harus bangkit pada saat seperti ini?"
Lina merasa bingung mendengarnya, "Pola bintang? Roh binatang? Apa itu?"
"Apa kamu tidak tahu?" Sito terkejut, dengan keadaannya yang masih cemas dan kebingungan, dia tetap meluangkan waktu untuk menjelaskan beberapa kata kepadanya.
"Dalam proses evolusi para Orc, akan ada garis-garis bintang. Memiliki garis-garis bintang akan membangkitkan roh binatang buas, yang bisa sangat meningkatkan kekuatan bertarung para Orc."
Sedikit-sedikit kini Lina mulai mengerti.
__ADS_1
"Mendengar dari penjelasanmu, memiliki pola bintang dan roh binatang buas bukankah hal yang sangat baik? Tapi kenapa Dukun Sito terlihat begitu sangat cemas?"
"Tak semua Orc bisa memunculkan pola bintang dan tak semua pola bintang bisa membangkitkan roh binatang buas. Banyak Orc yang telah gagal dalam proses evolusi mereka, semuanya yang telah gagal pasti akan mati."
Lina dikejutkan oleh kata-katanya.
Kemudian Sito berkata lagi, "Evolusi adalah ujian yang diberikan oleh Tuhan kepada para Orc. Hanya dengan melewati ujian itu, kita bisa membangkitkan roh binatang buas yang ada di dalam tubuh kita dan menjadi salah satu roh binatang buas yang sangat kuat. Jika mereka tidak dapat melewati ujian itu, mereka yang kalah akan tersingkirkan. Yang lemah di makan yang kuat dan yang kuat akan dihormati."
Hukum Rimba.
Begitulah cara hidup para Orc.
Dengan khawatir Lina bertanya, "Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu Wiro?"
"Ayah Wiro juga merupakan roh binatang buas. Dialah yang seharusnya membantunya membangkitkan roh binatang buas milik Wiro ketika dewasa. Dengan tekanan dari roh binatang buas milik ayahnya sebagai orang yang dekat dengannya, roh binatang yang ada pada diri Wiro akan mendapatkan kenyamanan yang maksimal. Selain itu juga bisa untuk mengurangi kemungkinan gagal saat berevolusi. Sayangnya ayah Wiro sudah lama meninggal, mungkin Wiro tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk membangkitkan roh binatang buas di tubuhnya. Aku pikir roh binatang buasnya telah mati di hadapan kematian ayahnya, tak ku sangka sekarang tiba-tiba muncul."
Kata-kata dukun tua itu membuat Lina mulai semakin panik. Dia sangat cemas hingga matanya memerah.
"Kalau begitu, kita tidak bisa melakukan apa-apa selain menyaksikan Wiro menderita?"
"Tidak apa-apa kalau harus menderita sedikit. Selama dia bisa berevolusi dengan lancar, semua penderitaannya akan terbayarkan. Yang aku khawatirkan, meskipun dia telah menderita, tetapi pada akhirnya dia akan tetap gagal. Kegagalan itu berupa, kematian."
Hal ini membuat Lina tidak bisa menerimanya, meskipun karakter Wiro buruk dan mulutnya kasar, dia sudah menyelamatkan nyawanya dan juga Uriel, dia adalah Orc yang baik.
Dia tidak ingin Wiro mati.
Lina tidak bisa menahan air matanya lagi, dia sangat sedih dan menangis.
Tangisannya membangunkan Uriel yang sedang tidur.
Karena lukanya, dengan sedikit usaha dia berusaha untuk duduk, wajahnya juga terlihat pucat.
"Apa yang sedang kamu tangisi? Ada apa dengan Wiro?"
Lina segera bergegas ke pelukannya dan memeluknya erat-erat masih sambil terisak menangis.
"Wiro sedang sekarat.."
"Sekarat?" Uriel sangat terkejut. Dia ingat kalau Wiro tidak terluka. Dia berpikir, "Paling-paling dia cuma kedinginan karena angin dan salju, tentu dia tidak akan mati hanya karena itu."
Sito segera menjelaskan, "Pola bintang Wiro sudah muncul."
Mendengar itu Uriel tiba-tiba menyadari.
Dia menghela nafasnya tak berdaya.
"Heeehhh.. Pola bintangnya muncul disaat-saat seperti ini. Aku tak tahu harus bilang apa, dia itu sedang sial atau malah beruntung."
Uriel diam sejenak, kemudian mulai berbicara lagi, "Tolong bantu aku untuk turun, aku ingin melihat Wiro."
"Tubuhmu masih terluka, sebaiknya jangan bergerak dulu." Kata Sito Gering mencoba menasehati.
__ADS_1
"Jangan khawatir. Aku tahu kondisi tubuhku sendiri. Aku hanya bergerak dari sini kesitu. Tak akan membuatku mati kok."
Di bawah desakan Uriel, Lina dan Sito Gering kemudian membantunya bangun dari tempat tidur dan membantu memapahnya ke tempat Wiro terbaring.
Uriel melihat lebih dekat pola bintang yang ada di lengan Wiro.
Terlihat pola berbentuk hewan Serigala Es Perak yang terlihat menonjol, membuat merinding yang melihatnya karena takjub.
Uriel menyipitkan mata birunya.
"Serigala es perak?"
"Wiro memang keturunan dari Serigala Es Perak," Kata Sito Gering.
Uriel tampaknya mulai menyadari sesuatu.
"Ini adalah sebuah takdir, kehendak dari surga ..."
Dia berhenti bergumam dan kemudian berkata, "Aku bisa menyelamatkannya."
Mendengar Uriel mengatakan itu, spontan Lina dan Sito Gering sangat terkejut.
"Apa kamu benar-benar bisa menyelamatkan Wiro??" Sito Gering merasa tak yakin.
Uriel tak berkata apa-apa untuk menjelaskan. Dia membuka ikatan rok bulu yang dia kenakan dan memperlihatkan tato bintang miliknya yang ada di pinggangnya.
Tato harimau yang terlihat sangat hidup, dengan dikelilingi oleh tiga bintang kecil, dengan polanya yang berwarna biru tua yang menyemburkan cahaya.
Mata Sito Gering langsung terbelalak sangat lebar karena sangat terkejut.
"I i inii.. Ini adalah roh binatang bi.. bi.. bintang ti.. tiga ...???" Ucap Sito Gering sambil tergagap tak percaya akan apa yang sedang dia lihat oleh matanya.
Kemudian Uriel berkata dengan suaranya yang lemah, "Apa roh binatang bintang tiga cukup untuk menenangkan roh Serigala Es Perak?"
Seketika itu juga Sito Gering langsung berlutut dan bersujud di hadapan Uriel.
"Selama kamu mau menyelamatkan Wiro, kamu akan selalu menjadi tamu yang paling terhormat dari klan Serigala Batu kami! Semua yang kamu perintahkan kepada kami, terlepas itu menghancurkan seluruh gunung ataupun menguras kering seluruh sungai dan lautan, kami akan selalu siap melakukannya untukmu!"
Lina meraih dan memeluk lengan Uriel dan memohon, "Tolong selamatkan Wiro."
Uriel tidak segera menolong Wiro, dia kemudian mengatakan sesuatu.
"Aku bisa menyelamatkannya, tapi aku tak bisa melakukannya sendiri."
"Apa?" Lina dan Sito pun kaget.
"Kalau ingin menenangkan jiwa binatang di tubuh Wiro, orang itu haruslah kerabatnya. Aku tak ada hubungan keluarga dengan Wiro, kalau aku buru-buru melakukan sesuatu terhadapnya, itu bisa merangsang roh binatang buas yang ada di tubuhnya. Alih-alih menyelamatkannya, tindakanku pasti malah akan membuatnya celaka."
"Lalu apa yang bisa kamu lakukan?" Tanya Sito Gering.
"Aku punya solusi, tapi aku butuh sedikit bantuan."
__ADS_1