Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 63 - Tetesan Darah


__ADS_3

Wiro yang sedang sibuk menyelam mengejar ikan-ikan yang mengejeknya, tiba-tiba merasakan cincin Ikatan di jari manisnya terasa panas.


Intuisinya mengatakan, Lina dalam bahaya.


Dengan segera dia melompat keluar ke tepi sungai, merubah wujudnya menjadi serigala, dan berlari dengan cepat di sepanjang tepian sungai untuk kembali. Dia sudah tidak peduli lagi dengan ikan yang sedang dia kejar.


Tapi, Lina sudah tidak lagi ada di tempatnya.


Dia menggerakkan hidungnya, mengikuti indra penciumannya di sepanjang jalan, dan akhirnya menemukan tong yang dibawa Lina di tepi sungai. Tong itu penuh dengan ikan, tetapi Lina tetap tidak terlihat, dia menghilang.


Wiro mengendus-endus ceceran air di tepi sungai, dan bisa tercium olehnya bau yang dingin.


"Yang menculik Lina, pasti seekor ular."


Wiro tidak ingin menunda waktu lagi, dia segera menggunakan indra penciumannya pada jejak-jejak bau yang tertinggal, hingga akhirnya sampailah ia di sebuah gua.


Dia bergegas masuk ke gua, dan mendapati Lina yang telah ditangkap oleh seorang pria.


Wiro yang temperamental tentu saja menjadi sangat marah.


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, dia segera melayangkan tendangan dengan kaki serigalanya, dan menyerang kearah punggung pria itu.


Tetapi pria itu sangat gesit, sehingga dia lolos dari terjangan kaki si serigala perak.


Melihat lawan yang tidak menyerang balik, Wiro segera melompat dan menyerang lagi.


"Ular terkutuk, bahkan saat aku lengah, kau berani menculik Lina! Aku harus membunuhmu!"


"HIAH!"


Saga yang masih memeluk Lina, tentu saja tidak ingin diam saja. Dia segera merubah sebagian tubuh bawahnya menjadi ular, dan menangkis serangan Wiro.


Kini kedua pria itu saling bertarung.


Wiro bergerak lincah melompat kesana kemari menyerang Saga, dengan pukulan dan tendangannya. Beberapa kali serangannya bisa mengenai tubuh Saga, tapi tidak sedikit juga yang dimentahkan oleh Saga.


"BUGH!"


"DESH!"


"TAK!"


Saga yang masih dalam mode setengah binatangnya, menggunakan separuh tubuh ularnya untuk menangkis. Pada saat dia melihat celah, dia segera menangkap dan melilit tubuh Wiro, kemudian menghantamkannya ke tanah dengan keras.


"BUGH!"


"AGH!"


Wiro pun membalas dengan menggigit dan mencakar tubuh ular yang melilit dirinya.


"SRET!"


Tapi, ular itu segera melepaskan lilitannya untuk menghindari cakaran Wiro, dan hanya meninggalkan sedikit goresan pada tubuhnya.


Tidak ada yang bisa menghentikan pertarungan mereka.


Lina sudah tampak sangat ketakutan, takut mereka akan saling menyakiti. Lina mencoba beberapa kali untuk menghentikan mereka, tetapi dia tidak memiliki kekuatan untuk berbicara. Tubuhnya terasa lemas dan tanpa daya, dan juga kepalanya yang terasa sangat sakit.


"Aku tidak tahu apakah racun Saga akan berakibat fatal untukku." Suara hati Lina merasa sangat cemas.


Jika benar fatal, maka Lina pun akan tamat.


Wiro yang sebagai serigala, lebih terbiasa untuk bertarung dan berburu secara berkelompok. Pertarungan satu lawan satu seperti ini, pasti akan merepotkan baginya. Selain itu, dia juga waspada terhadap keamanan Lina yang masih dalam pelukan Saga. Wiro tidak berani melakukan hal yang lebih lagi, yang bisa mengakibatkan Lina ikut terluka.


Beberapa kali tubuh Wiro jatuh dan terpental ketanah, beberapa kali itu juga Saga segera mengayunkan ekornya untuk mencoba menghantam tubuh Wiro.


"BUGH!"


"BRAK!"


"UGH!"


Wiro berguling-guling di tanah untuk menghindari serangan Saga. Meskipun telah beberapa kali terkena hantaman dari ekor ular, dengan segera dia bangkit lagi.

__ADS_1


Wiro kini mulai merasa hampir putus asa, dia memutuskan untuk merubah wujudnya kebentuk roh binatang buasnya, Serigala Es.


Namun.


Sebelum dia sempat berubah, Uriel tiba dan mencegah Wiro supaya tidak berubah menjadi Serigala Es.


"Biar aku saja."


Kini Uriel yang maju menyerang. Setiap hantaman dan tendangannya yang penuh dengan tenaga, telak menghantam tubuh ular Saga.


Kekuatan Binatang Bintang Tiga, tidak bisa diremehkan. Tubuh ular Saga, di hajar bolak balik oleh Uriel.


Pada akhirnya, Saga pun sangat marah. Bahkan jika dia harus mati, dia tidak akan pernah menyerahkan Lina.


Saga meletakkan Lina di tanah yang tidak jauh darinya, kemudian dia merubah wujudnya menjadi ular seutuhnya.


Kini Wiro juga bersiap untuk ikut menyerang. Keduanya bekerja sama untuk menangani Saga.


Gabungan kekuatan bintang dua dan bintang tiga, membuat Saga kewalahan. Meskipun tubuhnya kini lebih leluasa untuk bergerak, tapi menghadapi dua lawan sekaligus, tentu akan membuatnya pusing.


Apalagi, lawannya memiliki roh binatang buas berbintang.


Saga memutuskan untuk menyingkirkan Wiro terlebih dulu. Saat Wiro terpental dan masih melayang diudara, dengan sangat cepat Saga segera menjulurkan tubuhnya kearah Wiro sambil membuka mulutnya, dan menggigit Wiro.


"KRESH!"


Wiro yang tidak bisa bergerak tanpa adanya pijakan, tidak bisa menghindari serangan fatal dari Saga. Alhasil kakinya tergigit oleh taring ular itu.


"AHH!"


Tidak hanya menggigit saja, ular itu juga menghempaskan tubuh Wiro ke dinding gua.


"WUSHH!"


"BRAK!"


"HEGHH!"


Uriel yang melihat situasinya kini menjadi tidak baik, segera merubah wujudnya menjadi Harimau Putih. Dia bergegas melompat dan menggigit leher si ular.


"WUSHH!"


"KRESH!"


"ARGHH!"


Leher adalah bagian paling mematikan dari semua makhluk hidup. Saga bisa saja tergigit sampai mati.


Tapi Saga menggunakan tubuh ularnya, untuk melilit dengan keras tubuh Uriel, yang membuat gigitan Uriel pun terlepas. Dan menghempaskan tubuh Uriel ke tanah.


"WUSHH!"


"BUGH!"


"UGH!"


Wiro yang baru saja di hempaskan ke dinding batu, begitu tubuhnya menyentuh tanah, dia hampir saja terkena gigitan ular lagi, bila saat itu juga Uriel tidak menggigit leher Saga.


Saga dan Uriel, keduanya adalah Binatang Bintang Tiga. Mereka berdua kini bertarung dengan kekuatan yang sama dan juga kecepatan yang sama. Mereka sama-sama saling menyerang dan menangkis serangan satu sama lain. Hanya pemilik stamina terlama lah, yang akan memenangkan pertarungan ini.


"HIAH!"


"TAP!"


"HUP!"


"TAK!"


Melihat ini, Wiro tahu kalau dia tidak bisa masuk dalam pertarungan lagi, dan tidak ingin merepotkan Uriel. Jadi, dia pun mundur begitu saja dari lingkaran pertarungan ini.


Dia menyeret kaki belakangnya yang terluka, dan berlari ke arah Lina.


Saat ini, Lina terlihat dalam kondisi yang buruk. Racun ular telah menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia sudah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Tubuhnya bergetar dan bibirnya sangat pucat, seperti tidak ada bekas darah.

__ADS_1


Wiro yang melihat kondisi Lina seperti itu segera merubah wujudnya ke bentuk Orcnya dan menghampiri Lina.


"Lina!"


Tapi Lina masih tetap tidak merespon panggilan Wiro, nafasnya semakin lama semakin lemah.


Wiro pun meraung pada Saga yang sedang bertarung dengan Uriel.


"ULAR B*J*NG*N! APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA LINA KU?! DIA SEKARAT!"


Raungan Wiro membuat Piton dan Harimau Putih yang sedang sama-sama melayangkan serangan, seketika berhenti pada saat yang bersamaan.


"CiiiiT!"


Piton segera menepiskan Harimau Putih dan berlari ke arah Lina. Dia melihat Lina sudah tak sadarkan diri, dengan kondisinya yang sangat buruk.


Saga segera merubah wujudnya ke bentuk Orc. Dia ingin menyentuh Lina, tetapi segera dihentikan oleh Wiro.


Wiro menatapnya dengan waspada.


"Apa yang akan kau lakukan?!"


Saga cepat menyahut, seolah setiap detiknya adalah waktu yang sangat berharga, "Untuk menetralkan racun ularnya, darahku adalah obat penawar terbaik."


"Darimana aku bisa tahu?! Bagaimana kalau ternyata kau malah meracuninya lagi?!" Tanya Wiro dengan emosinya.


Mata Saga terlihat suram.


"Apa kau tidak percaya padaku?"


Uriel juga merubah dirinya kebentuk Orc dan berkata dengan sangat tegas, "Kamu cobalah pada Wiro terlebih dulu. Jika dia tidak keracunan, segera lah selamatkan Lina!"


Kaki Wiro tergigit dan mengeluarkan banyak darah, lukanya terlihat agak hitam, itu tandanya juga terkena racun ular dari Saga.


Dia merasa sedikit pusing, tapi dia kuat, dan ada binatang buas di tubuhnya. Jadi dari penampilan luarnya, dia terlihat normal-normal saja.


Apa yang dikatakan Uriel, membuat Wiro seolah sebagai bahan percobaan, yang membuatnya merasa tidak senang. Tetapi, selama Saga bisa menyelamatkannya, Wiro akan membiarkan Saga melakukan apa saja.


Saga segera menggigit pergelangan tangannya sendiri dan akan memeras darahnya, dia berkata pada Wiro, "Cepatlah minum darahku."


Wiro merasa sangat jijik untuk meminum beberapa tetes darah Saga, oleh karena itu, dia langsung menelannya begitu saja.


Tak lama, luka di kakinya berubah menjadi merah normal, dan rasa pusingnya mulai hilang. Wiro mengangguk kepada Uriel, menunjukkan bahwa tidak ada masalah.


Uriel pun membolehkan Saga mendekati Lina.


Tampaknya Saga telah menghilangkan rasa amarah dan permusuhannya. Dengan tenang memegang Lina ke dalam pelukannya, dan memeras darahnya, membiarkan darahnya mengalir masuk ke mulut Lina, dan memaksanya untuk menelannya.


Uriel dan Wiro memperhatikannya tanpa berkedip.


Tak lama berselang, Lina pun mulai tersadar.


Ketika dia melihat Saga di dekatnya, dia ingin meminta maaf padanya, tetapi dengan kondisinya yang masih sangat lemah dan tak memiliki daya, dia gagal untuk mengucapkannya.


Saga menjelaskan dengan suara dinginnya, "Meskipun racun ularnya telah larut, tetapi tubuhmu masih lemah. Kamu perlu istirahat selama beberapa hari, untuk bisa pulih sepenuhnya. Esok hari, kamu baru bisa memiliki tenaga untuk berbicara."


Segera setelah mendengar itu, Wiro pun tidak sabar untuk meraih Lina.


Saga sebenarnya tidak ingin melepaskan Lina, tetapi setelah matanya melihat kearah bekas gigitan di lehernya, jari-jarinya terasa lemas dan melepaskan pegangannya.


Setiap kali dia bersamanya, dia pasti akan sakit dan terluka. Hatinya kini terasa hampa dan hancur.


"Orang-orang itu benar. Aku adalah seorang pendosa terkutuk, siapapun yang dekat denganku, mereka pasti akan mati."


Saat Lina melihat ekspresi muka Saga, dia sangat ingin mengulurkan tangannya. Namun, begitu dia sedikit mengangkat tangannya, dia segera dihalangi oleh Uriel.


Uriel berkata tegas kepada Saga, "Aku tahu, terakhir kali, kamu sudah menyelamatkan Lina. Dan kali ini, kamu sudah melukai Lina sampai hampir mati. Kita anggap ini sudah impas!"


Saga, "....."


Sebetulnya, Saga adalah Orc pendiam, dan hanya kepada Lina lah dia akan mengambil inisiatif untuk membuka mulutnya. Ketika dia berada di depan orang lain, dia hanya akan menggerakan tangannya, dan tidak pernah membuka mulutnya sedikitpun.


Melihat Saga yang tidak mengatakan sepatah kata pun, Uriel melanjutkan perkataannya, "Kami harus segera membawa Lina pulang. Lina adalah pasangan kami. Aku harap, kamu tidak akan mengganggu hidup kami lagi."

__ADS_1


Selesai mengatakan itu, Uriel mengedipkan satu matanya kepada Wiro, Wiro pun menganggukkan kepalanya.


Wiro mengerti. Uriel menyuruh Wiro, untuk segera membawa Lina keluar terlebih dulu. Sedangkan Uriel akan mengawasi Saga, dan menjaga Wiro yang membawa Lina dari belakang.


__ADS_2