Si Mungil Lina Maya

Si Mungil Lina Maya
Bab 169 - Zombie


__ADS_3

Lina mengeluarkan kain salju, memotongnya menjadi beberapa potong, dan memberikan dua potong kepada Wiro dan Rei.


"Tutup mulut dan hidung kalian dengan kain ini, untuk menghindari tertular," kata Lina.


Wiro dan Rei pun segera melakukan apa yang Lina perintahkan.


Kini beberapa Orc yang sakit telah diisolasi dan ditempatkan dalam ruangan yang sama.


Wiro dan Rei berjalan di belakang Lina yang masuk terlebih dulu.


Saat dia berada di dalam ruangan, suara di dalam benak Lina tiba-tiba saja terdengar.


"Ting Tong!"


"Selamat. Anda telah memicu tugas acak!


"Tolong obati pasien yang terkena penyakit darah mati ini. Setelah tugas selesai, hadiah akan langsung diberikan kepada anda."


"Apa itu penyakit darah mati? Aku tidak pernah mendengar penyakit seperti itu." Pikir Lina.


Ada terdapat dua belas pasien. Mereka semua dibaringkan di tanah, dengan beralaskan kulit binatang dan jerami.


"Semua pasien ini terlihat tampak pucat, bibir mereka pecah-pecah dan mata mereka terlihat cekung." Batin Rei.


"Tubuh mereka terlihat sangat kurus, dan terlihat seperti tak bernyawa, seolah-olah jiwa mereka telah dihisap oleh monster." Batin Wiro.


Wiro dan Rei belum pernah melihat penyakit semacam ini, mereka pun hanya bisa menatap Lina, dan menaruh harapan kepada Lina.


Lina mengenakan sarung tangan yang terbuat dari kulit binatang, membuka mulut pasien, melihat gigi dan lidahnya, lalu membuka kelopak mata si pasien untuk mengamati bola matanya dengan cermat.


Dia tidak bisa melihat penyakit apa itu, dia pun hanya bisa berbisik kepada suara dalam benaknya, "Bubu, apa itu penyakit darah mati?"


Suara dalam benak Lina mencoba untuk menjelaskan, "Sumber dari penyakit ini adalah iblis. Anda bisa terinfeksi oleh penyakit ini hanya dengan meminum darah dari iblis. Pada awal gejala, tubuh pasien akan tampak terlihat kuning dan kurus, dan di tengah periode infeksi, pasien akan jatuh pingsan, dan hasil akhirnya hanya ada dua kemungkinan."


"Apa itu?" Tanya Lina kepada Bubu.


Suara dalam benak Lina menjawab, "Pasien akan bernanah dan mati, atau akan menjadi budak para iblis, dengan kata lain, mereka akan menjadi monster pembunuh yang akan membunuh siapapun tanpa alasan."


"Ah? Sepertinya penyakit ini seperti yang ada di filem-filem, tapi apa yah.." Pikir Lina.


Kemudian dia mencoba mengingat-ingat seperti apa jadinya nanti penyakit ini, dan mulai teringat, "Apakah nantinya mereka akan menjadi zombie seperti di filem Walking Dead dan World War Z? Mengerikan.. Kalau hal itu sampai terjadi, akan ada banyak korban jiwa.."


Lalu dia berbisik lagi untuk bertanya pada Bubu, "Bisakah penyakit itu disembuhkan?"


Suara dalam benak Lina pun menjawab, "Metode penyembuhan dari Kuil bisa menyembuhkan penyakit darah mati, serta membersihkan seluruh darah dan daging inang yang terinfeksi. Selain itu, darah anda juga bisa untuk menyembuhkan penyakit itu."

__ADS_1


Mendengar itu, Lina pun segera berkata kepada Wiro, "Ini adalah penyakit darah mati. Aku harus kembali dan membuatkan sup untuk para pasien ini. Kamu bawalah orang-orang untuk memeriksa kemana mereka pergi baru-baru ini dan apa yang mereka makan." Lina berhenti sesaat, kemudian berkata lagi dengan merendahkan suaranya, "Aku menduga, kalau masalah ini mungkin terkait dengan roh-roh jahat."


Mendengar apa yang Lina katakan, Wiro pun mengangguk sambil berkata, "Aku mengerti."


Kemudian Lina menatap Rei dan berkata, "Rei, kamu bawa beberapa orang untuk berjaga di sini, begitu muncul gejala dari pasien-pasien ini untuk menyerang kalian, segera bunuh mereka, lalu bakar tubuh mereka, tidak ada yang boleh sampai tersisa!"


"Baiklah." Jawab Rei.


Ini adalah untuk pertama kalinya Lina memerintahkan seseorang untuk membunuh.


"Hhhh.. Sejujurnya.. Terasa sangat berat bagiku untuk melakukan hal seperti itu."


Lina tumbuh dalam masyarakat yang diatur oleh hukum. Apapun yang dia hadapi, tetap harus disiplin dan tetap mematuhi hukum. Membunuh orang adalah sesuatu yang tidak pernah dia pikirkan.


"Tapi sekarang aku harus rela dan berani mengorbankan sejumlah kecil orang, untuk melindungi keselamatan banyak orang."


Dia pun tidak tahu, apakah dengan melakukan hal itu akan berimbas baik atau buruk.


Sebaliknya, Rei dan Wiro terlihat tampak lebih tenang. Mereka semua telah lama akrab dengan pembunuhan dan tidak memiliki beban psikologis sedikitpun.


...........


Saat ini Lina telah kembali ke benteng dan memasak sepanci besar ramuan untuk memurnikan darah dan energi. Kemudian dia menyayat jarinya dan memerasnya hingga darah menetes ke dalam sup.


Setelah itu dia pun memanggil Bonny, "Bonny, tolong bawa ramuan ini ke kaki gunung dan berikan kepada para Orc yang saat ini sedang sakit."


Pipinya memerah sambil mengangguk dengan sungguh-sungguh dan berkata, "Baik. Akan segera aku bawa kesana."


"Hati-hati saat kamu memberikan obat kepada mereka, dan ingatlah untuk menjauh dari para pasien itu," kata Lina.


"Ya, akan aku ingat."


Setelah berkata seperti itu, Bonny segera turun gunung dengan membawa sup obat.


Pada saat ini, tiba-tiba saja Saga menarik tangan Lina, membuka mulutnya dan segera menghisap jari Lina yang terluka.


Merasa dijilati olehnya, wajah Lina pun terlihat memerah.


"Tidak apa-apa. Hanya sedikit sakit kok."


Sampai tidak ada lagi bau darah, barulah Saga menghentikan hisapannya dan menatap mata Lina sambil berkata, "Aku dengar, di kaki gunung ada yang terinfeksi penyakit darah mati?"


Lina pun mengangguk sambil berkata, "Ya."


"Di mana ada penyakit darah mati, pasti akan ada hal-hal jahat." Ucap Saga.

__ADS_1


Lina berkata, "Aku sudah meminta Wiro untuk memeriksa tentang masalah ini, seharusnya hasilnya akan segera bisa kita ketahui."


...........


Pada malam harinya.


Wiro telah kembali dengan membawa hasil dari penyelidikannya.


"Aku menemukan jejak darah yang ditinggalkan oleh iblis di hulu sungai hitam. Beberapa dari ceceran darahnya mengalir ke sungai. Saat Orc yang malang pergi kesungai untuk minum air, secara tidak sengaja mereka juga meminum darah iblis, yang membuat mereka terinfeksi penyakit darah mati." Lalu Wiro berhenti sesaat untuk menelan air liurnya dan lanjut berkata lagi, "Untungnya arus sungai hitam relatif cepat, dengan begitu darah iblis akan segera terurai dan terbawa hingga jauh. Karena itu lah, hanya ada lebih dari selusin Orc yang terinfeksi penyakit darah mati ini. Jika tidak, jumlah Orc yang terinfeksi penyakit ini pasti akan jauh lebih banyak lagi!"


Hal ini bisa terjadi karena para Orc yang tinggal di pemukiman sementara, kebanyakan dari mereka pergi ke anak sungai hitam untuk meminum air.


Saat mendengar itu, Uriel pun bertanya, "Apakah kamu sudah membersihkan seluruh darah iblis yang tercecer?"


"Sudah aku bersihkan. Sekarang sungainya seharusnya sudah normal lagi." Jawab Wiro.


Lalu Uriel berpikir, "Kenapa bisa ada iblis lain yang muncul di dekat anak sungai hitam? Sejak Perang besar di dunia Orc ini, para iblis telah dikalahkan oleh Kuil dan menarik diri mereka untuk terus bersembunyi. Sejak saat itulah mereka tidak pernah terlihat lagi. Lalu kenapa bisa, tiba-tiba saja sekarang mereka muncul lagi? Apakah ada konspirasi?"


Sambil memakan biji bunga matahari, Leon pun ikut berkata, "Mungkin mereka datang kemari, untuk mencari teman mereka dari berbagai kalangan iblis."


Begitu kata ini keluar, semua orang langsung memikirkan tentang darah aneh yang ada di tubuh Saga.


Saga pun berkata dengan lemah, "Aku tidak pernah berhubungan dengan para iblis. Jika iblis di dalam tubuhku tidak dibangunkan oleh Heli Belang, aku mungkin tidak akan pernah tahu seperti apa iblis-iblis jahat itu seumur hidupku."


Setelah Saga selesai berkata, Lina pun segera dengan cepat berkata, "Hal ini tidak ada hubungannya dengan Saga."


Wiro juga mengangguk dan berkata, "Ya. Kami percaya padanya."


Mendengar apa yang mereka katakan, Leon memasukkan beberapa biji bunga matahari sekaligus kedalam mulutnya, dan mengunyah-ngunyahnya hingga menimbulkan suara, sambil berkata, "KRAUK! KRAUK! Pikiran kalian terlalu sederhana! KRAUK! KRAUK! KRAUK!"


Lina pun segera menatap Leon dan berkata dengan nada suaranya yang terdengar marah, "Jika tidak ada sesuatu yang harus kamu lakukan, kembalilah ke atas. Jangan membuat ulah dan berbicara omong kosong lagi."


"Jangan marah, aku hanya mengatakan kemungkinan secara objektif. Aku tidak memiliki prasangka buruk terhadap Saga," lalu Leon berhenti berkata, seolah-olah, tiba-tiba saja dia teringat akan sesuatu, dan lanjut berkata lagi, "Ngomong-omong, para Orc dari klan Bulu sangat jijik dengan para iblis. Sebaiknya kamu tidak memberi tahukan kepada mereka, kalau di dalam tubuh Saga mengalir darah iblis, atau mereka akan datang untuk mencari Saga dan membuatnya menderita”


Saat mendengar apa yang Leon katakan, Lina memutar bola matanya, sambil berkata, “Huh. Kedengarannya seperti kamu bukan dari ras Bulu."


"Meskipun aku dari ras bulu, tapi aku tidak sama dengan Sky Letta." Ucap Leon dengan santai.


"Memangnya di mana bedanya? Bukankah kalian semua sama-sama Orc burung berbulu?" Tanya Lina.


Leon mengedipkan mata pada Lina, kemudian berkata, "Buluku jauh lebih indah dari pada mereka, selain itu, kekuatanku juga jauh lebih kuat dari pada mereka."


Lina, "....."


"Hah! Dasar Orc bulu tidak waras!"

__ADS_1


Leon lanjut berkata lagi, "Pernahkah kamu melihat benda milik para laki-laki dari klan bulu? Apakah kamu tahu kalau bendaku juga lebih besar dari milik mereka?"


Lina, "....."


__ADS_2